Amplop itu semula berisi tagihan listrik bulan lalu, sudah dibuka dan dilipat rapi di sudut mejanya sejak dua minggu sebelumnya, menunggu dibuang. Janari membaliknya dan menulis di sisi kosongnya, karena kertas catatan resminya ada di lemari arsip yang terkunci dan ia tak ingin turun tangga menembus dingin subuh hanya untuk mengambilnya. Angka-angka pertama yang ia tulis bukan rumus, melainkan hal yang lebih sederhana: durasi kedipan, kurang dari satu bingkai, seperlima detik menurut penghitungan paling longgar. Ia menatap angka itu lama, seolah sedang membaca alamat orang asing di sampul yang salah kirim.
Ruang kendali sunyi. Karu sudah pulang sejak pukul tiga, meninggalkan termos berisi kopi yang kini dingin di samping papan tombol. Layar utama masih menampilkan kurva cahaya bintang katalog HD 88712 yang jadi latar belakang kejadian itu — garis lurus stabil, lalu satu lekukan tajam ke bawah, lalu lurus lagi, seperti jantung yang berhenti sepersekian detik lalu berdetak seakan tak terjadi apa-apa.
Ia mulai dari yang paling ia percaya: kalau itu benar okultasi — sebuah benda melintas persis di antara teleskop dan bintang, memotong cahaya sesaat — maka bentuk kurvanya menyimpan informasi tentang benda yang menyebabkannya. Bukan warnanya, bukan permukaannya. Hanya siluet, hanya bayangan yang lewat.
Ia menulis kecepatan sudut objek-objek yang lazim ditemui langit malam: asteroid sabuk utama, benda trans-Neptunus, potongan es dan batu yang mengorbit jauh di luar Neptunus. Untuk masing-masing, ia menghitung berapa lama bayangannya akan menutupi cahaya bintang jika melintas pada jarak itu, dengan ukuran seperti yang biasa dikatalogkan. Angka-angka itu keluar terlalu panjang. Sebuah benda trans-Neptunus biasa, bahkan yang kecil, akan menciptakan kedipan yang berlangsung beberapa detik, bukan sepersekian detik. Untuk mendapatkan kedipan setajam ini, ia butuh benda yang jauh lebih kecil, atau benda yang jaraknya jauh lebih dekat dari yang masuk akal untuk sesuatu yang tak pernah tertangkap radar pelacak benda dekat Bumi.
Ia mencoba arah lain. Kalau bukan ukurannya yang kecil, mungkin jaraknya yang jauh — sangat jauh, di luar tata surya, mengambang di antara bintang-bintang seperti apa pun yang sunyi dan tak dikatalogkan siapa pun karena tak pernah memantulkan cahaya matahari yang cukup untuk terlihat. Sebuah objek semacam itu tidak perlu besar untuk menghasilkan bayangan tajam; ia hanya perlu berada tepat pada garis pandang, bergerak dengan kecepatan lintasnya sendiri terhadap Bumi, memotong cahaya bintang seperti koin kecil yang menutupi lampu jauh sesaat sebelum lenyap dari pandang.
Ia menulis persamaan kecepatan sudut lagi, kali ini membalik logikanya: bila objek berada pada jarak sekian tahun cahaya — ia menulis angka kasar, satu, sepuluh, seratus tahun cahaya, mengetuk masing-masing dengan pensil sebelum mencoretnya — dan bergerak dengan kecepatan relatif yang wajar untuk benda semacam itu, berapa ukuran fisik minimum yang dibutuhkan agar bayangannya cukup lebar untuk menutup cahaya penuh selama seperlima detik yang tercatat?
Jawabannya membuatnya berhenti menulis.
Untuk jarak yang masuk akal — jauh melampaui apa pun yang bisa dijangkau wahana antariksa, tapi masih dalam skala galaksi kita sendiri — ukuran yang keluar dari perhitungannya bukan ukuran asteroid. Bukan pula ukuran komet atau benda trans-Neptunus. Angka itu jatuh di kisaran ukuran sebuah planet, mungkin lebih besar, dan ia tak menemukan cahaya pantul apa pun dari benda itu di data langit-seluruh, tak ada jejak di katalog bintang ganda gelap, tak ada apa pun yang menunjukkan permukaan yang memantulkan sinar bintang induknya sendiri — kalau ia punya bintang induk.
Artinya benda itu, jika nyata, tidak hanya jauh dan gelap. Ia juga masif — cukup masif untuk tetap kompak pada ukuran sebesar itu tanpa tercerai-berai oleh gravitasinya sendiri, cukup padat untuk tak memancarkan atau memantulkan cahaya yang bisa tertangkap detektor mana pun yang mereka miliki. Sesuatu yang berat dan tak berpijar. Bukan bintang mati yang biasa, karena itu semestinya masih meninggalkan jejak panas sisa. Bukan planet biasa, karena planet mengorbit sesuatu, dan tak ada bintang induk dalam radius yang masuk akal di katalog manapun.
Ia menulis kata itu di sudut amplop, kecil, seolah menuliskannya terlalu besar akan membuatnya menjadi nyata sebelum waktunya: objek padat.
Ia tahu betul batas dari apa yang baru saja ia lakukan. Ini bukan pengukuran. Ini tebakan kasar yang dibangun di atas satu kejadian, satu bingkai, satu kurva cahaya yang bisa saja cuma derau instrumen yang belum ia pahami sepenuhnya. Ayahnya pernah bilang, ketika Janari kecil bertanya kenapa ia tak langsung menghijaukan sinyal begitu kereta lewat sekali dengan selamat, bahwa satu kejadian tidak pernah cukup untuk menyusun aturan. Satu kejadian hanya cukup untuk menyusun pertanyaan.
Tapi pertanyaan ini punya bobot yang tak bisa ia abaikan begitu saja. Jika perhitungannya di belakang amplop kusut ini bahkan mendekati benar, mereka sedang melihat jejak sesuatu yang belum pernah dicatat siapa pun — sesuatu yang berat, gelap, dan sunyi, melintas di antara bintang-bintang tanpa memberi tahu siapa pun bahwa ia ada, kecuali lewat satu kedipan yang nyaris tak terlihat, pada jam yang tak seharusnya, di koordinat yang tak dimiliki benda langit mana pun.
Ia melipat amplop itu, memasukkannya ke laci meja, bukan tempat sampah. Lalu ia menyalakan lampu meja yang lebih terang, menarik kertas kosong yang sesungguhnya, dan mulai menulis ulang semua perhitungan itu dari awal — kali ini rapi, kali ini dengan asumsi yang ia catat satu per satu, kali ini dengan galat yang ia hitung jujur, bukan ditaksir. Sebab kalau ini benar-benar sesuatu, ia harus bisa mempertahankannya di depan orang yang akan bertanya, dan orang pertama yang akan bertanya paling keras adalah dirinya sendiri.