Janari mulai dari yang paling mudah disingkirkan: asteroid.
Katalog Minor Planet Center memuat lebih dari sejuta objek, tiap satu dengan elemen orbit yang diperbarui setiap malam oleh observatorium-observatorium di seluruh dunia. Ia memasukkan koordinat kejadian—asensio rekta dan deklinasi, ditera ke perseratus detik busur—lalu menjalankan pencocokan lintas waktu untuk jam sidereal yang telah ia stempel dengan osilator terkunci-GPS. Layar memuntahkan daftar kandidat: batu-batu kecil bernomor, sebagian besar tak lebih dari beberapa kilometer garis tengahnya, melintas jauh dari jalur pandang itu. Tak satu pun cocok. Ia memperlebar jendela toleransi, memberi ruang bagi kesalahan efemeris, memberi ruang bagi objek yang belum diperbarui orbitnya sejak deteksi terakhir. Tetap nihil.
Ia mencoba trans-Neptunus. TNO bergerak lambat, kadang tersembunyi dalam katalog yang tak selengkap sabuk asteroid utama, dan untuk sesaat ia berharap menemukan sesuatu di sana—sebuah dunia es kecil yang belum sempat dipetakan penuh, cukup untuk menjelaskan kedipan itu sebagai kesalahan administratif semata, bukan misteri. Ia menyaring berdasarkan magnitudo, berdasarkan kemiringan orbit, berdasarkan segala kombinasi yang masuk akal untuk benda sejauh itu yang bisa memotong garis pandang ke bintang yang diokultasi. Hasilnya kosong seperti sebelumnya.
Bintang variabel menjadi kemungkinan ketiga, dan yang paling ia harapkan bisa membereskan semuanya dengan rapi. Barangkali bintang itu sendiri yang berkedip—bukan diokultasi oleh sesuatu, melainkan meredup karena dirinya sendiri, sebuah bintang gerhana ganda yang belum tercatat, atau ledakan kecil pada permukaannya. Ia membuka General Catalogue of Variable Stars, lalu katalog-katalog turunan yang lebih baru dari misi-misi survei angkasa, menyisir setiap entri dalam radius setengah derajat dari koordinat kejadian. Ada beberapa bintang variabel di sekitar situ—cukup jauh, dengan periode dan amplitudo yang telah terdaftar rapi, tidak satu pun bertepatan dengan jam kejadian atau menunjukkan pola meredup sedetik yang ia rekam.
Ia duduk lebih lama dari yang ia sadari, menatap tiga jendela yang terbuka berdampingan di layar—tiga basis data, tiga kemungkinan yang telah runtuh satu per satu, seperti pintu yang dibuka lalu ditutup rapat kembali karena ruangan di baliknya kosong.
"Sudah selesai?" Karu bertanya, muncul membawa dua cangkir kopi yang uapnya mengepul tipis di udara dingin ruang kendali.
"Baru selesai menyingkirkan," jawab Janari. "Bukan menemukan."
Karu meletakkan cangkir di samping papan ketik, tidak buru-buru duduk. Ia mengintip layar, membaca daftar hasil pencarian yang berjajar seperti daftar belanja yang dicoret satu-satu. "Tidak ada yang cocok sama sekali?"
"Nol asteroid. Nol TNO. Nol bintang variabel yang terdaftar." Janari menyandarkan punggung ke kursi, merasakan ototnya kaku setelah berjam-jam menunduk ke layar. "Aku sudah memperlebar toleransi posisi sampai lima detik busur. Masih nol."
"Berarti katalognya belum lengkap."
"Bisa jadi." Janari menatap koordinat itu lagi—angka-angka yang sudah ia hafal di luar kepala sekarang, seperti alamat rumah yang berulang kali ia kunjungi tanpa pernah menemukan siapa pun di dalamnya. "Tapi itu bukan penjelasan, Karu. Itu cuma cara lain untuk bilang: aku tidak tahu."
Ia membuka jendela keempat—arsip citra survei langit dari dekade sebelumnya, untuk memeriksa apakah ada sesuatu di posisi itu yang pernah terekam meski tak pernah dikatalogkan sebagai objek bergerak. Bintik cahaya samar yang lolos dari perhatian, mungkin. Ia menautkan koordinat, menunggu pemuatan citra arsip yang lambat karena resolusi tinggi, lalu menatap bidang gelap yang muncul di layar.
Kosong. Latar langit yang datar, hanya berbintik derau instrumen halus dan beberapa bintang jauh yang jauh dari posisi target. Tidak ada apa pun, tidak pernah ada apa pun, sejauh arsip itu bisa mengingat.
"Kalau begitu bukan asteroid yang belum diketahui," kata Karu pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri sambil menyesap kopi. "Bukan juga bintang yang meredup sendiri."
"Bukan." Janari mengetuk-ngetukkan pena di meja, ritme yang tak ia sadari sampai suaranya sendiri terdengar berlebihan di ruangan yang sunyi. "Semua yang sudah dikenal, semua yang sudah punya nama dan nomor katalog, sudah kusingkirkan satu per satu. Yang tersisa cuma satu kemungkinan: apa pun yang mengokultasi bintang itu, ia tidak ada di katalog mana pun di dunia ini."
Kalimat itu keluar lebih pelan dari yang ia niatkan, seolah mengucapkannya keras-keras bisa membuatnya lebih nyata—atau lebih berbahaya.
Karu tidak langsung menjawab. Ia menaruh cangkirnya, menyandarkan pinggul ke tepi meja, menatap Janari dengan raut yang sudah dikenal Janari sejak tahun-tahun pertama bekerja bersama: raut orang yang sudah melihat terlalu banyak untuk gegabah bergembira, tapi belum cukup sinis untuk menutup kemungkinan sama sekali.
"Tak terkatalog," ulang Karu, seakan mengetes bagaimana kata itu terasa di lidah. "Itu bisa berarti dua hal, Nari. Bisa berarti kau sedang melihat sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun. Atau bisa berarti kau sedang melihat sesuatu yang cacat—derau, artefak, kesalahan yang begitu asing sampai tak ada yang pernah mencatatnya karena memang tak pernah terjadi."
"Aku tahu." Janari menatap layar yang masih menampilkan citra arsip kosong itu, bidang langit yang tak berkata apa-apa tentang apa yang pernah—atau tak pernah—ada di sana. "Itu yang membuatku takut. Bukan karena ini mungkin sesuatu yang besar. Tapi karena aku tidak punya apa pun untuk membandingkannya. Tidak ada peta. Tidak ada nama yang bisa kutunjuk dan bilang, ini dia, ini yang menyebabkannya."
Ia menutup satu per satu jendela di layar—asteroid, TNO, bintang variabel, arsip citra—sampai yang tersisa hanya bingkai data mentah kejadian itu sendiri: satu kedipan, satu jam sidereal, satu koordinat yang, sejauh yang bisa dikonfirmasi seluruh katalog astronomi yang tersedia baginya malam itu, seharusnya tidak menyembunyikan apa pun sama sekali.
Di luar jendela observatorium, langit tetap menampakkan wajahnya yang biasa—dingin, bertabur bintang yang sudah lama dinamai dan diberi nomor, tenang seolah tak pernah menyimpan rahasia. Janari menatapnya sesaat lebih lama dari biasanya, lalu kembali menunduk ke catatan, menuliskan satu baris yang akan menjadi kesimpulan sementara malam itu: tidak ada objek terkatalog yang bertanggung jawab. Sifat itu sendiri—sifat tak dikenal, tak berpeta, tak bernama—yang kini membuatnya tak bisa berpaling.