Ruang rapat kecil di sayap administrasi selalu terasa terlalu hangat, seolah pemanasnya disetel untuk tamu yang tak biasa dengan dinginnya puncak. Janari duduk di ujung meja oval, jaketnya masih berbau argon dan minyak pelumas dari kubah, ketika Pak Wignya membuka pintu dan mempersilakan seorang pria berjas abu-abu masuk lebih dulu.
"Pak Broto Sasongko," kata Wignya, dengan nada yang dibuat seringan mungkin, seolah memperkenalkan cuaca. "Beliau ingin melihat langsung kemajuan sebelum gala."
Broto berjabat tangan dengan Janari terlalu lama, matanya menyapu ruangan seperti sedang menilai harga sewa. "Saya dengar ada sesuatu yang menarik di sini," katanya. "Sesuatu yang bisa jadi berita."
Janari memilih kata-katanya seperti memilih langkah di atas es. "Ada anomali yang sedang kami selidiki, Pak. Belum ada kesimpulan."
"Belum," ulang Broto, seolah kata itu punya rasa yang ia coba kenali di lidahnya. Ia menarik kursi, duduk tanpa diundang, lalu meletakkan kedua telapak tangan di atas meja seperti hendak memberi ceramah. "Begini, Nona Janari. Tahun ini ulang tahun observatorium yang keduapuluh. Saya sudah bicara dengan beberapa kolega di yayasan. Mereka bersedia menaikkan hibah — signifikan — kalau ada sesuatu untuk ditampilkan di gala. Sesuatu yang bisa dibawa pulang orang-orang dalam kepala mereka. Bukan grafik. Bukan angka galat. Sebuah temuan."
"Data belum matang," kata Janari. "Kami baru punya beberapa kejadian. Sebagian bahkan belum tersaring dari kontaminasi instrumen."
"Saya tidak butuh detailnya." Broto mengangkat tangan, seakan menepis lalat. "Saya butuh kalimat. Satu kalimat yang bisa dikutip wartawan. 'Observatorium Tepi Lereng menemukan—' apa pun kata yang cocok di sana. Bintang aneh. Objek misterius. Sesuatu yang membuat orang berhenti mengunyah kue mereka."
Wignya berdeham, matanya sekilas mencari Janari lalu berpaling ke jendela. "Broto benar bahwa momentumnya pas, Janari. Dewan sudah menahan anggaran dua tahun berturut-turut. Kalau gala ini berlalu tanpa berita, tahun depan kita mungkin hanya punya separuh staf yang ada sekarang."
Janari menatap meja, mencoba membaca serat kayunya seperti membaca kurva cahaya — mencari pola yang tak ada di sana. "Saya paham bebannya, Pak Wignya. Tapi kalau saya bicara sekarang, saya bicara sebelum tahu apa yang sebenarnya saya lihat. Itu bukan temuan. Itu tebakan berbaju jubah sains."
"Tak ada yang menyuruhmu berbohong," kata Wignya, agak terlalu cepat, seolah kalimat itu sudah disiapkan sejak di lorong. "Cukup ceritakan apa yang kaupunya. Biarkan orang-orang menyimpulkan sendiri seheboh apa itu."
Itu justru yang menakutkan Janari — bagaimana kalimat sejujur apa pun bisa dibengkokkan begitu ia lepas dari mulutnya dan jatuh ke telinga yang lapar berita.
Broto bersandar, jarinya mengetuk meja pelan, berirama seperti metronom yang tak sabar. "Saya pernah danai proyek arkeologi di pesisir selatan. Mereka temukan pecahan gerabah, mungkin usianya delapan ratus tahun. Membosankan, sungguh. Tapi tim humasnya pintar — mereka sebut itu 'jejak kerajaan yang hilang.' Media berebut. Dana mengalir tiga tahun berikutnya." Ia tersenyum, seolah baru saja membagikan resep yang murah hati. "Saya tidak minta Nona berbohong. Saya cuma minta Nona pandai memilih kata."
"Gerabah tetap gerabah, Pak," kata Janari, "apa pun namanya."
Untuk sesaat wajah Broto mengeras, lalu ia tertawa pendek, seolah menghargai perlawanan kecil itu sebagai bagian dari tawar-menawar. "Baiklah. Anggap saya belum bicara soal kerajaan hilang. Tapi pikirkan ini: gala tinggal beberapa bulan. Kalau observatorium ini tutup, semua yang sedang Anda kejar — apa pun itu — akan berhenti bersama lampu-lampu di kubah. Tak ada yang akan mengecek lagi kedipan aneh itu, sebab tak akan ada siapa-siapa lagi di sini untuk mengeceknya."
Kalimat itu menohok tepat di titik yang paling ia takuti untuk ditatap. Janari memikirkan pipa deteksi yang baru dibangun bersama Sekar, osilator yang baru saja diselaraskan Karu dengan susah payah, jendela kejadian sidereal yang belum sepenuhnya terpetakan. Semua itu bisa lenyap bukan karena datanya salah, tapi karena anggaran yang menua lebih dulu daripada kesabaran orang-orang yang mendanainya.
"Saya butuh waktu," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan.
"Semua orang butuh waktu," kata Broto, bangkit dan merapikan jasnya. "Sayangnya waktu itu yang paling mahal dari semuanya." Ia menoleh ke Wignya. "Saya percayakan pada Anda untuk memastikan Nona ini paham prioritasnya."
Setelah pintu tertutup, Wignya berdiri lama menghadap jendela, punggungnya kaku seperti orang yang menahan sesuatu supaya tidak jatuh. "Aku tidak memintamu mengarang, Janari," katanya akhirnya, tanpa berbalik. "Aku memintamu mempertimbangkan bahwa ada banyak orang di gedung ini yang pekerjaannya bergantung pada apa yang kaudapat dari langit malam ini."
"Saya tahu, Pak."
"Kalau begitu pikirkan itu juga," katanya, "selain bintang-bintangmu."
Janari keluar ke koridor yang mulai temaram, jendela panjangnya memantulkan gunung yang menghitam di kejauhan. Ia menghitung dalam kepala: berapa kejadian bersih yang benar-benar kokoh, berapa yang masih meragukan, berapa bulan sampai jendela sidereal berikutnya. Angka-angka itu tidak berubah hanya karena seseorang di jas abu-abu menginginkannya berubah. Tapi untuk pertama kalinya ia merasakan tarikan itu — bukan dari luar, melainkan dari dalam dadanya sendiri, kecil dan hangat dan mengkhawatirkan seperti bara yang belum padam: keinginan untuk percaya sedikit lebih cepat daripada yang seharusnya ia percayai.