Pagi Minggu terasa berbeda,Yusri memasuki rumah dengan langkah menyelinap, sekecil mungkin, seperti kucing yang pulang setelah semalaman berkeliaran. Sandalnya ditanggalkan di teras, lalu dia melangkah pelan melewati ruang tamu.
Ibu Riana terbaring di kursi anyaman bambu. Wajahnya kusut karena tidur dalam posisi duduk, satu tangannya masih memegang ujung selendang, kaki yang lain tergantung sedikit di atas lantai. Di samping kursi, segelas air teh yang sudah dingin dan piring berisi pisang goreng,makanan favorit Yusri masih utuh, tidak tersentuh.
Yusri berhenti sejenak. Matanya menatap ibunya yang semalaman menunggu. Ada rasa perih di dadanya, sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Tapi dia memilih untuk menelan semuanya.Tidur saja dulu, pikirnya. Tidak peduli apa yang terjadi.
Dia melanjutkan langkah menuju kamarnya. Pintu kamar dibuka perlahan, lalu ditutup tanpa suara. Kasurnya terasa dingin dan empuk. Tubuhnya yang kaku semalaman di rumah tua langsung menyerah pada godaan tempat tidur. Yusri membaringkan diri, memejamkan mata, dan berusaha melanjutkan tidur yang semalam tidak nyenyak.
Kakaknya tidak terlihat. Farrel mungkin masih di kamar atau sudah pergi sejak subuh. Tidak penting. Yang penting, tidak ada yang akan mengganggu tidurnya.
Semangat, pikirnya sarkastik. Tidur adalah prioritas.
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Rayendra mengintip.
Dia sudah bangun sejak subuh, duduk di ruang belakang sambil meminum kopi pahit. Ketika mendengar suara langkah kaki pelan di ruang tamu, dia tahu Yusri sudah pulang. Kini, dia berdiri di depan pintu kamar Yusri, mengintip melalui celah sempit.
Yusri sudah tertidur. Wajahnya yang biasa saja itu kini terlihat tenang tidak ada kemarahan, tidak ada kekecewaan. Hanya seorang anak laki-laki yang kelelahan dan akhirnya menemukan pelabuhan di tempat tidurnya sendiri.Rayendra diam,Tidak masuk. Tidak membangunkan. Hanya memandang.
Dia tahu sifat anaknya. Yusri keras kepala. Jika sudah ngambek, tidak ada gunanya dipaksa. Lebih baik didiamkan, dibiarkan tenang dulu. Nanti, ketika lapar datang, dia akan keluar sendiri. Nanti, ketika marahnya reda, dia akan bicara lagi. Seperti biasa.
Ditenangkan dulu, pikir Rayendra. Pasti nanti dia mau makan. Dan kembali seperti semula lagi.
Lalu dia tersenyum kecil. Senyum yang tidak terlihat siapa pun. Senyum yang hanya muncul saat dia sendirian, saat dia mengingat anak-anaknya masih kecil dulu lucu, manja, dan tidak pernah keras kepala seperti sekarang.
Rayendra menarik napas panjang, lalu berbalik. Langkah kakinya pelan meninggalkan pintu kamar Yusri. Kopi di ruang belakang sudah dingin, tapi dia tetap meminumnya pahitnya terasa sampai ke tenggorokan.
Yusri tidak benar-benar tidur. Matanya terpejam, tapi pikirannya masih berkelana.
Malang amat nasib aku, keluhnya dalam hati. Awal selesai ujian, padahal ingin senang-senang. Tapi semua sirna.
Dia memikirkan Geni. Memikirkan ayahnya yang membentak. Memikirkan ibunya yang tidur di kursi. Semua rasa senang yang tadinya meledak-ledak setelah ujian selesai, kini lenyap sudah. Digantikan oleh rasa hambar yang tidak jelas asalnya.Udah, lupain aja, paksanya. Yang penting sambung tidur dulu.
Tapi tidur tidak datang. Matanya sudah segar, tubuhnya sudah tidak pegal. Pikirannya malah semakin liar, melompat ke sana kemari.
Rabu besok lihat hasil ujian, ingatnya. Sabtu ambil laporan.
Hari Rabu. 3 hari lagi. Tiga hari untuk mengetahui apakah semua usahanya selama ini membuahkan hasil. Dua hari untuk mengetahui apakah dia bisa melangkah ke jenjang berikutnya.
Dan aku ingin nyambung sekolah ke SMK juga. Tapi bukan SMK sini,yaitu Di Pariaman.
Pariaman. Kota kecil di pesisir. Tidak terlalu jauh dari Sungai Geringging, tapi cukup untuk memulai sesuatu yang baru. Tempat di mana tidak ada yang mengenalnya sebagai Yusri yang pendiam, Yusri yang berubah, Yusri yang suka berkelahi. Tempat di mana dia bisa memulai dari awal tanpa beban masa lalu.
Dah-dah, pikirnya sambil memejamkan mata lebih erat. Jangan banyak pikir. Lanjut tidur.
Entah karena tubuhnya benar-benar lelah atau pikirannya sudah lelah juga, Yusri akhirnya tertidur Pulas. Tidak ada mimpi buruk tentang Geni, tidak ada kemarahan pada ayahnya, tidak ada sesak di d**a. Hanya tidur yang dalam dan sunyi.
Rayendra tidak pergi jauh. Dari ruang belakang, dia mendengar suara napas Yusri yang berubah dari gelisah menjadi teratur, dari terputus-putus menjadi dalam. Itu suara napas orang yang benar-benar tertidur.
Dia tersenyum kecil lagi. Senyum ketiga pagi itu. Lalu dia berdiri, berjalan ke dapur, dan membisikkan sesuatu pada Ibu Riana.
“Biarkan dia tidur. Nanti kalau bangun, hangatkan makanannya.”
Ibu Riana mengangguk, matanya berkaca-kaca. Bukan sedih. Tapi lega.
Rayendra keluar rumah, menyalakan motor Vega R-nya, dan pergi. Masih ada jam-jam yang harus dijual. Masih ada nafkah yang harus dicari. Hidup tidak berhenti hanya karena seorang anak ngambek semalaman.
Di kamar, Yusri tertidur pulas. Tidak tahu bahwa ayahnya mengintip tadi. Tidak tahu bahwa ibunya menangis haru di dapur. Tidak tahu bahwa di dalam hati ayahnya, ada rasa bersalah yang tidak pernah diucapkan.
Tapi mungkin, tidurnya yang pulas itu adalah jawabannya. Mungkin, di alam bawah sadarnya, dia tahu bahwa rumah ini masih rumah. Bahwa pintu tidak pernah terkunci untuknya. Bahwa meskipun kata-kata sering salah dan emosi sering meledak, cinta tidak pernah pergi.
Hari Minggu berjalan lambat. Matahari bergerak dari timur ke barat. Burung-burung beterbangan di atas sawah. Dan di sebuah kamar sederhana di ujung gang, seorang anak laki-laki yang baru saja selesai ujian akhir tidur tanpa beban,setidaknya untuk beberapa jam ke depan.
Esoknya.Pagi itu, Rayendra bangun lebih awal dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya terbit ketika dia sudah duduk di ruang belakang, menikmati kopi pahit buatan Ibu Riana. Hari Senin. Hari biasa untuk berjualan jam keliling. Tapi hari ini ada niat lain yang menggelitik pikirannya.
Pariaman, gumamnya dalam hati.
Dia teringat percakapan tidak langsung dengan Yusri kemarin bukan percakapan sungguhan, tapi kata-kata yang didengarnya dari balik pintu kamar. Aku ingin nyambung sekolah ke SMK juga, tapi bukan SMK sini,Di Pariaman.
Rayendra menarik napas panjang. Dia tidak pandai bicara. Tidak pandai menunjukkan perhatian dengan kata-kata. Tapi dia bisa melakukan sesuatu. Dia bisa pergi ke Pariaman. Menjual jam di sana sekaligus melihat-lihat sekolah SMK untuk Yusri.
“Pergi, Yah?” Ibu Riana muncul dari dapur dengan kain basah di tangan.
“Iya. Ke Pariaman,” jawab Rayendra singkat.
“Jauh amat. Sampai Pariaman?”
“Biar sekalian lihat-lihat. Kata Yusri, dia mau lanjut SMK di sana.”
Ibu Riana terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Dasar ayah. Gak pernah bilang sayang, tapi perhatian juga.”
Rayendra tidak menjawab. Dia hanya memasukkan jam-jam dagangan ke dalam tas kresek, memeriksa bensin motor Vega R-nya, lalu melaju perlahan meninggalkan gang.
Ibu Riana berdiri di teras, menatap punggung suaminya yang semakin mengecil. Ada firasat aneh di dadanya, tapi dia segera mengusirnya.
Tidak ada apa-apa, pikirnya. Semoga pergi, selamat sampai tujuan, selamat pulang.