Janari tidak beranjak dari mejanya sejak pukul sebelas malam. Layar utama memantulkan cahaya kelabu ke wajahnya, dan di luar jendela laboratorium, kubah observatorium mendesah pelan setiap kali motor penggerak menyesuaikan posisi, mengejar bintang yang tak pernah benar-benar diam di langit. Ia sudah menutup jendela tampilan kurva cahaya yang telah diproses—grafik rapi dengan sumbu waktu dan magnitudo yang biasa ia tunjukkan kepada siapa pun yang bertanya. Grafik itu bisa berbohong. Bukan karena disengaja, tapi karena setiap tahap pemrosesan—kalibrasi datar, pengurangan langit latar, kompresi tampilan—adalah kesempatan bagi sesuatu yang tidak nyata untuk menyamar jadi nyata, atau sebaliknya.
Ia membuka folder mentah.
Ribuan berkas dengan akhiran yang sama, masing-masing satu bingkai tunggal dari detektor teleskop 70 cm, belum disentuh perangkat lunak apa pun selain pencatat wajib dari kamera itu sendiri. Data sebagaimana adanya, sebelum manusia mulai menyusunnya jadi cerita.
Ia mengetik perintah untuk memanggil bingkai di sekitar waktu kejadian, dua ratus sebelum dan dua ratus sesudah, lalu menekan enter dengan jari yang terasa lebih dingin daripada suhu ruangan.
Satu per satu, nilai piksel pada koordinat bintang target muncul di baris perintah—angka mentah, bukan gambar yang dipercantik. Ia bisa membacanya seperti membaca detak jantung: stabil, stabil, stabil, sedikit fluktuasi karena kelap-kelip atmosfer biasa, stabil lagi.
Lalu turun.
Bukan turun perlahan seperti awan tipis lewat, bukan pula turun bertahap seperti mendekati horizon. Angka itu jatuh tajam pada satu baris, seolah seseorang mematikan lampu sepersekian detik, lalu menyalakannya kembali pada baris berikutnya seakan tak terjadi apa-apa.
Janari menatapnya lama.
Ia teringat ucapan seorang rekan siang tadi, ringan dan agak meremehkan—"mungkin cuma piksel mati, atau layarmu yang lag"—dan ucapan itu masih berdengung di telinganya seperti nyamuk yang enggan pergi. Ia tak menjawabnya waktu itu. Ia hanya mengangguk, menyimpan bantahannya untuk malam ini, untuk data mentah yang tidak peduli pada opini siapa pun.
Ia menutup jendela terminal, membuka yang baru, memanggil citra bingkai itu langsung sebagai gambar—bukan angka, bukan grafik, murni matriks piksel yang dirender apa adanya, tanpa penajaman kontras yang bisa menipu mata. Ia memeriksa dari sudut yang berbeda: apakah dip itu hanya terjadi di satu piksel, tanda khas cacat sensor permanen yang seharusnya sudah tercatat di peta piksel mati kamera? Ia membuka peta kalibrasi piksel mati observatorium, dokumen yang diperbarui tiap enam bulan oleh Karu. Koordinat itu bersih. Tidak ada tanda cacat permanen di sana.
Ia memeriksa bingkai kalibrasi datar dari malam yang sama—citra kosong yang direkam untuk menangkap ketidakrataan sensor akibat debu atau variasi sensitivitas piksel. Bersih juga. Tak ada noda, tak ada bayangan tetap pada koordinat itu yang bisa menjelaskan penurunan sebesar itu.
Pintu berderit. Karu masuk membawa dua cangkir, uap mengepul tipis di udara dingin ruang kendali.
"Masih di sini," katanya, bukan pertanyaan.
"Aku mau pastikan sesuatu." Janari menggeser layar supaya Karu bisa melihat. "Ini bukan di layar. Ini di data mentah, sebelum apa pun disentuh."
Karu meletakkan cangkir, menarik kursi, dan diam sejenak memandangi angka-angka itu dengan cara orang yang sudah dua puluh tahun lebih membaca bahasa mesin sebelum bahasa manusia. Ia meminta Janari memanggil log detektor—suhu sensor, tegangan bias, waktu baca setiap bingkai. Semuanya normal. Tidak ada lonjakan panas yang bisa memicu derau berlebih, tidak ada catatan kesalahan pembacaan, tidak ada bingkai yang gagal terkirim dan tergantikan duplikat—hal yang kadang terjadi dan bisa disalahartikan sebagai kejadian nyata.
"Kalau begitu itu ada," kata Karu pelan, seolah mengucapkannya perlahan bisa membuatnya kurang berat.
Janari tidak menjawab dulu. Ia memanggil metadata setiap bingkai, memeriksa cap waktu yang dicatat otomatis oleh sistem, disinkronkan ke penerima waktu satelit yang selalu menyala di sudut ruangan. Ia menghitung selisih antara bingkai sebelum penurunan dan bingkai setelahnya. Kamera merekam pada laju tertentu, tiap bingkai berdurasi jauh di bawah satu detik. Penurunan itu—apa pun penyebabnya—hanya muncul pada satu bingkai tunggal. Tidak pada dua. Tidak pada tiga berturut-turut yang biasanya menandai sesuatu yang lebih lambat dan lebih mudah dijelaskan, seperti awan tipis melintas atau kegagalan pelacakan teleskop.
Ia menuliskannya di buku catatannya sendiri, tulisan tangan, bukan ketikan—kebiasaan yang ia warisi tanpa sadar, entah dari mana. Satu bingkai. Durasi di bawah satu detik. Bukan cacat piksel yang diketahui. Bukan kegagalan perekaman. Bukan artefak tampilan.
"Bisa saja tetap ada penjelasan biasa," kata Karu, hati-hati, seperti sedang menahan diri agar tidak terdengar meremehkan apa yang baru saja mereka temukan bersama.
"Aku tahu," jawab Janari. "Aku belum bilang ini sesuatu yang aneh sekali. Aku cuma bilang ini bukan lelucon layar. Ini ada di sana. Direkam. Nyata sebagai data, apa pun artinya nanti."
Ia menutup buku catatan, tapi tidak mematikan layar. Di luar, kubah masih berputar pelan, mengejar langit yang menurutnya kini menyimpan sesuatu yang belum ia mengerti—dan yang, ia putuskan malam itu, tidak akan ia biarkan lenyap begitu saja ke dalam folder yang terlupakan. Bukan karena ia yakin itu penting. Tapi karena ia belum yakin itu tidak penting, dan bagi Janari, ketidaktahuan semacam itu bukan alasan untuk berhenti bertanya—justru sebaliknya.