Jalan turun dari Observatorium Tepi Lereng selalu terasa lebih panjang daripada jalan naik. Janari Nawangsih menyadari itu lagi pagi buta ketika mobil bak tua milik koperasi desa membawanya menuruni serpentin, lampu depannya mengiris kabut yang menggantung rendah di punggung gunung. Di kursi belakang, di antara karung sayur yang akan dijual ke pasar bawah, tas ranselnya terkatup rapat. Di dalamnya sebuah cakram keras berisi salinan seluruh kurva cahaya, stempel waktu dari osilator terkunci-GPS, dan koordinat sidereal yang tak mau lepas dari kepalanya. Ia membawa anomali itu seperti orang membawa telur retak dalam saku mantel.
Karu yang melepasnya. Teknisi malam itu berdiri di ambang kubah dengan secangkir kopi yang mengepul, wajahnya masih berkerut oleh giliran jaga semalam. "Kau yakin mau menemuinya?" tanyanya. Bukan menghalangi—Karu tak pernah menghalangi—hanya memastikan Janari sudah menimbang harganya. "Orang seperti Danastri tak menutup pintu tanpa alasan."
"Aku tak punya siapa lagi yang pernah melihat pola ini," jawab Janari waktu itu, dan Karu hanya mengangguk, seolah jawaban itu sudah cukup jujur untuk dilepas ke jalan.
Ia tak berpamitan pada Pak Wignya. Setelah percakapan getir kemarin—ketika ia menolak memaparkan hasil yang belum matang dan direktur itu menatapnya seakan ia sedang membakar satu-satunya perahu penyelamat lembaga—rasanya lebih baik pergi tanpa upacara. Wignya mengira ia keras kepala. Mungkin memang benar. Tapi keras kepala dan cermat kadang memakai wajah yang sama, dan hanya waktu yang bisa memisahkannya.
Di stasiun bawah, Janari menaiki kereta pagi. Gerbongnya setengah kosong, jendelanya berembun. Ia mengusap kaca dengan punggung tangan dan menatap petak-petak sawah yang berlari mundur. Roda besi berdetak di sambungan rel dengan irama tetap—dua ketuk, jeda, dua ketuk—dan irama itu, tanpa ia minta, menyeretnya ke masa kecil. Kotak sinyal ayahnya berdiri di dekat rel semacam ini. Tuas-tuas berat, lampu semafor, aturan yang tak boleh ditawar. Ia ingat bau minyak pelumas dan suara ayahnya yang rendah: sinyal yang kau ragukan bukan sinyal aman. Ia menutup mata sebentar dan membiarkan detak roda menghitung untuknya, seperti dulu ia menghitung detik antara satu kedipan padam dan kedipan berikutnya di layar.
Ganti kereta dua kali. Lalu sebuah bus kecil yang mesinnya batuk di tanjakan, membawanya ke arah yang seolah semakin menjauh dari peta yang dikenal siapa pun. Kota tujuan tak tercantum di papan jurusan utama; ia harus menyebut namanya pada kondektur, yang menoleh sejenak seakan menimbang mengapa perempuan berkacamata dengan ransel penuh ini hendak ke tempat yang bahkan tak punya loket.
Sepanjang jalan Janari membuka buku catatannya dan membaca ulang apa yang sudah ia ketahui, seolah dengan mengulangnya ia bisa menemukan celah yang menyelamatkannya dari perjalanan ini. Tiga kedipan. Koordinat sidereal yang sama meski jam sipilnya berbeda. Bentuk titik-sebar yang salah untuk sinar kosmik. Katalog yang bungkam. Dan di sudut halaman, ditulis dengan pensil yang mulai memudar, sebuah nama dan angka: Prof. Danastri, makalah ditarik, sekitar tiga puluh tahun silam, okultasi anomali. Ia menggarisbawahi kata ditarik dua kali, lalu menyesal, karena garis itu tampak seperti tuduhan.
Apa yang ia harapkan? Ia belum tahu persis. Konfirmasi, mungkin. Atau peringatan. Barangkali keduanya adalah hal yang sama dan ia hanya belum cukup berani menyebutnya begitu. Sekar sempat bertanya lewat pesan singkat, apakah ia perlu ikut; Janari menjawab tidak. Ada percakapan yang harus dilakukan berdua saja, di antara dua orang yang pernah melihat langit melakukan sesuatu yang tak seharusnya.
Kota itu muncul menjelang senja: rumah-rumah berdinding kayu di lereng yang lebih rendah, atap seng yang berkarat oleh hujan bertahun-tahun, jalan tanah yang basah. Bau tanah setelah gerimis menusuk hidungnya begitu ia turun dari bus. Ia bertanya pada seorang perempuan penjual gorengan, dan perempuan itu menunjuk ke arah bukit di ujung kota, ke arah bangunan tinggi bersudut yang siluetnya mengingatkan Janari pada sesuatu yang tak asing—kubah kecil, memucat, dengan celah observasi yang sudah lama tertutup. Stasiun tua. Rumah orang yang telah diperingatkan langit dan memilih diam.
"Jarang ada tamu ke sana," kata perempuan itu, menatapnya lekat. "Beliau tak suka didatangi."
"Aku tahu," jawab Janari, meski ia tak yakin ia benar-benar tahu.
Ia menempuh sisa jalan dengan berjalan kaki. Tanjakan itu curam dan licin; sepatunya tergelincir dua kali dan ia harus berpegang pada pagar bambu yang lapuk. Langit di atasnya mulai bersih dari mendung, dan bintang-bintang pertama muncul satu per satu di timur, dingin dan tenang, seolah tak peduli pada urusan manusia di bawah. Janari berhenti sejenak, mendongak, dan mencari-cari di antara mereka sebuah titik yang tak ada—koordinat yang hanya ada dalam datanya, tempat sesuatu yang gelap dan jauh sesekali menutup cahaya bintang di belakangnya. Tak ada apa pun terlihat di sana. Tentu saja tak ada. Itulah seluruh kesulitannya.
Di puncak tanjakan, stasiun itu berdiri dalam remang. Cat putihnya sudah mengelupas menjadi kelabu. Sebuah jendela di lantai bawah memancarkan cahaya kuning lemah—lampu minyak, atau bohlam tua. Ada seseorang di dalam. Janari berdiri di pintu pagar besi yang berkarat dan tak segera masuk. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang pantas untuk sekadar mendaki bukit.
Ia menyadari, di ambang itu, bahwa ia bukan hanya datang membawa data. Ia datang membawa pertanyaan yang pernah menghancurkan perempuan di balik jendela itu, dan menyerahkannya kembali seperti seseorang mengembalikan pisau kepada tangan yang dulu terluka olehnya. Angin dingin turun dari lereng dan menggetarkan daun-daun kering di halaman. Di dalam, bayangan bergerak melintasi cahaya jendela—berhenti, seolah mendengar langkah di luar, seolah sudah menduga, jauh sebelum ketukan pertama, bahwa cepat atau lambat langit akan mengirim seseorang lagi ke pintunya.
Janari menarik napas, dan mengangkat tangannya untuk mengetuk.