Pukulan demi pukulan. Tanah merah itu mulai retak, pecahan-pecahan kecil berterbangan. Buku-buku jari Yusri mulai memerah, lalu lecet, lalu berdarah. Tapi dia tidak berhenti.
“Kenapa?!” teriaknya sambil meninju. “Kenapa semua terjadi?! Kenapa Ayah pergi?! Kenapa aku tidak bisa menghentikannya?!”
Dug! Dug!
“Aku yang salah! Aku yang minta sekolah di Pariaman! Kalau tidak karena aku, Ayah tidak akan ke sana!”
Dug!
“Aku benci aku!”Dia terus memukul sampai tangannya mati rasa. Sampai tanah merah itu berlumuran darah dari buku-buku jarinya yang pecah. Sampai napasnya habis dan tubuhnya lemas.
Yusri jatuh berlutut di hadapan tebing itu. Dadanya naik turun, napasnya tersengal. Air mata dan keringat bercampur di wajahnya.
“Aku kesekolah pas ngambil rapor aja,” bisiknya, suara parau. “Berapa nilai itu... tidak penting.”
Dia terdiam lama. Matanya kosong menatap tanah merah yang berlumuran darahnya sendiri.
Di rumah, Ibu Riana duduk sendirian di ruang tamu. Elli dan Naldi sudah kembali ke Pariaman semalam, karena warung mereka tidak bisa ditinggal lama. Farrel pergi sejak pagi, mungkin ke sekolahnya atau ke tongkrongan.
Ibu Riana memegang ponsel tua di tangannya. Sejak pemakaman, dia sudah mencoba menghubungi Lazuardi dan Basrizal berkali-kali. Elli juga sudah mencoba. Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba, ponsel itu bergetar. Layar menyala. Sebuah nomor internasional muncul.
Ibu Riana mengangkat dengan tangan gemetar. “Halo?”
“Ma?” Suara di seberang sana berat, terburu-buru, tapi jelas itu suara Lazuardi.
Ibu Riana merasakan dadanya sesak. Amarah yang tertahan sejak lama tiba-tiba meledak. “Lu kemana aja, Nak?! Berapa kali Mama telepon lu?! Berapa kali Mama kirim pesan?!”
Lazuardi terdiam sejenak. “Maaf, Ma. Aku sibuk amat. Kerjaan aku banyak, Ma. Baru sekarang ada waktu luang.”
“Sibuk? Sibuk?” Ibu Riana suaranya meninggi, tapi pecah. “Mama telepon lu waktu itu... Mama mau kabari... bahwa ayahmu sudah meninggal dunia, Nak.”Seketika Lazuardi terdiam.
Diam yang panjang. Hanya suara napas Lazuardi yang terdengar memburu di seberang sana.
“Ma... apa?” suara Lazuardi bergetar.
“Ayahmu meninggal. Kecelakaan di Pariaman. Hari Senin minggu lalu.”
Lazuardi tidak menjawab. Hanya suara napasnya yang semakin berat, semakin tersengal. Di seberang sana, di sebuah apartemen di kota asing yang dingin, Lazuardi duduk di tepi tempat tidurnya. Ponsel di tangannya gemetar. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
“Nak? Lazuardi? Kamu dengar?” Ibu Riana memanggil.
Lazuardi menggigit bibir. Tangannya meremas ujung sprei. Rasa bersalah yang begitu besar menghantam dadanya seperti truk yang tak terkendali,sama seperti truk yang merenggut nyawa ayahnya.
Berapa lama aku tidak pulang? Berapa lama aku tidak menelepon? Berapa kali aku mengabaikan panggilan Mama?
Dan sekarang... Ayah...
“Ma...” suaranya pecah. “Ma, maaf... aku...”
“Nak, kamu dengar perkataan Mama?”
“Aku dengar, Ma.” Lazuardi menutup matanya rapat-rapat, tapi air mata tetap merembes. “Ma, maaf... aku tutup telepon dulu, Ma. Aku... aku tidak sanggup...”
“Lazuardi! Lazuardi!”Tapi sambungan sudah terputus.
Ibu Riana menatap ponselnya dengan mata basah. Dia salah mengerti. Dia pikir Lazuardi tidak mau mendengar kabar keluarga lagi. Dia pikir anaknya yang cerdas itu sudah melupakan mereka.
“Dasar anak durhaka,” bisiknya, tapi hatinya hancur.
Di seberang benua, Lazuardi melempar ponselnya ke tempat tidur. Dia berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap langit kota asing yang kelabu. Tangisnya pecah. Isaknya keras, tidak ditahan-tahan lagi.
Ayah... Ayah meninggal... dan aku tidak di sana... aku tidak pernah pulang...
Dia teringat terakhir kali bicara dengan ayahnya. Sudah berapa bulan? Sudah setahun? Dia bahkan tidak ingat. Yang dia ingat hanyalah suara ayahnya yang lesu, yang selalu menanyakan kabar, yang selalu bilang “hati-hati di sana, Nak.”
Dan dia selalu menjawab singkat, “Iya, Yah.” Lalu cepat-cepat menutup telepon karena takut sinyal dilacak, takut percakapan terlalu lama membahayakan keluarganya.
Dia adalah seorang hacker pelindung dan peretas yang bekerja untuk keamanan negara di Eropa. Pekerjaannya berpindah-pindah, tidak tetap. Dia sering dicari oleh pihak lawan, bahkan menjadi buronan di Amerika. Setiap komunikasi dengan keluarga adalah risiko. Setiap panggilan telepon bisa dilacak. Setiap kabar yang sampai ke keluarganya bisa menjadi ancaman.
Itu sebabnya aku jarang menelepon. Itu sebabnya aku tidak pernah pulang. Bukan karena aku tidak sayang. Tapi karena aku takut membahayakan mereka.
Tapi sekarang, ayahnya pergi. Dan dia tidak ada di sana.
Lazuardi mengambil ponselnya. Jarinya bergerak cepat,terlalu cepat mengirim pesan ke atasan.
Saya pamit. Ada urusan mendesak di kampung halaman. Saya akan kembali.
Dia tidak menunggu balasan. Dia membuka lemari, mengambil ransel, memasukkan beberapa pakaian. Tanpa izin. Tanpa perlindungan. Tanpa pengawal yang biasanya selalu mengikutinya.
Dia akan pulang. Bagaimanapun caranya.
Di kantor pusat, atasan Lazuardi membaca pesan itu. Dia menghela napas panjang. Pasti keluarganya, pikirnya. Dia mengerti. Dia langsung memerintahkan tim untuk mencari rute aman bagi Lazuardi.
“Cari dia. Bantu dia pulang. Tapi jangan terlalu mencolok. Dia tidak suka pengawal.”
Tim bergerak cepat.
Lazuardi sudah di perjalanan. Dengan trik licik yang dia kuasai, dia menghapus jejaknya, mengganti identitas, berpindah dari satu transportasi ke transportasi lain. Dia akan pulang. Beberapa hari lagi. Mungkin hari Minggu.
Hari Sabtu datang,Yusri akhirnya pergi ke sekolah. Bukan untuk melihat hasil ujian dia sudah tidak peduli lagi. Dia hanya ingin mengambil rapor, mengambil stempel kelulusan, lalu pergi. Secepat mungkin.
Dia berjalan masuk ke halaman sekolah dengan langkah lambat. Wajahnya dingin, matanya kosong. Seragamnya rapi, tapi ada sesuatu yang berbeda sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Yusri!” Yasril berlari mendekat. Wajahnya ceria, tapi begitu melihat Yusri, senyumnya sedikit memudar. “Lu kemana aja? Rabu kemarin gue telepon gak diangkat. Pesan gak dibales. Mikel juga nanyain lu.”
Yusri tidak menjawab. Dia hanya berjalan terus menuju kelas.
“Yusri!” Yasril mengikuti. “Kenapa sih? Cerita sama gue. Ada apa?”
Yusri berhenti. Dia menoleh ke Yasril dengan mata yang dingin,lebih dingin dari biasanya. Dulu, dinginnya karena pendiam. Sekarang, dinginnya karena ada sesuatu yang mati di dalam sana.
“Gak kemana-mana. Di rumah aja,” katanya datar.
“Kenapa gak datang Rabu? Hasil ujian..”
“Itu tidak penting.”
Yasril terdiam. Kata-kata itu seperti tamparan. Tidak penting? Setelah semua belajar keras, setelah semua perjuangan, hasil ujian tidak penting?
“Lu kenapa, Ri?” Yasril mencoba lagi, suaranya lebih pelan. “Cerita sama gue. Gue teman lu.”
Yusri menatap Yasril. Sahabatnya itu. Satu-satunya orang yang selalu ada sejak kelas satu. Tapi hari ini, Yusri tidak bisa membuka mulut. Bukan karena dia tidak percaya. Tapi karena dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Mau cerita kalau ayahku meninggal? Mau cerita kalau aku merasa bersalah? Mau cerita kalau aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri?
Untuk apa? Untuk membuat Yasril ikut sedih? Untuk membuat dia repot memikirkan aku?