Hati adalah sebuah labirin yang penuh dengan persimpangan tak terduga. Terkadang kita terpikat pada keteduhan yang tampak nyata di depan mata, namun tanpa sadar, kita juga membiarkan sebuah suara asing mulai menetap dan merayap di sela-sela kesunyian malam yang paling dalam.
Sejak malam penyelamatan lewat telepon itu, frekuensi komunikasi antara Zahra dan Rama berubah drastis. Jika sebelumnya Zahra hanya membalas dengan satu kata, kini ia mulai bisa berbagi sedikit tawa. Mereka menciptakan sebuah dunia virtual yang unik. Jarak tujuh jam perjalanan seolah terpangkas oleh sinyal-sinyal yang beterbangan di udara. Namun, bagi Zahra, Rama tetaplah "sosok di balik layar". Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk bertemu secara nyata. Baginya, Rama adalah teman bicara yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang, tapi tetap seorang "playboy" yang harus diwaspadai di dunia nyata.
Zahra sangat menikmati dualitas hidupnya. Di kampus dan kafe, ia adalah gadis pekerja keras yang realistis, sementara di ponselnya, ada Rama yang selalu siap dengan lelucon dan perhatian-perhatian kecilnya. Namun, benteng di hati Zahra tetap berdiri kokoh. Bisikan Tiara tentang betapa buruknya perangai Rama selalu bergema setiap kali ia merasa sedikit nyaman. "Dia hanya sedang bosan, Ra," begitu suara Tiara di kepalanya selalu mengingatkan.
Di tengah kenyamanan virtual itu, dunia nyata Zahra mulai diwarnai oleh sosok baru. Namanya Jeffri.
Jeffri adalah seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Geografi NK. Perawakannya tenang, dengan kacamata yang memberinya kesan intelek namun bersahaja. Awalnya, Zahra hanya melihat Jeffri sebagai pelanggan setia kafe yang rajin. Setiap sore menjelang malam, Jeffri selalu duduk di meja yang sama, di pojok dekat jendela, dengan laptop yang terbuka dan tumpukan peta serta data koordinat yang berserakan.
Jeffri seringkali memesan Thai Tea atau boba gula aren. Ia tampak sangat serius mengerjakan skripsinya. Namun, lambat laun, Zahra menyadari sesuatu. Jeffri tidak pernah benar-benar tenggelam dalam laptopnya jika Zahra sedang bertugas di area bar.
Zahra memiliki pesona yang sering kali menjadi pedang bermata dua baginya. Wajahnya manis dengan hidung yang mancung proporsional. Bibirnya yang terbentuk indah sering kali membuat laki-laki salah fokus dan berpikiran kurang sopan—seperti kasus Andre sebelumnya. Namun, Jeffri berbeda. Tatapan Jeffri terasa santun, penuh hormat, dan sedikit malu-malu.
Suatu sore, saat kafe sedang agak sepi, Zahra memberanikan diri menghampiri meja Jeffri sambil membawa pesanan minumannya.
"Masih semangat, Kak? Skripsinya sudah sampai bab berapa?" tanya Zahra dengan senyum ramah yang tulus.
Jeffri mendongak, sedikit terkejut namun matanya langsung berbinar. "Eh, iya... ini lagi olah data pemetaan, Zahra. Masih panjang perjalanannya."
Mereka mulai berbincang singkat. Zahra merasa nyaman karena Jeffri adalah pendengar yang baik. Jeffri tidak pernah melontarkan godaan murahan. Yang membuat Zahra semakin terpikat adalah saat azan Magrib berkumandang dari masjid di seberang jalan. Jeffri akan langsung merapikan laptopnya, meminta izin sebentar kepada Zahra untuk menitipkan barang-barangnya, lalu menyeberang jalan untuk menunaikan salat.
Zahra sering memerhatikan dari balik kaca kafe. Sosok Jeffri yang berjalan tenang menuju masjid memberikan rasa teduh yang luar biasa di hati Zahra. Ini baru laki-laki yang benar, batin Zahra. Di matanya, Jeffri adalah antitesis dari semua hal buruk yang ia dengar tentang Rama. Jeffri nyata, Jeffri rajin ibadah, dan Jeffri ada di depannya.
Tanpa sepengetahuan Zahra, Jeffri memang sengaja memilih kafe itu bukan karena kopinya, tapi karena ia ingin memenangkan perhatian gadis di balik meja bar itu. Dan usahanya mulai membuahkan hasil. Bibit penasaran mulai tumbuh subur di hati Zahra.
Beberapa hari kemudian, sebuah notifikasi w******p masuk ke ponsel Zahra. Bukan dari Rama.
+62821...: "Halo Zahra, ini Jeffri yang sering ngerjain skripsi di kafe. Maaf ya tiba-tiba chat, aku minta nomormu dari Alea. Semoga nggak ganggu ya."
Zahra tersenyum lebar saat membaca pesan itu. Sejak saat itu, perhatian Zahra mulai teralihkan sepenuhnya kepada Jeffri. Hubungannya dengan Rama di dunia virtual mendadak mendingin. Pesan-pesan dari Rama seringkali hanya dibalasnya dengan jawaban singkat atau bahkan dibiarkan saja selama berjam-jam. Zahra mulai membangun dinding dingin kembali terhadap laki-laki dari kota seberang itu.
Namun, Rama bukanlah orang yang mudah menyerah. Semakin Zahra cuek, Rama justru merasa tertantang. Ia merasakan ada perubahan nada dalam ketikan Zahra, tapi ia memilih untuk tetap konsisten hadir, meskipun hanya sebagai pengingat di layar kunci ponsel gadis itu.
Puncaknya terjadi pada suatu malam yang sangat larut. Zahra baru saja pulang kerja pukul satu malam dan langsung jatuh tertidur karena kelelahan yang luar biasa. Pukul setengah tiga pagi, saat ia sedang berada di fase tidur paling pulas, ponselnya berdering kencang. Itu adalah nomor baru yang tidak ia kenal.
Karena masih setengah sadar dan mengira itu adalah keadaan darurat dari keluarganya di kampung, Zahra mengangkatnya dengan suara serak.
"Iya, halo..." gumamnya.
"Udah tidur, Ra?" Sebuah suara yang sangat familiar terdengar di ujung sana.
Zahra mengerang, rasa kantuknya berubah menjadi kekesalan yang mendidih. "Iya, lagi tidur! Ini siapa, sih, jam segini telepon?"
"Kok bisa angkat telepon Kakak, sih? Berarti ada ikatan batin ya?" Suara itu tertawa kecil.
Zahra mengucek matanya, berusaha menjernihkan penglihatannya untuk melihat nomor di layar. "Ini siapa, ya? Kakak mana? Aku nggak tahu, jangan jahil deh."
Laki-laki di ujung sana tertawa lagi, suara tawanya terdengar renyah di tengah sunyinya malam. "Belum sadar juga, Ra? Coba dengerin suaranya baik-baik. Masak nggak kenal suara Kakak?"
Zahra terdiam sejenak, otaknya mulai bekerja keras menyaring memori frekuensi suara yang pernah ia dengar. "Kak... Kak Rama, ya?"
"Nah, gitu dong. Pintar," jawab Rama santai.
"Ya ampun, Kak! Aku kira orang jahil atau penipu tadi!" protes Zahra, kini ia sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur, rasa kantuknya sedikit memudar karena emosi.
"Emang sampai saat ini kamu belum mengenali suara Kakak, Ra? Padahal kita sering teleponan lama," nada suara Rama sedikit berubah, ada sedikit nada kecewa yang disamarkan dengan candaan.
Zahra hanya mengernyitkan dahi. Ia masih kesal karena waktu istirahatnya terganggu. "Ya kan Kakak pakai nomor baru! Mana aku tahu."
"Ya sudah, kalau gitu Kakak tidur dulu ya, Ra. Kamu lanjut tidur lagi. Maaf sudah ganggu," ujar Rama tiba-tiba.
"Eh, Kak! Nggak sopan banget, ya!" suara Zahra meninggi, ia benar-benar protes sekarang. "Main matiin aja! Tadi aku lagi tidur pulas Kakak ganggu sampai aku bangun dan sadar begini, sekarang Kakak malah mau ninggalin aku tidur? Aku jadi nggak bisa tidur lagi tahu!"
Rama tertawa lepas mendengar omelan Zahra. "Maaf, Ra... habisnya kalau nggak pakai cara ekstrem begini, kamu bakal cuekin chat Kakak terus, kan? Cuma cara ini yang bisa bikin kamu selalu ingat sama aku."
Zahra terdiam. Ia ingin marah, tapi ada sesuatu dalam kejujuran Rama yang membuatnya urung. Akhirnya, alih-alih menutup telepon, Zahra justru melanjutkan obrolan itu. Di tengah kegelapan kamar kosnya, ia mendengarkan Rama bercerita tentang harinya, tentang tokonya, dan tentang mengapa ia tidak bisa tidur malam ini.
"Ra," ujar Rama sebelum mereka mengakhiri telepon karena Rama mulai terdengar mengantuk. "Jangan simpan nomor ini, ya. Ini cuma nomor paket yang bakal Kakak ganti-ganti kalau kuotanya habis. Yang perlu kamu simpan tetap nomor utama Kakak saja."
"Iya, iya... bawel," sahut Zahra pelan.
Zahra berusaha mengatupkan matanya kembali saat telepon terputus. Namun, bayangan Jeffri yang saleh dan suara Rama yang penuh tipu daya di telepon seolah bertarung di benaknya. Ia merasa seolah sedang berdiri di dua dunia: dunia nyata yang tenang bersama Jeffri, dan dunia virtual yang penuh kejutan bersama Rama.
Zahra tidak menyadari bahwa meski ia mencoba mengabaikan Rama demi sosok "ideal" seperti Jeffri, kenyataannya ia masih bersedia terjaga di jam tiga pagi hanya untuk mendengarkan suara laki-laki yang ia sebut "playboy" itu. Benih-benih perasaan itu memang masih tertutup benci, tapi akarnya mulai merambat tanpa ia izinkan.
Seringkali kita mencari kepastian pada mereka yang tampak sempurna dalam sujudnya, namun hati tak bisa berbohong saat ia merasa dicari oleh mereka yang hadir di jam-jam paling sunyi. Kita bisa membohongi dunia dengan sikap dingin kita, tapi kita tak pernah bisa membohongi debar yang hadir saat sebuah suara tak terduga memanggil nama kita di sepertiga malam.