Matahari mulai naik ketika prosesi pemakaman usai.
Satu per satu warga meninggalkan tempat itu. Ada yang mengucapkan belasungkawa, ada yang hanya mengangguk, ada yang menepuk pundak Farrel atau Yusri sekilas sebelum pergi.
Geni datang bersama ibunya. Dia berdiri di depan Farrel, menunduk sebentar, lalu berbisik, “Maaf, Bang. Turut berduka.”
Farrel hanya mengangguk.
Geni menoleh ke arah Yusri yang berdiri agak jauh. Dia ingin mendekat, ingin meminta maaf atas kejadian kemarin, tapi kata-kata itu tidak bisa keluar. Akhirnya dia hanya menunduk lagi, lalu berjalan pergi.
Lambat laun, hanya keluarga yang tersisa di depan pusaran itu. Ibu Riana masih duduk di tanah, tidak mau beranjak. Elli duduk di sampingnya, masih menangis. Naldi berdiri di belakang, menggendong anak mereka yang kini tertidur.
Farrel berdiri agak jauh, menatap pusaran ayahnya. Di sampingnya, Yusri berdiri kaku, matanya kosong menatap gundukan tanah yang masih basah.
“Yus,” panggil Farrel pelan.
Yusri tidak menjawab.
“Ayah pergi bukan karena kamu.”
Yusri diam.
“Ayah pergi karena dia mau. Karena dia sayang sama kamu. Karena dia mau cari sekolah buat kamu.”
Yusri menggigit bibir. Air mata yang tadinya habis, tiba-tiba keluar lagi. Deras. Tidak bisa ditahan.
“Tapi kalau bukan karena Yusri...” suaranya patah. “Kalau Yusri gak bilang mau sekolah di Pariaman... Ayah gak akan ke sana... Ayah gak akan...”
Farrel menarik Yusri ke dalam pelukannya. Tidak banyak bicara. Tidak memberi nasihat. Hanya memeluk. Kuat.
Yusri menangis di bahu kakaknya, Tangis yang ditahan sejak semalam, sejak mendengar suara ambulan, sejak melihat tandu putih itu, akhirnya pecah. Dia menangis sejadi-jadinya. Tangis seorang anak yang kehilangan ayahnya. Tangis seorang anak yang merasa bersalah. Tangis seorang anak yang tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Ibu Riana melihat dari kejauhan. Air matanya mengalir lagi, tapi dia tersenyum kecil. Setidaknya, anak-anaknya masih punya satu sama lain.
Di belakang mereka, matahari mulai menyinari pusaran itu dengan cahaya pagi yang hangat. Tidak menghapus duka, tapi setidaknya memberi sedikit kehangatan di tengah dingin yang menyelimuti.
Hari baru dimulai. Tapi bagi keluarga itu, hidup tidak akan pernah sama lagi.
Hari Rabu akhirnya datang,Matahari pagi menyinari halaman SMP 4 Suger dengan terang, tapi hangatnya tidak sampai ke hati setiap siswa yang berdiri di depan papan pengumuman. Sejak pukul tujuh pagi, halaman sekolah sudah dipenuhi kerumunan. Ada yang berteriak kegirangan, ada yang menangis haru, ada yang diam membisu sambil menatap angka-angka yang menentukan nasib mereka. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan.
Yasril datang lebih awal. Dia menyusuri kerumunan, mencari-cari wajah yang dikenalnya. Matanya menyapu barisan demi barisan, tapi tidak menemukan siapa yang dia cari.
Yusri mana? pikirnya. Dia pasti datang, kan?
Dia mencoba menelepon. Tidak ada jawaban. Pesan singkat dikirim. Centang satu, belum terbaca.
“Yasril!” panggil Mikel dari kejauhan, melambaikan tangan. Wajah tampannya tersenyum lebar. “Gue lulus! Nilai gue bagus juga!”
“Selamat, Bro!” Yasril balas tersenyum, meskipun senyumnya tidak sampai ke mata.
Mikel mendekat, menyadari sesuatu yang berbeda. “Yusri mana? Belum datang?”
“Gak tahu. Gak diangkat teleponnya.”seru Yasril.
Mikel mengernyit. Sejak kejadian di warung Nizal dan pertarungan melawan Rendi, dia mulai menganggap Yusri sebagai teman. Bukan teman dekat, tapi setidaknya seseorang yang dia hormati.
“Coba hubungi lagi nanti,” kata Mikel. “Mungkin dia macet.”
Yasril mengangguk, tapi hatinya tidak tenang.
Di barisan lain, Devi dan Intan berdiri di antara kerumunan. Devi memegang rapornya dengan tangan gemetar, lalu membuka perlahan. Matanya membulat, lalu dia tersenyum.
“Lulus!” serunya pelan.
Intan di sampingnya juga tersenyum. “Aku juga! Nilaimu berapa?”
Mereka berdua mulai membandingkan nilai, tertawa kecil. Tapi mata Devi sesekali melirik ke sekeliling, mencari-cari sesuatu atau seseorang.
Intan yang memperhatikan, menyenggol sikunya. “Cari siapa?”
“Gak ada,” jawab Devi cepat, wajahnya sedikit merona.
“Cari Yusri, ya?” Intan tersenyum nakal.
“Diem, lu!”
“Tapi dia memang gak kelihatan hari ini. Aneh juga.”kata Intan.
Devi tidak menjawab, tapi matanya kembali menyapu kerumunan. Tidak ada. Yusri benar-benar tidak datang.
Di tebing tanah merah, Yusri duduk di atas batu besar yang sama. Kakinya menjuntai, matanya menerawang ke hamparan sawah yang mulai menguning. Di tangannya, ponsel tua itu berbunyi beberapa kali panggilan dari Yasril, dari Farrel, dari nomor tak dikenal. Semua dibiarkan. Tidak diangkat. Tidak dibaca.
Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia. Hari di mana semua perjuangan selama tiga tahun terbayar. Hari di mana dia bisa tertawa bersama Yasril, Mikel, teman-teman sekelas. Hari di mana dia bisa pulang dan menunjukkan hasil ujiannya pada ayahnya,Tapi ayahnya tidak ada.
Yusri menatap langit yang biru tanpa awan. Angin bertiup pelan, membawa bau rumput kering dari sawah. Semuanya terasa sama seperti biasa. Tapi semuanya terasa berbeda.
“Kenapa nasib aku begini?” bisiknya pada angin.Angin tidak menjawab.
Dia memeluk lututnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Bukan tangis isak, bukan tangis keras. Hanya air mata yang mengalir tanpa suara, membasahi pipinya, menetes ke celana seragam yang masih dia kenakan seolah dia masih ingin pergi ke sekolah, seolah semuanya masih normal.
“Aku yang salah,” bisiknya lagi. “Kalau aku tidak bilang mau sekolah di Pariaman... Ayah tidak akan ke sana... Ayah tidak akan...”
Air matanya makin deras.
Dia membiarkannya. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang perlu tahu.
Setelah beberapa lama, dia mengusap matanya dengan lengan baju. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Pikirannya melayang ke tempat lain ke sekolah, ke teman-teman yang mungkin sedang merayakan kelulusan.
“Aku punya teman,” katanya pada dirinya sendiri, suara serak. “Tapi tidak ada yang datang ke rumah. Tidak ada yang tahu.”
Dia tersenyum. Bukan senyum manis yang biasa. Senyum itu pahit, getir, seperti kopi tanpa gula yang diminum di pagi hari yang salah.“Yasril rumahnya jauh. Mikel juga. Riyan juga. Semua jauh. Tidak ada yang dekat dari rumahku.”
Dia tertawa kecil. Tertawa yang aneh, seperti orang yang berbicara sendiri di tengah sawah yang sunyi. Tertawa yang membuatnya terdengar seperti orang gila.
“Jadi akulah yang salah juga,” lanjutnya, matanya kosong. “Memikirkan hal negatif tentang temanku. Padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka tidak tahu.”
Dia bangkit berdiri. Tangannya mengepal. Ada sesuatu yang mendidih di dadanya,bukan amarah pada Yasril atau Mikel, tapi amarah pada dunia. Pada nasib. Pada dirinya sendiri.
Dia berjalan ke dinding tanah merah. Tebing tempat dia biasa berlatih. Tanah liat yang padat itu sudah penuh bekas tinju dari hari-hari sebelumnya. Tapi hari ini, Yusri tidak ingin berlatih. Dia ingin menghancurkan sesuatu.
Dug!
Tinjunya menghantam tanah merah. Keras. Lebih keras dari biasanya.
Dug! Dug! Dug!
Pukulan demi pukulan. Tanah merah itu mulai retak, pecahan-pecahan kecil berterbangan. Buku-buku jari Yusri mulai memerah, lalu lecet, lalu berdarah. Tapi dia tidak berhenti.