***
Suara percakapan orang-orang di sela acara makan malam mereka dan lagu yang di putar di pengeras suara sayup-sayup terdengar oleh Kanaya, ia melenggang sendirian memasuki sebuah bangunan restoran yang sebagian besar mejanya sudah terisi. Kanaya memilih meja kosong pertama yang dia temukan untuk ditempati, wanita itu tersenyum ramah pada pelayan yang memberikan menu padanya.
Menu makanan ia letakkan di meja, kedua tangannya memegang ponsel sedang pandangannya menyisir seisi ruangan. Bani dan Cinta, ia menunggu kemunculan dua sosok itu, mereka adalah dua orang yang ia kenal saat pertama kali menjadi perantau di Ibu kota.
"Bani!" panggil Kanaya penuh antusias saat melihat orang yang ia tunggu, ia tersenyum lebar dan melambai-lambai. Tapi yang ia panggil malah berwajah masam, pria itu menggeleng melihat kehebohan Kanaya.
"Biasa aja kali. Heboh banget, norak!" cibir Bani saat sudah berada di dekat Kanaya.
"Aku kangen kali! I miss you...." ucap Kanaya seraya memeluk singkat pria berkulit putih dengan rambut sedikit ikal itu.
"Lo main peluk-peluk aja. Bini gue nonton, Kanaya." protes Bani, Kanaya langsung memasang wajah mengejek untuk pria itu.
"Kak Cinta, maaf aku peluk-peluk suaminya." Kanaya sedikit membungkuk menghadap ke arah wanita yang sedang pura-pura memasang wajah kesal itu.
"Sorry not sorry." sahut Cinta, tapi kemudian ia tersenyum dan memeluk Kanaya.
"Kangen...." Kanaya memeluk erat wanita yang dulu menjadi teman satu kosnya itu. Cinta sendiri menganggap Kanaya sudah seperti seorang adik.
"Duduk aja sih! Gak usah peluk-peluk kayak Teletubies gitu." sindir Bani, ia menggeser kursi di dekatnya untuk diduduki.
"Kami tuh ya, Ban. Sirik aja!" timpal Kanaya, wanita itu memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan Cinta.
"Kak Bani, Kanaya... susah banget ini anak dibilangin. Gue hanya satu tahun lebih muda dari Fatur." Bani menggeleng sambil menumpangkan kedua tangannya di atas perut, sejak tadi wajahnya masih saja mendung.
"Biar vibes temennya lebih berasa, gitu loh." sahut Kanaya, membuat Bani menjitaknya.
"Rapi banget kamu, Nay. Setau aku di kantornya Bang Fatur gak perlu serapi ini." komentar Cinta, sengaja untuk meredakan keributan dua orang yang sedang bersamanya.
"Iya, rapi amat. Mau usaha balikan?" sambar Bani.
"Nggak, ih! Balikan apaan? Orang aku habis ketemu klien kok." jawab Kanaya dengan alis bertekuk, Bani terbahak melihat responnya.
"Tapi gue yakin, Fatur pasti terpesona. Gak mungkin dia gak lihat lo di dalam ruangan." ujar Bani, Kanaya langsung mengalihkan pandangannya pada menu.
"Oh iya, kan kalian satu tim ya... Bang Fatur apa kabar, Nay?" tanya Cinta jahil.
"Kalian kan sering ketemu, kenapa nanya sama aku?" protes Kanaya tanpa mengalihkan pandangannya dari menu.
"Tapi kan kamu ketemu Fatur tiap hari." sahut Fatur.
"Baru juga berapa hari aku kerja di sana. Udah ah, mendingan bahas April. April mana? Kenapa gak dibawa?" Kanaya menanyakan anak dari pasangan itu.
"April sama Eyangnya. Dia gak mau ikut tadi, lagi asyik main." jawab Cinta.
"Udahlah, kita balik bahas kamu sama Fatur aja. Ada kemungkinan balikan gak?" cetus Bani.
"Kak Bani! Gak perlu bahas dia lah." rengek Kanaya.
"Eh, atau aku ajak Fatur untuk datang ke sini aja kali ya? Biar sekalian mengenang masa lalu, kita double date." usul Bani antusias sambil menatap istrinya, Cinta ikut mengangguk bersemangat.
"Nggak! Tolong gak usah ngaco, dia itu punya pacar. Aku gak mau sama punya orang." Kanaya jengkel karena mereka terus membahas Fatur. Padahal dulu saat tahu pria itu memutuskannya, Bani adalah orang pertama yang meminta Kanaya melupakan mantan pacarnya itu.
“Oh ... jadi kalau bukan punya orang kamu masih mau, Nay?" goda Cinta.
“Apaan sih, Kak? Gak gitu dong....” Walaupun mengatakan tidak, tapi wajah Kanaya memerah. Dia akhirnya merasa malu karena terus di goda oleh dua orang di hadapannya itu.
Bani dan Cinta malah tertawa kompak melihat wajah Kanaya yang sudah bertekuk-tekuk itu. Akhirnya mereka berhenti membicarakan Fatur, lebih memilih saling bertukar cerita kehidupan masing-masing sampai hari cukup malam. Ia tiba di tempat kosnya jam sepuluh kurang lima menit, tepat lima menit sebelum ronda malam penjaga kos dimulai.
Wanita itu tinggal di bangunan kos khusus perempuan, ada banyak peraturan yang kebanyakan orang akan bilang hal ini cukup merepotkan. Pertama, semua tamu pria harus keluar pada pukul sepuluh malam dan mereka hanya di perbolehkan masuk sampai di ruang tamu bersama. Kedua, gerbang akan dikunci pada pukul sebelas malam. Jika penghuni memiliki keperluan yang mengharuskannya pulang lewat dari jam tersebut, maka ia perlu konfirmasi sebelumnya pada pemilik untuk mendapatkan kunci gerbang cadangan. Ketiga hanya sesama perempuan yang di perbolehkan menginap, dengan syarat maksimal lama menginap adalah tiga hari. Wajib lapor dan mengisi lembar formulir yang memiliki cukup banyak pertanyaan di dalamnya.
Orang yang membuatnya terdampar di tempat dengan peraturan ketat ini adalah Yuda, kakaknya itu yang mencarikan tempat tinggal untuk Kanaya. Yuda bahkan rela mensubsidi biaya kos adiknya untuk ini, karena harga sewa kamarnya melebihi anggaran bulanan Kanaya.
Selesai membersihkan diri dan siap untuk tidur, ponselnya malah berbunyi nyaring. Membuatnya gagal melakukan perjalanan ke bulan, ia terpaksa kembali membuka mata dan meraih ponselnya. Sebuah nomor yang tidak tersimpan di kontak ponselnya tertera di layar, butuh beberapa saat sebelum ia memutuskan untuk mengangkat telepon itu. Karena walaupun nomornya tidak tersimpan, tapi ia cukup mengenal siapa pemiliknya.
"Halo?" sapa Kanaya, ragu.
“Ay? Kamu belum tidur?” Suara berat yang bisa langsung bisa ia kenali.
“Baru aja mau tidur. Ada apa, Kak Fatur?"
“Oh, hm... besok ke kantor?” tanya Fatur. Membuat kedua alis Kanaya menyatu, tidak percaya dengan pertanyaan aneh pria itu.
“Iya. Besok bukan hari libur.” jawab Kanaya, ia heran Fatur meneleponnya hanya untuk menanyakan hal itu.
“Oh, ya sudah kalau gitu. Sampai ketemu besok, selamat tidur Ay.” ucap Fatur.
“Sama-sama.” Lalu Kanaya menutup teleponnya.
Kanaya masih tampak kebingungan sambil menatap layar ponselnya, bahkan dulu saja saat mereka berpacaran Fatur tak pernah bertanya hal aneh seperti ini. Kanaya benar-benar tak bisa mengerti jalan pikiran Fatur saat ini, kepala Kanaya tiba-tiba jadi gatal karena terlalu banyak memikirkan Fatur.
Paginya Kanaya panik karena merasa telat bangun, ia tak ingin sampai telat masuk kantor padahal belum genap seminggu bekerja. Karena tak ingin menanggalkan riasannya lagi, jadi dengan senang hati ia merelakan tak mandi pagi ini. Dari gerbang depan Kanaya langsung berlari sekuat tenaga ke dalam gedung kantor agar tak ketinggalan lift dan entah anugerah atau bencana tapi di dalam lift dia hanya berdua saja dengan Fatur. Hal itu membuat suasana menjadi canggung, mungkin karena telepon semalam.
“Pagi.” Kanaya menengok sedikit untuk menyapa Fatur.
“Hm, kamu kenapa lari-lari kaya tadi?” tanya Fatur heran.
“Ah, oh itu. Biar gak ketinggalan lift.” jawab Kanaya apa adanya.
Saat masuk ke ruangan Kanaya merasa heran sendiri karena ruangannya masih sepi. Benar-benar sepi, dia dan Fatur adalah orang pertama yang memasuki ruangan itu. Saking bingungnya Kanaya bergumam cukup keras menanyakan keberadaan orang-orang lainnya, karena ia pikir sekarang sudah siang. Fatur menjawab dengan santai kalau sekarang baru jam tujuh pagi, jadi wajar saja jika ruangan masih kosong. Kanaya langsung menatap Fatur dengan wajah konyolnya, membuat Fatur bertanya sebenarnya apa yang terjadi pada Kanaya.
“Bukannya aku telat ya?” Kanaya masih menatap Fatur dengan wajah bingung.
“Telat apaan? Absen dulu sana, tadi saya lihat kamu belum absen.” Fatur menahan tawa karena wajah Kanaya saat ini terlihat sangat konyol.
Kanaya mengerucutkan bibirnya, ia menaruh tasnya di atas meja lalu berjalan kembali keluar ruangan untuk absen. Benar saja kata Fatur, saat dia menaruh jarinya di mesin absensi jam baru menunjukkan pukul tujuh lewat dua menit. Kanaya benar-benar tak habis pikir dengan kebodohannya pagi ini, dia bahkan sampai tak mandi karena mengira sudah telat bangun.
Saat berbalik untuk kembali ke ruangan ia melihat Fatur berjalan mendekatinya, pria itu mengajak untuk sarapan bersama. Kanaya langsung mengiyakan ajakan Fatur karena memang ia terbiasa harus sarapan pagi, kalau tidak sarapan bisa hilang fokus seharian.
Mereka berhenti di tukang bubur yang mangkal di dekat kantor, cukup ramai dengan para pegawai yang bekerja di sekitar situ. Dua mangkok bubur di antarkan oleh bapak penjual pada Kanaya dan Fatur, kalau Kanaya mengaduk bubur beserta kerupuknya, Fatur makan tanpa mencampur adukkan isi mangkuk itu. Kanaya jadi tersenyum sendiri, kebiasaan Fatur sama sekali tak berubah.
“Pulang kantor jalan-jalan yuk! Mumpung belum banyak kerjaan.” ajak Fatur tanpa melihat Kanaya, matanya fokus pada sendok dan mangkuk di tangannya.
“Hah?” Mulut Kanaya terbuka, padahal isinya penuh.
“Gak usah kayak gitu, selera makan orang bisa hilang gara-gara lihat kamu.” sindir Fatur, padahal dia sama sekali tak melirik Kanaya.
“Apaan sih? Lihat aku juga nggak.” gerutu Kanaya.
“Itu tuh!” Fatur menunjukkan cermin yang menempel pada gerobak dengan dagunya, Kanaya melihat pantulan dirinya lalu buru-buru membenarkan sikap duduknya.
“Jadi mau gak jalan-jalan? Ada tempat makan baru yang mau saya coba, kayaknya kamu juga akan suka.” tawar Fatur lagi, kali ini menghadap Kanaya.
Kanaya diam, sibuk menimbang-nimbang. Tanpa sadar Kanaya terus menatap mata Fatur, begitu juga sebaliknya. Yang membuat Kanaya ragu adalah karena hari ini dia belum mandi, kalau sepulang kerja langsung pergi kemungkinan badannya bisa bau keringat nanti. Tapi kemudian ia mengiyakan ajakan Fatur, rasanya bukan masalah kalau ia bau di hadapan Fatur. Kanaya yang menjawab tiba-tiba saat mereka sedang saling pandang membuat Fatur sedikit tersentak, tapi ia tetap tersenyum karena Kanaya menerima ajakannya.
Acara makan bubur sudah selesai, saatnya kembali ke ruangan. Pekerjaan hari ini lancar seperti biasa, jam pulang kerja pun tepat waktu dan dengan santainya Fatur mengajak Kanaya pergi saat ruangan masih terisi penuh. Julio dengan cepat tanggap menanyakan ke mana keduanya akan pergi bersama, Fatur langsung menjawab kalau mereka ada urusan pribadi.
Kanaya langsung kabur sebelum dapat pertanyaan, dia sudah menyadari Brahma yang sedang menatap heran padanya.
Saat sudah ada di dalam mobil Fatur, Kanaya langsung memprotes sikap tak acuh Fatur tadi. Menurut Kanaya sikap Fatur bisa membuat orang lain berspekulasi kalau ada sesuatu di antara mereka berdua, mendengar protes dari Kanaya tak membuat Fatur merasa bersalah. Ia malah menatap Kanaya dengan tatapan dan senyuman lembut.
Oh God... Ini bahaya! Hati, nggak boleh! Gak boleh!
Batin Kanaya berteriak panik, ia pernah merasa begini dan ini bukanlah baik.
“Jalan sekarang ya.” ucap Fatur masih sambil tersenyum, ia tak menyadari kalau perbuatannya itu membuat Kanaya kaku.
***