"Kesucian adalah mahkota yang paling sunyi, dijaga dengan ribuan ketakutan di tengah dunia yang bising akan nafsu. Terkadang, sosok yang kita sangka paling teduh dalam doanya, justru menjadi badai yang paling menghancurkan ketika egonya mulai bicara. Luka di pipi mungkin bisa mengering, namun luka di rasa hormat akan membekas selamanya sebagai nisan bagi rasa percaya."
Sepuluh hari pertama setelah status itu berubah menjadi sepasang kekasih, Zahra merasa seolah-olah hidup di dalam sebuah film romantis dengan latar belakang musik yang lembut. Jeffri adalah sosok yang nyaris sempurna. Ia bukan hanya sekadar pacar; ia adalah pelindung, pendamping makan bakso yang asyik, dan pendengar yang baik. Di mata Zahra, Jeffri adalah jawaban dari doanya yang ingin lepas dari bayang-bayang lelaki tak jelas seperti Rama.
Kebahagiaan itu memuncak saat Zahra merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Sebuah angka yang menandakan kedewasaan. Jeffri memberikan perhatian yang luar biasa, dan sebagai hadiah manis, Jeffri meminta Zahra untuk menjadi pendampingnya di hari wisudanya yang tinggal hitungan hari. Zahra menyetujuinya dengan binar mata yang penuh harapan. Ia membayangkan dirinya berdiri di samping Jeffri yang mengenakan toga, berfoto bersama sebagai pasangan yang serasi.
Namun, semesta memiliki cara yang getir untuk menjatuhkan seseorang dari puncak kebahagiaan.
Malam itu, tepat hari ke-14 mereka menjalin kasih, suasana kota terasa berbeda. Jeffri menjemput Zahra menggunakan mobilnya, bukan motor besar yang biasa mereka kendarai. Hawa dingin mulai merayap saat mereka membelah jalanan kota yang perlahan mulai sepi. Jeffri mengemudikan mobil menuju sebuah area yang agak jauh dari keramaian, di sebuah jalanan yang sedikit gelap dan diteduhi pepohonan besar.
Tiba-tiba, Jeffri menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Zahra merasa ada yang aneh. Suasana di dalam kabin mobil mendadak menjadi sangat kaku. Jeffri tidak langsung mengajaknya bicara, ia justru sibuk dengan ponselnya. Tak lama kemudian, ia menyodorkan sebuah botol kopi kemasan yang sudah terbuka.
"Minum, Ra. Haus kan?" tanya Jeffri pelan.
Zahra menatap botol itu. Ia melihat ada sisa minuman di sana, tanda bahwa Jeffri baru saja meminumnya. Entah mengapa, insting waspada Zahra yang selama ini tertidur karena rasa cinta, mendadak bangkit. Ada rasa tidak nyaman yang menyergap.
"Nggak deh, Kak. Makasih, aku belum haus," tolak Zahra dengan halus, mencoba tetap sopan.
Tepat saat itu, langit seolah ikut memberikan pertanda. Hujan turun dengan sangat deras secara tiba-tiba, memukul-mukul atap mobil dengan suara yang gaduh. Udara di dalam mobil menjadi sangat dingin karena AC yang terus menyala. Zahra yang hanya mengenakan pakaian tipis mulai menggigil. Ia mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri, mencoba mencari kehangatan di tengah kecanggungan yang semakin mencekik.
Jeffri merogoh saku pintu mobil dan mengeluarkan sebungkus permen kopiko. Ia menyodorkannya pada Zahra.
"Ambil ini saja kalau nggak mau minum," ujar Jeffri. Suaranya terdengar datar, namun ada nada tersinggung di sana.
Zahra mengambil satu butir permen, mencoba mencairkan suasana. Namun, Jeffri justru melontarkan kalimat yang membuat jantung Zahra berdegup kencang karena rasa tidak enak. "Jijik ya, Ra, minum bekas aku?" tanya Jeffri sambil memasukkan permen ke mulutnya sendiri.
Zahra tersentak. Ia segera menggeleng dengan cepat, berusaha menjaga perasaan pria itu. "Bukan gitu, Kak. Aku... aku cuma nggak terbiasa minum satu botol berdua dengan orang lain. Maaf ya, Kak."
Jeffri menoleh, sebuah senyum tipis yang terasa dingin muncul di bibirnya. "Oh, jadi aku cuma 'orang lain' di matamu ya, Ra?"
Zahra terdiam. Lidahnya kelu. Ia semakin erat memeluk dirinya sendiri, menatap tetesan air hujan yang mengalir di kaca jendela, berharap waktu segera berlalu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bukankah mereka baru dua minggu pacaran? Baginya, batas kesantunan tetaplah harus dijaga.
Namun, dalam sekejap mata, dunia Zahra runtuh.
Jeffri tiba-tiba bergerak cepat. Dengan tangan yang kuat, ia menarik tubuh Zahra agar menghadap ke arahnya. Zahra terkesiap, matanya membelalak kaget.
"Izinkan aku kali ini untuk menciummu, Ra..." bisik Jeffri dengan suara yang tidak lagi terdengar santun. Ada ambisi dan hawa nafsu yang terasa asing bagi Zahra.
Wajah Jeffri mendekat. Zahra yang sangat ketakutan refleks memalingkan mukanya dengan keras. Ia berusaha menutupi bibir dan wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya gemetar hebat. Ruang sempit di dalam mobil itu mendadak terasa seperti penjara.
"Kak, jangan! Tolong, jangan!" rintih Zahra.
Tangan Jeffri yang kuat mencoba menyingkirkan tangan Zahra yang menutupi wajah. Kekuatan laki-laki itu jauh di atasnya. Dalam pergulatan batin dan fisik yang singkat namun mengerikan itu, bibir Jeffri mendarat di pipi Zahra. Sentuhan itu terasa panas dan salah. Zahra merasa martabatnya sedang diinjak-injak.
Dengan sisa tenaga dan amarah yang meledak karena rasa takut, Zahra mendorong d**a Jeffri dengan sangat kuat hingga pria itu terjerembap ke sandaran kursinya. Tanpa berpikir panjang, tangan kanan Zahra melayang dan mendarat dengan keras di pipi Jeffri.
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di dalam mobil, bersaing dengan deru hujan di luar.
Jeffri seketika terdiam. Matanya yang tadi liar mendadak kosong. Ia seolah tersadar dari kegilaan sesaat yang didorong oleh hawa nafsu untuk menodai kesucian gadis di depannya. Jeffri lemas, ia menyandarkan kepalanya di setir mobil dengan napas yang memburu.
"Maaf... Maaf, Ra. Aku... aku khilaf," gumam Jeffri dengan suara bergetar.
Zahra masih terisak pelan, tubuhnya masih gemetar. Ia tidak berani menatap Jeffri.
"Ra," Jeffri bicara lagi tanpa menoleh, "Sebaiknya setelah ini kamu pakai masker atau niqab saja kalau keluar. Bibir kamu itu... terlalu seksi dan menggoda. Itu bisa membuat laki-laki punya niat jahat padamu, seperti aku tadi."
Zahra merasa hatinya semakin sakit. Mengapa ia yang disalahkan atas ketidakmampuan Jeffri menjaga nafsunya? Mengapa bibirnya—yang merupakan pemberian Tuhan—dianggap sebagai sumber petaka? Zahra hanya terdiam, menunggu hujan reda dengan perasaan hancur yang paling dalam.
Setelah hujan mereda, suasana menjadi sangat sunyi. Jeffri menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya. Di tengah jalan, ia mampir ke warung pecel ayam pinggir jalan. Zahra mengikutinya dengan langkah gontai, ia ingin sekali melupakan kejadian tadi, menganggapnya hanya mimpi buruk. Ia mencoba mengajak Jeffri bicara tentang hal ringan, berusaha memperbaiki apa yang sudah retak. Namun, Jeffri hanya mengangguk atau menggeleng. Pria itu berubah menjadi batu.
Saat mengantarkan Zahra pulang ke kos, tidak ada lagi perlakuan manis. Jeffri tidak turun untuk membukakan pintu mobil seperti biasanya. Ia hanya menunduk lemas, menatap kosong ke arah setir.
"Aku pulang, Kak," pamit Zahra pelan.
Jeffri tidak menyahut. Ia langsung memacu mobilnya pergi begitu Zahra menutup pintu, meninggalkan kepulan asap dan rasa perih yang menjalar di sekujur tubuh Zahra.
Dua hari berlalu tanpa satu pun pesan dari Jeffri. Zahra terus menatap ponselnya dengan harapan ada kata maaf yang lebih tulus atau sekadar sapaan penenang. Namun, layar itu tetap gelap.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul. Jantung Zahra berdebar, namun seketika ia merasa kecewa. Bukan dari Jeffri.
Rama: "Hei Ra, apa kabar? Sibuk ya, tumben nggak ada kabar."
Zahra yang sedang dalam kondisi psikis yang rapuh hanya membalas seadanya, mengira itu hanya selingan yang tak berarti. "Iya Kak, aku sibuk akhir-akhir ini."
Karena tidak tahan dengan ketidakpastian, Zahra memberanikan diri mengirim pesan kepada Jeffri. "Kak, mari kita lupakan masa lalu. Boleh nggak kita kembali seperti awal tanpa mengingat kejadian kemarin?"
Jawaban Jeffri sangat singkat dan dingin: "Iya, Ra."
Tak lama kemudian, Jeffri mengirimkan sebuah foto undangan wisuda digital. "Datang ya, Ra. 2 hari lagi."
Zahra menatap undangan itu dengan getir. Rasa cintanya kini bercampur dengan rasa muak dan takut. Ia benci sikap dingin Jeffri, namun ia lebih benci fakta bahwa ia pernah memuja pria yang hampir saja merenggut harga dirinya.
Keesokan harinya, di kampus, Zahra duduk di selasar bersama Tiara. Mereka sedang mengerjakan tugas kelompok, namun pikiran Zahra melayang jauh. Ia terdiam lesu, matanya sembap karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis.
Tiara yang menyadari perubahan itu meletakkan pulpennya. "Kenapa, Ra? Muka lo kok mendung banget? Putus cinta sama Kak Jeffri?"
Zahra hanya mengangguk lemas. Ia tidak sanggup bercerita. Baginya, apa yang terjadi di dalam mobil malam itu adalah sebuah aib yang sangat memalukan. Ia tidak ingin sahabatnya tahu bahwa pria "alim" yang ia banggakan ternyata memiliki sisi gelap yang mengerikan. Ia menyimpan luka itu sendirian, di dalam ruang hatinya yang kini mulai tertutup rapat, bahkan mungkin lebih rapat dari sebelumnya.
"Jangan pernah mengukur keteduhan seseorang hanya dari sujudnya yang lama, karena ujian sesungguhnya adalah saat ia berada di tempat gelap dan memiliki kesempatan untuk menjadi serigala. Luka yang paling dalam bukanlah bekas tamparan, melainkan fakta bahwa orang yang kita cintai tega menjadikan kekurangan kita sebagai alasan atas kesalahan mereka sendiri."