Perjalanan menuju Pariaman lumayan lancar. Rayendra melewati persawahan, melewati pasar-pasar kecil, melewati jalan berliku yang sudah hafal di luar kepala. Sesekali dia berhenti di warung pinggir jalan, menawarkan jam dinding atau jam tangan ke pembeli yang lewat. Sepi. Tapi dia sudah terbiasa.
Menjelang sore, sekitar pukul setengah lima, Rayendra memasuki Kota Pariaman. Matanya menyusuri jalan, mencari sekolah SMK yang disebut-sebut Yusri. Tapi sebelum sempat menemukannya, lampu merah di simpang empat memaksanya berhenti.
Simpang empat itu terkenal. Namanya Lampu Merah Simpang Empat Pariaman. Persimpangan besar yang menghubungkan jalan utama menuju pusat kota, pantai, dan kabupaten tetangga. Setiap hari, ratusan kendaraan melintas di sini. Dan setiap bulan, setidaknya ada satu kecelakaan terjadi di tempat yang sama.
Rayendra menghentikan motornya tepat di belakang garis putih. Di samping kiri dan kanannya, puluhan orang juga berhenti ada yang naik motor, ada yang naik mobil, ada yang sepeda. Semua menunggu lampu hijau menyala.
Lampu merah masih menyala selama empat puluh lima detik.
Rayendra tidak tahu, itu adalah empat puluh lima detik terakhir dalam hidupnya.
Dari kejauhan, sebuah truk besar pengangkut pasir melaju dengan kecepatan tinggi. Supirnya panik. Rem blong. Truk itu tidak bisa berhenti. Tidak bisa berbelok karena muatan pasir yang terlalu berat.
Truk itu meluncur seperti monster tak terkendali, menghantam segala yang ada di depannya.
Brak!
Dentingan logam. Pecahan kaca. Jeritan.
Truk itu menggulingkan muatannya, menabrak puluhan kendaraan yang berhenti di lampu merah. Manusia bergelimpangan. Darah mengalir di aspal. Pasir berserakan menutupi tubuh-tubuh yang tak lagi bergerak.
Di persimpangan itu, sekitar tiga puluh orang menjadi korban. Ada yang luka berat. Ada yang meninggal di tempat,Rayendra termasuk yang terakhir.
Kepalanya pecah. Kakinya hancur. Seluruh tubuhnya berlumuran darah, tertimpa pecahan motor dan muatan pasir yang keluar dari bak truk. Wajahnya wajah yang lesu, wajah yang sering menunduk karena kelelahan kini tidak bisa dikenali lagi.
Setengah jam kemudian, sirene ambulan memecah suasana sore Pariaman. Polisi berdatangan. Petugas medis berlarian. Kerumunan orang mulai mengelilingi lokasi kejadian bukan untuk membantu, tapi untuk melihat. Beberapa histeris melihat potongan tubuh yang berserakan. Beberapa lagi pingsan begitu melihat darah yang menggenang di aspal.
TKP ditutup dengan garis polisi. Ambulan datang satu per satu, membawa korban luka ke Rumah Sakit Sakinah. Korban meninggal dibawa ke ruang identifikasi.
Di antara kerumunan itu, seorang wanita muda berdiri dengan tubuh gemetar.
Elli,Dia sedang berjualan di warung sarapan miliknya bersama suami, Naldi, tidak jauh dari simpang empat. Ketika mendengar suara benturan keras, dia keluar. Ketika melihat kerumunan, dia berlari. Ada firasat yang tidak bisa dijelaskan.
“Permisi... permisi...” Elli berusaha menembus kerumunan, tapi petugas kepolisian menghalanginya.
“Tidak boleh mendekat, Bu. Ini TKP.”
“Saya... saya hanya ingin melihat. Saya punya keluarga yang biasa lewat sini.”
Petugas itu menghela napas. “Semua korban sudah dibawa ke Rumah Sakit Sakinah, Bu. Kalau mau cari keluarga, ke sana saja.”
Elli tidak bergerak. Matanya menyapu lokasi kejadian dari balik garis polisi. Dia melihat potongan-potongan motor yang hancur, tubuh-tubuh yang ditutup kain putih, dan satu motor,motor Vega R hitam yang tergeletak di samping truk, rangkanya penyok, setangnya bengkok, dan di bagian jok... ada darah.
Darah itu masih merah.
Elli memegangi mulutnya. Matanya berkaca-kaca. Dia mengenali motor itu. Meskipun hancur, meskipun pelat nomornya sudah tidak terbaca, dia tahu. Dia tahu karena itu motor yang dulu sering mengantarnya ke sekolah ketika dia masih SMP. Motor yang dibeli ayahnya dari hasil menabung bertahun-tahun. Motor Vega R hitam dengan stiker kecil bergambar burung di samping tangki.
“Pak...” Elli memanggil polisi yang tadi, suaranya gemetar. “Pak, tolong... boleh saya ke rumah sakit? Saya rasa... saya rasa itu keluarga saya.”
Polisi itu menatap Elli sebentar, melihat matanya yang basah, lalu mengangguk. “Ikut saya, Bu. Saya antar.”
Rumah Sakit Sakinah, Pariaman.
Elli duduk di kursi panjang lorong koridor, kedua tangannya menggenggam erat ujung jilbab. Di hadapannya, pintu ruang identifikasi masih tertutup. Sesekali petugas medis keluar masuk dengan wajah tegang.
Pak RT sudah datang. Dia dipanggil oleh tim medis karena alamat yang ditemukan di dompet korban. Dompet itu basah oleh darah, tapi KTP di dalamnya masih bisa dibaca.
Rayendra. Sungai Geringging.
“Bu, saya mohon bersabar,” kata seorang dokter muda dengan suara pelan. “Kami sedang melakukan identifikasi.”
Elli hanya mengangguk. Air matanya tidak berhenti mengalir sejak tadi.
Di dalam ruangan, tim medis bekerja cepat. Beberapa jenazah sudah diidentifikasi. Keluarga-keluarga mulai berdatangan, histeris, pingsan, menangis. Ruang rumah sakit berubah menjadi lautan duka.
“Bu,” panggil seorang perawat dari pintu. “Ibu keluarga dari Bapak Rayendra?”
Elli bangkit berdiri. Kakinya lemas, tapi dia tahan. “Iya. Saya anaknya.”
Perawat itu terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara berat, “Ibu... saya minta maaf. Bapak Rayendra tidak bisa diselamatkan. Beliau meninggal di tempat kejadian.”
Elli menggigit bibir. Darah hampir keluar. “Saya... saya mau lihat.”
“Bu, sebaiknya ”
“Saya mau lihat ayah saya!”
Perawat itu menoleh ke dokter yang berdiri di samping. Dokter itu mengangguk pelan.
“Baik, Bu. Ikut saya.”
Pintu ruang identifikasi terbuka.
Di dalam, beberapa jenazah terbaring di atas meja stainless, ditutup kain putih. Elli dipandu ke salah satu meja di pojok ruangan.
“Ini, Bu.”
Tangan Elli gemetar saat meraih ujung kain putih itu. Dia menariknya perlahan.
Wajah di bawah kain itu tidak seperti yang dia ingat.
Bukan wajah ayah yang lesu dengan kerutan di kening. Bukan wajah yang sering menunduk kelelahan. Wajah ini... hancur. Ada retak di dahi, luka menganga di pipi, dan mata... mata itu tertutup, tidak akan pernah terbuka lagi.
Darah masih membasahi rambut yang mulai memutih di pelipis.
“Ayah...!” Elli menjerit. Tangannya melepaskan kain, tubuhnya lemas, lututnya membentur lantai. “Ayah! Ayah, jangan... jangan...!”
Dia menangis histeris. Suaranya pecah, isaknya tersedu-sedu, tubuhnya berguncang. Beberapa perawat mencoba menenangkannya, tapi Elli tidak bisa dihentikan. Dia merangkak mendekati meja, tangannya meraih tangan ayahnya yang dingin dan kaku.
“Ayah... Ell baru pulang sebentar lagi... Ayah... jangan pergi... jangan...”
Tapi tangannya tidak menjawab.
Tangan itu dingin.
Elli terus menangis, terus menjerit, sampai tubuhnya kehabisan tenaga. Matanya mulai kabur, kepalanya terasa berputar, dan kemudian... gelap.Dia pingsan.
Di Sungai Geringging, malam mulai turun.
Ibu Riana mondar-mandir di dapur. Biasanya, jam segini Rayendra sudah pulang. Tapi sekarang, jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh, dan suara motor Vega R belum terdengar.
“Yus!” panggil Ibu Riana dari dapur.
Yusri yang sedang menonton televisi di ruang tamu beranjak mendekat. “Iya, Ma?”
“Kakakmu udah pulang? Farrel?”
“Belum, Ma. Kayaknya masih di sekolah.”
Ibu Riana mengusap tangan dengan kain lap, wajahnya cemas. “Kalau Farrel udah pulang, suruh dia cari ayahmu di pasar biasa. Tadi Mama telepon, gak ada jawaban.”
Yusri mengernyit. “Baru jam setengah tujuh, Ma. Mungkin Ayah masih di jalan.”