"Ada kalanya takdir bekerja melalui kesalahpahaman yang jenaka. Di antara koridor kampus yang panjang dan riuh, seseorang mungkin rela melangkah jauh ke ruangan yang salah, hanya untuk memastikan satu pasang mata menyadari kehadirannya. Luka lama mungkin masih terasa, namun tawa yang meledak di sebuah ruang kelas bisa menjadi obat penawar yang paling jujur."
Langkah kaki Zahra terdengar terburu-buru, menciptakan gema di sepanjang koridor lantai tiga yang berlantaikan tegel putih. Napasnya sedikit memburu, bukan karena ia sedang berolahraga, melainkan karena ia ingin segera menjauh dari pintu kelas Akuntansi Biaya. Di sana, sosok Yogi Pratama masih berdiri dengan wibawa yang seolah memonopoli oksigen di sekitarnya.
Zahra mengejar Tiara yang sudah melesat lebih dulu menuju toilet mahasiswi di ujung lorong. Begitu sampai di depan pintu kayu bercat krem itu, Zahra segera masuk dan menemukan Tiara yang sedang berdiri santai di depan cermin besar. Sahabatnya itu tengah sibuk memperbaiki tatanan jilbabnya yang sedikit miring, lalu meraih tas kecilnya untuk mengeluarkan lipstik berwarna peach yang lembut.
Tiara melirik dari pantulan cermin, mengamati wajah Zahra yang tampak pucat dengan mata yang sesekali melirik ke arah pintu toilet seolah-olah ada raksasa yang akan mendobraknya.
"Kenapa sih, Ra? Muka lo kayak habis dikejar hantu gitu," tanya Tiara sambil memoles lipstiknya dengan telaten. "Tadi di kelas kayaknya lo buru-buru banget keluar."
Zahra berusaha menormalkan napasnya. Ia bersandar di pinggiran wastafel, merasakan dinginnya porselen merambat ke tangannya. "Nggak, Ti... aku nggak apa-apa," jawab Zahra pendek. Ia tidak ingin bercerita bahwa ia baru saja "tertangkap basah" oleh Yogi karena memberikan nomor telepon palsu, apalagi menceritakan bagaimana Yogi memaksanya memberikan nomor aslinya.
Tiara hanya mengangkat bahu, tidak ingin memaksa. Ia tahu Zahra punya kecenderungan untuk memendam kegelisahannya sendiri jika merasa hal itu terlalu memalukan untuk diceritakan. "Ya udah, kalau nggak apa-apa. Yuk, cepetan. Kelas Kewirausahaan bentar lagi mulai di lantai satu. Kita harus turun dua lantai lagi nih."
Mereka berdua keluar dari toilet. Zahra merasa sedikit lebih tenang setelah membasuh wajahnya dengan air dingin. Mereka menuruni tangga dari lantai tiga menuju lantai satu dengan cepat. Jam di pergelangan tangan Zahra sudah menunjukkan pukul 09.55. Lima menit lagi Pak Oki, dosen Kewirausahaan yang terkenal santai namun sangat teliti, akan memulai mata kuliahnya.
Kelas Kewirausahaan pagi itu diadakan di sebuah ruangan besar di pojok lantai satu. Begitu masuk, Tiara langsung menarik tangan Zahra menuju barisan paling belakang. "Di sini aja, Ra. Paling belakang biar nggak terlalu tegang kalau Pak Oki nanya-nanya soal ide bisnis," bisik Tiara.
Zahra setuju. Ia duduk dan mulai mengeluarkan buku catatan kecilnya. Ia berharap kelas ini akan berlangsung tenang, tanpa ada gangguan yang berarti. Namun, harapan itu pupus hanya dalam hitungan menit.
Pukul 10.00 tepat, Pak Oki melangkah masuk dengan tas kulit cokelatnya. Namun, yang membuat mata Zahra membelalak bukan kehadiran sang dosen, melainkan sosok tinggi yang melangkah tepat di belakang Pak Oki seolah-olah dia adalah asisten sang dosen. Laki-laki itu mengenakan kemeja rapi yang pas di badannya, menonjolkan bahunya yang tegap dan postur tubuh yang tegak.
Yogi Pratama.
Tanpa ragu sedikit pun, Yogi melangkah menuju barisan paling belakang, tepat ke arah Zahra dan Tiara duduk. Ia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, gerakannya begitu yakin dan berwibawa.
Tiara yang melihat Yogi mendekat langsung menyapa dengan nada heran. "Lho, lo ikut kelas ini juga, Kak?"
Yogi menoleh ke arah Tiara sejenak, memberikan senyum tipis yang sopan, namun matanya dengan cepat kembali tertuju pada Zahra yang sedang pura-pura sibuk merapikan pulpen di atas mejanya.
"Nggak, gue di sini cuma mau nemenin Zahra biar kuliah Kewirausahaannya semangat," jawab Yogi santai. Ia menarik kursi tepat di sebelah Zahra dan duduk di sana dengan posisi yang sangat nyaman, seolah ruangan itu adalah miliknya sendiri.
Zahra melirik tajam ke arah Yogi, wajahnya terasa panas karena malu. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa ingin sekali menghilang dari tempat duduknya saat itu juga. Di dalam hatinya, ia membatin, 'Ini benar-benar karma. Ini harga yang harus aku bayar karena membohongi dia soal nomor telepon tadi.'
Pak Oki mulai membuka kelas dengan gaya khasnya yang jenaka. Ia mulai mengabsen mahasiswa satu per satu. "Zahra Febiola?" "Hadir, Pak." "Tiara?" "Hadir, Pak."
Absensi terus berlanjut hingga daftar nama itu habis. Pak Oki merapikan kertasnya, namun tatapannya terhenti pada barisan paling belakang. Ia menyesuaikan kacamatanya, memicingkan mata ke arah Yogi yang duduk tegak dengan tangan yang disilangkan di depan d**a.
"Itu... siapa yang di belakang namanya? Wajahnya mirip bapak tentara," tanya Pak Oki sambil menunjuk ke arah Yogi. "Coba ananda berdiri, perkenalkan namanya."
Yogi berdiri dengan gerakan yang sangat rapi. Tubuhnya yang setinggi 178 sentimeter itu membuat semua mata di kelas menoleh ke arahnya. Ia benar-benar terlihat seperti seorang prajurit muda yang siap menerima perintah.
"Hai teman-teman, perkenalkan nama saya Yogi Pratama," ujarnya dengan suara yang mantap dan tegas.
Pak Oki manggut-manggut. "Ananda Yogi, apakah ananda salah masuk kelas atau memang nama ananda belum ada di daftar absen saya?"
Yogi tersenyum simpul, matanya sempat melirik Zahra yang kini sedang menunduk sangat dalam, seolah-olah sedang mempelajari setiap serat kayu di meja kelasnya. "Maaf Pak, sebenarnya saya salah masuk kelas," jawab Yogi dengan sangat percaya diri, tanpa ada nada canggung sedikit pun.
Seluruh isi ruangan kelas mendadak sunyi sejenak, lalu meledak dalam tawa. Pak Oki mendekati Yogi, lalu menepuk pundaknya dengan akrab.
"Ananda ini luar biasa ya. Tinggi semampai, wajah berwibawa seperti tentara, tapi bisa salah masuk kelas hanya gara-gara seorang wanita," celetuk Pak Oki yang disambut tawa lebih keras dari para mahasiswa lainnya.
Zahra merasa wajahnya sudah semerah tomat. Pak Oki, dengan insting dosennya yang sudah puluhan tahun mengajar, sepertinya langsung menyadari ada unsur kesengajaan dari kehadiran Yogi di kelas itu.
Pak Oki mencoba menenangkan kelas dengan melambaikan tangannya. "Sabar, sabar. Saya cuma penasaran. Jadi, pacar ananda yang mana toh? Apakah si jilbab hitam ini?" tanya Pak Oki sambil menunjuk ke arah Zahra.
Zahra merasa dunianya seakan runtuh. Ia tidak berani bernapas.
"Atau cewek berambut pendek ini?" sambung Pak Oki, menunjuk ke arah seorang mahasiswi bernama Dewi yang kebetulan duduk di barisan depan tepat di depan Yogi.
Yogi tidak menjawab. Ia hanya terdiam, menunduk sedikit sambil menyilangkan tangannya kembali, namun sebuah senyum tipis yang sulit diartikan tetap menghiasi bibirnya. Ia membiarkan spekulasi Pak Oki menjadi hiburan bagi seluruh kelas.
Pak Oki kemudian menatap Yogi lebih detail. "Ananda ini dari keluarga TNI ya?"
"Iya, Pak," jawab Yogi singkat.
"Pantas saja, cara berdirinya saja sudah kelihatan didikan disiplin. Apakah ananda anak pertama?" tanya Pak Oki lagi.
"Tidak Pak, saya bukan anak pertama," jawab Yogi jujur.
Dahi Pak Oki berkerut. "Lalu kenapa nama ananda 'Pratama'? Biasanya kan itu singkatan atau identik dengan anak pertama?"
Yogi tertawa kecil kali ini, tawa yang terdengar sangat laki-laki. "Begini Pak, orang tua saya sepertinya sangat suka nama itu. Jadi, semua kakak laki-laki saya juga menggunakan nama 'Pratama' di belakangnya. Kami satu tim Pratama semua di rumah."
Pak Oki ikut tertawa mendengar penjelasan itu. "Oalah, unik juga keluarga ananda. Ya sudah, karena kelas ini harus segera dimulai dan ananda tidak terdaftar di sini, meskipun saya sangat senang melihat wajah berwibawa ananda, saya persilahkan ananda keluar untuk mencari kelas yang benar."
Yogi mengangguk hormat. Ia mulai merapikan barang bawaannya yang sebenarnya hanya sebuah ponsel. Namun, saat ia berjalan hampir sampai ke pintu keluar, suara Pak Oki kembali menghentikan langkahnya.
"Eits, tunggu sebentar ananda Yogi!" seru Pak Oki. "Tidak kah ananda ingin mengucapkan perpisahan dulu dengan si gadis berambut pendek di depan tadi, atau... dengan si gadis berjilbab hitam yang duduk di sebelah ananda tadi?"
Seisi kelas kembali bersiul dan bersorak. Yogi berhenti di ambang pintu, berbalik badan, lalu menatap langsung ke arah Zahra. Ia mengangkat tangannya tinggi-laki, melambaikannya dengan gerakan yang santai namun penuh makna ke arah Zahra—dan juga ke arah Dewi untuk menyamarkan tujuannya.
"Sampai ketemu nanti ya," ujar Yogi tanpa suara, namun bibirnya bergerak cukup jelas untuk dibaca oleh Zahra.
Yogi menghilang di balik pintu, dan Pak Oki memulai materi kuliahnya dengan sisa-sisa tawa yang masih memenuhi ruangan. Namun, bagi Zahra, kuliah Kewirausahaan hari itu tidak akan pernah berjalan tenang. Jantungnya berdebar tidak keruan. Ia menyadari bahwa Yogi Pratama bukanlah laki-laki yang akan menyerah hanya karena sebuah penolakan atau kebohongan kecil.
Zahra melirik ponselnya yang ia letakkan di bawah meja. Ada sebuah notifikasi masuk dari nomor baru yang tadi ia berikan di depan kelas Akuntansi.
Yogi Pratama: "Pak Oki benar, aku emang salah masuk kelas. Tapi setidaknya sekarang aku tahu kalau kamu kelihatan makin cantik kalau lagi panik."
Zahra mematikan layar ponselnya dengan cepat. Di tengah trauma yang masih menyisakan perih karena perlakuan Jeffri, kehadiran Yogi yang penuh percaya diri dan jenaka mulai mengusik ketenangan hatinya. Ia takut, namun ia juga tidak bisa memungkiri bahwa tawa di kelas tadi adalah tawa pertama yang ia rasakan setelah sekian lama ia hanya bisa menangis sendirian di pojokan kamar kosnya.
"Seringkali, cara terbaik untuk melupakan luka adalah dengan membiarkan seseorang yang baru mengacaukan harimu dengan tawa. Takdir tidak selalu datang dalam bentuk sujud yang sunyi, kadang ia datang dalam bentuk langkah kaki yang salah masuk kelas, hanya untuk memberitahumu bahwa kau masih layak untuk diperjuangkan di depan dunia."