Arsip digital observatorium disimpan dalam basis data yang lebih tua daripada dirinya sendiri—metadata yang berantakan, nama jurnal yang sudah bergabung dan berganti nama dua kali, pemindaian mikrofilm yang buram di tepi-tepinya seperti kertas yang pernah kebasahan lalu dikeringkan tergesa-gesa. Janari duduk di ruang arsip di lantai bawah kubah, tempat yang jarang didatangi siapa pun kecuali untuk mencari surat izin lama atau nota pembelian cermin. Lampu neonnya berdenging pelan. Ia sudah tiga jam di sana, menyusuri kata kunci yang ia susun sendiri: okultasi anomali, kedipan tak terjadwal, deteksi negatif katalog.
Karu yang menunjukkan jalan ini, tanpa benar-benar bermaksud begitu. Kalimatnya masih terngiang: dulu ada yang bilang begitu juga. Bertahun-tahun lalu. Lalu orangnya menghilang dari lapangan. Karu tidak menyebut nama—atau mengaku lupa, yang bagi Janari sama saja artinya dengan tidak mau menyebut. Tapi kalimat itu cukup untuk membuatnya turun ke ruang berdebu ini dan mulai menggali, sebab kalau ada preseden, ada kemungkinan seseorang sudah pernah menjejak jalan yang sama dan tahu ke mana jalan itu berujung.
Ia mengetik ulang pencarian, kali ini membatasi rentang tahun: tiga puluh lima hingga dua puluh lima tahun ke belakang. Sebagian besar hasilnya sampah—makalah tentang variabel Cepheid, tentang kalibrasi fotometrik, tentang debat panjang soal galaksi kerdil yang tak lagi relevan. Ia hampir menyerah ketika satu entri muncul dengan status yang jarang ia lihat dalam basis data mana pun: DITARIK. Bukan dikoreksi, bukan errata. Ditarik penuh.
Judulnya kaku dan hati-hati, gaya penulisan generasi lama yang menghindari kata sifat: "Catatan Awal atas Kejadian Okultasi Anomali pada Bintang Tak Terkatalog di Wilayah X." Tak ada superlatif, tak ada klaim besar di judul—justru itu yang membuatnya berhenti. Orang yang menulis judul seperti ini bukan orang yang gegabah.
Ia mengklik untuk membuka berkas lampiran. Pemindaiannya lambat, garis demi garis muncul dari atas seperti tirai yang diturunkan. Abstrak singkat, tiga paragraf, tanpa gambar—atau gambarnya sudah hilang dari salinan digital. Lalu daftar penulis, dan di situ, di posisi kedua dari tiga nama, tercetak: R. Danastri.
Janari menatap layar lebih lama dari yang ia sadari. Ia membaca ulang nama itu tiga kali, seakan hurufnya bisa berubah kalau ia cukup lama menatap. Danastri. Prof. Danastri yang setiap orang di observatorium tahu namanya tapi tak pernah menyebutnya panjang lebar, yang fotonya masih tergantung di koridor administrasi—perempuan muda berkacamata besar, berdiri di depan teleskop lama yang kini sudah dibongkar, dengan keterangan foto yang hanya berbunyi mantan peneliti tamu. Dosen pembimbingnya sendiri, dulu, semasa ia masih mahasiswa magister yang gugup, pernah menyebut nama itu dengan nada yang aneh—setengah hormat, setengah waspada, seperti menyebut nama orang yang sudah pergi tapi belum sepenuhnya mati.
Ia menggulirkan ke bawah, mencari catatan penarikan. Biasanya jurnal mencantumkan alasan resmi dalam satu-dua kalimat. Yang ini hanya menulis: Ditarik atas permintaan sebagian penulis, menyusul pertanyaan terkait interpretasi data. Tidak ada rincian. Tidak ada tautan ke koreksi. Tidak ada nama yang disebut sebagai pihak yang mempertanyakan.
Janari menyandarkan punggung ke kursi. Di luar jendela kecil ruang arsip, langit sore memerah lambat di atas punggung gunung, warna yang biasanya membuatnya tenang karena menandai jam kerja instrumen akan segera dimulai. Kali ini warnanya terasa seperti peringatan yang tak berbentuk.
Ia membuka kembali abstrak, membacanya pelan-pelan, kata demi kata, seperti membaca laporan forensik. Kejadian okultasi tunggal, durasi kurang dari satu detik, pada koordinat yang tidak berimpit dengan objek katalog mana pun pada jam kejadian. Kalimat itu memantul di kepalanya seperti gaung dari ruangan lain—karena kalimat itu, hampir kata demi kata, bisa saja ia yang menulisnya sendiri minggu lalu di buku catatannya.
Ia mencatat nomor volume jurnal, nomor halaman, tanggal terbit, tanggal penarikan—jaraknya hanya delapan bulan, cukup lama untuk sebuah klaim sempat beredar, cukup singkat untuk seseorang bisa dipatahkan sebelum sempat membela diri sepenuhnya. Ia menyalin semuanya ke buku catatannya sendiri dengan tulisan tangan yang sengaja ia perlambat, seolah kecepatan menulis bisa memengaruhi seberapa serius ia menganggap ini.
Ia tidak tahu apa yang membuatnya lebih gelisah: bahwa ada preseden, atau bahwa preseden itu berakhir dengan kata ditarik dan nama yang kemudian menghilang dari daftar penulis aktif mana pun setelahnya—ia mengecek, dan benar, tidak ada makalah lain atas nama R. Danastri sesudah tanggal itu, di jurnal mana pun yang terindeks.
Ada dorongan untuk segera menutup laptop, mengembalikan berkas ke dalam basis data yang berdebu, berpura-pura ini cuma kebetulan nama yang sama. Tapi ayahnya pernah bilang, ketika Janari kecil bertanya kenapa harus dicek dua kali kalau sinyal pertama sudah tampak aman: karena tampak aman bukan berarti aman, dan orang yang berhenti pada tampak biasanya menyesal belakangan.
Ia menutup laptop pelan-pelan, bukan karena selesai, melainkan karena ia sudah tahu langkah berikutnya bukan lagi soal arsip. Nama itu nyata, dan kalau nama itu nyata, mungkin orangnya juga masih ada di suatu tempat—bukan sekadar foto di koridor dengan keterangan yang sengaja dibuat pendek.