Janari menyimpan berkas yang ditarik itu dalam map plastik bening, seolah kertas yang sudah tiga puluh tahun berdebu masih bisa rusak oleh sentuhan yang salah. Nama itu—Danastri—tercetak di sudut kanan bawah halaman pertama, di bawah judul yang kini terasa seperti nubuat yang terlambat dibaca: *Okultasi Anomali pada Koordinat Tak Terkatalog: Sebuah Catatan Pendahuluan*. Ditarik. Tidak ada penjelasan lain di arsip jurnal selain satu baris administratif, dingin dan tak berperasaan, seakan tiga dekade karier seseorang bisa dilipat menjadi frasa birokrasi.
Ia butuh tahu di mana perempuan itu sekarang.
Karu tidak banyak membantu soal itu. Yang ia ingat hanya cerita usang tentang seorang peneliti yang "menghilang dari lapangan"—ungkapan yang di telinga Janari kini terdengar terlalu halus untuk apa yang sebenarnya terjadi. "Aku dengar dia pindah jauh," kata Karu waktu itu, sambil membersihkan lensa dengan kain microfiber, tidak menatap Janari. "Tapi itu cerita orang, bukan sesuatu yang aku lihat sendiri."
Maka Janari mulai dari yang bisa diverifikasi, bukan dari yang didengar.
Ia menulis surel ke sekretariat himpunan astronomi, meminta arsip keanggotaan lama—alasan resminya penelusuran sejarah instrumentasi observatorium untuk laporan tahunan. Balasannya datang tiga hari kemudian, sebuah spreadsheet berdebu digital, kolom demi kolom nama dan nomor anggota dan status iuran. Ia menyisir nama itu di antara ratusan lainnya, dan menemukannya: status keanggotaan "tidak aktif sejak", tahun yang cocok persis dengan tahun penarikan makalah. Tidak ada yang kebetulan soal waktu seperti itu.
Alamat korespondensi terakhir yang tercatat adalah sebuah kotak pos di kota kecil di kaki pegunungan sebelah selatan—jauh dari pusat mana pun, jauh juga dari observatorium tempat Danastri dulu bekerja. Bukan alamat rumah. Kotak pos saja, seakan perempuan itu sengaja menyisakan satu celah sempit ke dunia luar dan menutup selebihnya.
Janari mencatat nama kota itu di buku catatannya sendiri, di halaman yang sama tempat ia menuliskan koordinat kedipan yang belum terjelaskan. Dua misteri, satu buku.
Ia tidak berhenti di situ. Malam berikutnya, setelah jadwal pengamatannya selesai dan kubah sudah ditutup, ia menelusuri basis data mahasiswa purnawaktu—daftar wisudawan lama dari jurusan yang sama, mencari siapa pun yang pernah dibimbing Danastri sebelum makalah itu ditarik. Ia menemukan tiga nama. Dua tidak membalas. Yang ketiga, seorang purnabakti yang kini mengajar di sekolah menengah di kota lain, membalas singkat, hati-hati, seperti orang yang tahu ia sedang menginjak tanah yang pernah longsor.
*Saya dengar beliau menetap di dekat kota itu,* tulis purnabakti itu, menyebut nama kota yang sama dengan kotak pos. *Katanya dulu beliau punya semacam stasiun pengamatan pribadi di sana, sebelum semuanya terjadi. Saya tidak berani menghubungi. Kalau Anda menemukan beliau, tolong sampaikan saya masih ingat kebaikannya.*
Janari membaca kalimat itu dua kali. *Sebelum semuanya terjadi*—frasa yang dipilih orang yang tidak ingin menyebut nama peristiwa itu secara langsung, seolah menyebutnya bisa memanggilnya kembali.
Ia menutup laptop dan duduk lama di kursinya, mendengarkan derum kipas pendingin ruang instrumen di lantai bawah, suara yang sudah sedemikian akrab hingga nyaris tak terdengar lagi. Di luar jendela, langit Tepi Lereng jernih, bintang-bintang berbaris rapi seperti selalu, tidak peduli pada kegelisahan siapa pun yang menatapnya.
Ada bagian dari dirinya yang ingin berhenti di sini—cukup tahu nama kota, cukup tahu bahwa Danastri masih ada di suatu tempat, lalu kembali fokus pada data yang menunggu dianalisis. Mencari orang yang sengaja bersembunyi terasa seperti pelanggaran, semacam menerobos pintu yang sengaja dikunci dari dalam.
Tetapi ia teringat kurva cahaya yang tajam pada tangkapan ketiga, keganjilan yang belum ia mengerti; teringat pula angka signifikansi yang menggoda tapi belum menentukan, yang masih mengambang di antara pola nyata dan wajah yang dikarang derau. Ia butuh seseorang yang pernah berdiri di persimpangan yang sama, dan selamat—atau setidaknya bertahan—untuk menceritakan bagaimana rasanya, dan ke mana arah yang benar.
Ayahnya pernah bilang, di kotak sinyal yang dingin itu, bahwa keraguan tidak boleh disimpan sendirian terlalu lama. *Kalau kau ragu, tanya orang yang lebih dulu pernah ragu di rel yang sama.* Ia tidak tahu apakah Danastri akan mau bicara. Ia hanya tahu bahwa tidak mencoba akan menjadi kelalaian yang lebih besar daripada risiko ditolak.
Ia membuka peta di layarnya, menelusuri rute ke kota kecil itu—jalur kereta yang sudah lama tidak melayani penumpang reguler, disambung jalan darat yang menanjak, dua kali ganti kendaraan, perjalanan yang menurut perkiraan memakan waktu satu hari penuh dari kaki Tepi Lereng. Bukan tempat yang dilewati orang tanpa alasan.
Ia menyimpan alamat kotak pos dan nama kota itu di ponselnya, lalu menuliskannya sekali lagi dengan tangan di buku catatan, di bawah koordinat sidereal yang sudah mulai ia hafal luar kepala. Dua alamat, dua jenis koordinat—satu menunjuk ke langit, satu menunjuk ke seorang perempuan yang memilih menghilang darinya.
Sebelum menutup buku, ia menuliskan satu kalimat kecil di margin, lebih untuk dirinya sendiri daripada catatan resmi apa pun: *cari dulu orang yang pernah melihatnya padam, sebelum berani bilang itu benar menyala.*
Ia mematikan lampu meja. Di luar, kubah observatorium masih berputar pelan mengejar target berikutnya, tak tahu bahwa penyelidik yang menjaganya baru saja memutuskan untuk pergi mencari hantu yang masih bernapas.