"Kadang, kita butuh sebuah ancaman untuk menyadari siapa yang menjadi perlindungan. Di antara benci yang masih mengeras, takdir menyisipkan satu momen kecil—sebuah panggilan telepon yang mengubah frekuensi kebencian menjadi melodi penyelamat di tengah sunyinya malam."
Malam-malam setelah pertukaran nomor telepon itu berlalu tanpa riak yang berarti. Rama bukanlah tipe laki-laki yang membanjiri layar ponsel Zahra dengan pesan-pesan sampah setiap jam. Ia hanya sesekali muncul, biasanya saat Zahra mengunggah foto tumpukan buku di story i********:-nya atau sekadar berbagi foto langit senja dari teras kafe. Rama akan berkomentar singkat, sekadar basa-basi yang sering kali hanya dibalas Zahra dengan satu atau dua kata sopan.
Bagi Zahra, ketidakhadiran Rama justru sebuah berkah. Ia tidak punya ruang di kepalanya untuk memikirkan laki-laki yang sudah diberi label "tidak baik" oleh sahabatnya sendiri. Lucunya, Rama pernah berpesan melalui chat singkat: "Ra, tolong jangan kasih tahu Tiara kalau aku chat kamu ya. Bisa habis aku diomeli sama dia."
Zahra menyanggupi hal itu tanpa beban. Baginya, itu bukan rahasia yang manis, melainkan bentuk efisiensi agar ia tidak perlu mendengar ceramah panjang lebar dari Tiara tentang betapa bahayanya seorang Rama. Di dalam hatinya, setiap kali notifikasi bertuliskan 'Rama' muncul, ada rasa kesal yang samar—sebuah pengingat akan sosok yang hanya ingin bermain-main. Namun, didikan orang tuanya tentang kesantunan membuatnya tetap membalas dengan nada yang formal dan terjaga.
Namun, hidup selalu punya cara untuk memutarbalikkan keadaan.
Suatu malam, di kafe tempat Zahra bekerja, suasana terasa lebih berat dari biasanya. Alea, rekan kerjanya yang biasanya ceria, tiba-tiba menjadi sangat gigih ingin mengenalkan Zahra kepada seorang temannya yang bernama Andre. Alea bilang, Andre adalah orang baik yang sedang mencari teman bicara. Zahra, yang terlalu lelah untuk berdebat, hanya mengangguk samar tanpa benar-benar setuju.
Andre datang pukul sepuluh malam. Ia duduk di meja sudut yang cukup dekat dengan area bar. Penampilan Andre—dengan gaya bicara yang terlalu percaya diri dan tatapan mata yang seolah menelanjangi setiap gerak-gerik Zahra—membuat insting waspada Zahra langsung berteriak.
Zahra berpura-pura sangat sibuk. Ia mengelap gelas yang sudah bersih berkali-kali, mengatur ulang stoples kopi, dan sengaja tidak menoleh ke arah meja Andre. Namun, laki-laki itu tidak beranjak. Dua jam Andre menunggu di sana, sesekali melontarkan godaan kecil setiap kali Zahra lewat untuk mengantarkan pesanan pelanggan lain.
Tepat pukul 00.01, saat kafe mulai bersiap untuk tutup, sebuah getaran muncul di saku celemek Zahra. Ia merogoh ponselnya dengan cepat.
Rama: "Sudah pulang, Ra? Hati-hati kalau jalan sendirian di jam segini."
Biasanya, Zahra akan membalas dengan cuek. Namun malam ini, pesan itu tampak seperti sekoci penyelamat di tengah badai. Andre sedang berdiri di dekat pintu keluar, seolah sengaja menunggu Zahra menyelesaikan tugas akhirnya.
Zahra langsung mengetik balasan dengan kecepatan tinggi. "Kak Rama, tolong telpon aku sekarang! Pura-pura jadi teman kuliahku dan tanya soal tugas kelompok yang harus dikumpul besok pagi. Tolong banget, kak."
Di kotanya yang jauh, Rama yang sedang duduk santai di depan tokonya yang sudah tutup, tertegun membaca pesan itu. Ia bisa merasakan urgensi di balik kata-kata Zahra. Sebuah senyum tipis—bukan senyum kemenangan, tapi senyum pengertian—muncul di wajahnya.
Rama: "Oke Ra, jam 12 lewat 5 aku telpon ya. Siapkan aktingmu."
Zahra menarik napas lega. Ia melirik Andre yang mulai mendekatinya. Andre mengeluarkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Zahra meremang. "Zahra, malam ini makin cantik ya kalau capek gitu. Mau aku anter pulang nggak? Biar capeknya hilang di jalan."
Zahra merasa mual. Ia membatin dengan sangat keras, 'Ya Tuhan, kalau harus memilih, aku lebih baik jatuh cinta sama playboy seperti Rama daripada harus berhadapan dengan orang seperti ini. Setidaknya Rama tahu cara bersikap sopan dan punya penampilan yang manusiawi. Tolong aku kali ini saja.' Itu adalah doa yang paling jujur sekaligus paling ironis yang pernah Zahra ucapkan.
Tepat pukul 00.05, ponsel Zahra berdering nyaring. Nama 'Rama Oktoviola' tertera di layar. Zahra langsung mengangkatnya dan sengaja mengaktifkan fitur speaker agar suaranya bisa terdengar oleh Alea dan terutama, Andre.
"Halo? Iya, kenapa?" suara Zahra dibuat sedikit panik dan sibuk.
"Zahra! Lo di mana sih? Ini data tugas kelompok akuntansi kita masih di lo semua! Gue udah mau nyatuin filenya sekarang, besok pagi jam delapan kan harus dikumpul di meja dosen!" Suara Rama di seberang sana terdengar sangat meyakinkan. Nada bicaranya berubah menjadi tegas, persis seperti mahasiswa yang sedang dikejar deadline.
"Aduh, iya! Maaf, maaf. Ini aku baru mau balik dari kafe. Lima belas menit lagi aku kirim lewat email ya!" jawab Zahra sambil melirik Andre yang tampak mengernyitkan dahi.
"Ya sudah, cepetan balik! Jangan keluyuran lagi. Gue tungguin nih!" seru Rama sebelum memutus sambungan.
Zahra segera menatap Alea. "Al, maaf banget ya, aku harus buru-buru balik. Itu tadi ketua kelompokku sudah marah-marah, tugasnya harus dikumpul malam ini juga. Andre, maaf ya, aku nggak bisa bareng, tugasku sudah numpuk banget."
Alea, yang tidak mengenal suara Rama, mengangguk maklum. "Oh iya, gila ya ketua kelompok lo galak banget. Balik gih, Ra."
Andre tampak kecewa, namun karena ada Alea, ia tidak bisa berbuat banyak. "Yaelah, tugas mulu. Ya sudah deh, hati-hati."
Zahra tidak menunggu dua kali. Ia menyambar tasnya dan berjalan secepat kilat keluar dari kafe. Selama berjalan menuju kosannya yang berjarak 300 meter itu, jantungnya berdegup kencang. Ia sesekali menoleh ke belakang, takut jika Andre benar-benar mengikutinya dengan niat m***m yang sempat tersirat dari ucapannya tadi.
Begitu sampai di dalam kamarnya dan mengunci pintu dengan rapat, Zahra jatuh terduduk di ranjangnya. Ia merasa geli sekaligus lega. Akting Rama tadi benar-benar sempurna. Ia segera membuka w******p dan mengetik pesan.
Zahra: "Makasih banyak ya, Kak Rama. Kakak benar-benar sudah membantu aku keluar dari situasi yang mengerikan tadi."
Tak butuh waktu lama, ponsel Zahra berdering lagi. Kali ini bukan untuk akting. Rama menelponnya kembali.
"Halo, Ra? Kamu sudah sampai kos?" suara Rama terdengar jauh lebih lembut dan tenang, berbeda dengan suara "ketua kelompok" gadungan tadi. Suara itu memiliki kedalaman yang menenangkan, khas laki-laki yang usianya tiga tahun lebih dewasa darinya.
"Sudah, Kak. Barusan sampai dan langsung aku kunci pintunya," jawab Zahra, napasnya masih sedikit terengah.
"Situasinya sesulit itu sampai kamu minta aku pura-pura telpon?" tanya Rama penasaran.
Zahra, yang masih merasa kesal dan butuh tempat bercerita, akhirnya menumpahkan segalanya. Ia bercerita tentang Andre, tentang tatapannya yang tidak sopan, dan kata-kata m***m yang membuatnya sangat tidak nyaman. Selama Zahra bercerita, Rama mendengarkan dengan serius. Sesekali Rama mendengus kesal mendengar tingkah laku Andre.
"Besok-besok, kalau dia datang lagi atau ada orang kayak gitu lagi, langsung telpon aku saja, Ra. Nggak perlu minta izin dulu lewat chat. Biar aku yang hadapi," ujar Rama dengan nada protektif yang tegas. "Laki-laki nggak seharusnya bersikap merendahkan perempuan kayak gitu."
Mendengar pembelaan Rama, ada sesuatu yang retak di dalam dinding pertahanan Zahra. Rasa benci yang selama ini ia bangun berdasarkan cerita Tiara mendadak terasa sedikit goyah. Laki-laki yang katanya "fuckboy" ini, justru menjadi orang pertama yang menawarkan perlindungan di saat ia merasa terancam.
Malam itu, mereka mengobrol lebih lama dari biasanya. Bukan tentang tugas, bukan tentang kopi, tapi tentang rasa aman. Tanpa Zahra sadari, benci yang tadinya ia pupuk, mulai disusupi oleh rasa nyaman yang perlahan menyelinap masuk melalui getaran suara di speaker ponselnya. Ia masih membenci label playboy itu, tapi ia mulai menyukai fakta bahwa Rama ada di sana, di ujung telepon, siap menjadi penyelamatnya kapan saja.
"Terkadang, Tuhan mengirimkan pertolongan melalui orang yang paling kita hindari, hanya untuk menunjukkan bahwa penilaian manusia seringkali tertipu oleh sampulnya. Di balik suara yang kita sangka hanya akan memberi luka, mungkin ada perlindungan yang selama ini kita cari dalam doa."