Malam itu ruang kerja di sisi kubah lebih dingin daripada biasanya, dan Janari Nawangsih membiarkan dingin itu tinggal karena ia butuh kepala yang jernih. Layar laptopnya menyala putih di tengah gelap, dipenuhi baris kode yang belum genap—sebuah kerangka yang ia sebut, dalam catatannya sendiri, pipa deteksi. Ia lelah menunggu di depan monitor tiap malam untuk meninjau bingkai demi bingkai secara manual, menyisir ribuan citra hanya untuk menemukan satu yang barangkali menyimpan kedipan. Kalau kedipan itu datang lagi—dan ia mulai percaya akan datang lagi—ia tidak boleh bergantung pada matanya yang bisa lelah, bisa alpa, bisa melewatkan satu bingkai di antara ribuan yang lain.
Prinsipnya sederhana di atas kertas: setiap bingkai baru dari detektor teleskop 70 cm dibandingkan terhadap citra acuan yang sudah dihaluskan, selisihnya dihitung piksel demi piksel, dan setiap penyimpangan yang melampaui ambang tertentu ditandai sebagai kandidat. Yang tidak sederhana adalah menentukan ambang itu sendiri—terlalu longgar, dan sistem akan menjerit setiap kali derau termal bergoyang; terlalu ketat, dan kedipan sesungguhnya bisa lolos tanpa jejak, seolah tak pernah terjadi.
Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Sekar berdiri di ambang dengan jaket tebal dan rambut yang masih basah oleh kabut, membawa map berisi cetakan kode yang diminta Janari lewat surel dua hari sebelumnya.
"Aku bawa yang bagian pencocokan katalog, Mbak Janari. Tapi aku belum yakin logikanya benar."
"Duduk saja." Janari menggeser kursi kedua. "Kita periksa bersama."
Sekar mahasiswa tingkat akhir, relawan yang sudah dua musim membantu observatorium mencatat log cuaca dan menjaga jadwal kalibrasi, tapi ini pertama kalinya ia diajak masuk ke bagian yang Janari anggap miliknya sendiri. Ia duduk kaku di kursi lipat, map dipeluk seperti perisai, matanya berpindah dari layar Janari ke wajah Janari dan kembali lagi, mencoba membaca berapa besar kesalahan yang mungkin ia bawa.
"Bagian ini," Sekar menunjuk sebuah fungsi, "dia akan bandingkan koordinat kandidat sama katalog bintang, biar yang sudah dikenal—yang memang seharusnya redup di jam segitu—tidak ikut ditandai."
Janari membaca sebentar, jarinya mengetuk meja pelan-pelan, ritme yang biasa muncul ketika ia berpikir. "Radius pencariannya terlalu lebar. Kalau kau beri toleransi sebesar ini, dua bintang yang berdekatan bisa saling menyamar. Kita akan kehilangan presisi justru di titik yang paling penting."
"Aku pikir lebih aman melebar, supaya tidak ada yang lolos—"
"Lolos ke mana?" Janari mengangkat alis, bukan tajam, hanya menuntut jawaban yang lebih tepat. "Lolos jadi kandidat palsu, atau lolos dari perhatian kita sama sekali? Itu dua kesalahan yang berbeda, dan kita harus tahu yang mana yang lebih kita takutkan."
Sekar diam sebentar, lalu menulis ulang di kertas coret-coretnya sebelum menjawab. "Kalau kita perlebar, kita akan dibanjiri kandidat palsu. Nanti aku yang capek meninjau satu-satu."
"Betul. Dan kalau kau capek, kau mulai malas memeriksa, dan di situlah kesalahan sungguhan menyelinap masuk." Janari menyalin ulang parameter itu, mempersempitnya sampai radius yang menurutnya wajar untuk resolusi optik mereka. "Lebih baik sistem ini pelit memberi alarm, tapi setiap alarm yang ia bunyikan bisa kita percaya."
Mereka bekerja begitu hingga hampir tengah malam—menulis fungsi yang menstempel waktu setiap kandidat memakai keluaran osilator terkunci-GPS, menaruh catatan sidereal di samping catatan sipil supaya tak ada kebingungan lagi seperti yang pernah membuatnya begadang berminggu-minggu, menyusun basis data ringan tempat setiap kejadian tersimpan lengkap dengan kurva cahaya di sekelilingnya, bukan hanya satu bingkai yang mencurigakan. Janari bersikeras pada itu: sistem harus menyimpan konteks, sepuluh bingkai sebelum dan sesudah, supaya kelak ia bisa memeriksa bentuk penurunan cahaya itu sendiri, bukan cuma angka tunggal yang bisa menipu.
"Kenapa harus sepuluh bingkai?" tanya Sekar, mengetik sambil menunggu jawaban. "Bukannya cukup tahu terangnya turun?"
"Karena turun saja bisa berarti apa saja. Piksel panas, sinyal kosmik, satelit lewat, atau memang bintang yang ditutup sesuatu. Bentuknya yang membedakan—seberapa cepat ia turun, seberapa lama ia tinggal di bawah, seberapa cepat ia kembali. Kalau kita cuma simpan angka, kita akan percaya apa saja yang mau kita percaya." Ia berhenti, menyadari nadanya sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. "Maaf. Aku hanya tidak mau ada yang lolos karena kita malas menyimpan buktinya sendiri."
Sekar tidak tersinggung. Ia malah menatap layar lebih lama, seolah menimbang kalimat itu, lalu mengetik ulang bagian penyimpanan data sesuai yang diminta. Dalam diam kerja itu, Janari memerhatikannya sekilas—cara Sekar menggigit ujung pena ketika berpikir, cara ia menghapus dan menulis ulang komentar di kode supaya orang lain kelak bisa membacanya, ketelitian kecil yang tidak diminta siapa pun tapi tetap ia lakukan. Ada sesuatu yang mengingatkan Janari pada dirinya sendiri bertahun silam, sebelum ia belajar bahwa ketelitian sering kali sepi penghargaan.
Menjelang pukul satu, pipa itu berjalan untuk pertama kalinya tanpa galat. Layar menampilkan baris hijau yang berjalan pelan, membaca satu demi satu bingkai yang datang dari detektor, membandingkannya, menandainya jika perlu, menyimpannya jika layak. Belum ada apa-apa yang tertangkap malam itu—hanya derau biasa yang naik-turun dalam batas wajar, ditolak sistem sebelum sempat mengganggu.
"Jadi begini caranya menunggu," kata Sekar pelan, memandangi baris yang terus mengalir seperti sungai kecil di layar.
"Begini caranya menunggu dengan benar," Janari membetulkan, tanpa maksud mengoreksi berlebihan. "Kita tidak bisa memaksa langit memberi kita sesuatu malam ini. Yang bisa kita lakukan cuma memastikan, kalau ia memberi, kita tidak melewatkannya—dan tidak mengarang sesuatu yang bukan pemberiannya."
Sekar mengangguk, menutup laptopnya sendiri, tapi tak beranjak. Di luar jendela kecil ruang kerja, kubah masih berputar pelan mengejar koordinat yang sama seperti malam-malam sebelumnya, arahnya tetap pada titik kosong di langit yang tak seharusnya menyembunyikan apa pun. Janari membiarkan pipa itu berjalan sepanjang malam, log-nya bertambah baris demi baris, jaring yang kini terpasang dan menunggu, sabar, untuk kedipan berikutnya yang entah kapan akan datang.