"Seringkali kita bertahan pada puing-puing rasa hanya karena takut akan kesepian yang menganga di depan mata. Namun, melepaskan yang menyakitkan adalah cara terbaik untuk memberi ruang bagi kesembuhan. Di balik pintu yang tertutup rapat karena trauma, takdir selalu punya cara untuk mengetuk kembali—terkadang melalui senyum jahil di antara barisan kursi kelas yang membosankan."
Siang itu, selasar kampus terasa begitu pengap. Ketrin dan Naura baru saja merapikan lembaran kertas kerja Akuntansi Biaya yang telah mereka selesaikan bersama. Setelah berpamitan dengan terburu-buru, tinggallah Zahra dan Tiara yang masih betah duduk di sana, membiarkan angin sepoi-sepoi mencoba mengeringkan sisa lelah setelah bergelut dengan angka-angka produksi.
Zahra tampak termenung, jemarinya memainkan ujung jilbabnya dengan gelisah. Pikirannya melayang pada undangan wisuda digital yang dikirimkan Jeffri. Besok adalah hari besar bagi pria itu, hari yang seharusnya ia rayakan dengan penuh kebanggaan di samping Jeffri. Namun, bayangan kejadian di dalam mobil itu masih menghantuinya seperti mimpi buruk yang enggan hilang.
"Ti," panggil Zahra pelan.
"Hmm?" Tiara menoleh, menyadari nada suara sahabatnya yang tidak biasa.
"Besok Kak Jeffri wisuda. Tapi... aku ngerasa berat banget mau datang. Ada beberapa sikap dia yang bikin aku kecewa, Ti. Aku ngerasa nggak nyaman lagi," ujar Zahra tanpa berani menatap mata Tiara. Ia menyimpan detail mengerikan itu rapat-rapat, menjaga aib yang menurutnya sangat memalukan itu agar tidak bocor ke siapapun.
Tiara menghela napas panjang. Sebagai sahabat, ia bisa merasakan ada sesuatu yang patah di dalam diri Zahra. Ia meletakkan tangannya di bahu Zahra, memberikan kekuatan yang selama ini selalu ia tawarkan.
"Ra, dengerin gue ya. Cinta itu seharusnya bikin kita bahagia dan sama-sama nyaman. Itu fungsi dasarnya. Kalau isinya cuma kekecewaan, ketidaknyamanan, apalagi kalau sampai bikin lo tertekan... buat apa dipertahankan? Hidup lo udah capek dengan kuliah dan kerja, masa lo mau nambah beban lagi dengan hubungan yang nggak sehat?"
Zahra tertegun. Kata-kata Tiara seperti palu yang menghantam dinding keraguannya. Cinta itu yang bikin bahagia. Zahra mengingat kalimat itu baik-baik saat ia berjalan pulang menuju kosannya sore itu.
Keesokan harinya, kota seolah merayakan hari kelulusan bagi para mahasiswa. Namun, di kamar kosnya, Zahra hanya duduk diam. Ia menatap pakaian yang sudah ia siapkan untuk menjadi pendamping wisuda Jeffri, namun ia tidak punya kekuatan untuk memakainya. Hingga jam menunjukkan dimulainya prosesi wisuda, Jeffri sama sekali tidak menghubunginya. Tidak ada telepon, tidak ada pesan penanya mengapa ia belum datang.
Zahra memilih untuk tidak pergi. Ia merasa, jika ia datang, ia seolah-olah memaafkan perbuatan Jeffri yang merendahkannya malam itu.
Sore harinya, ia berangkat ke kafe dengan perasaan yang campur aduk. Ia bekerja dengan gerakan mekanis, diam tanpa banyak bicara. Alea yang menyadari perubahan drastis temannya hanya bisa memberikan ruang. Di sela-sela kesepian kafe, Zahra tidak tahan untuk membuka media sosial. Ia melihat postingan Jeffri yang tampak gagah dengan toga, dikelilingi teman-temannya yang bersorak. Tidak ada satu pun tanda bahwa Jeffri merindukan kehadirannya.
Zahra masih menyimpan secercah harapan kecil bahwa Jeffri akan menghubunginya setelah acara selesai, menjelaskan semuanya, atau setidaknya meminta maaf dengan tulus. Namun, hingga tengah malam, ponselnya tetap sunyi.
Dua hari kemudian, Zahra menyerah pada egonya sendiri. Ia mengirimkan pesan singkat.
Zahra: "Happy graduation, Kak. Semoga ilmunya berkah dan segera mendapatkan apa yang dicita-citakan."
Balasan Jeffri datang beberapa jam kemudian, sangat dingin dan formal.
Jeffri: "Iya Ra, makasih."
Hanya itu. Tidak ada kelanjutan, tidak ada tanya kabar. Zahra merasa muak. Ia merasa diperlakukan seperti orang asing setelah semua yang telah terjadi. Dengan tangan gemetar karena emosi yang memuncak, ia langsung menekan tombol telepon.
"Halo, Kak," ujar Zahra begitu telepon diangkat.
"Iya, Ra?" sahut Jeffri di ujung sana, suaranya terdengar sangat datar.
"Kak, aku nggak bisa gini. Kita diam-diaman, saling cuek kayak orang asing. Kalau emang kita mau kayak gini terus, lebih baik kita beneran jadi asing aja. Kita putus," suara Zahra bergetar, namun ia mencoba tetap tegas.
"Oke, Ra," jawab Jeffri tanpa jeda.
Zahra ternganga. "Maksudnya gimana, Kak?"
"Ya kamu mau putus kan? Ya oke, aku setuju," sahut Jeffri santai, seolah-olah ia baru saja menyetujui pesanan kopi, bukan mengakhiri sebuah hubungan.
Zahra merasakan air mata mulai menggenang. Rasa kecewa karena Jeffri sama sekali tidak ingin mempertahankan hubungan mereka lebih menyakitkan daripada putusnya itu sendiri. "Ya sudah kalau gitu, Kak. Aku matiin ya."
"Oke, Ra."
Klik. Sambungan terputus. Zahra menyandarkan kepalanya di meja bar yang dingin. "Hah..." ia menghela napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dadanya. Laki-laki yang ia kira alim dan penyayang itu ternyata bisa membuangnya semudah itu setelah gagal mendapatkan apa yang ia mau.
Hari-hari Zahra kembali sunyi. Sudut meja yang biasanya diisi oleh Jeffri kini kosong. Zahra menjalani rutinitasnya dengan lebih waspada. Ia mulai membatasi interaksi dengan lawan jenis. Setiap kali ada laki-laki yang mencoba mendekat atau sekadar memberikan pujian, insting perlindungannya langsung bangkit. Kejadian di mobil itu meninggalkan trauma mendalam; ia takut setiap laki-laki yang mendekatinya hanya menginginkan hal yang sama—kesuciannya.
Sampai suatu malam di kafe, seorang pria tinggi dengan rambut cepak seperti tentara datang. Wajahnya manis namun berwibawa, memberikan kesan seorang pemimpin. Namanya Yogi Pratama.
Yogi adalah senior Zahra di jurusan Akuntansi. Malam itu, Yogi memperhatikan Zahra dengan seksama saat Zahra sedang melayani pelanggan. Ia merasa wajah Zahra sangat familiar. Ia baru teringat bahwa ia pernah melihat Zahra di kelas Akuntansi Biaya semester ini, kelas yang terpaksa ia ulang karena nilai yang kurang memuaskan sebelumnya.
Yogi mendekati meja bar dengan senyum percaya diri. "Eh, kamu Zahra kan? Yang sekelas sama aku di Akuntansi Biaya?"
Zahra menoleh, mencoba bersikap profesional namun tetap menjaga jarak. "Iya, Kak."
"Aku Yogi. Kebetulan lagi ada acara organisasi nih, mau pesan minuman banyak buat dibungkus besok pagi. Boleh minta nomor w******p-nya nggak biar gampang koordinasi pesanan?" tanya Yogi dengan alasan yang terdengar sangat masuk akal.
Zahra ragu. Trauma itu masih ada. Ia tidak ingin memberikan akses pribadi kepada laki-laki asing lagi. Dengan cerdik, ia meraih ponsel milik Alea yang tergeletak di meja bar.
"Boleh Kak, silakan catat saja," ujar Zahra sambil menyodorkan ponsel Alea.
Yogi mencatat nomor itu dengan semangat, mengira ia telah mendapatkan kunci untuk mendekati gadis manis tersebut. Ia tidak tahu bahwa yang ia simpan adalah nomor Alea.
Minggu berikutnya, kelas Akuntansi Biaya dimulai pukul delapan pagi. Zahra sudah duduk di tengah ruangan bersama Tiara. Tiba-tiba, pintu terbuka. Yogi masuk dengan terengah-engah, meminta izin kepada dosen. Sang dosen hanya menghela napas panjang melihat mahasiswa "abadi" di kelasnya itu.
"Masuk, Yogi. Silakan duduk," ujar dosen tersebut lelah.
Yogi mengedarkan pandangan dan matanya langsung tertuju pada Zahra. Ia sengaja memilih tempat duduk tepat di sebelah gadis itu. Zahra yang menyadari kehadiran Yogi langsung merasa panik. Ia merasa malu karena telah membohongi Yogi soal nomor telepon. Dengan cepat, ia menarik ujung jilbabnya dan menutupi sebagian wajahnya, lalu membentengi dirinya dengan buku Akuntansi Biaya yang tebalnya hampir lima sentimeter.
Yogi yang melihat tingkah lucu itu hanya tersenyum simpul. Ia menyenggol pelan buku tebal itu, membuat pertahanan Zahra runtuh. Terlihatlah wajah Zahra yang tampak ketakutan seperti orang yang sedang ditagih hutang kelas berat.
"Gara-gara kamu kasih nomor yang salah, aku jadi malu, Ra," bisik Yogi tepat di samping telinga Zahra. Suaranya rendah namun penuh nada menggoda. "Aku chat panjang lebar, eh yang balas malah teman kamu si Alea."
Zahra menunduk dalam, pipinya merona merah karena malu. "Maaf, Kak... aku nggak bermaksud..."
Begitu kelas berakhir, Zahra segera menyambar tasnya, berniat kabur secepat mungkin. Namun, langkahnya terhenti. Tubuh tinggi Yogi sudah berdiri tegak menghalangi jalannya di depan pintu kelas.
"Maaf Kak, aku ada kelas lain setelah ini, buru-buru," ujar Zahra tanpa berani menatap wajah Yogi yang tampak sangat berwibawa itu.
"No WA kamu yang asli, Ra. Kalau nggak dikasih, kamu nggak bisa lewat," ujar Yogi tegas, namun ada binar ramah di matanya.
Zahra menelan ludah. Ia merasa terdesak. Dilihat dari sisi manapun, Yogi tampak seperti laki-laki yang tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia mau. Akhirnya, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Zahra mengetikkan nomor teleponnya yang asli ke ponsel Yogi.
"Nah, gitu dong. Sampai ketemu nanti ya, Ra," ujar Yogi sambil memberikan jalan dengan sopan.
Zahra berlari kecil menuju kelas berikutnya. Jantungnya berdebar, bukan hanya karena takut, tapi karena ada sesuatu yang berbeda dari cara Yogi menatapnya—sebuah ketegasan yang tidak mengintimidasi, namun menuntut perhatian. Zahra berharap Yogi hanyalah senior biasa yang ingin berteman, karena saat ini, hatinya masih terlalu lebam untuk menerima tamu baru.
"Terkadang kita harus melewati pahitnya perpisahan yang tak dihargai, hanya untuk menyadari bahwa diri kita jauh lebih berharga dari sekadar kata 'oke'. Luka mungkin membuat kita ingin bersembunyi di balik buku dan jilbab, namun hidup selalu punya cara untuk menarik kita keluar, memaksa kita untuk kembali berani menatap masa depan yang mungkin saja datang dengan cara yang paling gigih."