"Kebencian seringkali menjadi tirai yang paling tebal, menutupi cahaya yang seharusnya bisa kita lihat. Namun, takdir memiliki jemari yang lentur; ia mampu menenun benang-benang antipati menjadi jaring asmara yang menjerat, bahkan sebelum kita sempat mengucap kata selamat tinggal pada ego kita sendiri."
Hari-hari berlalu seperti lembaran kertas yang tertiup angin di selasar kampus. Bagi Zahra, hidup tetaplah sebuah siklus yang presisi: kuliah, perpustakaan, kafe, dan tidur yang seringkali tertunda. Di dunia digitalnya, sebuah nama baru telah bertengger di daftar pengikutnya—Rama Oktoviola. Namun, bagi Zahra, nama itu hanyalah satu titik di antara ratusan titik lainnya. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan siapa yang melihat unggahannya atau siapa yang sekadar lewat di linimasanya.
Di sisi lain, di sebuah kota yang berjarak tujuh jam perjalanan, Rama sedang bergelut dengan keraguannya sendiri. Ia seringkali membuka profil Zahra, menatap foto-foto kegiatannya, namun jemarinya selalu membeku setiap kali hendak mengetikkan kata "Halo". Ada semacam rasa segan yang tidak biasa ia rasakan. Sebagai laki-laki yang terbiasa bersosialisasi, biasanya memulai percakapan bukanlah hal sulit baginya. Namun, ada sesuatu pada ketegasan wajah Zahra yang membuatnya merasa harus menunggu momen yang tepat.
Hingga suatu siang, di kampus Zahra, cuaca sedang gerah-gerahnya. Zahra dan Tiara memutuskan untuk menepi sejenak di selasar gedung utama yang teduh. Mereka duduk di bangku panjang, membiarkan angin sepoi-sepoi mengeringkan peluh di dahi.
"Ra, lo lihat cewek yang baru lewat tadi nggak? Yang pakai tas merah menyala itu?" Tiara menyikut lengan Zahra sambil berbisik tajam.
Zahra mendongak, matanya mengikuti arah telunjuk Tiara. "Iya, kenapa? Cantik, sih. Kenapa muka lo langsung ditekuk gitu?"
Tiara mendengus keras, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat. "Cantik sih cantik, tapi itu mantannya Rama. Salah satu dari sekian banyak barisan sakit hatinya sepupu gue itu."
Zahra menaikkan alisnya. "Oh, mantan Rama? Emangnya kenapa sampai lo segitu bencinya sama dia?"
"Bukan sama ceweknya aja, Zah. Gue kesel sama drama yang mereka buat. Si Rama itu, aduh... gue kasih tahu ya, dia itu fuckboy kelas kakap. Suka banget gonta-ganti cewek kayak ganti baju. Janjinya manis banget, tapi kalau sudah bosan, ya ditinggal gitu aja. Makanya gue wanti-wanti banget sama lo semalam, jangan sampai kemakan omongan dia kalau nanti dia dekatin lo," cerocos Tiara panjang lebar.
Zahra terdiam. Kalimat "fuckboy" dan "gonta-ganti cewek" bergema di kepalanya. Sebagai wanita yang menghargai ketulusan dan kerja keras, tipe laki-laki seperti itu adalah sosok yang paling ia hindari. Zahra selalu percaya bahwa karakter seseorang tercermin dari cara mereka memperlakukan komitmen. Mendengar cerita Tiara, citra Rama yang tadinya "sepupu teman yang sopan" langsung merosot tajam menjadi "laki-laki tidak bertanggung jawab".
"Gue nggak nyangka dia kayak gitu. Padahal pas di kosan kelihatannya kalem," gumam Zahra.
"Itu senjatanya, Ra! Kalem-kalem menghanyutkan. Hati-hati aja," pungkas Tiara.
Melihat mantan Rama yang tampak angkuh di mata Tiara, entah mengapa menimbulkan rasa antipati yang menjalar di hati Zahra. Ia merasa seolah-olah sudah mengenal sisi gelap Rama meskipun mereka belum pernah berbincang secara pribadi. Rasa benci yang abstrak itu mulai mengakar, dipupuk oleh cerita-cerita negatif yang terus mengalir dari mulut Tiara setiap kali mereka membahas soal hubungan asmara.
Malam harinya, keberuntungan sedang berpihak pada tubuh Zahra. Kafe tempatnya bekerja sedang melakukan renovasi kecil pada bagian kelistrikan, sehingga semua karyawan diliburkan selama satu malam. Zahra merebahkan dirinya di kasur, menikmati keheningan kamar kosnya yang jarang ia rasakan di jam delapan malam.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas bantal. Sebuah notifikasi pesan masuk dari i********:.
Rama_Oktaviola: "Halo Zahra. Masih ingat saya? Sepupunya Tiara yang bertamu tengah malam minggu lalu."
Zahra menatap layar itu dengan tatapan datar. Ingatannya langsung melayang pada obrolan di selasar siang tadi. Oh, si tukang mainin cewek ini chat gue? batinnya sinis.
Ia membalas dengan sangat singkat, seolah-olah setiap huruf yang ia ketik adalah pemborosan energi.
Zahraafebi_ola: "Oh iya kak."
Rama di seberang sana tampaknya tidak menyadari hawa dingin yang dikirimkan Zahra. Ia mencoba mencairkan suasana dengan topik yang menurutnya aman.
Rama_Oktaviola: "Minuman boba gula aren yang semalam itu beneran enak banget. Sampai sekarang saya masih terbayang rasanya. Kamu jago banget bikin racikannya."
Zahra tersenyum kecut. Pujian basi, pikirnya.
Zahraafebi_ola: "Itu bukan aku yang buat, tapi teman aku kak. Aku cuma bawa aja."
Jawaban itu jelas sebuah "tembok" yang tinggi. Namun, Rama yang memang gigih—atau mungkin sudah terbiasa menghadapi penolakan—langsung melompat ke inti tujuannya. Ia merasa obrolan di DM i********: terlalu terbatas dan lambat.
Rama_Oktaviola: "Oalah, kirain kamu yang buat. Tapi makasih ya sudah dikasih. Eh Zahra, boleh minta nomor w******p-nya? Biar lebih enak kalau mau tanya-tanya soal kampus atau titip salam buat Tiara."
Zahra menghela napas panjang. Ia sedang merasa bosan, dan sejujurnya, ia ingin percakapan ini segera berakhir. Ia berpikir, jika ia memberikan nomornya sekarang, mungkin Rama akan berhenti mengiriminya pesan di i********: yang mengganggu notifikasinya. Lagipula, ia bisa saja mengabaikan pesan di w******p nanti.
Zahra mengetikkan deretan angka nomor teleponnya tanpa embel-embel kata apa pun. Ia hanya ingin ini cepat selesai.
Tak butuh waktu lama, sebuah pesan masuk ke aplikasi w******p-nya.
+62812...: "Ini Rama, Zahra. Simpan ya nomor aku. Makasih banyak ya sudah mau kasih nomornya. Selamat istirahat."
Zahra hanya membaca pesan itu melalui bar notifikasi tanpa berniat membukanya. Ia tidak membalas, apalagi menyimpan nomor tersebut. Baginya, Rama hanyalah gangguan kecil di tengah rutinitasnya yang padat. Ia meletakkan ponselnya jauh-jauh, lalu mematikan lampu kamar.
Kenyataannya, Rama memang tidak menetap di kota tempat Zahra kuliah. Ia sudah kembali ke kotanya yang berjarak tujuh jam perjalanan. Di sana, Rama bukanlah seorang pengangguran yang hobinya hanya bermain wanita seperti yang digambarkan Tiara. Ia mengelola toko miliknya sendiri, sebuah usaha yang ia bangun dengan keringatnya sendiri. Kesibukannya mengurus stok barang dan melayani pelanggan sebenarnya tidak memberinya banyak waktu untuk bermain-main.
Namun, entah mengapa, profil Zahra Febiola terus terbayang di sela-sela kesibukannya menghitung laba rugi.
Zahra, di sisi lain, tertidur dengan perasaan menang. Ia merasa telah memberikan apa yang diinginkan laki-laki itu hanya agar dia pergi. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa garis takdir sedang bekerja dengan cara yang sangat ironis.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa laki-laki yang saat ini ia benci karena label "fuckboy", laki-laki yang ia beri nomor telepon hanya karena rasa bosan, suatu saat nanti akan menjadi orang yang namanya paling sering ia sebut dalam doa. Ia tidak tahu bahwa kebencian yang ia rasakan malam ini adalah pupuk terbaik untuk menumbuhkan cinta yang paling keras kepala—cinta yang akan menguji batas antara benci dan rindu, antara prasangka dan kenyataan.
Malam itu, di dua kota yang berbeda, dua jiwa sedang menabung rasa tanpa mereka sadari. Satu dalam kekaguman yang mulai tumbuh, dan satu lagi dalam benteng pertahanan yang sangat kokoh. Perjalanan panjang tujuh jam itu bukan lagi sekadar jarak geografis, melainkan jarak antara dua hati yang harus saling menemukan di tengah riuhnya salah paham.
"Jangan terlalu yakin pada benci yang kau peluk hari ini, karena benci hanyalah cinta yang sedang kehilangan arah. Di balik nomor yang kau berikan dengan keterpaksaan, tersimpan sebuah alamat menuju masa depan yang tak pernah kau duga sebelumnya. Terkadang, kita butuh membenci seseorang hanya untuk menyadari betapa kuatnya mereka saat nantinya mereka berhasil mencuri hati kita."