"Seringkali kita meminta pada semesta tentang kebahagiaan yang sederhana—semangkuk bakso di kala hujan atau putaran kota di bawah lampu jalan. Namun, ketika doa itu mewujud dalam rupa seseorang, kita baru menyadari bahwa hati adalah sebuah ruang yang sulit dikunci; satu pintu terbuka untuk masa depan, namun jendela lama masih kerap diketuk oleh angin masa lalu."
Waktu adalah pencuri yang paling tenang. Ia bergerak tanpa suara, menyelinap di antara tumpukan modul akuntansi, deru mesin espreso, dan pergantian musim yang tak terasa. Lembaran kalender terus berganti hingga Zahra menyadari bahwa dirinya bukan lagi mahasiswi baru yang kebingungan mencari ruang kelas. Kini, ia telah memasuki semester empat. Beban kuliah semakin menumpuk, tanggung jawab di kafe pun semakin besar, namun satu hal yang tidak berubah: ritme hidupnya yang tetaplah sebuah garis lurus antara kos, kampus, dan kafe.
Bulan demi bulan terlewati hingga tahun pun berganti angka. Hubungan virtualnya dengan Rama tetap berjalan seperti aliran sungai yang tenang namun menyimpan jeram di dasarnya. Mereka masih sering berkomunikasi, meski Zahra tetap menjaga jarak aman di balik tembok antipati yang belum sepenuhnya runtuh. Di sisi lain, Jeffri tetap menjadi pemandangan rutin di sudut kafe. Skripsinya sudah hampir mencapai bab akhir, dan seiring dengan itu, kehadirannya di sisi Zahra terasa semakin solid, meski masih dalam koridor pelanggan dan pelayan kafe yang ramah.
Suatu sore, saat langit kota sedang berwarna abu-abu karena mendung yang menggantung, Zahra duduk bersandar di kursi bar kafe yang sedang sepi. Ia menopang dagu, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca depan. Alea yang sedang membersihkan meja di sampingnya memperhatikan wajah Zahra yang tampak lesu.
"Kenapa, Ra? Muka lo kayak belum gajian setahun," goda Alea.
Zahra menghela napas panjang, suaranya terdengar agak parau. "Al, gue tiba-tiba ngerasa bosan banget. Hidup gue isinya cuma angka akuntansi sama boba. Gue... gue pengen deh punya pacar."
Alea langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh dengan mata berbinar. "Wah, Zahra Febiola akhirnya pengen jatuh cinta? Tumben banget!"
"Bukan gitu, Al. Gue cuma pengen hal sepele. Pengen ada yang ngajak keliling kota malam-malam, pas udara lagi dingin gini. Terus berhenti di pinggir jalan buat makan bakso panas-panas. Kayaknya sederhana, tapi kok buat gue susah banget ya?" Zahra tertawa kecil, menertawakan keinginannya sendiri. "Lagian, bentar lagi gue ulang tahun. Tinggal dua minggu lagi. Kayaknya mustahil deh dapet pacar dalam waktu sesingkat itu. Gue kan nggak dekat sama siapa-siapa."
Alea tersenyum penuh arti. "Jangan pernah bilang mustahil, Ra. Semesta itu suka kasih kejutan di detik terakhir. Gue aminkan deh, semoga sebelum hari ulang tahun lo, cowok impian lo datang bawa motor dan ngajak makan bakso."
Zahra hanya mencibir pelan. Dalam pikirannya, Rama yang jauh di sana tidak mungkin melakukan itu. Dan Jeffri? Zahra merasa Jeffri terlalu fokus pada skripsi Geografinya untuk memikirkan soal perasaan, meskipun sesekali mereka terlibat diskusi seru tentang pemetaan wilayah.
Seminggu berlalu setelah percakapan itu. Kejutan yang dikatakan Alea ternyata datang lebih cepat dari yang dibayangkan.
Sore itu, Jeffri datang seperti biasa. Namun, ada yang berbeda dari raut wajahnya. Ia tampak lebih rapi dan matanya memancarkan kegelisahan yang positif. Zahra, tanpa curiga, mulai meracik minuman favorit Jeffri—boba gula aren dengan takaran manis yang pas, persis seperti yang disukai laki-laki itu.
"Ini, Kak, pesanannya. Semangat ya lanjutin revisinya," ujar Zahra sambil meletakkan minuman itu di meja Jeffri.
Tiba-tiba, Jeffri tidak membuka laptopnya. Ia justru berdiri dan meminjam sebuah gitar akustik milik salah satu teman kampusnya yang juga sedang nongkrong di sana. Suasana kafe yang tadinya berisi obrolan ringan mendadak senyap saat Jeffri mulai memetik senar gitar itu.
Alunan melodi romantis memenuhi ruangan. Jeffri mulai bernyanyi. Suaranya yang bariton, lembut namun bertenaga, membawakan sebuah lagu tentang seseorang yang telah lama mengagumi dalam diam. Matanya tidak lepas dari Zahra yang mematung di balik meja bar. Alea yang berdiri di sudut ruangan mulai menutup mulutnya dengan tangan, menahan pekikan heboh.
Di akhir lagu, Jeffri meletakkan gitarnya, melangkah mendekati Zahra, dan berkata dengan suara yang cukup tegas namun tulus, "Zahra, aku sudah cukup lama duduk di sini hanya untuk memperhatikanmu. Aku nggak mau cuma jadi pelanggan yang butuh masukan skripsi lagi. Aku ingin jadi orang yang menemani setiap malammu. Kamu... mau nggak jadi pacarku?"
Jantung Zahra seolah berhenti berdetak sesaat. Ia teringat ucapannya kepada Alea seminggu lalu. Dan kini, sosok yang ia lihat rajin salat di masjid seberang, sosok yang sopan dan cerdas, sedang menyatakan cinta padanya. Tanpa keraguan lebih lama, Zahra mengangguk.
"Iya, Kak. Aku mau," jawab Zahra pelan namun pasti.
Sorak sorai kecil dari Alea dan beberapa pelanggan lain memecah suasana. Zahra tersenyum sangat lebar. Ia akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan tepat sebelum hari ulang tahunnya.
Hari-hari setelah itu berubah menjadi warna-warni yang indah bagi Zahra. Jeffri benar-benar mewujudkan impian sederhananya. Sepulang kuliah, sebelum Zahra masuk shift kerja, Jeffri akan menjemputnya dengan motor besarnya. Mereka berkendara menuju pantai di pinggiran kota untuk sekadar duduk di atas pasir sambil menatap matahari terbenam yang membiaskan warna jingga di cakrawala.
Jeffri juga menepati janji "makan bakso" itu. Berkali-kali mereka berhenti di kedai bakso pinggir jalan yang legendaris, tertawa bersama di tengah kepulan uap kuah bakso yang gurih. Zahra merasa sangat bahagia. Jeffri adalah sosok yang gagah, namun memiliki sisi lembut yang membuatnya merasa sangat nyaman. Apalagi, Jeffri selalu tampak awet muda dengan gaya berpakaiannya yang kasual namun tetap rapi.
Suatu malam, saat Zahra mendapatkan hari libur kerja, Jeffri mengajaknya pergi ke pusat kota. Mereka tidak pergi ke mall atau tempat mewah. Jeffri justru mengajak Zahra duduk di sebuah taman di tepi jalan protokol yang ramai. Pemandangan lampu kota yang berkelap-kelip dan lalu lalang kendaraan menciptakan suasana urban yang sangat estetis.
Saat mereka sedang asyik berbincang tentang rencana wisuda Jeffri yang tinggal menghitung hari, seorang anak kecil pengamen mendekat. Anak itu membawa ukulele kecil yang sudah agak kusam. Dengan percaya diri, anak itu menyanyikan lagu-lagu lucu buatannya sendiri tentang kehidupan jalanan.
Jeffri tertawa melihat tingkah anak itu. "Dek, boleh Kakak pinjam gitarnya sebentar?"
Anak itu mengangguk semangat. Jeffri menyewa ukulele itu dengan memberikan lembaran uang yang cukup besar bagi si anak. Jeffri kemudian memperbaiki setelan senar ukulele itu sejenak, lalu menatap Zahra dengan tatapan yang sangat dalam.
Tanpa persiapan, Jeffri mulai memetik ukulele itu dan menyanyikan sebuah lagu yang ia ciptakan secara spontan saat itu juga. Liriknya bercerita tentang seorang mahasiswi akuntansi yang pemalu namun kuat, tentang manisnya boba gula aren, dan tentang rasa syukur karena telah memilikinya.
Suara merdu Jeffri yang berpadu dengan petikan ukulele yang lincah membuat Zahra luluh sepenuhnya. Di bawah lampu jalan yang kekuningan, ia merasa menjadi wanita paling beruntung. Penampilan Jeffri yang gagah dan karakternya yang santun benar-benar membuat Zahra merasa telah menemukan pelabuhan yang tepat.
"Makasih ya, Kak. Aku bahagia banget malam ini," bisik Zahra sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jeffri.
Namun, di tengah kemanisan yang nyata itu, saku celana Zahra bergetar. Sebuah cahaya redup muncul dari layar ponselnya yang berada di dalam tas.
Rama: "Ra, lagi di mana? kamu nggak kerja ya malam ini?"
Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk.
Rama: "Hai, Ra. Cuma mau menyapa. Semoga malammu menyenangkan ya."
Senyum Zahra sedikit memudar. Nama Rama di layar ponselnya terasa seperti kerikil di dalam sepatu yang sangat nyaman. Ada rasa bersalah yang tidak seharusnya ada, namun ada juga rasa kesal. Kebahagiaannya dengan Jeffri terasa terganggu oleh kehadiran sosok virtual yang masih saja rajin menyapa meski sering diabaikan.
Zahra menatap Jeffri yang sedang tertawa bersama anak pengamen tadi, lalu melirik kembali ke ponselnya. Ia merasakan sebuah persimpangan yang aneh. Di dunia nyata, ia memiliki Jeffri yang memberikan segalanya—kehadiran, perlindungan, dan janji masa depan. Namun di dalam benda pipih itu, ada Rama yang mewakili masa lalu, benci yang belum tuntas, dan perhatian yang entah mengapa masih saja berhasil menyelinap di sela-sela harinya.
Zahra memilih untuk tidak membalas pesan Rama malam itu. Ia mematikan layar ponselnya, memasukkannya kembali ke dasar tas, dan memilih untuk kembali tenggelam dalam pelukan realitas bersama Jeffri. Namun, ia tidak tahu bahwa takdir seringkali bekerja seperti gema; semakin keras kau mencoba mengabaikannya, semakin kuat ia akan kembali memanggilmu di saat yang paling tidak terduga.
"Cinta yang nyata adalah dia yang menggenggam tanganmu di tepi jalan, yang menyanyi untukmu di bawah rembulan. Namun, hati manusia seringkali menjadi tempat yang ganjil; ia bisa merasa penuh dalam sebuah pelukan, namun tetap merasa terusik oleh satu pesan dari seseorang yang hanya mampu menyapa lewat kejauhan. Kita bisa memilih siapa yang menemani kita berjalan, tapi kita tak selalu bisa memilih siapa yang menetap dalam ingatan."