***
Seperti yang Ima sarankan padanya semalam, pagi ini Kanaya sudah terlihat rapih dan cantik. Sebelum berangkat tadi ia sudah mengirimkan fotonya pada Ima, foto yang diambil dengan penuh perjuangan karena Ima meminta foto full body sedangkan tidak orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambilkan fotonya. Kalau kemarin Kanaya datang dengan wajah polos bak anak sekolah karena terlambat dan ia tidak sempat berdandan, hari ini Kanaya bahkan menata rambutnya yang dibuat bergelombang.Sebelumnya tidak ada memperhatikan atau sekedar menengok padanya, tapi hari ini hampir semua orang di lobi tadi menyempatkan diri untuk menatap Kanaya.
Pujian langsung menyambut Kanaya begitu ia masuk ke dalam ruangan, di sana sudah ada Satrio, Rangga, dan Fatur. Walaupun tidak ikut memuji, tapi dari wajahnya terlihat jelas kalau Fatur cukup terpesona melihat penampilan baru Kanaya. Wanita itu cukup sering memposting foto yang memperlihatkan kecantikannya di media sosial, tapi ini kali pertama Fatur melihat penampilan Kanaya yang seperti ini. Dan daripada sebuah foto, Kanaya terlihat jauh lebih cantik secara langsung.
"Kamu kemarin cantik, tapi hari pecah banget!" puji Rangga dengan senyum cerah, bapak satu anak itu tulus memuji Kanaya.
"Makasih, Mas." Kanaya tersenyum canggung, dia memang tidak terlalu nyaman dengan pujian kecuali dari orang-orang terdekatnya.
"Wah ... gue jadi iri sama lo, Tur. Udah kenal Kanaya dari lama." cetus Satrio. Mendengar itu membuat Fatur langsung mengalihkan pandangannya dari Kanaya dan menatap layar di depannya.
"Nyesel gak, dulu gak sempet lo pacarin?" canda Rangga.
Kanaya cukup kaget dengan candaan itu, dia langsung menatap ke arah Fatur. Tapi pria itu terlihat hanya mendengus, tersenyum singkat, dan menggelangkan kepalanya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, hati Kanaya merasa tercubit melihat respon Fatur.
"Kalau gue masih muda nih ya, terus ketemu Kanaya ... gue rasa bakalan gue pacarin." sambung Rangga.
"Siapa juga yang gak mau sama Kanaya, Mas." lontar Fatur, dia lalu menengok pada Satrio.
Kanaya yang masih memperhatikan Fatur menangkap ada yang aneh saat pria itu bertukar pandang dengan Satrio, perasaan Kanaya kembali tidak enak. Di mata Kanaya pria itu seperti sedang mendukung Satrio untuk mendekatinya.
Kanaya mengeluarkan suara tawa, "Apa sih ini? Kenapa jadi bahas aku?" Wanita itu benar-benar tidak merasa nyaman dengan suasananya.
"Kalau dulu kamu gimana waktu ketemu Fatur ... Ay?" tanya Satrio, Kanaya dan Fatur sama-sama menoleh tidak menyangka dengan pertanyaan dan sapaan yang dilontarkan Satrio.
"Waktu ketemu Kak Fatur ... biasa aja." ucap Kanaya, sekarang giliran Fatur yang memperhatikannya.
"Dulu Fatur sama sekali gak menarik ya, Ay?" giliran Rangga yang kembali bertanya padanya.
"Bukan gitu." Kanaya mengibaskan tangannya, "Dari dulu Kak Fatur cukup berkarisma kok, supel, dan sangat membantu anak baru." tuturnya.
"Mungkin Fatur cuman bantu kamu aja." celetuk Satrio, Fatur langsung menegurnya.
"Kak Fatur baik sama semua orang kok, kebetulan aku salah satu orang itu. Kebaikan Kak Fatur sangat membantu sih, apalagi saat itu aku dan beberapa temen lainnya baru pengalaman pertama kali kerja." ungkap Kanaya, selanjutnya dia jadi menceritakan pengalamannya sendiri karena Rangga bertanya.
Kanaya bercerita kalau saat itu dia gagal saat mengikuti ujian masuk universitas, jadi untuk mengisi waktu sampai pada tahun ajaran berikutnya Kanaya memilih bekerja. Awalnya dia melamar untuk di tempatkan pada cabang Bandung, tapi ternyata ada keadaan tidak terduga yang membuat perusahaan jadi menempatkannya di kantor pusat Jakarta dan akhirnya bertemu dengan Fatur. Saat mendekati tahun ajaran baru dan pendaftaran universitas sudah dibuka, Kanaya berniat mengundurkan diri dari perusahaan, beruntungnya Kanaya karena mendapatkan tawaran mutasi. Jadilah dia pindah kembali ke Bandung dengan tetap bekerja di perusahaan yang sama.
"Jadi di Bandung kamu kuliah sambil kerja? Bayar kuliah sendiri?" tanya Satrio.
"Iya, kerja sambil kuliah karena sayang juga kalau sampai mengundurkan diri. Biaya kuliah sih tetep dibayarin, pengasilan aku untuk keperluan pribadi aja." jelas Kanaya.
Fatur yang juga baru mendengar cerita ini, ikut mengangguk-angguk bersama Satrio dan Rangga. Disaat Kanaya selesai dengan ceritanya pintu ruangan terbuka, Brahma dan Julio masuk bersamaan.
“Wow-wow-wow! Ini Kanaya yang kemarin, kan? Eh parah kamu sih, cantiknya badai banget!” Julio memuji dengan gaya berlebihan sambil menghampiri Kanaya. Brahma melirik sinis melihat reaksi Julio, ia sendiri langsung duduk di kursinya. Walau tak berkomentar, menurut Brahma gadis yang duduk di sampingnya itu memang terlihat lebih cantik hari ini.
"Nah iya, badai!" Rangga menjentikkan jarinya, seolah mendapat pencerahan setelah mendengar ucapan Julio.
Fatur menepuk tangannya, "Waktunya kerja." katanya dan berhasil membuat ruangan tenang.
Tidak seperti kemarin, hari ini walaupun mereka masih tetap siibuk tapi tidak melewatkan lagi jam makan siang. Saat jam menunjukkan pukul dua belas siang, keenam orang di ruangan itu bersama-sama keluar untuk makan siang. Mereka memilih makan di warung nasi yang letaknya tidak begitu jauh dari gedung kantor. Suasana warung nasi di daerah perkantoran saat makan siang tentu saja dipenuhi orang, tidak banyak pilihan tempat duduk membuat Kanaya harus duduk berdampingan dengan Fatur. Rasa tidak nyaman dirasakan keduanya, tapi mereka juga merasa tidak enak kalau meminta tukar tempat duduk dengan yang lain.
Hanya lima menit setelah piring semua orang kosong, Fatur langsung mengajak mereka kembali ke kantor. Tapi sebelum itu mereka mampir ke kedai kopi yang letaknya tepat berada di samping kantor, tepat jam satu siang mereka kembali ke ruangan dengan segelas es kopi di tangan masing-masing.
“Enak juga ya ada perempuan di tim ini, rasanya kayak ketemu oasis di padang pasir.” canda Rangga setelah mereka duduk di mejanya masing-masing, perkataannya itu mengundang tawa yang lainnya.
“Oasis belum pernah konser di padang pasir, Mas." sahut Brahma acuh tak acuh.
“Perumpamaan, Bram ... ibarat, seolah-olah, seperti, laksana!” timpal Rangga, keki.
“Aku kurang tau Oasis, Mas. Aku taunya Ariana Grande, IU, Isyana, Raisa, Dua Lipa ... yang gitu-gitu pokoknya.” ujar Kanaya yang makin membuat tawa di ruangan itu ramai.
Di sela tawanya, Fatur memperhatikan Kanaya. Pria itu menyadari kalau banyak yang sudah berubah dari dari wanita yang dia kenal enam tahun lalu itu. Wanita yang sedang mengikat rambutnya itu sekarang bersikap lebih terbuka, penampilannya terlihat lebih anggun dan dewasa, semua raut wajah yang dia perlihatkan tidak mengurangi kecantikannya. Dari dulu Kanaya memang sudah cantik, jadi ia tidak merasa heran kalau wanita itu menjadi pusat perhatian rekan-rekannya sekarang.
“Oh iya, Tur! Besok kan gua gak bisa nemenin lo ke Datson, jadi lo ketemu orang dari Datson sama siapa?” Pertanyaan Satrio mengalihkan perhatian Fatur dari Kanaya.
Sebenarnya urusan menemui klien adalah tugasnya account service, tapi karena satu dan lain hal jadilah pekerjaan bertemu klien masuk ke urusannya saat ini.Pria itu berpikir sebentar, lalu pandangannya tertuju pada Kanaya.
"Kalau Kanaya gimana? Kamu mau?” Fatur mempertimbangkan kalau saat ini hanya Kanaya yang belum memiliki tanggung jawab atas proyek, jadi ia rasa mengajak Kanaya adalah hal yang tepat.
Sementara itu raut Satrio berubah bingung setelah mendengar ucapan Fatur, ia merasa bukan pilihan yang tepat kalau Fatur dan Kanaya pergi keluar kantor hanya berdua. Proyek untuk perusahaan mobil ini sebenaranya memang tanggung jawabnya, tapi ia tidak bisa menemani Fatur bertemu klien karena sedang dikejar tenggat untuk proyek lainnya.
"Boleh, Kak.” Kanaya menyanggupi, hal itu semakin membuat Satrio bingung.
“Ok, sekarang saya email materinya." Tatapan Fatur tertuju pada monitor, "Langsung kamu pelajari ya! Besok kita jalan jam sebelas.” sambung Fatur, Kanaya mengangguk mengiyakan.
"Email-nya udah terkirim, kamu cek aja. Gak lagi sibuk, kan?" tanya Fatur lagi.
"Iya, Kak." Kanaya memaksakan senyumnya, dia merasa Fatur sedikit menyebalkan.
***
Hari ini matahari bersinar cerah, secerah warna sheath blazer dress yang Kanaya pakai. Dress sebatas lutut berwarna merah itu ia padukan dengan pump heels lima senti warna greige, Kanaya sengaja berpenampilan lebih rapi dari biasanya untuk bertemu klien hari ini. Tepat jam sebelas tadi, ia dan Fatur sudah meninggalkan kantor. Pertemuannya sendiri diadakan pukul dua siang nanti, tapi karena harus berkendara sampai ke Bekasi jadi mereka berangkat lebih awal. Untuk membuat waktu lebih mereka yang sempit menjadi lebih efektif, Fatur menyarankan agar mereka makan siang di area peristirahatan yang berada di jalan tol.
Mereka mengantri di depan konter pemesanan, karena bukan akhir pekan jadi mereka tidak perlu mengantri lama. Fatur memesan burger dan kentang goreng, Kanaya memilih nasi dan ayam goreng, untuk minumannya mereka sama-sama memesan cola ukuran besar. Fatur yang membayar makan siang mereka, katanya semua pengeluaran hari ini ditanggung kantor jadi Kanaya tidak perlu merasa keberatan. Sambil membawa baki berisi makanan, pria itu berkata kalau mereka makan siang di kantor kemungkinan mereka akan terkena macet dan terlambat datang. Kanaya yang sebelumnya tidak berpikir apa-apa, jadi punya pikiran ngawur.
“Iya kok, aku tau. Kita makan siang berdua gini memang bukan lagi kencan.” timpal Kanaya, dia langsung duduk di tempat kosong di dekatnya. Kanaya tidak terlalu memikirkan Fatur yang merasa kaget saat mendengar ucapannya, dia hanya tersenyum tanpa rasa bersalah saat pria itu menatapnya sambil memberikan nasi dan ayam goreng padanya.
"Kalau kencan juga gak akan ke fastfood, Ay." ujar Fatur.
Wanita itu mengangguk, "Itu dia ... kencan ala Kak Fatur pasti mahal." celetuk Kanaya, tak acuh.
“Kamu kenapa sih harus kayak gini?” tanya Fatur sambil menarik kursi di hadapan Kanaya dan duduk di sana.
“Apanya?” Kanaya mengambil gelas cola-nya sendiri, dia tidak mengerti maksud pertanyaan Fatur yang terdengar ambigu. Dulu pria itu tidak pernah memprotes apapun dan tiba-tiba mengakhiri hubungan, sekarang dia banyak bertanya tapi tidak satu pun pertanyaannya terasa jelas.
“Kenapa pake baju kayak gitu? Sepatunya juga, biasanya ke kantor pake flatshoes.” jelas Fatur sambil membuka bungkusan burgernya.
"Memangnya kenapa? Aku gak cocok pakai warna merah? Terlalu mencolok?" Kanaya sudah mulai mengunyah kulit ayam renyah yang terbungkus tepung.
"Bukan gitu." timpal Fatur.
“Ini karena mau ketemu klien aja. Masa iya aku pakai jins belel?”
“Kamu kan bisa pakai kemeja dan celana kain biasa, gak perlu serapi ini.“ Fatur masih sibuk memprotes padahal mulutnya sedang mengunyah kentang.
“Semalem aku ketiduran, paginya gak sempet setrika baju karena kelamaan blow rambut. Ya ... daripada telat, mendingan pakai one piece dress gini. Cuman perlu setrika satu potong doang, lebih hemat waktu.” jelas Kanaya tanpa rasa canggung.
"Kak Fatur juga, rapi banget ... kayak teller bank." tambahnya lagi, membuat Fatur tidak lagi membalas perkataannya.
Sebenarnya memang tidak ada yang salah dengan penampilan Kanaya hari ini, wajar untuk berpenampilan lebih rapi saat menemui klien agar terlihat profesional dan meyakinkan. Hanya saja selain terlihat profesional Kanaya juga terlihat terlalu cantik, cukup untuk membuat Fatur beberapa kali kebingungan harus menatap ke mana. Sejak tadi pagi dia melihat Kanaya di ruangan, matanya sering tanpa sadar jadi memperhatikan wanita itu.
“Bukannya Kakak mau nikah?” tanya Kanaya tiba-tiba, Fatur yang sedang asik menikmati burgernya jadi merasa sulit menelan.
“Memangnya kamu gak mau nikah?” Fatur bertanya balik setelah sebelumnya meminum cola.
"Aku mau nikah, tapi kan aku yang lebih dulu kasih pertanyaan. Jadi kapan rencana nikahnya?" Wanita itu kembali bertanya lalu memasukan suapan nasi terakhirnya.
“Belum tau.” jawab Fatur singkat tanpa menatap lawan bicaranya. Kanaya hanya mengangguk dan berhenti bicara, walau masih punya pertanyaan lain ia lebih memilih menikmati daging ayam yang menempel di tulangnya.
“Kamu sendiri ... punya pacar?” Fatur memperhatikan raut wajah Kanaya, tapi wanita itu masih sibuk dengan tulang.
"Pertanyaannya gak fair ... aku nanya nikah, kenapa Kak Fatur nanya pacar?"
"Saya cuman nanya, kalau kamu gak mau jawab gak apa-apa." ucap Fatur.
“Gak punya. Ribet soalnya.” aku Kanaya.
“Kenapa ribet?” Fatur benar-benar menunggu jawaban Kanaya.
“Bentar ya, aku cuci tangan dulu. Gak enak.” Kanaya pergi begitu saja sebelum di persilahkan, meninggalkan Fatur yang penasaran.
***