Broto Sasongko tiba lebih pagi dari yang dijadwalkan, dengan mobil hitam yang harus berhenti dua kali di tanjakan berkabut sebelum akhirnya sampai ke halaman observatorium. Janari mendengar suara pintu mobil menutup dari jendela ruang kerjanya, dan sesaat ia hanya berdiri di sana, menatap sopir yang membukakan pintu, lalu Pak Wignya yang bergegas turun dari beranda kantor dengan senyum yang sudah disiapkan sejak semalam.
"Beliau datang lebih cepat," kata Sekar, muncul di ambang pintu dengan mangkuk kopi yang belum sempat diminum. "Kudengar dari resepsionis, Pak Wignya sampai menyuruh menyapu jalan setapak dua kali."
"Aku tahu." Janari menutup laptopnya, meski data kurva cahaya yang belum tuntas ia periksa masih berkedip di layar sebelum gelap. "Bukan urusan kita, kecuali kita diminta."
Tapi ia tahu itu bohong bahkan saat mengatakannya. Broto Sasongko bukan tamu yang datang untuk melihat kubah teleskop dari luar dan pergi. Ia datang untuk sesuatu, dan biasanya yang ia inginkan menemukan jalannya ke ruang kerja siapa pun yang punya nama paling sering disebut dalam laporan bulanan.
Pak Wignya menjemputnya sendiri ke ruang pertemuan kecil di lantai dua, dan tak sampai setengah jam kemudian, seorang staf mengetuk pintu Janari dengan wajah yang berusaha terlihat biasa.
"Bu Janari diminta bergabung," katanya. "Di ruang pertemuan."
Ruangan itu berbau kopi yang terlalu banyak gula, sesuatu yang biasanya tak pernah disajikan di observatorium kecuali untuk tamu penting. Broto Sasongko duduk di kursi utama, mengenakan jaket kulit cokelat yang terlalu rapi untuk ketinggian dan dingin gunung, tangannya melingkari cangkir tanpa meminumnya. Ia tersenyum ketika Janari masuk, senyum yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk terlihat tulus di depan kamera.
"Ah. Peneliti muda kita." Ia berdiri setengah, menjabat tangan Janari lebih lama dari yang perlu. "Pak Wignya bilang banyak tentang Anda."
"Terima kasih sudah berkunjung, Pak," kata Janari, memilih kata paling netral yang bisa ia temukan.
"Saya datang," kata Broto, duduk kembali, "karena tahun ini ulang tahun observatorium yang ke berapa puluh, dan saya ingin memastikan acara nanti punya sesuatu yang pantas dirayakan. Bukan cuma pidato dan kue." Ia tertawa pendek, memandang Wignya seolah meminta persetujuan, dan Wignya tertawa juga, sedikit terlambat.
"Tentu ada banyak pencapaian tahun ini," kata Wignya. "Survei bintang variabel kita, pemetaan—"
"Saya tidak bicara soal grafik di laporan tahunan." Broto memotong, masih tersenyum, tapi nada suaranya berubah, lebih tajam di bawah permukaan yang halus. "Saya bicara soal kisah. Sesuatu yang bisa saya ceritakan pada orang-orang yang menyumbang uang mereka, yang membuat mereka merasa uang itu membeli sesuatu yang menakjubkan, bukan sekadar mempertahankan gedung tua di puncak gunung."
Ia menyesap kopinya, lalu menatap Janari langsung.
"Saya dengar," katanya, "ada sesuatu yang menarik dari data Anda belakangan ini."
Janari merasa ruangan menyempit sedikit. Ia melirik Wignya, dan menemukan direkturnya sedang menghindari tatapannya, sibuk merapikan map di depannya seolah map itu penting.
"Kami sedang menyelidiki satu anomali kecil dalam pengamatan okultasi," kata Janari, hati-hati memilih kata. "Belum ada kesimpulan apa-apa. Masih tahap awal."
"Anomali," ulang Broto, seperti mencicipi kata itu. "Apa jenisnya?"
"Sebuah kedipan tunggal dalam kurva cahaya bintang," kata Janari. "Kami sedang memastikan apakah itu artefak instrumen atau sesuatu yang nyata. Prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan, mungkin lebih."
"Tapi kalau nyata," kata Broto, condong ke depan sedikit, "apa artinya?"
"Kalau nyata," kata Janari, dan ia merasa dirinya berjalan di tepi sesuatu yang licin, "itu bisa berarti ada benda yang belum terkatalog di lokasi itu. Sesuatu yang gelap. Kami belum tahu apa."
Broto menyandarkan punggungnya, matanya berkilat seperti orang yang baru menemukan judul berita di kepalanya sendiri. "Benda gelap yang belum ditemukan siapa pun," katanya perlahan, seolah menguji bunyinya di lidah. "Itu bagus. Itu bisa jadi kisah bagus." Ia menoleh ke Wignya. "Ini yang saya maksud, Pak Wignya. Bukan grafik. Ini."
"Kami belum bisa memastikan apa pun, Pak," kata Janari, lebih cepat dari yang ia rencanakan. "Kalau kami umumkan sesuatu yang belum terverifikasi dan ternyata salah, itu bisa merusak kredibilitas kami jauh lebih dari sekadar kehilangan satu berita menarik."
Wignya akhirnya mengangkat wajah. "Bukan berarti kita perlu terburu-buru mengumumkan apa pun, Broto. Tapi—" ia berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati yang terlalu terlihat, "—kalau ada perkembangan yang bisa dibagikan menjelang gala, itu akan sangat membantu posisi kita di depan dewan."
Ada sesuatu dalam caranya mengatakan itu — bukan perintah, tapi juga bukan sekadar saran — yang membuat Janari paham persis apa yang sedang terjadi. Wignya tidak memintanya berbohong. Ia hanya membuka pintu selebar mungkin, berharap Janari yang akan melangkah masuk sendiri.
"Saya paham posisi observatorium," kata Janari, memilih tiap kata seperti menempatkan batu di jalan yang licin. "Tapi saya tidak bisa memberi Anda kisah yang belum saya yakini sendiri. Begitu saya bicara di depan publik, saya harus bisa mempertanggungjawabkan setiap kalimat."
Broto menatapnya lama, senyumnya tak hilang tapi berubah bentuk, seperti seseorang yang baru saja mengukur berapa lama ia harus menunggu.
"Saya orang yang sabar," katanya akhirnya, berdiri dan merapikan jaketnya. "Tapi dewan yang mendanai gala tahun ini tidak akan sesabar saya. Pikirkan itu, Nona Janari." Ia menjabat tangan Wignya, lalu tangan Janari sekali lagi, lebih singkat kali ini. "Saya harap saya bisa mendengar kisah bagus sebelum musim gugur."
Setelah mobil hitam itu menuruni tanjakan dan kabut menelan suara mesinnya, Wignya berdiri di beranda cukup lama, tidak mengatakan apa-apa. Janari berdiri di sampingnya, merasakan tekanan yang baru saja diletakkan begitu pelan di pundaknya, begitu sopan, sehingga hampir tak terasa seperti beban sama sekali — sampai ia mencoba berjalan membawanya.