Aturan pertama yang diajarkan mentornya dulu: sebelum kau percaya kau menemukan sesuatu yang luar biasa, habiskan dulu semua penjelasan yang membosankan. Alam jarang ajaib. Alat sering rusak.
Maka Janari memulai dari yang paling membosankan dan paling memalukan: alatnya sendiri.
Pagi itu ia tidak tidur. Ia naik tangga sempit ke ruang teleskop, di mana udara masih dingin sisa malam dan bau khas logam, minyak, dan debu menggantung. Teropong tujuh puluh sentimeter itu berdiri seperti meriam tua di dudukannya, dan cermin utamanya—piringan kaca berlapis aluminium yang menangkap cahaya bintang—memandang ke atas, ditutup penutup kain yang sudah pudar warnanya. Janari membuka penutup dan menyalakan senter dengan sudut rendah, menyapukan cahayanya menyusur permukaan cermin.
Debu. Tentu saja ada debu. Tidak ada cermin teleskop di muka bumi yang benar-benar bersih, apalagi di kubah yang berderit dan bocor seperti ini. Ia melihat butir-butir halus, beberapa serat, satu noda kecil tempat embun pernah mengering. Pertanyaannya bukan apakah ada debu, tapi apakah debu itu bisa menjelaskan kedipan tadi malam. Sebutir debu di cermin tidak menutup bintang sepenuhnya; ia hanya mengurangi sedikit cahaya, dan tidak tiba-tiba, dan tidak hanya pada satu bintang sementara bintang-bintang lain di bidang yang sama tetap menyala mantap.
Itu poin yang terus ia ulang di kepalanya seperti doa: bintang-bintang lain tetap menyala. Kalau cermin yang berkedip—kalau ada getaran, debu jatuh, embun, perubahan fokus—maka semua bintang di bidang akan terpengaruh bersamaan. Tapi hanya satu yang padam. Yang lain tidak bergeming. Itu sifat yang tidak bisa dipalsukan oleh masalah di alat. Masalah alat bersifat menyeluruh; bayangan benda jauh bersifat setempat.
Tapi ia tetap membersihkan cermin. Dengan bola udara dan kuas berbulu unta yang sangat halus, dengan sabar, karena melapisi ulang cermin ini butuh biaya yang tidak mereka punya dan satu goresan bisa merusaknya. Sambil bekerja, ia memeriksa dudukan teleskop. Ia mencari kelonggaran di gigi penggerak, di sabuk pelacak yang membuat teropong mengikuti putaran langit. Pelacakan yang tersentak—jitter, getaran kecil—bisa membuat sebuah bintang melompat sesaat dari piksel detektornya, dan cahayanya seolah hilang lalu kembali. Itu penjelasan yang paling ia takuti, karena paling membosankan dan paling masuk akal.
Ia menghabiskan sepanjang hari di sana. Ia mengukur ketegangan sabuk. Ia merekam gerak pelacakan selama satu jam penuh pada bintang terang dan menganalisis getarannya. Memang ada jitter—teropong setua ini selalu sedikit gemetar—tapi getarannya halus, lambat, dan kalau ia menumpangkan grafik getaran itu di atas kedipan tadi malam, keduanya tidak cocok sama sekali. Jitter membuat cahaya bergoyang naik-turun pelan. Kedipan itu jatuh tegak lurus dan kembali tegak lurus. Beda bentuk. Beda asal.
Malam berikutnya ia tidak mengamati langit. Ia mengaudit perangkat lunak. Ini bagian yang paling melelahkan, karena bug peranti lunak bisa bersembunyi di mana saja. Mungkin ada kesalahan di kode yang membaca detektor; mungkin satu paket data hilang dalam perjalanan dari kamera ke komputer, dan kode mengisinya dengan nol, dan nol itu tampak seperti kegelapan. Ia menelusuri log baris demi baris. Ia mencari celah di urutan stempel waktu—kalau satu bingkai hilang, akan ada lompatan dua puluh milidetik yang tidak terisi. Tidak ada. Setiap bingkai hadir, berurutan, dengan stempel waktu yang mulus dari osilator terkunci-GPS itu. Tidak ada paket yang hilang. Tidak ada nol palsu. Cahaya yang padam itu benar-benar terekam padam oleh foton, bukan oleh kekosongan data.
Ia juga memeriksa bintang itu sendiri. Beberapa bintang berkedip sendiri—bintang variabel, bintang ganda yang saling menutupi. Ia mencari katalog. Bintang redup itu punya nomor, tidak punya nama, dan tidak ada catatan bahwa ia variabel. Lagi pula bintang variabel tidak padam dalam empat ratus milidetik lalu kembali persis ke tingkat semula. Itu kecepatan benda yang lewat di depan, bukan bintang yang meredup dari dalam.
Pada hari ketiga, Karu menemukannya tertidur di kursi ruang kendali, kepala di atas lengan, layar masih menyala. Ia membangunkannya dengan teh lagi.
'Sudah ketemu glitch-nya?' tanya Karu.
Janari menggosok mata. Ia menunjuk layar, tempat ia sudah menyusun semuanya dalam satu halaman: cermin bersih, dudukan diperiksa, pelacakan dianalisis, log diaudit, bintang bukan variabel, tidak ada awan, tidak ada satelit, tidak ada paket data hilang. Daftar tersangka yang membosankan, satu per satu dicoret.
'Tidak ada glitch,' katanya pelan. 'Aku sudah cari di setiap tempat glitch bisa bersembunyi. Alatku bersih, Karu. Datanya bersih.'
Karu memandanginya, dan untuk pertama kali raut wajahnya bukan lagi raut orang yang ingin menenangkan. 'Jadi maksudmu kedipan itu beneran.'
'Maksudku,' kata Janari, memilih kata-katanya dengan hati-hati, karena ia tahu betapa berbahaya kalimat berikutnya, 'kedipan itu beneran terjadi pada cahaya, bukan pada alatku. Sesuatu menutup bintang itu. Aku belum tahu apa. Tapi pertanyaannya sudah bukan lagi salahkah teropongku.' Ia menarik napas. 'Pertanyaannya: apa yang lewat di depan bintang itu, di petak langit yang tidak ada benda terdaftarnya, pada jam yang tidak masuk akal.'
Ia menyandar. Di luar, kubah berderit lagi. Untuk pertama kali sejak malam itu, derit baja tua itu tidak terdengar seperti gangguan. Terdengar seperti pertanyaan yang ikut menunggu jawaban. Dan Janari, yang telah menghabiskan tiga hari membuktikan bahwa ia tidak salah, kini menghadapi kemungkinan yang jauh lebih menakutkan daripada salah: bahwa ia benar.