Kamera langit-seluruh menyimpan malamnya sendiri, terpisah dari teleskop 70 cm. Janari membukanya menjelang pukul tiga, ketika kubah sudah dingin sampai ke tulang dan uap napasnya menggantung sebentar di depan monitor sebelum lenyap. Lensa mata-ikan itu merekam seluruh mangkuk langit sekaligus, dari cakrawala ke cakrawala, tanpa memilih. Ia menyukainya justru karena itu: alat yang tidak punya prasangka, yang tidak tahu apa yang sedang dicari orang di sebelahnya.
"Kau mau lihat detiknya," kata Karu. Bukan pertanyaan. Ia sudah menarik kursi kedua tanpa diminta, membawa dua gelas teh yang terlalu manis, kebiasaan lama yang tak pernah ia tinggalkan.
"Detiknya dan sepuluh detik sebelum. Dan sepuluh sesudah." Janari mengetuk stempel waktu dari osilator terkunci-GPS ke dalam pencari bingkai. Angka yang sama yang sudah ia hafal sampai ke pecahannya. "Kalau ada awan tipis lewat persis di jam itu, semuanya selesai. Kita tak perlu ribut soal benda gelap. Cukup uap air."
Ia hampir berharap begitu. Itu yang membuatnya jujur, ia pikir — bahwa sebagian dirinya ingin kalah. Uap air lebih mudah dijelaskan daripada sesuatu yang tak ada di katalog mana pun.
Bingkai-bingkai mengalir. Langit-seluruh tidak setajam teleskop; bintang-bintangnya cuma butir garam yang ditabur di kain hitam, dan Bimasakti membentang sebagai noda susu yang samar. Tapi untuk pertanyaan ini ketajaman tak penting. Yang penting adalah: apa lagi yang ada di sana, di petak langit itu, pada detik itu.
Awan lebih dulu. Ia menyapu wilayah tempat kedipan tercatat, membandingkan bingkai demi bingkai. Butir-butir garam di sana tetap butir garam — tidak meredup bersama, tidak tertutup selubung yang bergerak. Awan tak pernah menutup satu bintang sendirian lalu pergi; ia datang seperti tangan, mengaburkan sepetak sekaligus. Di sini tangan itu tak ada. Kekecewaan dan kelegaan tiba bersamaan, saling menekan sampai netral.
"Bersih," gumam Karu, mencondong. "Tak ada kabut. Malam itu kering. Aku ingat, higrometer di bawah empat puluh."
"Pesawat?"
Karu tertawa pendek. "Kau tahu jawabannya."
Ia tahu. Tapi metode menuntut ia menatapnya sendiri. Pesawat meninggalkan jejak — lampu antitabrakan yang berkedip dengan irama tetap, satu-dua detik, merah lalu putih, membelah bingkai sebagai garis titik-titik. Kedipan mereka bukan titik. Kedipan mereka terjadi di satu tempat, sekali, kurang dari sedetik, lalu langit menutup kembali seolah tak terjadi apa-apa. Ia menyisir sepuluh menit ke belakang dan sepuluh ke depan. Tak ada garis lampu yang menyeberang, tak ada kepakan berirama. Langit itu diam seperti orang yang sedang menahan sesuatu.
"Jadi bukan awan, bukan pesawat." Karu menyeruput tehnya. "Tinggal yang ketiga."
Janari tidak menjawab. Ia sudah membuka jendela ketiga di layar sebelah — daftar lintasan satelit untuk malam itu, ditarik dari elemen orbit yang tersedia bebas. Ini bagian yang selalu ia takuti tanpa tahu persis kenapa. Satelit tidak sopan seperti pesawat. Ia tak memberi tahu dirinya lewat lampu kedip. Ia hanya sekeping logam yang jatuh mengelilingi Bumi, dan sekali-sekali, untuk sepersekian detik, panel suryanya menangkap Matahari yang sudah terbenam bagi orang di tanah, lalu memantulkannya lurus ke satu lensa di satu puncak gunung. Kilau. Sekejap, terang, lalu padam.
Kebalikan dari yang ia cari. Yang ia cari adalah nyala yang padam. Yang ini padam yang bisa menyamar jadi apa saja bila kau tak hati-hati.
"Ada berapa yang lewat?" tanya Karu.
"Sedang kuhitung." Jarinya bergerak. Katalog memuntahkan lintasan demi lintasan, garis-garis parabola yang membelah peta langit malam itu seperti retak pada kaca. Kebanyakan jauh — di belahan langit yang salah, atau lewat pada menit yang salah, terpisah puluhan menit dari detiknya. Ia mencoret satu per satu, dan tiap coretan melegakan.
Lalu satu garis tidak mau dicoret.
Ia meluruskan punggung. Karu merasakannya sebelum melihat layar, cara seorang teknisi tua merasakan perubahan dengung mesin sebelum ia dengar.
"Apa," kata Karu.
"Ada satu." Suaranya turun setengah nada. "Objek terkatalog. Lintasannya lewat — dekat. Tidak persis di koordinat kedipan. Tapi dekat."
"Seberapa dekat?"
Janari menaruh kursor di posisi kedipan, lalu di posisi satelit pada stempel waktu yang sama. Dua titik. Ada jarak di antara keduanya, jelas ada; beberapa derajat, cukup untuk berkata bukan, ini bukan dia. Kilau satelit di petak itu tidak akan muncul sebagai padam di petak sebelah. Geometrinya tidak menyatu. Ia mengukurnya dua kali untuk yakin.
"Beberapa derajat," katanya akhirnya. "Meleset. Bukan dia."
Karu mengangguk lambat, tapi tidak seperti orang yang lega. "Beberapa derajat malam ini."
Janari menoleh.
"Elemen orbit itu menua, Nari." Karu menunjuk gelasnya sendiri ke arah layar, tenang, seperti sedang menerangkan cara kerja katrol. "Angka yang kau tarik itu prakiraan. Cukup baik untuk semalam. Tapi objek rendah bergeser. Yang meleset beberapa derajat hari ini, entah di mana ia bulan lalu. Entah di mana ia tiga puluh tahun lalu." Ia diam sebentar. "Aku cuma bilang: satelit itu bohong yang sabar. Ia menunggu kau lupa memeriksanya."
Kalimat itu masuk dan tinggal. Janari menatap dua titik di layar, jarak sempit yang malam ini menyelamatkannya. Ia mencatat identitas objek, nomor katalognya, elemennya, di buku yang sama tempat ia mencatat detak ayahnya dulu. Bukan karena satelit itu bersalah. Justru karena ia tidak bersalah — malam ini. Dan sesuatu yang tidak bersalah malam ini adalah persis jenis saksi yang bisa berbalik melawanmu nanti, ketika seseorang yang lebih tajam menariknya keluar dan berkata: lihat, ada logam di langitmu, siapa yang bisa yakin kilaunya tak pernah kau kira bintang.
"Kita simpan," katanya. "Setiap satelit di setiap malam. Bukan cuma yang kena. Yang lewat pun."
"Kerja tambahan," kata Karu, tapi ia sudah membuka berkas untuk mulai mencatat.
"Kerja tambahan yang tak ingin kutinggalkan pada orang lain untuk menemukannya." Ia meniru, tanpa sadar, sebuah nada yang bukan miliknya, nada seseorang di kotak sinyal yang jauh. Di luar, langit belum menunjukkan tanda pucat. Detiknya sudah bersih dari awan dan pesawat. Tapi garis parabola itu tetap melintas di kepalanya, meleset beberapa derajat, sabar, menunggu.