Rapat itu berlangsung di ruang kerja Pak Wignya, ruangan sempit di lantai bawah kubah yang lebih mirip gudang arsip daripada kantor direktur: rak-rak jurnal lawas berjajar sampai langit-langit, peta bintang yang menguning ditempel miring di dinding, dan satu meja yang selalu penuh proposal anggaran yang tak pernah benar-benar rapi. Janari duduk di kursi seberang, map berisi kurva cahaya di pangkuannya, belum ia buka.
"Broto menelepon lagi," kata Wignya, tanpa basa-basi. Ia melepas kacamata, menggosok kelopak matanya yang cekung. "Ia ingin tahu apa yang bisa disampaikan di gala. Bukan angka pasti. Cukup arah."
"Arah apa?"
"Arah bahwa kita sedang mengejar sesuatu." Wignya menatapnya lurus. "Kau tahu maksudku."
Janari menahan diri untuk tidak langsung membuka map itu. Ia sudah menghafal isinya sampai ke desimal terakhir: tiga kejadian, satu di antaranya tertangkap langsung oleh pipa deteksi barunya, kurva cahayanya terlalu tajam untuk sesuatu yang biasa. Katalog sudah disisir habis—tak ada asteroid, tak ada TNO, tak ada bintang variabel yang cocok. Dan uji signifikansi yang ia jalankan dua minggu lalu, yang membuatnya tak tidur semalaman menimbang antara pola nyata dan wajah yang ia karang sendiri dari derau, memberi angka yang menggoda tapi belum menentukan.
"Datanya belum matang, Pak," katanya akhirnya. "Tiga kejadian. Satu di antaranya bentuknya aneh, dan aku belum tahu kenapa. Aku belum bisa menyingkirkan kemungkinan itu artefak."
"Kau bilang begitu bulan lalu."
"Karena masih benar bulan ini."
Wignya bersandar, kursi kayunya berderit. Di luar jendela sempit, kabut sore merambat naik dari lereng, menyelubungi antena cuaca sampai separuh tiang. "Janari. Aku tidak minta kau mengumumkan penemuan. Aku minta satu kalimat yang bisa kubawa ke dewan. Sesuatu yang membuat mereka percaya uang mereka tidak sia-sia."
"Dan kalau kalimat itu keliru?"
"Kalau kalimat itu hati-hati, tidak akan keliru." Ia mencondongkan tubuh. "Kau ilmuwan yang baik. Terlalu baik, kadang. Tidak semua orang butuh sembilan digit di belakang koma untuk percaya kau sedang mengerjakan sesuatu yang penting."
Janari diam. Ia tahu logikanya sendiri lemah di titik ini—bukan karena Wignya salah tentang tekanan yang mereka hadapi, tapi karena bagian dari dirinya, bagian yang sudah lama ia coba tidak dengarkan, justru ingin sependapat dengannya. Ia sudah membayangkannya, di malam-malam ia duduk sendirian di ruang kendali sambil menunggu giliran teleskop: namanya di atas sebuah makalah, kurva cahaya itu tercetak rapi, kata-kata yang belum pernah ia ucapkan keras-keras—kemungkinan besar nyata.
Kemungkinan besar. Itu bukan hal yang jelek untuk dikatakan. Statistiknya memang condong ke sana. Tapi 'kemungkinan besar' bukan 'terbukti', dan jarak antara keduanya adalah tempat Danastri jatuh tiga puluh tahun lalu—ia baru tahu itu dua minggu yang lalu, dari sebuah nama di arsip makalah yang ditarik, dan sejak itu jarak itu terasa seperti jurang, bukan celah.
"Kalau aku maju sekarang," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Wignya, "dan ternyata itu cuma bentuk titik-sebar yang salah baca, atau piksel yang capek—aku tidak bisa menarik ucapan itu kembali. Orang akan ingat 'observatorium klaim temuan', bukan 'observatorium menarik klaim'."
"Kau terlalu takut gagal."
"Aku takut bohong." Ia mengangkat map itu sedikit, tak membukanya, hanya menunjukkannya. "Ini bukan ketakutan gagal, Pak. Aku sudah biasa gagal. Ini soal aku tidak mau bilang sesuatu sudah aman kalau aku sendiri masih ragu."
Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia maksudkan, dan ia melihat rahang Wignya mengeras. Untuk sesaat ruangan itu hanya berisi detak jam dinding yang agak melenceng dari waktu sebenarnya—ironis, pikirnya, di sebuah observatorium yang seharusnya menjaga waktu paling presisi di seluruh lereng gunung ini.
"Aku bukan memintamu berbohong," kata Wignya akhirnya, suaranya turun, lebih lelah daripada marah. "Aku memintamu memberi kami sesuatu untuk bertahan sampai kau yakin. Dewan tidak menunggu kepastian ilmiah, Janari. Mereka menunggu anggaran tahun depan."
"Aku tahu." Dan ia memang tahu—itulah yang membuatnya sulit. Ia bisa membayangkan neraca itu dengan jelas: satu kalimat setengah-jujur bisa membeli observatorium ini waktu enam bulan lagi untuk membuktikan dirinya benar. Ia bisa mengatakannya dengan hati-hati, memilih kata yang teknisnya tak salah tapi kesannya menjanjikan—orang-orang PR melakukannya setiap hari, itu bukan kebohongan, hanya penekanan.
Bagian dari dirinya, bagian yang lelah menunggu dan ingin sekali hasil kerjanya berarti sesuatu di luar buku catatannya sendiri, sudah separuh menyusun kalimat itu di kepala.
Ia menutupnya sebelum sempat keluar. "Belum," katanya, kali ini kepada Wignya, dan kepada dirinya sendiri sekaligus. "Kalau datanya sudah kuat, kau akan jadi orang pertama yang kuberi tahu. Tapi aku tidak akan bicara di depan dewan atau di depan Broto sebelum aku yakin apa yang kutunjukkan bukan wajahku sendiri di dalam derau."
Wignya tidak menjawab segera. Ia memakai kembali kacamatanya, mengangkat map anggaran yang lain, seolah sudah menutup topik itu—tapi tangannya berhenti sejenak di atas kertas, dan Janari tahu ini belum selesai, hanya ditunda.
Di lorong menuju kubah, dengan map itu masih tertutup di tangannya, Janari berhenti sebentar di depan jendela yang menghadap ke lembah. Kabut sudah naik penuh, menelan lampu-lampu desa di bawah sana satu per satu. Kemungkinan besar nyata, pikirnya lagi, mengulanginya seperti mengecek jahitan yang mungkin lepas. Kata-kata itu masih terasa manis di lidah, dan justru karena semanis itu ia tahu harus berhati-hati—sebab ayahnya pernah bilang, sinyal yang paling berbahaya bukan yang jelas merah, melainkan yang hijau tapi kau sendiri tak yakin kenapa.