Pukul dua belas lewat tujuh menit, alarm pipa deteksi berdenting satu kali—pendek, tak dramatis, seperti seseorang mengetuk pintu dengan buku jari, bukan menggedor. Janari nyaris melewatkannya karena sedang menyesap kopi yang sudah dingin sejak jam sebelas.
"Itu tadi bunyi apa?" Sekar sudah berdiri dari kursinya, mata masih separuh terpejam karena kantuk yang baru saja pecah.
Janari meletakkan cangkirnya tanpa suara. Di layar utama, salah satu panel—panel yang selama sepuluh hari terakhir cuma menampilkan garis lurus membosankan, kurva cahaya bintang target yang datar dan setia—menunjukkan sesuatu yang berbeda. Sebuah lekukan. Turun, lalu naik lagi, dalam rentang waktu yang bahkan sebelum ia menghitung pun sudah terasa terlalu singkat untuk disebut wajar.
"Jangan disentuh dulu," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sekar. "Biarkan buffer selesai menulis."
Ia menahan napas selama tiga detik yang terasa seperti tiga puluh. Pipa yang mereka bangun bersama Sekar minggu-minggu terakhir bekerja persis seperti yang ia rancang: menangkap kejadian, menstempelnya dengan waktu dari osilator terkunci-GPS, menyimpan seratus bingkai sebelum dan sesudah tanpa menunggu perintah manusia. Tak ada jeda untuk keraguan manusia menyusup sebelum data terekam. Itulah intinya. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, sistem itu menangkap sesuatu secara langsung, bukan dari arsip yang sudah dingin berhari-hari.
Ia menarik kursor ke panel data mentah. Deret bingkai berbaris rapi, satu per satu, dan di tengahnya—bingkai keseratus dua puluh tiga dari seratus tujuh puluh—cahaya bintang target anjlok nyaris ke nol lalu kembali seperti semula pada bingkai keseratus dua puluh lima.
"Itu dia," bisik Sekar, mendekat, tangannya mencengkeram sandaran kursi Janari tanpa sadar. "Itu kan—sama seperti yang dulu? Yang di arsip lama?"
"Koordinatnya dulu." Janari sudah mengetik, memanggil katalog koordinat sidereal yang tersimpan dari dua kejadian sebelumnya. Angka-angka muncul, dan ia membandingkannya dengan yang baru saja terekam. Selisihnya kecil—dalam batas galat instrumen. "Sama. Ini di titik yang sama."
Untuk sesaat ia hanya diam, membiarkan fakta itu mengendap. Bukan satu. Bukan dua. Tiga. Dan yang ketiga ini bukan hasil menyisir arsip berbulan-bulan kemudian, melainkan tertangkap hidup-hidup, dengan seluruh mesin berdiri saksi, dengan cap waktu yang tak bisa disangkal siapa pun yang memahami cara kerja osilator terkunci-GPS.
Ada rasa hangat yang naik dari dadanya, sesuatu yang nyaris membuatnya tertawa—bukan tawa lega, melainkan tawa yang keluar begitu saja karena tubuh tak tahu harus berbuat apa dengan kegembiraan sebesar itu di jam sedini ini. Ia menoleh ke Sekar, dan untuk sepersekian detik mereka berdua saling menatap seperti dua orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang tak akan pernah bisa mereka ceritakan dengan cara yang membuat orang lain mengerti betapa besarnya ini.
"Ini tak terbantah lagi," kata Sekar, suaranya bergetar sedikit. "Kan? Ini bukan lagi soal 'mungkin ada pola.' Ini ada. Tiga kali."
"Tunggu," Janari berkata, tapi ia sendiri tak yakin sedang menahan Sekar atau menahan dirinya sendiri. Ia menarik kurva cahaya itu ke jendela analisis terpisah, memperbesarnya, memaksa sumbu waktu meregang hingga tiap bingkai berdiri sebagai titik tersendiri.
Dan di situlah sesuatu mulai mengganjal.
Turunnya terlalu curam.
Ia menatapnya lama. Sebuah okultasi oleh benda yang jauh—benda dengan jarak yang cukup untuk membuatnya tak terkatalog, seperti yang mereka duga—seharusnya menghasilkan tepian yang tak sepenuhnya bersih. Difraksi Fresnel, dari cahaya yang menekuk di sekitar tepi benda pengokultasi, biasanya meninggalkan jejak: kerut-kerut kecil pada kurva, semacam anak tangga samar sebelum benar-benar padam, atau kilau tipis sesaat sebelum terang penuh kembali. Semakin jauh dan semakin kecil bendanya, semakin nyata pola kerut itu seharusnya tampak—itulah salah satu cara untuk membedakan okultasi sejati dari sekadar derau instrumen.
Kurva ini tak punya kerut apa pun. Ia jatuh dari terang penuh ke nyaris nol dalam satu bingkai, seolah seseorang mematikan saklar.
"Kenapa?" Sekar memperhatikan wajahnya berubah. "Ada yang salah?"
"Belum tentu salah." Janari mengetuk pensil ke meja, ritme yang tak ia sadari sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, sejak duduk di kotak sinyal menunggu kereta lewat. "Tapi terlalu tajam. Untuk benda sejauh yang kita kira, seharusnya ada pola difraksi. Bayangan bintang bukan tembok bata. Cahaya menekuk di tepinya."
"Mungkin resolusi waktu kita belum cukup halus untuk menangkap kerutnya?"
Itu kemungkinan yang masuk akal, dan Janari mencatatnya, karena ia tahu godaan terbesar malam ini bukan meragukan data, melainkan memaksa data mengatakan apa yang ingin ia dengar. Bisa jadi kamera memang terlalu lambat untuk merekam kerut sehalus itu. Bisa jadi. Tapi bisa juga berarti benda pengokultasi ini tak sejauh yang mereka kira—atau bukan benda alami sama sekali, melainkan sesuatu yang lebih dekat, lebih kecil, lebih tajam tepinya, seperti sesuatu yang berkilau lalu padam karena alasan yang jauh lebih membumi.
Ia tidak mengucapkan kemungkinan terakhir itu. Belum. Ada waktu untuk memeriksa elemen orbit satelit, ada waktu untuk membandingkan bentuk titik-sebar, ada waktu untuk semua prosedur yang sudah ia pelajari menjaganya tetap jujur pada dirinya sendiri.
Malam ini, untuk pertama kalinya, ia punya kedipan yang tertangkap hidup-hidup, tak terbantah keberadaannya. Dan untuk pertama kalinya pula, bentuknya sendiri menolak memberi jawaban yang bersih.
Sekar masih menunggu di sampingnya, wajahnya penuh harap yang belum diberi alasan untuk surut. Janari menyimpan berkas itu dengan nama yang netral—hanya cap waktu, tanpa label kemenangan—dan mematikan layar sejenak, membiarkan kegelapan kubah menelan kegembiraannya sampai ia yakin kegembiraan itu pantas ditahan.