Rapat itu dipanggil pukul sepuluh pagi, jam yang aneh untuk observatorium yang seluruh ritme hidupnya berputar terbalik dari dunia siang. Janari Nawangsih datang dengan mata masih berat oleh cahaya matahari yang terasa asing, seperti sesuatu yang dipinjam paksa dari malam yang belum selesai ia tempuh. Ruang rapat di lantai bawah kubah punya jendela sempit menghadap lereng, dan dari situ kabut pagi masih menggantung di antara pohon-pohon cemara, seolah gunung sendiri enggan bangun terlalu cepat.
Pak Wignya sudah duduk di ujung meja ketika ia masuk. Map cokelat tebal tergeletak di depannya, sudutnya sudah lecek karena terlalu sering dibuka-tutup. Ia tidak langsung bicara. Ia menunggu sampai semua kursi terisi — Karu di dekat pintu dengan cangkir kopi yang tak disentuhnya, Sekar di ujung lain dengan buku catatan terbuka, dua staf administrasi yang jarang Janari lihat siang hari.
"Saya tidak akan berputar-putar," kata Wignya akhirnya. Suaranya datar, jenis datar yang dipaksakan, seperti orang yang sudah berlatih kalimat itu di depan cermin semalaman. "Dewan pengawas memutuskan meninjau seluruh anggaran observatorium. Hasilnya akan keluar sebelum akhir tahun."
Tidak ada yang bertanya dulu. Ruangan itu punya jeda yang aneh, jeda yang biasanya diisi derum generator cadangan di lantai bawah, tapi pagi itu terasa lebih senyap dari biasanya.
"Tinjauan macam apa?" Karu yang akhirnya bertanya, suaranya tenang seperti biasa, tapi Janari menangkap jarinya mengetuk pelan tepi cangkir.
"Macam yang bisa menutup kita," jawab Wignya. Ia membuka map itu, tapi tidak benar-benar membacanya — lebih seperti butuh sesuatu untuk dipegang. "Biaya perawatan kubah naik dua kali lipat sejak lima tahun lalu. Dana pemerintah daerah dipotong. Yayasan pusat bilang mereka butuh alasan kuat untuk terus menyalurkan hibah ke fasilitas seukuran kita, bukan ke observatorium besar yang sudah punya nama."
"Berapa lama kita punya?" tanya Sekar. Pertanyaan mahasiswa, lugas, belum diajari caranya menahan diri.
Wignya menatapnya sebentar, lalu menatap map itu lagi. "Kalau tidak ada perubahan, dan saya bilang ini kalau — anggaran operasional habis dalam dua belas bulan. Setelah itu, kubah ini bisa saja jadi museum. Atau ditutup rapat-rapat dan gelap seperti kalau tidak pernah ada."
Kata gelap itu menggantung terlalu lama di udara. Janari merasakan sesuatu mengerut di dadanya, bukan kaget — ia sudah lama mencium bau kertas-kertas keuangan yang menumpuk di meja Wignya belakangan ini — tapi kini angkanya diberi nama: dua belas bulan.
"Kenapa baru sekarang diumumkan?" Janari bertanya, suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan.
"Karena saya berharap tidak perlu," kata Wignya, dan untuk pertama kalinya sesuatu yang jujur lolos dari nada resminya. "Saya sudah coba menahan dewan tiga bulan ini dengan janji-janji kosong. Sekarang mereka mau lihat sesuatu yang nyata. Bukan janji."
Ia menutup map itu, meski isinya belum sempat dibaca siapa pun, seolah menutup map sama dengan menutup topik. Tapi lalu ia menambahkan, lebih pelan, seperti sedang bicara pada dirinya sendiri lebih dari pada mereka semua, "Broto Sasongko sudah bertanya dua kali minggu ini soal perkembangan riset. Saya bilang belum ada yang bisa dipaparkan. Tapi saya tidak tahu berapa lama saya bisa terus bilang begitu."
Rapat berakhir tanpa keputusan, karena memang tidak ada keputusan yang bisa diambil pagi itu selain menerima bahwa jam sudah mulai berjalan mundur. Orang-orang bubar satu per satu, Sekar dengan wajah yang mencoba tenang tapi matanya berkeliling terlalu cepat, staf administrasi yang berbisik-bisik di lorong. Karu yang terakhir keluar, berhenti sebentar di sebelah Janari.
"Jangan buru-buru mikir yang bukan-bukan," katanya, seolah bisa membaca sesuatu di wajah Janari yang belum sempat Janari sendiri sadari sedang terbentuk di sana.
"Aku tidak mikir apa-apa," jawab Janari, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan.
Karu hanya mengangguk, tidak percaya tapi juga tidak memaksa, lalu berjalan ke arah tangga menuju kubah, ke dunia malam yang masih menjadi miliknya walau matahari sedang tinggi di luar.
Janari kembali ke ruang kerjanya sendirian. Layar monitor masih menyala dari semalam, mode tidur yang gagal aktif karena ia lupa mengunci sesi. Di sana, kurva cahaya dari kedipan yang ia temukan minggu lalu masih terbuka — satu lembah sempit dan tajam di tengah garis lurus terang bintang, tercatat pada jam sidereal yang tak seharusnya menyentuh benda langit terkatalog mana pun.
Ia duduk, menatapnya lama. Bukan dengan mata seorang ilmuwan yang sedang mencari penjelasan, melainkan dengan sesuatu yang lebih licik, yang baru saja menyelinap masuk lewat celah yang dibuka Pak Wignya di ruang rapat tadi. Kalau ini nyata. Kalau ini benar-benar sesuatu yang belum pernah tercatat siapa pun — bukan piksel rusak, bukan sinar kosmik, bukan satelit yang lewat — maka ini bisa jadi alasan yang dicari dewan pengawas. Alasan yang dicari Broto. Alasan yang bisa membuat kubah ini tetap menyala dua belas bulan lagi, dan dua belas bulan setelah itu.
Pikiran itu datang tanpa diundang, dan justru karena itu terasa mengkhawatirkan — bukan karena salah, tapi karena begitu mudah muncul, begitu wajar rasanya, seolah menyelamatkan sesuatu yang ia cintai adalah alasan yang cukup untuk bicara lebih cepat dari yang seharusnya ia bicarakan.
Ia menutup laptop itu pelan-pelan, seperti menutup sesuatu yang bisa terbangun kalau digerakkan terlalu keras.
Di luar jendela, kabut mulai naik, memperlihatkan sedikit demi sedikit punggung gunung yang selama ini menjaga kubah itu tetap tersembunyi dari dunia — dan untuk pertama kalinya Janari bertanya-tanya berapa lama lagi gunung itu akan cukup untuk melindunginya.