Malam itu kubah teleskop 70 cm berderak pelan saat digerakkan menuju sasaran berikutnya, dan suara itu—logam bergesekan dengan logam yang sudah dilumasi ribuan kali—selalu membuat Janari merasa observatorium sedang bernapas. Ia duduk di kursi konsolnya dengan amplop bekas di tangan, amplop yang sudah penuh coretan angka dari malam-malam sebelumnya: massa perkiraan, jarak perkiraan, semua bertanda tanya di ujungnya. Karu berdiri di dekat rak osilator, memeriksa jendela kecil pada layar yang menampilkan galat kuantisasi waktu, angka yang bagi kebanyakan orang tak berarti apa-apa tapi baginya seperti membaca detak jantung sendiri.
"Kau masih memikirkan itu," kata Karu, tanpa menoleh.
"Aku menghitung ulang. Kalau kedipannya memang okultasi, dan bukan derau, dan bukan sinar kosmik—" Janari berhenti, seperti ragu mengucapkan sisanya keras-keras, meski sudah menuliskannya di amplop itu berkali-kali. "Bendanya harus kecil. Gelap. Jauh. Tidak ada di katalog mana pun yang kuperiksa."
Karu diam. Bukan diam yang menunggu, tapi diam yang menimbang, semacam jeda yang Janari sudah hafal—jeda sebelum Karu memutuskan berapa banyak yang akan ia katakan.
"Benda gelap tak terkatalog," ulangnya pelan, seolah mencicipi kata-kata itu. Lalu ia menutup penutup rak osilator, mengunci dengan gerakan yang lebih hati-hati daripada biasanya. "Ada yang pernah bicara begitu, dulu. Sebelum kau lahir, kurasa. Atau tak lama sesudahnya."
Janari meletakkan amplop di pangkuannya. "Siapa?"
"Peneliti. Datang ke tempat ini—bukan ke observatorium ini, observatorium yang lain, di gunung sebelah, yang sekarang sudah jadi stasiun cuaca. Waktu itu aku masih magang, baru belajar mengganti fotokatoda tanpa merusaknya." Karu menarik kursi lipat dari sudut ruangan, duduk dengan tangan tergantung di antara lutut, sikap yang selalu ia ambil kalau sedang bercerita sesuatu yang butuh waktu. "Dia bilang menangkap sesuatu yang padam sebentar, di langit yang seharusnya kosong. Bukan sekali. Berkali-kali, katanya, dalam pola yang cocok kalau dihitung dengan jam yang benar."
"Jam sidereal," kata Janari, hampir berbisik.
"Aku tak ingat istilahnya. Aku cuma ingat dia sangat yakin. Lebih yakin daripada siapa pun yang pernah kulihat memegang data." Karu menatap layar konsol, tapi matanya tidak sedang membaca apa-apa di sana. "Dan aku ingat betapa cepatnya semua berbalik."
"Berbalik bagaimana?"
"Ada yang bilang datanya cacat. Ada yang bilang metodenya longgar. Aku bukan orang yang mengerti statistik, jadi aku tak bisa bilang siapa yang benar. Yang aku ingat, satu tahun dia di mana-mana—jurnal, seminar, bahkan aku dengar namanya disebut di radio sekali—dan tahun berikutnya dia tidak ada di mana pun." Karu menjentikkan jari, pelan, seperti mematikan sesuatu. "Begitu saja. Tidak menulis makalah lagi. Tidak muncul di konferensi. Orang-orang lama di lapangan ini kalau menyebut namanya, nadanya seperti menyebut orang yang sudah meninggal, padahal setahuku dia masih hidup, di suatu tempat yang jauh dari sini."
Janari merasa sesuatu yang dingin menjalar dari tengkuk, bukan karena angin malam yang menyusup lewat celah kubah, tapi karena bentuk cerita itu—terlalu dekat dengan bentuk keyakinannya sendiri, terlalu dekat dengan amplop di pangkuannya. "Kau ingat namanya?"
Karu menatapnya lama, dan untuk sesaat Janari yakin ia akan menjawab. Tapi yang keluar justru, "Aku sudah tua, tapi belum sepikun itu. Aku ingat. Cuma—" ia berhenti, menggosok tengkuknya sendiri, "—bukan aku yang seharusnya bilang. Kalau kau penasaran, arsip lembaga ini pasti masih menyimpan sesuatu. Dulu ada tukar-menukar data antarobservatorium, sebelum semua jadi digital. Kau tinggal cari saja."
"Kenapa tidak langsung kau beri tahu?"
"Karena kau akan mendengarnya dari mulutku sebagai gosip malam, dan kau akan menganggapnya begitu—cerita orang tua yang mengantuk sambil menunggu teleskop selesai bergerak." Karu berdiri, meregangkan punggung, sendi-sendinya berbunyi pelan di ruangan yang sepi itu. "Tapi kalau kau membacanya sendiri, dari kertas, dengan tanggal dan tanda tangan—kau akan menganggapnya serius. Dan ini, menurutku, layak dianggap serius."
Ia berjalan ke jendela kontrol, memandang ke arah kubah yang masih berputar perlahan menuju koordinat berikutnya, garis lintasannya digambarkan sebagai titik hijau kecil pada layar pemandu. "Aku tak bilang apa yang kau lihat itu sama dengan apa yang dia lihat. Mungkin tidak ada hubungannya sama sekali. Tapi kalau memang ada—" Karu tak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya menoleh sekali, sebentar, lalu kembali memeriksa galat waktu di layarnya, seolah sudah mengatakan lebih banyak daripada yang ia rencanakan.
Janari duduk lama sesudah itu, amplop tergeletak diam di pangkuannya, angka-angka di atasnya tiba-tiba terasa kurang seperti hitungan dan lebih seperti pertanyaan yang belum berani ia ajukan pada dirinya sendiri. Di luar, langit tetap hitam dan penuh, tanpa tanda apa pun bahwa sesuatu di dalamnya pernah membuat seseorang kehilangan seluruh kariernya karena terlalu yakin, atau karena benar, atau—dan ini yang paling mengganggunya—karena keduanya sekaligus, dan tak ada seorang pun yang sempat memutuskan yang mana sebelum ia menghilang.
Teleskop berhenti bergerak dengan bunyi klik kecil. Layar menunjukkan sasaran baru sudah terkunci, siap merekam. Janari mengangkat amplop itu, memasukkannya ke laci mejanya, dan untuk pertama kalinya sejak kedipan pertama ia lihat, ia merasa sedang berdiri bukan di depan misteri langit, tapi di ambang sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih manusiawi daripada bintang mana pun yang bisa ia foto malam itu.