***
Perkenalan canggung itu berakhir dengan Erna yang bergabung bersama mereka, Kanaya yang mengusulkan hal ini. Selanjutnya ia malah menyesali keputusannya, karena sekarang dirinya dan Fatur malah sama-sama tak bisa menikmati makanan mereka.
Kekasih Fatur itu memang ramah dan terlihat santai berbaur setelah Kanaya mengerti bagaimana perkenalannya dengan Fatur, tentu saja bercerita ia melewatkan bagian di mana dirinya dan pria itu pernah menjalin hubungan. Erna juga terlihat tidak terlalu keberatan kekasihnya pergi makan dengan wanita lain.
Justru Kanaya yang jadi merasa tidak nyaman, di hadapannya Erna dengan santai menggenggam tangan dan mengelus wajah Fatur di sela obrolan mereka. Melihat mantan pacar bermesraan dengan pacar barunya, benar-benar tak baik untuk kesehatan jantung.
“Iya, sayur asem rasa sayur sop.” Erna tergelak lagi, entah sudah berapa kali dia tertawa karena membicarakan hal itu.
Sedangkan Kanaya dan Fatur hanya tersenyum canggung. Kanaya kesal karena cerita memalukannya disebarkan oleh Fatur walaupun identitasnya dirahasiakan, sedangkan Fatur merasa tak enak hati karena sudah membuat Erna menertawakan kegagalan Kanaya berulang kali.
“Tapi bisa jadi sekarang orangnya udah jago masak, Mbak.” Kanaya membuat pembelaan, karena kenyataannya ia memang sudah lebih baik dalam hal urusan dapur.
“Haha ... iya sih, aku juga yakin sekarang pasti lebih bisa masak. Udah bertahun-tahun juga. Iya kan, Yang?” Erna menengok bergantian ke arah Kanaya yang duduk di depannya dan pada Fatur yang ada di sebelahnya, Fatur hanya bisa berdeham dan tersenyum menanggapi ucapan Erna.
Sampai acara makan malam itu selesai Kanaya bersyukur karena tidak ada adegan muntah-muntah dari Fatur, atau siram-siraman air minum. Apalagi adegan saling menjambak yang sebelumnya sempat Kanaya bayangkan, kenyataannya mereka hanya membicarakan banyak hal. Kanaya benar-benar harus mengurangi tontonan serial dramanya setelah hari ini agar otaknya berhenti berimajinasi berlebihan.
Di depan restoran Kanaya sempat mengusulkan untuk pulang sendiri, dia bisa pakai ojek atau taksi online. Tapi Erna mencegahnya, katanya karena tempat kos Kanaya dan apartemen Fatur satu arah lebih baik keduanya pulang bersama. Lagi pula Erna bawa kendaraannya sendiri, jadi ia tak perlu Fatur antar sampai rumah. Jadi akhirnya Kanaya tetap akan pulang bersama Fatur.
“Saya antar Erna ke mobilnya dulu ya, Ay.” pamit Fatur sebelum mengantar Erna ke mobilnya. Kanaya mengangguk, ia memutuskan menunggu di pintu masuk restoran.
Dan tidak ada yang menyadari raut wajah Erna sempat berubah karena sapaan Fatur pada Kanaya itu, Erna tersenyum melambai pada Kanaya sebelum pergi seolah tak ada yang terjadi. Tak lama Fatur kembali, ia dan Kanaya langsung jalan menuju pusat perbelanjaan tempat mobil Fatur terparkir tadi.
“Aslinya lebih cantik ya, daripada di foto. Manis banget lagi.” puji Kanaya setelah mobil Fatur memasuki kepadatan jalan, Fatur tak menanggapi.
“Cepet dibikin halal dong, Kak. Tipe kayak Mbak Erna pasti banyak yang antri. Awas ke salip sama yang lain.” Kanaya hanya terus bicara agar keadaan di dalam mobil tak terlalu sepi.
“Ya.” sahut Fatur lalu memutar lagu di audio, Kanaya memilih menutup mulut dan hanya melihat ke arah jalan.
Suasana setelah itu menjadi hening, Kanaya yang entah kenapa merasakan hawa aneh di antara mereka jadi tak bisa memulai pembicaraan. Fatur akhirnya kembali bicara untuk menanyakan alamat kos Kanaya, tapi wanita itu malah bilang kalau ia akan turun di apartemen Fatur dan pulang menggunakan ojek untuk ke kosannya. Fatur tentu saja tidak setuju dengan ide Kanaya, karena saat ini sudah hampir jam sebelas malam.
“Jam berapa?” Kanaya langsung mengecek jam tangannya begitu mendengar yang Fatur bilang tadi.
“Hampir jam sebelas, Ay... udah deh nurut aja. Saya antar sampai ke kosan.” ujar Fatur.
Kanaya merasa kehilangan seperempat nyawanya saat melihat jam di tangannya menunjukkan pukul sebelas kurang, tidak ada harapan baginya untuk bisa masuk ke dalam kamar kosnya.
“Kenapa lagi?” tanya Fatur menyadari wajah Kanaya mendadak berubah lesu.
“Percuma juga ke kos, aku gak bisa masuk.” Kanaya langsung menyandar pada kursi, kehilangan semangat hidup.
“Kenapa gak bisa masuk?” Fatur heran dengan reaksi Kanaya yang aneh seperti ini.
Kanaya menjelaskan kalau di tempat kosnya ada jam malam, kalau ia melewati jam malam itu berarti dirinya tidak akan bisa masuk ke sana. Fatur ikut bingung mendengar penjelasan Kanaya, tapi ia tetap menyarankan kalau sebaiknya mereka mencoba dulu karena siapa tahu hari ini penjaga gerbangnya lupa menggembok pintu.
Walaupun tak yakin, ia tetap mengikuti perkataan Fatur. Setelah memberi tahu alamat kosnya, Kanaya hanya diam dan Fatur konsentrasi pada jalan. Pria itu memacu mobilnya lebih cepat, walaupun sebenarnya ia juga sudah bisa memperkirakan tak mungkin mereka sampai sebelum jam sebelas.
Sampai di depan kos Kanaya, gerbang benar-benar sudah tertutup rapat. Suasana dalam kosan juga sudah sepi tak bersuara. Fatur menyarankan untuk menunggu sampai tengah malam, mungkin saja ada yang bawa kunci cadangan karena pulang malam. Tapi tetap saja tak ada hasil, padahal sudah hampir jam setengah satu dini hari.
“Kita ke apartemen saya aja.” Fatur akhirnya mengambil keputusan.
“Hah?” Kanaya yang sedang menahan kantuk itu langsung menegakkan posisi duduknya.
“Kamu sudah terlalu ngantuk, Ay. Lagian besok kita juga masih harus kerja, pagi-pagi saya antar kamu kesini lagi untuk ganti baju.” tutur Fatur sambil memutar balik arah mobilnya.
“Tapikan-” Kanaya hendak memprotes.
“Udah sih, gak usah bawel. Saya juga ngantuk.” potong Fatur. Kanaya menutup mulutnya, rasanya seperti dirinya yang tak tahu diri kalau terus mendebat.
Tak perlu waktu lama untuk sampai di apartemen Fatur karena keadaan jalan yang memang sudah sepi. Kanaya juga merasa aneh membututi seorang pria ke kediamannya di tengah malam seperti ini, apalagi sikap Fatur yang berubah dingin sejak tadi. Pria itu baru kembali bersuara saat sedang membuka kunci pintu apartemennya, dia mengatakan kalau Kanaya bisa memakai kamar tidurnya.
"Kalau aku di kamar, Kak Fatur di mana?" tanya Kanaya.
"Aku di sofa aja, depan TV." Fatur menunjuk ke arah ruang tengah, lalu menutup kembali pintu apartemennya.
"Gak usah, Kak. Aku aja-"
"Udah tengah malem, Ay." potong Fatur, tidak menerima penolakannya dari Kanaya.
Fatur mengeluarkan dua potong baju dan celana, satunya ia berikan untuk tamunya pakai tidur. Kanaya hanya mengangguk lalu menerima baju dari tangan pria itu, Fatur juga memberikan sikat gigi baru untuk Kanaya. Selesai bersih-bersih dan ganti baju Kanaya langsung masuk ke kamar tidur, sementara pemiliknya baru masuk kamar mandi. Tidak perlu menunggu lama, ia sudah tertidur lelap.
Niat awal Fatur masuk ke dalam kamarnya adalah untuk mengambil selimut, tapi matanya malah mampir memperhatikan Kanaya yang benar-benar sudah tertidur. Lagi-lagi hembusan nafas berat dan senyum kecut Fatur keluarkan.
***