Farrel menekan kepalanya ke pintu. Dari balik kayu tipis itu, dia bisa mendengar isak tangis yang tertahan. Bukan isak biasa isak yang ditekan, ditelan, disembunyikan. Isak yang berusaha mati-matian untuk tidak terdengar.
Farrel tidak memaksa. Dia bersandar di pintu kamar adiknya, menatap langit-langit yang retak. Air matanya masih mengalir, tapi dia biarkan.“Gue di sini, Yus,” katanya pelan. “Gue di luar kalau lu butuh.”
Tidak berselang lama, suara ambulan terdengar dari kejauhan. Suaranya semakin keras, semakin dekat, sampai akhirnya berhenti tepat di depan gang rumah mereka.
Seluruh kampung bergerak. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Pintu-pintu terbuka. Warga keluar dengan sandal jepit dan pakaian tidur, penasaran dengan keramaian malam itu.
“Ada apa, ya?” bisik seorang tetangga.
“Tuh, ambulan. Rumah siapa?”
“Rumahnya Bu Riana, kayaknya.”
“Lho, kenapa?”
Mobil ambulan putih itu berhenti di depan gang. Pintu belakang terbuka, dan dua petugas medis turun dengan tandu. Di belakang mereka, Elli keluar dari mobil dengan wajah pucat, mata bengkak, tubuh lemas ditopang oleh Naldi, suaminya. Naldi menggendong anak mereka yang masih kecil, tertidur di pundaknya, tidak mengerti apa yang terjadi.
Petugas medis membuka pintu belakang ambulan. Tandu dikeluarkan perlahan. Di atasnya, tertutup kain putih, terbaring sesosok jasad yang sudah tidak bernyawa lagi.
Rayendra.
Warga yang tadinya hanya penasaran kini terdiam. Beberapa dari mereka menutup mulut. Beberapa lagi memejamkan mata, tidak kuat melihat. Suasana malam yang tadinya sunyi berubah menjadi kelam. Sangat kelam.
“Ya Allah...” bisik seorang nenek di depan rumahnya. “Pak Rayendra? Sungguh Pak Rayendra?”
“Iya, kata Elli kecelakaan di Pariaman tadi sore,” sahut yang lain.
“Kasihan Bu Riana... anak-anaknya masih kecil...”
Geni berdiri di antara kerumunan, di samping ibunya. Wajahnya yang biasanya tegang dan mudah marah kini terlihat kosong. Dia menatap tandu putih itu, lalu menunduk. Tangannya mengepal di saku celana.
Kemarin aku marah-marah sama dia, pikir Geni. Kemarin aku tonjok punggungnya. Dan sekarang... ayahnya...Geni menggigit bibir. Tidak ada air mata, tapi dadanya terasa sesak.
Ibu Riana keluar rumah dengan langkah limbung, dituntun Farrel. Begitu melihat tandu putih itu, kakinya lemas. Farrel harus menahan tubuh ibunya agar tidak jatuh.
“Rayen... Rayen...” Ibu Riana memanggil nama suaminya dengan suara yang hancur. “Rayen, kenapa kau pergi... kenapa kau tinggalkan aku...”
Elli yang melihat ibunya begitu, lepas dari pegangan Naldi dan berlari memeluk Ibu Riana. Kedua wanita itu menangis bersama, suara tangis mereka pecah di malam yang dingin.“Maaf, Mak... Maaf Ell tidak bisa menjaga Ayah...” Elli terisak.
“Bukan salahmu, Nak... Bukan salahmu...”
Naldi berdiri di samping, menggendong anaknya yang mulai terbangun dan ikut menangis karena suasana. Dia berusaha tegar, tapi matanya terus basah setiap kali melihat mertuanya terbaring di atas tandu.
Warga mulai berdatangan. Ada yang membawa air, ada yang membawa kain, ada yang hanya diam dan menunduk, ikut merasakan duka yang menyelimuti rumah itu.
Farrel berdiri di samping ibunya, menatap tandu putih itu. Wajah ayahnya tidak terlihat, tapi Farrel bisa membayangkan. Wajah lesu yang selalu dia lihat setiap pagi. Wajah yang jarang tersenyum tapi selalu ada. Sekarang tidak akan pernah ada lagi.
Dia menoleh ke arah kamar Yusri. Pintu masih tertutup. Yusri belum keluar.
Dia mendengar semuanya, pikir Farrel. Dia mendengar ambulan. Dia mendengar ibu menangis. Tapi dia tidak keluar.
Farrel mengerti. Dia tahu apa yang dirasakan adiknya. Perasaan bersalah. Perasaan bahwa pertengkaran kemarin adalah kesalahan terbesar. Perasaan bahwa jika saja... jika saja...
Tapi tidak ada jika saja.
Malam itu, Ibu Riana duduk di ruang tamu dikelilingi oleh Elli, Naldi, dan beberapa tetangga yang membantu. Farrel duduk di samping ibunya, sesekali mengusap punggungnya yang berguncang karena tangis.
Ibu Riana mencoba menenangkan diri. Tangannya gemetar saat mengambil ponsel tua dari saku bajunya. “Aku harus kabari Lazuardi... Basrizal juga... mereka harus tahu...”
Dia menekan nomor Lazuardi. Berdering. Berdering. Berdering. Tidak ada yang mengangkat.
Dicoba sekali lagi. Masih sama.
Ibu Riana menggigit bibir, lalu mencoba nomor Basrizal. Berdering panjang. Kemudian suara operator. Tidak aktif.
“Tidak ada yang angkat,” bisik Ibu Riana, air matanya jatuh lagi. “Sudah berapa lama mereka tidak ada kabar...”
Farrel yang mendengar itu, sedikit kesal. Bukan pada ibunya, tapi pada kedua kakaknya yang jauh di sana. Elli setidaknya ada. Farrel di sini. Tapi Lazuardi dan Basrizal... mereka terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing.
“Nanti kita coba lagi, Mak,” kata Farrel pelan. “Mereka pasti akan tahu.”
Ibu Riana hanya mengangguk lemah.
Di dalam kamar, Yusri duduk di sudut, punggung bersandar ke dinding. Lututnya ditekuk, kedua tangan memeluk erat. Matanya merah, basah, tapi air mata tidak lagi mengalir. Habis. Kering.
Dia mendengar semuanya. Suara ambulan. Suara ibunya menangis. Suara warga yang berbisik. Suara Farrel yang mencoba menenangkan.
Tapi dia tidak bisa keluar.
Setiap kali dia ingin berdiri dan membuka pintu, bayangan ayahnya muncul. Wajah ayahnya saat membentaknya kemarin. Wajah ayahnya yang lesu, yang lelah, yang selalu menunduk. Dan kemudian kata-kata itu muncul lagi di kepalanya.
Ayah pergi ke Pariaman untuk lihat SMK buat Yusri.
Karena Yusri...Karena aku....
Yusri menekan kepalanya ke dinding. Seharusnya aku yang pergi ke sana. Seharusnya aku yang...
Tapi tidak ada yang bisa diubah. Tidak ada yang bisa dikembalikan.
Keesokan harinya, pagi masih gelap ketika prosesi pemakaman dimulai.
Langit Sungai Geringging kelabu. Mendung menggantung rendah, seolah ikut berduka. Jenazah Rayendra dimandikan, dikafani, dan disalatkan di masjid kecil dekat rumah. Hampir seluruh warga kampung datang. Ada yang datang karena kenal, ada yang datang karena ikut berduka, ada yang hanya karena ingin melihat.
Yusri keluar dari kamarnya ketika semua sudah siap. Wajahnya pucat, matanya sembap, bibirnya kering. Dia tidak bicara. Tidak menatap siapa pun. Hanya berjalan di belakang kerumunan, mengikuti prosesi yang membawa ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir.
Farrel melihat Yusri dari kejauhan. Dia ingin mendekat, tapi dia tahu adiknya butuh ruang. Jadi dia hanya memandang, memastikan Yusri tetap berjalan, tetap mengikuti, tetap berada di sana.
Ibu Riana berjalan di depan, dituntun oleh Elli dan Naldi. Tangisnya sudah tidak bersuara lagi. Matanya kosong, tapi air mata masih mengalir. Sesekali dia berbisik, “Rayen... Rayen...”
Pemakaman itu sederhana. Lubang sudah digali sejak subuh. Jenazah diturunkan perlahan, dengan doa yang dipimpin oleh imam kampung. Warga yang hadir mengangkat tangan, memohonkan ampun untuk almarhum.
Setelah doa selesai, tanah mulai ditimbun. Satu per satu orang melemparkan segenggam tanah ke liang lahat. Suara tanah jatuh terdengar nyata terlalu nyata.
Yusri berdiri paling belakang. Ketika gilirannya tiba, dia mengambil segenggam tanah merah tanah seperti di tebing tempat dia biasa berlatih. Dia melemparkannya perlahan, matanya mengikuti butiran-butiran tanah yang jatuh.
“Maaf, Yah,” bisiknya, suara serak yang hanya bisa didengar angin,“Maaf.”