Mau cerita kalau ayahku meninggal? Mau cerita kalau aku merasa bersalah? Mau cerita kalau aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri?
Untuk apa? Untuk membuat Yasril ikut sedih? Untuk membuat dia repot memikirkan aku?
“Gue gini aja,” kata Yusri akhirnya. “Gak berubah. Lu aja kali yang belum nyadar.”
Yasril terdiam. Kata-kata itu menyakitkan. Dia menatap Yusri, mencoba mencari celah untuk masuk, tapi yang dia lihat hanyalah tembok.
“Ah, sudahlah,” kata Yasril, berpaling. Ada kecewa di suaranya.
Yusri tidak mengejar. Dia hanya berjalan ke kelas, mengambil rapor, dan duduk di bangkunya tanpa bicara.
Dari barisan sebelah, Devi memperhatikan. Matanya tidak lepas dari Yusri sejak dia masuk. Dia melihat wajah dingin itu, mata kosong itu, dan ada sesuatu yang mengusik hatinya.
Dia kenapa cemberut banget? pikir Devi. Biasanya meskipun pendiam, dia gak sedingin ini.
“Lu ngapain, Devi? Ntar dilihat guru dimarahi,” bisik Intan dari samping.
Devi refleks menoleh ke depan, jantungnya berdegup cepat. Tapi pikirannya masih pada Yusri.
Selesai mengambil rapor, Yusri keluar dari kelas. Langkahnya cepat, ingin segera meninggalkan sekolah. Tapi di lorong menuju toilet, kakinya tersandung sesuatu mungkin kabel yang lepas dari dinding, mungkin ubin yang copot. Tubuhnya oleng ke depan, hampir jatuh.
Tapi refleksnya bekerja. Dengan gerakan cepat, dia menyeimbangkan tubuh, mendarat dengan satu tangan di lantai, lalu berdiri kembali. Semua terjadi dalam hitungan detik.Dari samping, terdengar tawa.
“Wah, hampir jatuh tu, bang!” teriak seorang siswa kelas 8 yang sedang berdiri di depan toilet bersama dua temannya. Wajahnya tengil, rambutnya disisir klimis ke belakang.
Yusri tidak menjawab. Dia hanya menatap mereka sekilas, lalu masuk ke toilet.
Ketika keluar, ketiga siswa itu masih di sana. Malah, si siswa tengil itu semakin berani.
“Woi, bang tadi hampir jatuh ya?” teriaknya lagi, diikuti tawa kedua temannya.
Yusri berhenti. Matanya menatap siswa itu dingin. Bukan dingin biasa dingin yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih beku.“Kalian pulang,” kata Yusri pelan.
Tapi siswa tengil itu tidak mengerti. Atau mungkin dia terlalu bodoh untuk membaca situasi. “Hah? Ngapain pulang? Lagi asik ngobrol nih, bang. Lu hampir jatuh tadi, lucu tau!”
Dua temannya tertawa. Salah satu dari mereka mulai merasa tidak enak, tapi yang lain masih ikut-ikutan.
Yusri mendekat.
Tanpa bicara,Tanpa peringatan. Tangan kanannya melayang satu pukulan cepat, tepat di perut siswa tengil itu.
Dug!
Bukan pukulan keras. Tidak seperti pukulan ke Rendi atau ke Geni. Hanya pukulan peringatan. Tapi cukup untuk membuat siswa itu terhuyung, menekuk lututnya, dan memegangi perut dengan wajah memucat.
“Sekarang pulang,” kata Yusri.
Dua temannya yang lain mundur selangkah. Tidak kabur, tapi menjaga jarak. Mereka tidak berani mendekat, tapi juga tidak mau terlihat takut.
Yusri tidak peduli. Dia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan ketiga siswa itu di lorong.
Dari ujung lorong, di balik dinding, Devi berdiri membeku.
Dia melihat semuanya. Dari awal sampai akhir. Dia melihat Yusri hampir jatuh, lalu dia melihat Yusri memukul siswa kelas 8 itu. Bukan pukulan yang kejam, tapi ada sesuatu dalam gerakan Yusri yang membuat Devi menggigil.
Bukan pukulannya, pikir Devi. Tapi matanya. Matanya kosong. Seperti tidak ada apa-apa di sana.
Dia melihat Yusri berjalan menjauh. Punggungnya tegap, tapi ada beban yang tidak terlihat yang dipikulnya sendirian.
Devi ingin memanggil. Ingin bertanya,Ingin melakukan sesuatu. Tapi dia hanya bisa berdiri diam, menatap punggung Yusri yang semakin mengecil.
Ada apa denganmu, Yusri?Tapi pertanyaan itu tidak terjawab. Yusri sudah menghilang di balik gerbang sekolah.
Yusri berjalan pulang sendirian. Di tangannya, rapor tergulung tidak rapi. Dia tidak membukanya. Tidak tahu nilainya. Tidak peduli.
Di sepanjang jalan, dia tidak menoleh sekali pun. Tidak melihat Yasril yang berdiri di depan gerbang dengan wajah kecewa. Tidak melihat Mikel yang melambaikan tangan dari kejauhan. Tidak melihat Devi yang masih berdiri di lorong toilet, memandanginya pergi.
Yang dia lihat hanyalah jalan pulang. Jalan yang sama yang dulu dia lewati bersama ayahnya. Jalan yang sama yang dulu dia lewati ketika pulang sekolah, ketika ayahnya masih menjemput dengan motor Vega R hitam itu.
Sekarang, motor itu tidak ada lagi. Ayahnya tidak ada lagi.
Yusri terus berjalan. Menunduk. Tidak menangis. Tidak tersenyum. Hanya berjalan.
Dan di kejauhan, di luar negeri, seorang kakak yang sudah bertahun-tahun tidak pulang sedang dalam perjalanan. Membawa rasa bersalah yang tidak kalah besar. Membawa kabar duka yang belum sempat diucapkan.
Hari Minggu. Lazuardi akan pulang.
Tapi Yusri belum tahu. Dan dia tidak tahu harus merasa apa ketika nanti tahu.
Yusri sampai di rumah dengan langkah gontai. Rapor tergulung di tangan, wajah datar, mata kosong. Dia masuk ke dalam tanpa suara, meletakkan tas di kursi ruang tamu, lalu duduk di meja makan.
Ibu Riana yang baru saja selesai mencuci beras, melihat putranya itu dengan hati-hati. Wajah Yusri masih sama seperti pagi dingin, tanpa ekspresi. Tapi setidaknya dia pulang. Setidaknya dia mau duduk di meja makan.
“Nak, makanlah,” kata Ibu Riana dengan suara lembut, meletakkan sepiring nasi dengan lauk sederhana di hadapan Yusri. “Nasimu udah disiapkan dari tadi.”
Yusri menatap piring itu. Nasi putih, ikan goreng, sayur rebus. Sederhana. Seperti biasa. Seperti yang selalu ibunya masak setiap hari. Tangan yang sama yang dulu memasak untuk ayahnya setiap pagi sebelum berangkat jualan.
Dia mengambil sendok, menyuap nasi perlahan. Tidak banyak, tapi setidaknya dia makan.
Ibu Riana duduk di sampingnya, mengamati. Ada kelegaan tipis di hatinya melihat Yusri mau makan. Setelah beberapa hari ini dia hanya mengurung diri, hari ini dia duduk di meja makan. Itu kemajuan.
“Boleh Ibu lihat rapormu?” tanya Ibu Riana dengan hati-hati. “Berapa nilaimu, Nak?”
Yusri mengangguk pelan. Dia mengambil rapor dari tas, menyerahkannya pada ibunya, lalu kembali makan tanpa banyak bicara.
Ibu Riana membuka lembaran demi lembaran. Matanya menyusuri angka-angka di setiap kolom. Bahasa Indonesia: 85. Matematika: 90. IPA: 88. Bahasa Inggris: 75. Dan seterusnya. Nilai-nilai yang bagus. Konsisten.
Peringkat 4, pikir Ibu Riana. Tidak naik, tidak turun. Tetap seperti ujian sebelumnya.
Dia tersenyum kecil. Bukan karena peringkat, tapi karena Yusri tetap berusaha. Di tengah semua yang terjadi, anaknya tetap berusaha.
“Bagus, Nak,” kata Ibu Riana, menutup rapor dan meletakkannya di meja. “Setidaknya tidak turun.”
Yusri tidak menjawab. Dia hanya terus makan, sesekali mengunyah pelan, matanya tertuju pada piring.
Beberapa jam kemudian, suara motor King hitam memasuki gang.
Farrel pulang. Seragam SMK-nya masih melekat, rambut ikalnya sedikit basah oleh keringat. Wajahnya lelah tapi ada senyum kecil di bibirnya. Hari ini dia mengambil rapor kelulusan. Setelah tiga tahun di SMK 2 Ngaung, akhirnya selesai.
“Mak! Aku lulus!” serunya begitu masuk ke rumah, mengangkat rapor di tangannya.
Ibu Riana yang sedang di dapur segera keluar. Wajahnya yang tadinya masih diliputi duka, kini tersenyum senyum tulus pertama setelah beberapa hari terakhir.