***
Mobil hitam milik Fatur memasuki basemen sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di kawasan Utara, perjalanan cukup jauh dari kantor mereka yang berada di Selatan. Tapi sepanjang perjalanan sampai mereka turun dari mobil, keduanya sama-sama tak banyak bicara. Fatur tidak menjelaskan tujuan mereka dan Kanaya tidak bertanya, ia hanya terus berjalan mengikuti pria itu.
Langkah panjang Fatur berbanding terbalik dengan Kanaya, wanita itu sibuk melihat kiri kanan. Merasa Kanaya terlalu lama, membuat Fatur meraih tangannya. Tapi tak sampai lima detik, Kanaya langsung menarik lepas tangannya.
"Gak perlu gandengan." tolak Kanaya, mereka jadi berhenti di tengah jalan.
"Kamu lama, Ay." sahut Fatur dengan sikap tak acuh.
"Ya gak perlu pakai pegangan juga... memangnya mau ke mana?" tanya wanita itu.
"Bioskop." jawab Fatur.
Alis Kanaya menyatu mendengar jawaban Fatur, tapi ia tak terlalu memikirkannya. Kanaya langsung melangkah mendahului pria itu, tapi selanjutnya ia malah kebingungan. Ia tidak pernah berkunjung ke mal ini sebelumnya, dirinya bahkan tidak tahu di mana letak eskalatornya. Kalau saja mereka sedang berada di dalam mal di kota kelahirannya, Kanaya bahkan akan tahu di mana letak sarang semutnya.
“Jadi?” sindir Fatur yang sudah menyadari ketidaktahuan Kanaya. Wanita itu merengut, kesal sendiri karena sikap pamernya malah memalukan.
“Ayo jalan!” Fatur mendorong bahu Kanaya, tatapan protes langsung di layangkan gadis itu.
“Saya gak gandeng tangan kamu, Ay. Udah deh, protesnya nanti aja kalau kamu udah bisa jalan sendiri.” sambung pria itu.
Sudah tidak bisa mendebat lagi, ia akhirnya bersedia jalan dengan dorongan Fatur, hal yang sebenarnya memalukan. Lebih wajar kalau mereka bergandengan tangan karena tak akan ada orang yang memperhatikan, kalau seperti ini malah jadi pusat perhatian.
Di eskalator Kanaya menurunkan tangan Fatur, memilih menggenggam pergelangan tangan pria itu karena jadi pusat perhatian tidak selalu menyenangkan. Ia abaikan Fatur yang menatap bingung padanya, lagi pula setelah itu Fatur tidak protes.
Fatur meminta Kanaya menunggu di kursi sementara ia membeli tiket, Fatur memilih film aksi barat yang baru rilis beberapa hari lalu. Kanaya sendiri akan lebih suka nonton film drama Indonesia yang di angkat dari novel laris yang sama-sama sedang tayang, tapi dia masih bisa menontonnya sendiri lain kali.
“Sejak kapan kamu nonton film ke bioskop?” tanya Kanaya setelah Fatur selesai membeli tiket dan kembali menghampirinya.
Kanaya ingat, dulu saat mereka masih berpacaran Fatur jelas-jelas bilang tak suka dengan bioskop karena itu tak pernah sekalipun mereka nonton. Fatur bilang ia akan mengantuk kalau ada di dalam teater bioskop dan ujung-ujungnya malah tidur sepanjang film di putar bukannya nonton dan itu adalah pemborosan.
“Saya nonton sama teman-teman biasanya, nonton bareng. Beli popcorn yuk!” Kanaya beranjak dari kursi, berjalan beriringan dengan Fatur.
“Kalau sama pacar?” Fatur diam tak menjawab, lalu menatap Kanaya.
“Kamu suka popcorn yang karamel, kan? Minumnya lemon tea?” Fatur mengalihkan pembicaraan, kebetulan keduanya memang sudah sampai di konter makanan.
“Ya. Sama nacho satu.” Kanaya memutuskan tidak menyelidik lebih dalam, tak ada gunanya juga.
“Silahkan, Mas.” Mbak penjaga konter mempersilahkan untuk memesan.
“Iced lemon tea satu, iced mochaccino satu, popcorn caramel medium satu, nacho satu.” Tutur Fatur.
Sambil mendengarkan mbak-mbak tadi mengulang pesanan Kanaya mengeluarkan dompetnya, ia lalu memberikan dua lembar uang seratus ribu pada Fatur.
“Gak usah, kamu belum gajian.” tolak Fatur yang lalu mengeluarkan dompetnya.
Kanaya bukannya bermaksud mengintip isi dompet pria itu, tapi memang terlihat jelas kalau foto yang dia temukan tergeletak di mobil hari itu sekarang terselip di dompet Fatur.
“Kenapa lagi?” tanya Fatur saat menyadari Kanaya memasang ekspresi penasarannya.
Tanya nggak, tanya nggak, tanya nggak, tanya nggak?
Kanaya sibuk menimbang-nimbang. Fatur menyodorkan gelas teh lemon milik Kanaya beserta nacho-nya, Kanaya langsung menerimanya dari tangan Fatur.
“Kenapa?” tanya Fatur lagi.
“Foto itu-” Kanaya akhirnya bertanya, tapi perkataannya terpotong oleh pengumuman dari pengeras suara.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam teater bioskop yang ternyata lumayan penuh, keduanya duduk di deretan keempat dari bawah. Setelah duduk dengan nyaman Kanaya di buat tak nyaman saat Fatur mendekatkan wajahnya pada telinga Kanaya.
“Kamu mau simpan fotonya?” bisik Fatur, Kanaya langsung menoleh membuat wajah Fatur kembali menjauh.
“No, thank’s.” sahut Kanaya menatap horor pada Fatur, pria itu malah tersenyum.
Sepanjang seperempat film mata Kanaya fokus pada layar, tangannya sibuk mencomot-comot makanan. Sedangkan Fatur sudah miring kiri kanan karena mengantuk, mulutnya tak lepas dari sedotan iced mochaccino-nya.
“Ngantuk?” tanya Kanaya yang menyadari tingkah Fatur, pria itu mengangguk dengan mata yang mengantuk.
“Ya udah tidur aja, kalau udah selesai aku bangunin. Nanti aku cerita juga alur ceritanya.” tawar Kanaya, Fatur kembali mengangguk sambil menguap.
Hanya itu respon Fatur, tak sampai lima menit Kanaya kembali melihat ke arah Fatur dan pria itu sudah memejamkan matanya. Terlelap tidur dengan wajah tenang.
Gak bisa nonton tapi ngajak nonton.
Kanaya tersenyum melihat Fatur yang tertidur. Ia lalu mengambil gelas mochaccino dari tangan Fatur dan menyimpannya di lengan kursi, sebelum nanti terlepas dari genggaman Fatur dan merepotkan petugas kebersihan. Kanaya lalu kembali fokus pada layar lebar di hadapannya, teater itu cukup ramai di deret kursi yang ia tempati saja hanya ada satu kursi kosong di sampingnya padahal ini hari kerja. Dan sepertinya cuma Fatur saja yang tertidur karena yang lain begitu antusias menonton film aksi yang masuk jajaran laris box office itu.
Di tengah konsentrasinya pada film bahu Kanaya tiba-tiba terasa berat, tanpa melirik pun ia sudah tahu apa yang terjadi. Wangi cologne yang Fatur gunakan langsung tercium jelas masuk ke hidung Kanaya, membuatnya gugup seketika. Kanaya tak bisa lagi fokus pada film, selama sisa film Kanaya terus-menerus melirik jam di ponselnya berharap film segera menunjukkan akhirnya.
Begitu film selesai Kanaya menepuk-nepuk bahu Fatur yang tidak menempel dengan badannya, lampu dalam teater sudah kembali di nyalakan. Untungnya mereka duduk di tengah jadi tidak menghalangi jalan orang yang mau keluar karena di kedua sisinya ada jalan keluar, tapi tetap saja menjadi perhatian karena Fatur yang tidur ini.
“Filmnya udah selesai.” Kanaya masih menepuk-nepuk bahu Fatur dan bicara lembut.
“Kak?” panggil Kanaya lagi, masih belum ada respon.
“Kak Fatur!” Kanaya mencubit punggung tangan Fatur, yang sukses membuat Fatur bangun sambil mengeluh kesakitan. Kanaya tersenyum lega, langsung mendorong kepala Fatur agar menjauh dari bahunya.
“Kasar banget sih, Ay.” protes Fatur sambil mengelus-elus tangan yang tadi dicubit Kanaya.
“Dilembutin gak bangun-bangun. Udah yuk ah, keluar!” Kanaya langsung berdiri dan berjalan keluar.
“Ke toilet dulu ya, cuci muka. Muka bantal banget gak?” Fatur menyusul Kanaya sambil mengusap wajahnya.
Kanaya hanya mengangguk, berjalan menuju toilet mal karena toilet bioskop pasti akan sangat mengantre.
Selesai dengan urusan toilet mereka meluncur menuju tempat makan yang Fatur bicarakan, jaraknya tidak terlalu jauh jadi mereka memilih berjalan kaki. Lagi-lagi Kanaya dibuat bingung, tempat di hadapannya ini adalah restoran sushi. Seingat Kanaya pria ini tidak bisa makan sushi, jangan sampai ada adegan muntah-muntah di dalam dan malah merepotkan diri sendiri.
“Gak salah restoran nih?” Kanaya sekedar memastikan, karena Fatur juga masih berdiri di lahan di lahan parkir restoran sambil mengutak-atik ponselnya.
“Nggak, yuk!” Fatur memimpin jalan, masuk ke dalam restoran.
“Ini restoran sushi, kamu gak bisa makan itu.” Kanaya ragu seratus persen, karena waktu mereka pacaran saja Fatur selalu menolak sekedar membicarakan makanan ini dan sekarang ia malah mau makan itu, benar-benar aneh.
“Tau, kamu dulu sering bilang kalau ini tempat makan favorit kamu. Jadi pas tau dia buka cabang di sini saya langsung kepikiran ajak kamu, kalau di website-nya ada menu lain selain sushi. Atau saya salah?” Wajah antusias Fatur berubah khawatir, dia baru kepikiran kemungkinan tidak ada makanan yang bisa dia makan. Sikapnya membuat Kanaya meringis.
“Ya udahlah, gak perlu kamu pikirin.” Fatur melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, Kanaya masih tak yakin tapi ia tetap masuk mengikuti Fatur.
Setelah duduk manis dan selesai memesan makanan, pikiran aneh berseliweran di otak Kanaya. Hal aneh pertama Fatur yang dulu tak pernah bersedia nonton di bioskop hari ini malah mengajaknya nonton walaupun berakhir ketiduran, hal aneh kedua Fatur yang dulu dengar kata sushi saja sudah alergi-tidak dalam artian sebenarnya-sekarang sedang duduk dengannya di restoran sushi favorit Kanaya. Hal aneh ketiga Fatur tidak membahas pacarnya sama sekali padahal seharusnya dalam pertemanan yang normal mereka akan membahas soal pacar, terakhir sekarang Kanaya mulai merasa percaya diri berlebihan soal Fatur.
Pesanan mereka datang setelah menunggu sekitar lima belas menit, selama itu Fatur sibuk dengan ponselnya dan Kanaya sibuk dengan pikirannya. Semangkuk ramen, sushi, tempura, ocha hangat dan jus jeruk tersaji di atas meja. Kanaya heran untuk apa Fatur mendatangi restoran sushi saat tak memesan sushi, bahkan minumnya pun es jeruk.
“Yang?” Suara perempuan yang sangat terdengar kaget menghampiri meja keduanya, Kanaya yang sedang meminum ocha langsung meletakkan gelasnya.
“Erna?” Fatur tak kalah kaget, ramen yang tadinya sudah bersiap masuk ke mulut gagal lepas landas dan kembali masuk mangkuk.
“Kamu kok bisa di sini?” tanya Erna sambil melirik ke arah Kanaya sekilas, Fatur diam hanya memandangi wajah kekasihnya itu kebingungan.
“Mbak pacarnya Kak Fatur, ya?” Kanaya langsung saja menyambar, ia tak tahan dengan cara Erna meliriknya tadi.
“Aku teman Kak Fatur, Mbak. Aku Kanaya.” lanjut Kanaya sambil tersenyum lebar karena Erna hanya memandanginya saja.
“Na?” tegur Fatur.
“Oh. Hai, Erna.” Erna hanya menjabat tangan Kanaya sekilas.
***