"Ada lelah yang tak terlukiskan oleh kata, hanya mampu diukir oleh lingkaran hitam di bawah mata. Di saat dunia mulai berlari mengejar pagi, sebagian jiwa masih tertinggal di sisa mimpi, mencari tenang di antara deru bising yang tak kunjung henti."
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah ventilasi kamar kos Zahra yang sempit, menghujam tepat ke arah kelopak matanya yang masih terasa seberat timah. Alarm ponselnya sudah berteriak lima kali sejak pukul enam pagi, namun baru pada teriakan keenam Zahra benar-benar sanggup menyeret kesadarannya kembali ke permukaan. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia bangkit. Kepalanya terasa berdenyut ringan, sebuah efek samping yang sudah biasa ia rasakan setiap kali kantuk dan kewajiban berperang di dalam dirinya.
Pukul tujuh pagi tepat, Zahra sudah berdiri di depan gerbang kampus. Wajahnya pucat, kontras dengan kemeja flanel yang ia kenakan. Langkah kakinya gontai menuju ruang kelas Akuntansi. Di sana, Tiara sudah duduk manis dengan wajah cerah, tampak lega karena tugas yang semalam mereka kerjakan sudah rampung dan siap dikumpulkan.
Saat Zahra duduk di sampingnya, Tiara langsung menoleh. Ekspresi cerahnya seketika berubah menjadi ngeri melihat kondisi sahabatnya.
"Zahra! Ya ampun, ra," Tiara menutup mulut dengan telapak tangannya. "Kantung mata lo... itu beneran hitam banget, Ra. Kayak panda yang nggak tidur seminggu. Tidur jam berapa lo semalam?"
Zahra tidak langsung menjawab. Ia menjatuhkan tasnya ke lantai dan perlahan-lahan meletakkan kepalanya di atas meja kayu yang menyatu dengan kursi kuliahnya. Permukaan meja yang dingin terasa begitu nyaman di keningnya.
"Jam setengah empat, Ti," gumam Zahra dengan suara parau, nyaris tenggelam dalam riuh rendah suara mahasiswa lain di kelas.
Tiara terbelalak. Ia memutar kursinya agar bisa berhadapan langsung dengan Zahra. "Hah? Setengah empat? Bukannya semalam gue sama Rama pamit dari kosan lo jam satu lewat dikit? Harusnya lo langsung tidur, dong! Lo ngapain aja sampai jam segitu? Belajar lagi?"
Zahra memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir rasa perih yang menyengat di bola matanya. "Insomnia gue kambuh, Ti. Biasalah, kalau pikiran sudah terlalu capek, bukannya tidur malah makin terang ini otak. Gue cuma natap langit-langit kamar sampai azan subuh hampir kedengaran."
Tiara menghela napas prihatin. Ia tahu betul bagaimana Zahra berjuang membagi waktu antara pekerjaan part-time di kafe dan tuntutan akademis yang gila-gilaan. Baru saja Tiara ingin menawarkan cokelat hangat untuk menambah energi sahabatnya itu, pintu kelas terbuka. Dosen pengampu mata kuliah masuk dengan langkah tegap, membawa setumpuk modul yang langsung membungkam obrolan mereka.
Perkuliahan pagi itu terasa seperti siksaan bagi Zahra. Suara dosen hanya terdengar seperti dengungan lebah di telinganya. Fokusnya timbul tenggelam. Begitu kelas berakhir dan dosen menutup pertemuan, Zahra tidak membuang waktu. Ia tidak ikut nongkrong di kantin atau sekadar bergosip di selasar.
"Ti, gue balik ya. Gue butuh kasur lebih dari gue butuh oksigen sekarang," pamit Zahra singkat.
"Iya, iya, lo balik gih. Tidur yang bener, jangan main HP!" seru Tiara sambil melambaikan tangan.
Sementara itu, di sebuah rumah yang nyaman di sudut kota, suasana jauh lebih santai. Tiara baru saja melangkah masuk ke ruang tamu setelah pulang dari kampus. Namun, langkahnya langsung dihadang oleh sosok laki-laki yang sejak tadi duduk di sofa sambil membolak-balik ponselnya dengan gelisah. Itu Rama.
Rama mendongak, matanya berbinar saat melihat Tiara. "Ti, akhirnya lo balik juga. Eh, akun sosmed teman lo yang semalam itu apa namanya? Gue mau cari kok susah banget."
Tiara meletakkan tasnya di meja makan, lalu mengambil apel dari keranjang. "Siapa? Zahra?"
"Iya, Zahra. Yang tadi malam kita temui," desak Rama. "Gue sudah ketik 'Zahra Febriani' di kolom pencarian, tapi yang muncul banyak banget. Dan nggak ada satu pun yang mukanya mirip dia. Ada yang akunnya dikunci, tapi foto profilnya beda jauh. Lo yakin namanya itu?"
Tiara berhenti mengunyah, dahinya berkerut. Ia berjalan menghampiri Rama yang tampak frustrasi, lalu merebut paksa ponsel dari tangan sepupunya itu.
"Mana sini gue lihat," ujar Tiara ketus. Ia menatap layar ponsel Rama, lalu mendengus keras. "Ya iyalah nggak muncul, Bambang! Orang lo ngetiknya salah. Namanya itu Zahra Febiola, bukan Febriani!"
Rama tertegun, mulutnya sedikit menganga. "Lho? Bukannya semalam pas di motor lo bilang namanya Febriani?"
Tiara memutar bola matanya, tampak berpikir sejenak. "Oh... iya ya? Mungkin semalam gue lagi error juga karena ngantuk. Intinya sekarang namanya Febiola. Z-A-H-R-A F-E-B-I-O-L-A."
Jemari Tiara dengan lincah mengetikkan nama tersebut di kolom pencarian i********:. Tak lama kemudian, muncul sebuah profil dengan foto seorang wanita yang sedang memegang kamera, menutupi sebagian wajahnya, namun matanya yang teduh sangat mudah dikenali.
"Nih, ketemu. Tapi akunnya dikunci, mampus lo," ujar Tiara sambil menyodorkan kembali ponsel itu ke tangan Rama.
Rama langsung meraih ponselnya seolah itu adalah harta karun. Benar saja, akun bernama @zahraafebi_ ola itu memiliki jumlah pengikut yang tidak terlalu banyak, dan semua unggahannya tersembunyi di balik ikon gembok digital. Tanpa ragu-ragu, Rama menekan tombol biru bertuliskan 'Ikuti'.
Tiara yang sedang berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, berhenti sejenak dan menoleh ke arah Rama dengan tatapan mengancam. "Heh, Kak Rama. Gue peringatin ya, walaupun lo kakak sepupu gue, jangan macam-macam sama Zahra. Dia itu sahabat terbaik gue di sini. Dia itu orangnya tulus, kerja keras, nggak punya waktu buat main-main. Awas ya kalau lo cuma mau iseng-iseng berhadiah!"
Rama hanya tersenyum simpul, matanya masih terpaku pada layar yang menunjukkan status 'Diminta'. "Siapa yang mau macam-macam? Gue cuma mau temenan, Ti. Galak banget sih lo."
"Gue nggak galak, gue protektif! Pokoknya awas lo," teriak Tiara dari arah dapur sebelum suara kucuran air menenggelamkan suaranya.
Rama tidak menghiraukan omelan Tiara. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap foto profil Zahra yang kecil. Ada rasa penasaran yang aneh; rasa ingin tahu tentang bagaimana dunia dilihat dari kacamata seorang gadis yang tetap bekerja di saat orang lain sudah memejamkan mata.
Di sisi lain kota, di dalam kamar kos yang redup karena gorden ditutup rapat, Zahra sedang berada di alam bawah sadarnya. Ia tertidur dengan posisi yang masih mengenakan baju kuliah, saking tidak kuatnya menahan kantuk. Tidurnya sangat pulas, seolah dendam pada jam-jam insomnia semalam terbayar tuntas sore itu.
Pukul empat sore, alarm "shift sore" berbunyi. Zahra mengerang, meraba-raba kasur mencari ponselnya. Matanya yang masih lengket terpaksa dibuka sedikit demi sedikit. Hal pertama yang ia lihat adalah beberapa notifikasi yang masuk.
Salah satunya adalah pemberitahuan dari i********:: “Rama_Oktoviola meminta untuk mengikuti Anda.”
Zahra terdiam sejenak, mengucek matanya. Rama Oktoviola? Siapa ya? pikirnya setengah sadar. Pikirannya yang masih berkabut mencoba mengingat-ingat. Oh, mungkin saudaranya Tiara yang semalam itu.
Tanpa berpikir panjang, apalagi menganalisis motif di baliknya, Zahra menekan tombol 'Konfirmasi'. Dan sebagai bentuk kesopanan yang biasa ia lakukan, ia juga menekan tombol 'Ikuti Balik'. Baginya, itu hanyalah sebuah interaksi digital biasa, tidak berbeda dengan menambah teman sekelas ke dalam daftar pengikutnya. Setelah itu, ia melempar ponselnya kembali ke kasur.
Zahra segera beranjak. Ia hanya punya waktu kurang dari dua jam untuk mandi, bersiap, dan sampai ke kafe. Air dingin yang menyentuh kulitnya saat mandi akhirnya benar-benar mengusir sisa-sisa kantuk.
Pukul 17.45, Zahra sudah keluar dari kosan. Ia tidak berjalan santai; ia setengah berlari. Jarak 300 meter itu ia tempuh dengan napas yang memburu. Baginya, tepat waktu adalah segalanya dalam bekerja. Begitu sampai di depan kafe, ia langsung masuk melalui pintu belakang, menyambar celemek hitamnya, dan mengikatnya kuat-kali ini bukan hanya simbol perjuangan, tapi simbol dedikasi.
"Zahra, baru sampai? Langsung pegang mesin ya, pesanan take away lagi ramai!" seru Alea dari balik meja bar.
"Siap, Alea!" jawab Zahra lantang.
Ia mulai sibuk. Suara penggiling biji kopi mulai menderu, uap dari milk jug mendesis, dan aroma gula aren yang dibakar mulai memenuhi ruangan. Zahra tenggelam dalam rutinitasnya, bergerak lincah di antara meja-meja pelanggan yang mulai berdatangan seiring matahari yang mulai terbenam.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di tempat lain, ada seseorang yang baru saja menerima notifikasi bahwa permintaannya diterima, dan kini sedang tersenyum lebar menatap layar ponsel, mulai menjelajahi dunia kecil Zahra melalui foto-foto yang baru saja ia buka kuncinya.
"Ada pesan yang terkirim lewat udara, ada rasa yang tumbuh di antara jeda. Kita seringkali membiarkan orang lain masuk ke dalam hidup kita dengan satu ketukan jari, tanpa menyadari bahwa sebuah 'klik' sederhana bisa menjadi kunci pembuka gerbang takdir yang tak lagi bisa kita kunci kembali."