Malam itu Janari tidak berangkat dari data baru, melainkan dari yang lama—arsip tiga bulan terakhir yang belum pernah ia baca ulang dengan pertanyaan yang benar. Ia duduk di kubah kendali, layar terbagi dua: di kiri, bingkai kedipan pertama yang sudah ia kenal seperti wajah sendiri; di kanan, kolom waktu yang selama ini ia perlakukan sebagai angka mati—stempel sipil, jam dinding, tanggal kalender. Ia menatap kolom itu lama sebelum menyadari bahwa ia telah salah bertanya sejak awal.
Waktu sipil adalah waktu manusia. Bumi tak peduli pukul berapa jam di pergelangan tangan seseorang; ia peduli pada seberapa jauh ia telah berputar menghadap bintang-bintang tetap. Janari menarik kalkulator konversi yang biasa ia pakai untuk menjadwalkan pengamatan, memasukkan satu per satu waktu kejadian yang tercatat osilator terkunci-GPS, dan mengubahnya menjadi waktu sidereal—waktu yang diukur bukan oleh matahari, melainkan oleh bintang.
Angka pertama keluar. Ia menuliskannya di kertas, bukan di layar, seolah kertas lebih jujur daripada piksel.
Angka kedua keluar. Tangannya berhenti di atas keyboard.
Ia memeriksa lagi, dari awal, karena kecurigaan pertama seorang ilmuwan yang baik selalu mengarah ke dirinya sendiri: mungkin ia salah memasukkan lintang observatorium, mungkin ia keliru zona waktu, mungkin galat pembulatan menumpuk. Ia mengulang seluruh perhitungan dengan rumus yang berbeda, lalu dengan piranti lunak observatorium yang independen dari kalkulatornya sendiri. Hasilnya sama.
Dua kedipan yang terpaut berminggu-minggu dalam kalender manusia, terjadi pada dua pukul yang sama sekali berbeda menurut jam dinding, jatuh pada jam sidereal yang nyaris identik—selisihnya dalam hitungan detik, bukan menit.
Dan pada jam sidereal yang sama itu, koordinat langit yang menghadap detektor teleskop 70 cm—arah pandang tetap terhadap bintang-bintang, bukan terhadap matahari—juga sama.
Ia bersandar ke kursi. Di luar kaca kubah, langit Tepi Lereng bersih dan berdebu bintang, seolah tak tahu bahwa sesuatu di dalamnya baru saja mengulangi dirinya sendiri untuk kedua kalinya.
"Karu," panggilnya, tanpa mengangkat mata dari layar.
Karu muncul dari balik rak instrumen, membawa senter kecil yang tak lagi ia perlukan tapi selalu ia bawa, kebiasaan lama dari zaman detektor manual. "Ketemu apa?"
"Kau ingat kedipan pertama. Lalu yang di malam Selasa itu." Janari memutar layar ke arahnya. "Aku baru menghitung ulang waktunya. Bukan waktu jam kita. Waktu sidereal."
Karu mendekat, membungkuk sedikit, matanya menyipit membaca dua kolom angka yang Janari sejajarkan. Ia diam cukup lama—diam yang Janari kenali sebagai caranya memeriksa sesuatu sebelum berkomentar, kebiasaan yang lebih dipercaya Janari daripada reaksi spontan siapa pun di observatorium ini.
"Selisihnya berapa detik?" tanya Karu akhirnya.
"Tujuh koma tiga."
"Dalam jendela integrasi berapa milidetik kita kemarin?"
"Di bawah itu. Jauh di bawah itu."
Karu menegakkan badan, menghela napas panjang lewat hidung, bukan tanda kecewa, melainkan tanda seorang teknisi yang baru saja diberi angka yang tak bisa ia bantah dengan alasan teknis biasa. "Kalau ini derau," katanya pelan, "derau tidak tahu di mana bintang berada."
Janari tak menjawab dulu. Ia menarik peta langit digital, memasukkan koordinat kejadian pertama dan kedua, membiarkan dua titik itu bertumpuk di layar. Mereka jatuh pada piksel yang sama, dalam toleransi kesalahan posisi teleskop yang sudah mereka ketahui betul.
Bukan koordinat sipil yang cocok—itu tidak berarti apa-apa, sebab Bumi berputar dan segala arah pandang berubah tiap detik menurut jam matahari. Yang cocok adalah koordinat langit tetap, arah terhadap bintang-bintang jauh yang tak bergerak dalam skala manusia. Sesuatu di titik itu, pada saat bumi menghadap arah itu terhadap bintang tetap, telah padam dua kali.
"Ini bukan kebetulan tunggal lagi," kata Janari, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Karu.
"Belum tentu bukan kebetulan," Karu mengingatkan, meski suaranya tak seyakin katanya. "Dua kali bisa juga kebetulan. Perlu tiga. Perlu empat. Perlu yang tak bisa disangkal siapa pun yang duduk di seminar dan mencari alasan untuk tidak percaya."
"Aku tahu." Janari menatap dua titik yang bertumpuk itu lebih lama daripada yang seharusnya perlu untuk meyakinkan dirinya. Ia memikirkan lintasan satelit yang pernah menanam benih keraguan minggu lalu—kilau yang bergerak, bukan yang diam di satu titik langit. Yang ini berbeda. Yang ini kembali, persis, ke rumah yang sama.
Ia teringat ucapan ayahnya di kotak sinyal, meski ayahnya tak pernah bicara soal bintang: sinyal yang datang sekali bisa jadi kecelakaan alat. Sinyal yang datang dua kali, di tempat yang sama, mulai punya alamat.
Malam itu ia tidak menulis kesimpulan apa pun di log resmi observatorium. Ia hanya menyalin dua angka jam sidereal itu ke halaman baru buku catatannya, melingkari selisih tujuh koma tiga detik, dan di bawahnya menulis satu baris yang tak berani ia ucapkan keras-keras kepada siapa pun selain kertas: kalau ada kejadian ketiga, di jam sidereal yang sama, di koordinat yang sama, maka ini bukan lagi cacat, bukan lagi kebetulan, dan bukan lagi sesuatu yang bisa ia lipat dan simpan dalam laci keraguannya sendiri.
Di luar, angin dingin menampar kubah observatorium, dan bintang-bintang di koordinat itu terus bersinar seolah tak tahu apa-apa tentang seseorang yang sedang mempertaruhkan seluruh kepercayaan pada satu pola berulang yang, jika benar, berarti sesuatu di luar sana bergerak dalam gelap, jauh lebih tua dan lebih sabar daripada segala yang pernah ia hitung.