Angin di Tepi Lereng malam itu berhembus dari arah yang salah, membawa kabut naik dari lembah alih-alih turun dari puncak, dan Janari Nawangsih terjaga di kursi kerjanya dengan leher kaku dan mata pedih menatap layar yang sudah lama gelap. Ia telah mematikan monitor sejam lalu, memaksa dirinya berhenti menatap angka-angka signifikansi yang menggodanya untuk percaya lebih dari yang pantas ia percaya. Yang tersisa hanyalah pertanyaan yang tak mau pergi: seberapa yakin kau, sebelum yakin itu jadi kebohongan yang kau ceritakan pada dirimu sendiri?
Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata, dan tanpa diundang, ingatan itu datang—seperti selalu datang setiap kali keraguan menjadi terlalu berat untuk dipikul sendirian. Bau minyak lampu. Dentang tuas kuningan. Suara telepon lorong yang berdering di tengah malam seperti sesuatu yang tak sabar ingin mencelakai seseorang.
Ia sepuluh tahun waktu itu, mungkin sebelas, duduk di bangku kayu panjang di sudut kotak sinyal, mantel ayahnya yang kebesaran dibebankan ke pundak karena udara malam menusuk dan ibunya sedang menunggui neneknya yang sakit di kota. Ayahnya tidak seharusnya membawanya. Tapi tak ada pilihan lain—dan kotak sinyal, katanya, adalah tempat paling jujur di dunia, sebab di sana tak ada yang bisa berpura-pura.
Hujan telah turun deras sejak sore, dan di petak sebelah hilir, satu regu sedang membetulkan sambungan rel yang tergerus air. Ayahnya sudah tahu itu sejak sore, sudah mencatatnya di buku log dengan tulisan tangan yang rapi seperti selalu: petak ditutup, kereta ditahan sampai ada kabar aman.
Kabar itu seharusnya datang jam sepuluh. Jam sepuluh lewat, telepon belum juga berbunyi. Ayahnya berdiri di depan papan tuas, tangannya di saku, matanya pada jam dinding yang berdetak terlalu keras di ruangan sesempit itu.
"Kereta pos sudah telat dua puluh menit," katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Janari.
Baru saja ia berkata begitu, telepon berdering. Ayahnya menyambar gagangnya sebelum dering kedua selesai.
"Ya. Ya, di sini." Diam. Lalu, "Sudah? Semua sudah kembali ke pinggir?" Diam lagi, lebih lama. Janari mengingat bagaimana ia memperhatikan punggung ayahnya menegang, lalu mengendur sedikit. "Baik. Aman. Saya catat."
Ayahnya meletakkan gagang telepon, tapi tangannya tidak segera bergerak ke tuas. Ia berdiri diam, menatap papan sinyal seolah papan itu bisa dipaksa mengulang kabar yang baru saja didengarnya.
"Ada apa?" Janari bertanya, karena diamnya ayahnya terlalu lama untuk sekadar kabar baik.
"Suaranya," kata ayahnya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Bukan Kang Marto yang biasa menelepon dari sana. Dan dia bilang aman, tapi dia bilang begitu cepat. Terlalu cepat untuk orang yang baru saja menghitung ulang lima orang di rel yang gelap."
"Tapi dia bilang aman."
"Aku dengar dia bilang aman." Ayahnya menatapnya, dan untuk pertama kalinya malam itu Janari melihat sesuatu di wajahnya yang bukan lelah, melainkan takut. "Bukan itu yang jadi soal. Soalnya, aku tidak yakin dia yakin."
Di kejauhan, sayup, terdengar pekik peluit. Kereta pos sudah masuk ke petak jalan, lampu depannya baru akan tampak beberapa menit lagi dari tikungan, tapi bunyinya sudah cukup untuk membuat dada Janari berdegup.
Telepon internal dari stasiun berdering pula, suara di ujung sana keras dan tak sabar—Kepala Perjalanan Kereta Api, memerintahkan supaya sinyal segera diaman-kan karena kereta pos tak boleh ditahan lagi tanpa alasan yang tercatat resmi.
"Petak sudah dilaporkan aman, Pak," ayahnya menjawab, suaranya datar, tangannya mulai berkeringat di gagang telepon. "Saya hanya—saya ingin memastikan lagi."
Suara di seberang membentak tentang jadwal, tentang keluhan penumpang, tentang masalah yang akan timbul kalau kereta ditahan tanpa sebab resmi. Ayahnya mendengarkan, rahangnya mengeras, dan Janari melihat tangannya bergerak setengah jengkal ke arah tuas aman sebelum berhenti sendiri, seolah tertahan sesuatu yang lebih kuat dari perintah siapa pun di telepon itu.
"Saya akan telepon balik petak hilir dulu," katanya, dan meletakkan gagang telepon stasiun tanpa menunggu jawaban, lalu memutar engkol telepon petak dengan gerakan cepat, nyaris kasar.
Deringnya lama. Terlalu lama. Peluit kereta terdengar lagi, kali ini lebih dekat, dan Janari bisa merasakan getar samar di lantai kayu kotak sinyal, getar yang menjalar naik dari rel yang jauh di bawah kaki mereka.
Ketika sambungan akhirnya tersambung, suara di ujung sana terengah-engah, berbeda sama sekali dari suara pertama tadi. "Belum—belum semua! Dua orang masih di sambungan, saya kira Marto sudah—maaf, Pak, saya kira laporan sudah masuk—"
Ayahnya tidak menunggu kalimat itu selesai. Ia membanting tuas ke posisi bahaya dengan kedua tangan, dan lampu merah di papan sinyal ujung petak—yang baru saja hendak ia biarkan berubah hijau—tetap menyala, memantul di kaca jendela yang basah oleh hujan.
Kereta pos melintas beberapa menit kemudian dengan kecepatan yang jauh berkurang, mengerang di rel basah, berhenti separuh badan melewati sinyal—cukup dekat dengan petak kerja hingga masinis turun sendiri dengan lentera, memaki ke arah kegelapan sebelum tahu apa yang baru saja tidak terjadi.
Janari tidak ingat berapa lama ayahnya berdiri mematung setelah itu, tangan masih di tuas, seolah takut melepaskannya akan membuat semuanya berbalik. Yang ia ingat adalah ayahnya akhirnya duduk di bangku sebelahnya, badan gemetar, dan untuk pertama kalinya seumur hidup Janari melihat ayahnya menangis—tidak keras, hanya bahu yang naik turun dan napas yang tercekat.
"Aku hampir mengaminkannya," kata ayahnya, suaranya pecah. "Aku dengar dia bilang aman, dan aku hampir percaya karena aku ingin percaya. Karena capek menahan kereta itu, capek dimarahi, capek jadi orang yang bikin semua orang telat." Ia menatap tangannya sendiri seperti tangan itu milik orang lain. "Kalau saja aku menariknya sedetik lebih cepat tadi, Nari, ada lima orang di rel itu yang tidak akan pernah tahu apa yang membunuh mereka."
Ia menoleh ke Janari, matanya merah, dan memegang kedua bahunya dengan tangan yang masih gemetar.
"Ingat ini," katanya, pelan tapi keras seperti sumpah. "Sinyal aman itu bukan tentang apa yang ingin kau dengar. Bukan tentang siapa yang marah kalau kau menahan. Kalau ada secuil saja di dalam dirimu yang ragu—walau cuma karena suara orang di telepon terdengar aneh—kau sebut itu merah. Selalu. Walau itu berarti kau yang disalahkan. Walau itu berarti semua orang menganggapmu terlalu hati-hati, terlalu lambat, terlalu banyak curiga. Lebih baik disalahkan karena menahan yang ternyata aman, daripada dipuji karena meloloskan yang ternyata membunuh."
Janari, sepuluh tahun, tidak sepenuhnya paham malam itu betapa besar bobot kalimat itu akan menjadi di hidupnya nanti. Yang ia ingat hanyalah dingin malam, mantel yang kebesaran, dan tangan ayahnya yang tak berhenti gemetar sampai jauh setelah kereta terakhir lewat dan langit mulai terang.
Di Observatorium Tepi Lereng, bertahun-tahun kemudian, Janari membuka matanya dalam gelap, dan mendapati wajahnya basah tanpa benar-benar sadar sejak kapan air mata itu turun. Angin masih salah arah di luar sana, kabut masih naik alih-alih turun, dan di suatu tempat di dalam berkas data yang menunggunya, ada sesuatu yang mengaku aman.
Ia tidak akan mengiakannya begitu saja. Belum. Mungkin tidak akan pernah, sampai ia benar-benar yakin ayahnya sendiri akan berani menyalakan hijau.