Merek waktu pada rak pewaktu di sudut ruang kendali berkedip hijau, tenang, seolah tak ada yang berubah di dunia sejak semalam. Janari Nawangsih duduk membungkuk di depan konsol, headphone tergantung longgar di leher, dan kopi yang sudah dingin sejak pukul sebelas masih berdiri di sampingnya, tak tersentuh. Ia sudah selesai dengan pertanyaan pertama. Kedipan itu ada di data, bukan di layar, bukan di kompresi video, bukan di imajinasinya. Yang tersisa sekarang, dan yang membuatnya tak bisa tidur, adalah pertanyaan kedua: pukul berapa persisnya benda itu padam, dan di titik langit yang mana.
Ia menarik log osilator terkunci-GPS ke layar kiri. Kotak logam seukuran roti tawar itu duduk diam di rak sejak dipasang tiga tahun lalu, menerima detak per detik dari satelit yang mengorbit ribuan kilometer di atas kepala, mengunci setiap tik jam observatorium hingga presisi yang tak masuk akal untuk kebutuhan sehari-hari mana pun—kecuali untuk ini. Untuk momen ketika sepersekian detik bisa membedakan antara sebuah penemuan dan sebuah kesalahan.
Ia menyandingkan tera waktu kamera dengan cap pulsa-per-detik GPS, mencocokkan indeks bingkai satu per satu. Prosesnya membosankan, dan justru itulah yang ia inginkan malam ini—kebosanan yang tak menyisakan ruang bagi harapan untuk menyelinap masuk dan mengotori hitungan. Ayahnya dulu bilang begitu, meski dengan bahasa yang berbeda, tentang sinyal kereta: hitung dulu, baru percaya.
Ketika angka akhirnya keluar, ia menuliskannya dua kali di buku catatan sebelum memercayainya di layar. 02:14:07,318 UTC, dengan galat kurang dari lima milidetik—jauh lebih tepat daripada yang dibutuhkan siapa pun untuk memercayai sebuah kebetulan.
Waktu sipil hanyalah separuh dari alamat. Ia membuka kalkulator waktu sidereal, memasukkan bujur observatorium, dan mengonversi cap UTC itu menjadi waktu sidereal lokal—jam yang diikuti bukan oleh Matahari, melainkan oleh bintang-bintang, jam yang membuat langit malam kembali ke posisi yang persis sama setiap kali ia berputar penuh, terlepas dari musim. Kalau ada pola di balik ini, pikirnya, pola itu akan bicara dalam bahasa sidereal, bukan bahasa jam dinding.
Ia mencatat hasilnya, lalu menariknya ke plot lapangan pandang detektor teleskop 70 cm—kotak kecil koordinat asensiorekta dan deklinasi tempat piksel itu padam. Semuanya sudah tersedia sejak semalam: posisi teleskop, sudut kubah, offset kamera. Tinggal menaruh satu titik di peta langit dan bertanya kepadanya, siapa kau.
Ia memanggil katalog bintang—versi yang diunduh observatorium dua tahun lalu, cukup dalam untuk mencakup magnitudo yang jauh lebih redup daripada apa pun yang bisa dilihat mata telanjang. Ia menyaring berdasarkan radius pencarian sekecil mungkin di sekitar koordinat itu, lalu memperlebarnya sedikit demi sedikit, curiga barangkali ia salah menghitung offset kamera.
Tak ada apa-apa.
Ia memperlebar lagi. Masih tak ada apa-apa yang cukup terang untuk menghasilkan kedipan sedalam yang tercatat di kurva cahaya semalam—penurunan kecerahan yang jelas, bukan derau, bukan fluktuasi acak. Untuk sebuah okultasi bintang terjadi, harus ada bintang di sana untuk diokultasi. Dan di koordinat itu, pada jam sidereal itu, katalog hanya menunjukkan ruang kosong—beberapa titik amat redup yang bahkan pada malam paling bening pun tak akan menghasilkan penurunan cahaya sebesar itu.
Ia mengecek ulang, kali ini bukan mencari kesalahan di katalog, melainkan di dirinya sendiri. Barangkali salah zona waktu. Ia menghitung ulang konversi UTC ke sidereal dengan tangan, di kertas, seperti yang diajarkan kepadanya bertahun-tahun lalu sebelum ia percaya penuh pada perangkat lunak siapa pun. Angkanya sama. Barangkali salah presesi katalog—bintang bergeser pelan seiring dekade, dan katalog lama kadang lambat memperbarui posisi. Ia menjalankan koreksi presesi dan gerak diri untuk setiap kandidat dalam radius yang diperluas. Tak ada yang bergeser cukup jauh untuk menutup jarak itu.
Ia bersandar, menatap dua angka di layar seolah keduanya sedang saling menuduh. Jam yang tepat—hingga milidetik, terverifikasi oleh satelit yang mengorbit tanpa peduli pada observatorium kecil di tepi lereng ini. Dan koordinat yang tepat—diturunkan dari data optik teleskop itu sendiri, bukan tebakan. Dua kepastian, dan di antara keduanya, tak ada apa pun yang seharusnya berada di sana untuk menghasilkan sebuah kedipan.
Ia teringat ucapan ayahnya, dulu, di kotak sinyal, tentang sinyal yang tak punya alasan untuk menyala. Kau tidak menyalakan lampu hijau hanya karena tak ada yang bisa kau lihat salah dengannya, katanya. Kau cari tahu dulu kenapa lampu itu bisa menyala sama sekali.
Jam ini punya alamat yang sangat tepat. Yang tak dimilikinya adalah penghuni.
Ia menutup katalog, membuka lagi, memasukkan radius yang lebih besar sekali lagi, hanya untuk memastikan dirinya belum kehilangan kewarasan pada pukul tiga pagi. Hasilnya sama. Ia menuliskan di buku catatan, dengan tulisan tangan yang sengaja dibuat rapi supaya kelak, kalau ada yang membacanya, tidak akan mengira ia sedang panik: Tak ada objek terkatalog pada RA/Dec yang bersesuaian, pada LST kejadian. Okultasi—jika itu memang okultasi—tidak memiliki kandidat.
Ia mematikan layar kiri, membiarkan hanya angka jam GPS yang tetap menyala hijau di sudut ruangan, tak berkedip, tak tergoyahkan oleh apa pun yang tak bisa dijelaskannya. Di luar jendela kubah, langit tepi lereng masih hitam pekat, bertabur titik-titik yang semuanya punya nama, punya katalog, punya alasan untuk ada di sana.
Kecuali satu.