Rayendra menatap Yusri. Wajahnya yang biasanya lesu kini berubah. Matanya menyala, rahangnya mengeras.
“Benar, Yus?” tanyanya, suara berat.
“Ayah...” Yusri maju selangkah. “Iya, Yusri tabrak dia tadi siang, tapi gak sengaja. Yusri udah minta maaf. Tapi dia...”
“Sudah.” Rayendra mengangkat tangan, memotong penjelasan Yusri. “Jadi kamu memang memukul dia?”
“Tapi dia yang..”
“Cukup!” Rayendra membentak. Suaranya menggema di ruang tamu yang sempit. Ibu Riana melangkah mundur, takut. “Ayah capek-capek pulang kerja, langsung disambut begini. Anak ayah memukul tetangga sendiri. Geni itu anak baik-baik, sekolah di SMP 3, tidak pernah bermasalah. Sekarang dia sampai tidak bisa menggerakkan bahunya. Siapa yang salah?”
Yusri terdiam. Dadanya terasa sesak. Bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain sesuatu yang lebih dalam.
“Dan kamu,” lanjut Rayendra, suaranya masih keras, “sekarang ini kamu sering berantem. Lawan anak SMA, lawan anak SMP 2 Suger. Ayah dengar itu dari orang-orang. Ayah diam saja karena Ayah pikir kamu bisa menjaga diri. Tapi sekarang kamu memukul anak tetangga sendiri?”
Yusri menggigit bibir. Dia ingin menjelaskan, ingin mengatakan bahwa Geni yang memulai, bahwa dia hanya membela diri, bahwa dia sudah minta maaf berkali-kali. Tapi semua kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.
“Saya minta maaf, Pak,” kata Bu Lilis dengan nada masih kesal. “Tapi tolong anak Bapak jangan sampai mengulangi lagi. Saya tidak mau Geni diganggu. Dia anak baik, tidak pernah cari masalah.”
“Iya, Bu. Saya minta maaf,” Rayendra menunduk. “Saya akan urus anak ini.”
Bu Lilis mengangguk pendek, lalu berbalik pulang. Sepatu sendalnya berbunyi cop-cop-cop di aspal, sampai akhirnya menghilang di balik gang.
Rayendra menutup pintu. Dia berdiri di hadapan Yusri dengan tangan bersilang. Ibu Riana mendekat, mencoba menengahi.
“Yus, minta maaf sama Ayah,” kata Ibu Riana pelan. “Bilang kamu gak akan ulangi lagi.”
Tapi Yusri tidak bergerak. Dia hanya berdiri di tempat, kepalanya menunduk, tapi tubuhnya tegang.“Yus, dengar Ibu,” desak Ibu Riana lagi.
“Dia yang salah,” kata Yusri akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. “Yusri tabrak dia gak sengaja. Yusri udah minta maaf. Tapi dia marah-marah, nyuruh Yusri balas. Yusri dorong pelan-pelan aja, tapi dia tonjok punggung Yusri keras. Yusri baru balas setelah dia ngajak berantem. Yusri gak sengaja bikin bahunya sakit.”
Rayendra menghela napas kasar. “Alasan. Kamu selalu punya alasan.”
“Bukan alasan, itu fakta!”
“Fakta?” Rayendra meninggikan suara lagi. “Fakta yang saya lihat adalah tetangga kita datang ke rumah dengan marah-marah, bilang anaknya babak belur. Fakta yang saya dengar adalah kamu sudah tiga kali berkelahi dalam waktu sebulan. Itu fakta!”
“Yusri cuma membela diri!”
“Membela diri sampai anak orang menangis seharian?!”
Yusri membungkam. Matanya mulai panas, tapi dia tahan. Dia tidak mau menangis di depan ayahnya.
Rayendra mengusap wajahnya dengan kasar. Kelelahan hari ini, kelelahan bertahun-tahun, semuanya meluap. “Kamu ini... dari dulu memang selalu bermasalah. Kakak-kakak kamu tidak ada yang seperti ini. Elli kerja keras, Basrizal merantau, Lazuardi sukses di luar negeri, Farrel juga... setidaknya Farrel tidak pernah bikin malu keluarga. Tapi kamu? Kamu selalu”
“berhenti!”
Semua orang terpaku.
Suara itu bukan dari Yusri.
Farrel berdiri di pintu, helm masih di tangan, wajahnya merah. Dia sudah berdiri di sana sejak beberapa menit yang lalu, mendengar semuanya.
“Berhenti, Yah,” kata Farrel lagi, suaranya lebih pelan tapi berat. Dia meletakkan helm di meja, lalu berjalan mendekat. “Farrel dengar dari awal. Yusri cuma membela diri. Farrel kenal Geni emang dia pemarah. Farrel juga dengar dari tetangga kalau Geni sering cari masalah. Jadi jangan langsung nyalahin Yusri.”
Rayendra menatap Farrel. “Kamu ikut campur.”
“Farrel cuma bilang yang benar.” Farrel berdiri di samping Yusri. “Yusri bukan anak nakal, Yah. Dia cuma... berubah. Tapi bukan berarti dia jahat.”
Yusri menatap Farrel. Kakaknya itu tidak menatap balik, tapi Yusri bisa merasakan sesuatu yang jarang muncul dari Farrel pembelaan. Tulus.
Rayendra terdiam. Dia menatap kedua anaknya bergantian. Lalu matanya kembali ke Yusri.
“Jadi kamu benar-benar tidak salah?”
Yusri mengangkat kepala. Matanya menatap ayahnya langsung. “Yusri tabrak dia gak sengaja. Yusri minta maaf. Dia yang minta berantem. Yusri cuma membela diri.”
Rayendra menghela napas. Kelelahan kembali menguasai wajahnya. Dia berjalan ke kursi, duduk dengan tubuh yang terlihat semakin tua.“Baiklah. Ayah percaya.”
Yusri terkejut. Dia tidak menyangka ayahnya akan berkata seperti itu.
Tapi kalimat berikutnya membuat darahnya berdesir.
“Tapi lain kali, jangan cari masalah. Ayah capek urus beginian. Ayah sudah capek dengan jualan jam yang sepi, rumah tangga yang begini-begini saja, sekarang tambah urusan anak berkelahi. Ayah...”
Rayendra tidak melanjutkan. Dia hanya menunduk, memegangi kepalanya.
Yusri berdiri di tempat. Semua kata yang tadinya ingin dia lontarkan, semua kemarahan yang tadinya menggelegak, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dingin. Lebih dalam. Lebih sakit.
“Yusri pergi,” katanya tiba-tiba.
“Yus, ke mana?” Ibu Riana bertanya cemas.
Yusri tidak menjawab. Dia berjalan ke pintu, membukanya, lalu membantingnya dengan keras. Bunyi bantingan itu menggema di seluruh rumah, membuat Ibu Riana tersentak dan Farrel mengepalkan tangan.
Rayendra hanya diam. Matanya tertutup.
Yusri berjalan cepat, tidak tahu ke mana. Kakinya membawanya melewati gang, melewati persawahan, melewati pohon-pohon pisang yang rimbun. Hingga akhirnya dia sampai di tempat yang biasa dia kunjungi saat butuh sendiri.
Tebing tanah merah.
Dia duduk di atas batu besar yang menjorok, memandang ke bawah. Sawah terhampar luas, padi mulai menguning menunggu panen. Langit sore berwarna jingga, perlahan berubah menjadi ungu di ufuk barat. Angin bertiup pelan, membawa bau tanah basah dan jerami.
Tempat ini indah, Damai. Tapi Yusri tidak merasakan kedamaian.
Dia memeluk lututnya, menundukkan kepala.
Anak kesayangan ayah kan Farrel, pikirnya, mengulang kata-kata yang dia ucapkan tadi sebelum pergi. Ayah selalu membela Farrel. Ayah bangga sama Elli, Basrizal, Lazuardi. Tapi Yusri? Yusri cuma anak yang selalu salah.
Dia menggigit bibir. Matanya panas.
Yusri tabrak orang gak sengaja, udah minta maaf, tapi tetap disalahkan. Geni yang marah-marah, Geni yang minta berantem, tapi ayah diam saja. Ayah lebih percaya omongan orang luar daripada anak sendiri.
Dia menghela napas, lalu menghela lagi, berusaha menahan sesuatu yang terus mendesak keluar.
Sama anak sendiri saja tidak percaya. Ayah seperti apa? Seperti itu.
Air matanya jatuh.
Yusri tidak menyadarinya sampai tetesan itu membasahi punggung tangannya. Dia menatapnya sebentar, lalu membuang muka ke arah sawah. Biarkan. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang perlu tahu.
Di kejauhan, lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Yusri melihat ke arah rumahnya kecil, redup, berbeda dari rumah-rumah lain yang lebih terang.
Haruskah Yusri pulang?Belum. Dia belum siap.
Di rumah, suasana tegang.
Ibu Riana mondar-mandir di ruang tamu, sesekali melihat ke arah pintu. Farrel duduk di kursi dengan tangan bersilang, wajahnya masam. Rayendra sudah masuk ke kamar sejak tadi, tidak keluar lagi.
“Yusri belum pulang, Rel,” kata Ibu Riana cemas. “Sudah maghrib.”
“Biarkan,” jawab Farrel datar. “Dia pasti di tebing belakang. Tempat langganannya kalau ngambek.”
“Tapi dia belum makan.”
Farrel diam. Dia berdiri, mengambil jaket dari gantungan. “Farrel cari.”
Ibu Riana menghela napas lega. “Cepat, ya, Rel. Suruh dia pulang. Bilang Ibu kawatir.”
Farrel mengangguk, lalu keluar rumah. Dia tidak naik motor, hanya berjalan kaki melewati gang dan persawahan. Lampu senter di ponselnya menyala redup, menerangi jalan setapak yang sudah mulai gelap.
Dia tahu persis di mana Yusri. Tempat itu dulu sering mereka kunjungi bersama sebelum Yusri berubah, sebelum Farrel sibuk dengan SMK-nya, sebelum mereka berdua lebih sering bertengkar daripada berbicara.
Farrel menemukan Yusri duduk di atas batu besar, memeluk lutut, menghadap ke arah sawah yang mulai gelap.
“Yus,” panggil Farrel pelan.
Yusri tidak menoleh.
Farrel memanjat batu itu, duduk di samping adiknya. Mereka berdua diam beberapa saat. Angin malam bertiup lebih dingin.
“Pulang,” kata Farrel akhirnya.
“Belum,” jawab Yusri pendek.
“Ibu kawatir.”
Yusri hanya diam.
Farrel menghela napas. “Maafin ayah. Ayah cuma capek.”
“Yusri juga capek,” kata Yusri, suaranya parau. “Yusri capek selalu disalahkan. Yusri capek jadi anak yang gak pernah dipercaya.”
Farrel tidak menjawab. Dia hanya duduk di samping Yusri, sesekali melihat ke arah rumah yang lampunya masih menyala redup.
“Tapi ayah tadi bilang percaya,” kata Farrel.
“Setelah lu yang bela. Sebelumnya dia langsung marah.”
Farrel diam lagi. Dia tidak bisa membantah.
“Yusri gak butuh ayah yang selalu membela,” lanjut Yusri. “Yusri cuma butuh ayah yang... denger dulu sebelum marah. Tapi kayaknya itu terlalu berat.”
Farrel menepuk pundak Yusri. “Pulang, Ri. Nanti Ibu tambah kawatir.”
Yusri menggeleng. “Yusri mau di sini dulu.”
“Makan?”“Gak lapar.”
Farrel tahu Yusri berbohong. Tapi dia tidak memaksa. “Ya udah. Farrel pulang dulu. Bilang Ibu kamu lagi di sini.”
Yusri mengangguk pelan.
Farrel turun dari batu, berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. “Ri,” panggilnya tanpa menoleh.
“Apa?”
“Ayah itu... bukan gak percaya sama kamu. Ayah cuma... gak tahu cara ngomongnya. Maafin ayah.”
Farrel melanjutkan langkahnya, meninggalkan Yusri sendirian di atas batu.
Yusri memeluk lututnya lebih erat. Matanya masih panas, tapi air mata tidak jatuh lagi. Dia menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang.
Besok pulang, pikirnya. Besok.
Yusri tidak pulang malam itu.
Dia tidur di rumah tua di ujung tebing bekas gudang petani yang sudah tidak terpakai. Atapnya bocor di beberapa tempat, tapi masih cukup untuk melindungi dari embun. Dia merebahkan diri di atas tumpukan karung goni, memejamkan mata, dan mencoba tidur.
Perutnya keroncongan. Punggungnya masih terasa sakit bekas tinju Geni. Tapi yang paling sakit bukan di punggung.
Di kejauhan, lampu rumahnya masih menyala. Mungkin Ibu masih menunggu. Mungkin Farrel masih terjaga. Mungkin ayahnya...
Yusri menutup matanya rapat-rapat. Besok pulang, ulangnya dalam hati. Besok.
Pagi datang dengan sinar matahari yang menyelinap melalui celah-celah dinding kayu. Yusri membuka mata, tubuhnya terasa kaku karena tidur di lantai. Dia bangkit, membersihkan debu dari seragamnya, lalu berjalan keluar.
Sawah di bawah tebing berwarna keemasan, disinari matahari pagi. Burung-burung beterbangan di atas pematang. Udara segar membawa aroma pagi yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Yusri berdiri di tepi tebing, menarik napas panjang. Lalu dia berjalan pulang.