Pukul tiga lewat dua belas menit dini hari, dan kubah Observatorium Tepi Lereng berderit seperti orang tua yang lupa caranya diam. Janari Nawangsih sudah hapal bunyi itu. Setiap kali angin gunung berbalik dari arah lembah, sambungan baja di sendi kubah memuai sepersekian milimeter dan mengerang. Dulu, bunyi itu membuatnya cemas. Sekarang ia hanya mencatatnya di kepala, di kolom yang sama dengan suara dengung generator dan tetes kondensasi yang jatuh dari pipa pendingin ke ember biru di pojok ruang kendali.
Di layar di depannya, langit malam mengalir lambat dalam bentuk angka. Bukan gambar—Janari tidak sedang memandangi langit indah. Ia memandangi kurva cahaya: garis hijau tipis yang naik turun, merekam berapa banyak foton yang jatuh ke detektor teleskop tujuh puluh sentimeter mereka setiap dua puluh milidetik. Malam itu mereka menjadwalkan okultasi—peristiwa ketika sebuah asteroid kecil di tata surya lewat tepat di depan sebuah bintang jauh, dan untuk sekejap menutupnya. Bintang itu redup, asteroidnya cuma beberapa kilometer, dan seluruh peristiwa hanya berlangsung kurang dari dua detik. Bagi kebanyakan orang, ini hal paling membosankan yang bisa dilakukan manusia di puncak gunung. Bagi Janari, ini adalah cara mencuri ukuran dari benda yang terlalu kecil dan terlalu jauh untuk difoto.
Karu, teknisi malam yang lebih tua dua puluh tahun darinya, menyodorkan gelas teh tanpa diminta. Uapnya naik di udara dingin. 'Pejaman jam berapa prediksinya?' tanyanya, suaranya serak karena kantuk.
'Tiga belas lewat empat detik,' kata Janari, tanpa melepas mata dari pojok kanan layar, tempat angka detik berjalan dari jam GPS mereka. 'Plus minus dua detik. Geometri lintasannya masih kasar.'
Karu mengangguk dan menyandar ke kursi lipat di belakang. Ia tidak benar-benar paham angka-angka itu, tapi ia paham Janari. Perempuan ini, kalau sudah menatap kurva cahaya, bisa lupa bahwa tubuhnya butuh tidur, butuh makan, butuh duduk dengan punggung lurus. Karu sudah menemani tiga astronom di observatorium ini. Yang ini yang paling rapi waktunya, dan paling tidak rapi hidupnya.
Janari mencondong. Pada detik ketiga, garis hijau jatuh. Bukan turun pelan—jatuh, tegak lurus, seolah seseorang menutup keran cahaya. Lalu, hampir dua detik kemudian, naik lagi sama tegaknya. Itu okultasinya. Asteroid kecil itu baru saja menutupi bintang dan membukanya kembali, dan teleskop tua mereka menangkapnya dengan sempurna.
'Dapat,' kata Janari pelan. Bukan teriakan kemenangan. Lebih seperti orang yang mencocokkan kunci dengan lubangnya. Karu tersenyum dan menyeruput tehnya.
Seharusnya malam itu selesai di situ. Satu okultasi bersih, satu titik data untuk memperbaiki orbit asteroid yang nomornya bahkan tidak punya nama. Tapi Janari tidak pernah menutup satu pengamatan begitu saja. Ia membiarkan perekam jalan terus, merekam langit di sekitar bintang target selama beberapa menit lagi—kebiasaan dari mentornya dulu, yang selalu bilang langit tidak pernah cuma berisi satu hal yang kau cari. Lalu ia mulai menyaring rekaman bintang-bintang lain di bidang pandang yang sama, sekadar memastikan tidak ada yang aneh dengan kalibrasi.
Di situlah ia melihatnya.
Sebuah bintang redup di pojok bawah bidang, bintang yang sama sekali bukan target, bintang yang tidak ada dalam jadwal okultasi mana pun—padam. Sepersekian detik saja. Garis cahayanya jatuh, lalu naik kembali, persis seperti okultasi yang baru mereka rekam, tapi jauh lebih singkat. Kurang dari empat ratus milidetik. Kedipan kecil, satu kerlip kegelapan di tengah bintang yang seharusnya menyala tenang.
Janari menahan napas dan tidak menyadarinya.
'Karu,' katanya. 'Kemari sebentar.'
Ia memutar rekaman itu lambat-lambat. Garis hijau si bintang redup mengalir mantap, lalu terjun, datar sebentar di dasar, lalu memantul naik. Tidak ada awan—langit di atas gunung malam itu jernih sempurna, ia memeriksa kamera langit-seluruh untuk memastikan. Tidak ada pesawat; tidak ada lintasan, tidak ada lampu kedip. Tidak ada satelit yang tercatat lewat petak langit itu pada saat itu. Bintang itu hanya padam, sendirian, lalu menyala lagi.
'Burung?' tawar Karu. 'Kelelawar lewat depan teropong?'
'Kalau sesuatu lewat dekat, bayangannya tidak setajam ini. Akan kabur, akan ada gradien.' Janari menunjuk lereng turunnya garis. 'Ini tajam. Tepinya tegak. Apa pun yang menutup bintang ini, dia jauh. Jauh sekali, sampai tepinya tampak setajam pisau.'
Ia berhenti. Kalimat itu keluar lebih besar dari yang ia mau.
Sesuatu yang jauh, yang gelap, yang menutup bintang sepersekian detik. Itu deskripsi okultasi oleh benda di tata surya luar. Tapi tidak ada benda yang dikatalog di petak langit itu, pada jam itu. Ia membuka basis data benda tata surya dan memasukkan koordinatnya. Kosong. Ia memeriksa daftar asteroid yang diketahui melintasi bidang malam itu. Tidak ada satu pun yang dekat. Ia memeriksa katalog objek trans-Neptunus, benda-benda dingin di luar Neptunus yang bergerak lambat sekali. Tidak ada yang cocok dengan posisi itu.
Lalu ia melakukan hal yang akan menghantuinya berminggu-minggu kemudian. Ia membandingkan waktu kedipan itu dengan jam GPS-nya, dan dengan osilator terkunci-GPS yang menjadi kebanggaan kecil observatorium miskin ini—satu-satunya alat mahal yang mereka miliki, kotak hitam seukuran buku yang mengunci detak waktu mereka ke sinyal satelit dengan ketelitian di bawah seperjuta detik. Janari hidup demi presisi waktu. Ayahnya dulu teknisi sinyal kereta; Janari besar dengan membaca jadwal di papan stasiun, mengerti bahwa kereta yang datang di jam yang salah berarti ada yang rusak di suatu tempat di jaringan. 'Jam yang salah,' kata ayahnya, 'tidak pernah cuma jam. Selalu ada sebabnya.'
Kedipan ini terjadi di jam yang salah.
Ia tidak tahu apa yang ia harapkan menjadi 'jam yang benar'—tidak ada benda yang dijadwalkan, jadi tidak ada jam benar untuk dibandingkan. Tapi rasanya salah. Rasanya seperti kereta yang masuk peron lima belas menit sebelum jadwal di malam ketika seharusnya tidak ada kereta sama sekali.
'Glitch,' kata Karu, menyimpulkan untuknya, mungkin demi membuat Janari bisa tidur. 'Detektor kadang kedip. Sudah tua semua di sini.'
'Mungkin,' kata Janari. Ia mengetik di lognya, dengan tangan yang ia paksa tenang: kemungkinan glitch detektor, satu titik, bintang bukan-target, durasi 380 milidetik, perlu ditinjau. Kata 'glitch' terasa seperti kebohongan kecil di jarinya. Glitch instrumen tidak punya tepi setajam itu. Glitch tidak menutup bintang dengan bayangan benda jauh.
Karu pergi tidur menjelang fajar. Janari tidak. Ia duduk sampai langit timur berubah kelabu dan bintang-bintang satu per satu padam—padam dengan benar, padam karena matahari datang, padam di jam yang benar. Ia memandangi satu garis hijau yang sudah ia putar dua belas kali, dan ia tahu, dengan rasa yang lebih mirip takut ketimbang girang, bahwa ia tidak akan bisa berhenti memikirkannya.