Angin dari celah jendela kubah membuat layar utama berkedut sebentar sebelum tenang lagi. Janari Nawangsih duduk sendirian di ruang kendali, jam menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh, dan di hadapannya terpampang sesuatu yang, kalau ia biarkan matanya malas sedetik saja, tampak seperti wajah.
Bukan wajah sungguhan. Hanya sebaran derau termal dari detektor 70 cm yang dipetakan jadi warna semu—biru untuk hitungan rendah, jingga untuk yang tinggi—dan kebetulan dua gumpalan jingga plus satu garis melengkung di bawahnya membentuk sesuatu yang bisa dibaca sebagai dua mata dan mulut. Ia tahu nama untuk itu. Pareidolia. Otak manusia dirancang mencari pola, bahkan ketika tidak ada pola untuk ditemukan—terutama ketika tidak ada. Ia menutup jendela pencitraan itu dan membuka yang seharusnya ia buka sejak tadi: bukan gambar, tapi angka.
Kedipan ketiga sudah tiga hari berlalu. Kurva cahayanya, yang sempat membuatnya girang sesaat sebelum kejanggalan bentuknya menahan kegembiraan itu, kini sudah diperiksa, dibersihkan, dan dicocokkan waktunya dengan dua kedipan sebelumnya lewat osilator terkunci-GPS. Tiga kejadian. Tiga fase sidereal yang, kalau ia jujur pada dirinya sendiri, berkumpul terlalu rapat untuk disebut kebetulan biasa—tapi terlalu sedikit untuk disebut apa pun secara ilmiah.
Ia membuka berkas simulasi yang sudah ia siapkan sejak sore, model nol: seandainya seluruh kedipan yang tercatat sepanjang delapan bulan pengamatan hanyalah derau acak detektor—hangat, dingin, sinar kosmik yang sudah disingkirkan, semua kemungkinan lain yang sudah ia coret satu per satu sejak Bab yang jauh di belakang ini—berapa peluang tiga kejadian semacam itu jatuh pada fase sidereal yang begitu berdekatan, murni karena kebetulan?
Ia menjalankan seratus ribu pengacakan. Program mengocok ulang waktu kejadian secara seragam di sepanjang siklus sidereal, membandingkan sebaran acak itu dengan kerapatan yang benar-benar teramati, lalu menghitung berapa persen dari seratus ribu percobaan itu menghasilkan pengelompokan sedemikian rapat atau lebih rapat lagi. Kipas komputer berdengung. Di luar, angin gunung menampar dinding kubah dengan ritme yang tak pernah benar-benar diam.
Angkanya keluar: dua koma tiga persen.
Ia menatapnya lama. Dua koma tiga persen berarti, jika seandainya tak ada pola nyata sama sekali, hanya sekitar dua dari seratus dunia paralel semacam ini yang akan menunjukkan kerapatan seperti yang ia lihat murni karena nasib buruk derau. Itu menggoda. Itu ingin didengar sebagai "hampir pasti nyata." Tapi ia tahu, dan mengulang dalam kepala seperti mantra dingin: dua koma tiga persen bukan lima sigma. Bukan bahkan mendekati ambang yang biasa dituntut untuk klaim luar biasa di bidangnya. Ia menuliskannya di buku catatan dengan pensil, bukan pena, seolah tulisan yang bisa dihapus adalah bentuk kejujuran tersendiri.
Lalu pertanyaan yang lebih tajam datang, seperti biasa datang setelah tengah malam ketika tak ada orang lain untuk diajak bicara. Berapa banyak cara lain yang bisa ia coba untuk mengiris data ini sebelum mendapat angka yang ia sukai? Ia sudah menguji tiga definisi jendela waktu berbeda sore tadi sebelum sampai pada yang ini. Ia sudah membuang dua kejadian dari daftar awal karena terlihat "meragukan," sebuah keputusan yang bisa dibenarkan secara teknis tapi juga—ia mengaku pada dirinya sendiri, di ruangan yang hanya berisi dirinya dan dengung kipas—bisa jadi hanya cara halus untuk membuat sisa data terlihat lebih rapi. Efek pandang-ke-mana-mana, begitu ia menyebutnya dalam hati: kalau kau mencoba cukup banyak cara memotong data, kau akan menemukan pola di suatu tempat, cepat atau lambat, bahkan dalam derau murni. Ilmuwan yang jujur menghitung ongkos dari semua percobaan yang gagal, bukan cuma memamerkan yang berhasil.
Ia menyandarkan punggung ke kursi dan menutup mata sebentar. Bayangan gumpalan jingga tadi—dua mata dan mulut—masih membekas di baliknya, seperti kembang api yang padam tapi meninggalkan jejak di retina. Wajah di dalam derau. Ia bertanya, dengan suara yang nyaris terdengar, apakah yang ia kejar selama ini hanyalah versi lebih rumit dari itu: pola yang ia inginkan begitu keras hingga matematikanya sendiri mulai melengkung untuk menyenangkannya.
Ia pikir tentang Pak Wignya, tentang anggaran yang menua, tentang betapa mudahnya dua koma tiga persen bisa dibulatkan jadi kata "signifikan" di depan orang yang tidak membaca lampiran metode. Betapa satu kalimat ceroboh bisa menyelamatkan sebuah observatorium—atau menghancurkan reputasi seseorang yang mengucapkannya terlalu cepat. Ia tidak tahu yang mana ia lebih takutkan.
Ia membuka lagi berkas simulasi, kali ini menjalankannya dengan definisi jendela yang paling ketat dan paling konservatif yang bisa ia bela di depan siapa pun—termasuk di depan dirinya sendiri di pagi hari, ketika kepala lebih dingin daripada sekarang. Angkanya bergeser: tiga koma tujuh persen. Masih menggoda. Masih tidak cukup.
Ia menutup laptop pelan-pelan, seolah suara klik terlalu keras bisa membangunkan sesuatu yang lebih baik tetap tidur. Di jendela kubah, langit belum menunjukkan tanda fajar, hanya hitam pekat berbintik yang sama seperti biasanya, tak peduli apa yang sedang bergolak di kepala orang yang menatapnya.
Ia menulis satu baris terakhir di buku catatan, bukan kesimpulan, hanya penanda: belum. Bukan tidak, bukan iya. Belum cukup ulangan, kata ayahnya dulu, dan ia mendengar suara itu lagi sekarang, jauh dan tenang, seperti sinyal yang menolak dinyatakan aman sebelum waktunya. Ia butuh lebih banyak kedipan, lebih banyak malam, lebih banyak cara untuk mencoba menjatuhkan pola itu sendiri sebelum ia berani percaya bahwa pola itu menolak jatuh.
Ia mematikan lampu meja terakhir, dan untuk sesaat, dalam gelap, bayangan wajah dari derau tadi muncul lagi di balik kelopak matanya—lalu perlahan luruh menjadi apa adanya: hanya titik-titik acak, tak bermakna, menunggu diberi makna oleh seseorang yang cukup sabar untuk tidak buru-buru memberikannya.