Tapi biasanya Ayah pulang sebelum maghrib. Sekarang sudah maghrib lewat.”
Yusri tidak menjawab. Dia melihat kekhawatiran di wajah ibunya. Tapi dia tidak mau ikut cemas. Pasti tidak ada apa-apa, pikirnya.
Dia kembali ke ruang tamu, duduk di depan televisi, tapi matanya tidak lagi fokus menonton.
Dari Pariaman, kabar buruk mulai merambat.
Pak RT mendapat telepon dari tim medis Rumah Sakit Sakinah. Suara di seberang sana terdengar serius, bicara tentang kecelakaan, tentang korban, tentang nama Rayendra.
Pak RT diam beberapa saat. Tangan yang memegang ponsel gemetar. Lalu dia menghela napas panjang, mengambil jaket, dan keluar rumah,Tugas berat malam ini, pikirnya.
Di rumah Yusri, ketukan pintu terdengar sekitar pukul delapan malam.
Yusri bangkit dari sofa. Farrel belum pulang. Ibu Riana masih di dapur. Dia berjalan ke pintu dengan langkah santai, membayangkan itu Farrel yang lupa bawa kunci.
Pintu terbuka.
Bukan Farrel.
Pak RT berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Matanya merah, seperti habis menangis atau berusaha keras menahan sesuatu.
“Pak RT?” Yusri mengernyit. “Ada apa?”
Pak RT tidak menjawab. Dia masuk ke dalam rumah, melangkah pelan menuju ruang tamu. Ibu Riana yang mendengar suara, keluar dari dapur.
“Ada apa, Pak?” tanya Ibu Riana, masih mengelap tangan dengan kain.
Pak RT menatap Ibu Riana. Mulutnya terbuka, tapi kata-kata tidak keluar. Dia menarik napas, menghela, lalu menarik napas lagi.
“Bu,” katanya akhirnya, suaranya parau. “Ada kecelakaan di Pariaman tadi sore. Di simpang empat lampu merah.”
Ibu Riana terdiam. Tangannya berhenti mengelap.
“Korban... cukup banyak, Bu. Beberapa meninggal. Beberapa luka-luka.”
Jantung Ibu Riana berdegup lebih kencang. “Anak saya, Pak? Elli? Elli yang di Pariaman? Apakah Elli ”
“Bukan, Bu. Bukan Elli.”
Ibu Riana menghela lega, tapi lega itu hanya bertahan sesaat.
Pak RT melanjutkan, “Bapak Rayendra... suami Ibu... beliau menjadi salah satu korban.”
Diam seketika.
Suasana menjadi Sunyi.
Ibu Riana tidak bergerak. Matanya membelalak, mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Kain lap di tangannya jatuh ke lantai.
“Apa?” bisiknya akhirnya. “Apa katakan, Pak?”
“Bapak Rayendra meninggal di tempat kejadian, Bu. Jenazahnya sekarang di Rumah Sakit Sakinah, Pariaman.”
Ibu Riana terhuyung. Tubuhnya oleng ke belakang, hampir jatuh jika tidak segera bersandar ke dinding. Kepalanya terasa berputar, dunia terasa runtuh.
“Tidak... tidak mungkin...” suaranya parau, matanya berkaca-kaca. “Baru tadi pagi... dia pamit... mau ke Pariaman... katanya mau lihat SMK buat Yusri...”
Yusri berdiri di samping ibunya, membeku. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
SMK buat Yusri.
Kalimat itu terngiang di kepalanya. Ayahnya pergi ke Pariaman bukan hanya untuk berjualan. Ayahnya pergi untuk mencari sekolah yang Yusri inginkan. Untuk memenuhi keinginan anaknya yang bahkan tidak pernah diucapkan langsung.
Yusri tidak bisa berkata-kata. Dadanya terasa ditekan batu besar yang tidak bisa diangkat.
“Maaf, Bu,” kata Pak RT, matanya berkaca-kaca. “Saya hanya bisa menyampaikan kabar ini. Saya ikut berduka.”
Ibu Riana tidak menjawab. Dia hanya diam, tubuhnya bersandar di dinding, air mata mengalir deras di pipinya tanpa suara.
Yusri memegang tangan ibunya. Tangannya dingin.
Bertubi-tubi, pikir Yusri. Ujian selesai, lalu berantem dengan Geni, lalu bertengkar dengan ayah, lalu ayah pergi, lalu...
Dia tidak bisa melanjutkan pikirannya. Kepalaya terasa kosong. Dunia terasa tidak nyata.
Di luar, makin larut malam. Suara jangkrik terdengar sayup-sayup. Dan di dalam rumah yang dulu terasa hangat, kini hanya ada dingin yang menyelimuti.
Pak RT menunduk, mengucapkan belasungkawa sekali lagi, lalu berbalik pulang. Langkah kakinya berat meninggalkan rumah itu.
Ibu Riana masih diam. Yusri masih memegang tangan ibunya.
Dan di Pariaman, di Rumah Sakit Sakinah, Elli terbangun dari pingsannya hanya untuk menangis lagi. Naldi, suaminya, sudah datang dan duduk di sampingnya, diam membisu.
Malam itu, keluarga kecil itu hancur.
Dan di sebuah kamar di ujung gang, seorang anak laki-laki yang baru saja selesai ujian akhir tidak bisa menangis. Matanya kering. Hatinya kosong. Yang tersisa hanya pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab.
Kenapa ayah pergi ke Pariaman?Dia tahu jawabannya. Tapi jawaban itu terlalu berat untuk diterima.dan itu Karena aku.
langit Sungai Geringging tidak berbintang.
Farrel melaju dengan motornya melewati gang-gang gelap. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Dia baru saja pulang dari tongkrongan PS, bermain billiar bersama Irfan dan Dani. Biasanya, dia pulang dengan perasaan ringan, tertawa masih tersisa di bibir. Tapi malam ini, begitu motornya memasuki gang menuju rumah, ada sesuatu yang berbeda.
Rumahnya hening.Biasanya, lampu ruang tamu menyala terang. Biasanya, suara televisi terdengar dari dalam. Biasanya, Ibu Riana masih sibuk di dapur menyiapkan teh hangat untuk ayahnya yang baru pulang berjualan. Tapi malam ini, rumah itu tampak redup. Sunyi. Seperti rumah yang kehilangan nyawa.
Farrel mematikan mesin motor, melepas helm, dan melangkah masuk.
“Mak?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
“Mak! Yus!”
Masih sunyi.
Dia melangkah ke ruang tamu. Kosong. Matanya beralih ke dapur. Di sana, di bawah lampu neon yang redup, Ibu Riana duduk di kursi bambu. Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya menutupi wajah. Bahunya berguncang.
“Mak?” Farrel mendekat, suaranya mulai bergetar.
Ibu Riana mengangkat wajah. Matanya sembap, merah, basah. Pipinya berlumuran air mata. Dia menatap Farrel, dan untuk pertama kalinya, Farrel melihat ibunya terlihat sekecil itu. Sekecil anak kecil yang kehilangan sesuatu yang paling berharga.
“Farrel...” suara Ibu Riana parau, hampir tidak terdengar.
“Ada apa, Mak?” Farrel berlutut di samping ibunya, tangannya memegangi pundak yang dingin itu. “Ada apa? Yusri kenapa? Kenapa?”
Ibu Riana menggenggam tangan Farrel erat-erat. “Ayahmu... Ayahmu meninggal, Nak.”
Farrel membeku.
“Kecelakaan... di simpang empat Pariaman... truk... rem blong...” kata Ibu Riana tersendat, setiap suku kata keluar seperti pecahan kaca yang menusuk tenggorokannya. “Ayahmu tidak selamat, Rel... Ayahmu...”
Dunia Farrel berhenti berputar,Air matanya jatuh. Tidak pelan-pelan, tidak tertahan. Jatuh deras seperti hujan yang tidak kenal ampun. Tangan yang tadi memegangi pundak ibunya kini gemetar, kukunya mencengkeram bajunya sendiri, seolah berusaha menahan tubuhnya agar tidak runtuh.
“Ayah...” bisiknya. “Ayah... mana Ayah sekarang, Mak?”
“Di rumah sakit... Elli yang menemukan... Elli yang di sana...”
Farrel memejamkan mata. Kepalanya menunduk, dahi nyaris menyentuh lantai. Tubuhnya berguncang, tapi dia berusaha menahan. Dia harus kuat. Untuk ibunya.
Farrel mengangkat wajah, mengusap air matanya dengan punggung tangan. “Yusri, Mak? Yusri mana?”
Ibu Riana menunjuk ke arah kamar. “Dia mengurung diri sejak tadi. Tidak keluar. Tidak mau makan. Saya takut, Rel.”
Farrel mengangguk. Dia berdiri, melangkah ke kamar Yusri. Pintunya tertutup rapat. Farrel mengetuk pelan.
“Yus,” panggilnya. “Yus, buka pintu.”
Tidak ada jawaban.
“Yus, gue tau lu dengar. Buka pintu.”Sunyi.