***
Acara pertemuan dengan klien tadi berjalan lancar, mereka berdua langsung kembali menuju kantor untuk mengejar waktu agar bisa tiba sebelum jam kerja berakhir. Selama pertemuan tadi Kanaya sebagai rekan pria itu ikut merasa tergoda dengan penjelasannya, kemampuan persuasi pria yang sekarang sedang menggulung lengan kemejanya sambil tetap fokus pada jalanan di depannya itu memang luar biasa. Fatur dan kemampuannya mengatur kata-kata memang tidak perlu diragukan.
"Ada tahi lalat yang baru muncul di muka saya?" tanya Fatur sambil menengok pada wanita yang duduk di sampingnya, ia menyadari kalau sedari tadi Kanaya terus menatap ke arahnya.
"Ng-nggak!" Kanaya yang memang sedang memandangi Fatur tadi langsung mengalihkan pandangannya dengan menatap jalanan di depan, Fatur tersenyum tipis melihat reaksinya.
"Lihatnya jangan kelamaan, nanti kalau suka bisa repot. Saya punya pacar, Ay." seloroh Fatur, senyuman masih belum hilang dari wajahnya.
"GR!" cibir Kanaya, malah membuat Fatur jadi tertawa karena menurut pria itu respon yang diberikan Kanaya terlihat lucu.
“Jadi ... apa yang ribet dari pacaran?” Fatur kembali bertanya hal belum sempat dijawab oleh Kanaya, setelah Kanaya kembali dari cuci tangannya mereka langsung sibuk dengan urusan materi untuk pertemuan.
Wanita itu menghela napas, “Kita jadi punya kewajiban untuk kasih kabar, terus harus bilang juga kalau mau jalan ke mana-mana tanpa dia. Merasa khawatir kalau dianya menghilang ... menurut aku itu nambah beban emosi, belum lagi kalau ketemu sama yang protektif. Aku gak nemu enaknya punya pacar itu di mana, jadi aku lebih memilih untuk gak repot karena pacaran." tutur Kanaya, dia mengangkat jarinya setiap kali menyebutkan kerugian ia pikirkan.
"Pacar terakhir kamu kayak gitu?" tanya Fatur, tidak mengetahui kalau sejak putus darinya Kanaya belum pernah lagi memiliki pacar yang baru.
"Pacar terakhir aku, kamu." ungkap Kanaya.
“Oh?" Fatur menatap Kanaya tidak percaya, "Apa saya kayak gitu?” tanya Fatur akhirnya.
"Kamu pikir kamu yang bikin aku merasa pacaran itu bikin repot?" Wanita itu membalikan pertanyaan. Fatur tidak langsung menjawab, ia terlihat sedang berpikir.
"Bukan, kok. Repot adalah hal yang aku lihat di sekitar aku, bukan karena aku pernah merasa kayak gitu." jelas Kanaya, Fatur lalu mengangguk paham.
"Tadi kamu bilang mau nikah."
“Iya aku mau nikah, tapi pernikahan gak harus selalu dimulai sama pacaran. Soalnya gak jelas sih, harus banget mau di atur-atur sama orang yang sebenarnya bukan siapa-siapa? Ini cuman perspektif aku aja ya.” Kanaya bersandar pada pintu dan menghadapkan badannya ke arah Fatur.
“Tapi sebelum nikah, kamu perlu kenal orangnya dulu. Kamu gak berpikir untuk menikah sama orang yang gak kamu kenal hanya karena kamu gak mau repot kan, Ay?” Fatur hanya sesekali melirik Kanaya karena dia harus fokus menyetir.
“Aku cukup yakin, kalau bukan hanya pacaran yang bisa bikin kita kenal sama calon pasangan.” timpal Kanaya. Fatur hanya mengangguk-angguk, antara setuju atau tak habis pikir dengan wanita disampingnya.
"Cara kamu berpikir memang selalu sedikit berbeda sama orang-orang pada umumnya." komentar Fatur.
“Aku anggap itu pujian ... jadi Kak Fatur, kapan nikah?” tanya Kanaya lagi, padahal sebelumnya dia sudah bertanya.
“Saya tadi udah jawab, kalau saya belum tau. Kenapa? Takut patah hati kalau saya nikah?” Fatur tersenyum menggoda Kanaya.
“Kan aku udah pernah patah hati gara-gara diputusin, padahal hubungan perasaan adem ayem aja. Kalau ditinggal nikah duluan sih ... bukan masalah.” Kanaya menekankan kata adem ayem untuk menyindir Fatur.
“Ceritanya lagi nyindir?”
“Oops!" Kanaya memasang wajah pura-pura merasa bersalah, "Maaf kalau Bapak Fatur merasa tersindir dengan ucapan saya.” ucapnya lalu tertawa jahil.
Fatur menggeleng, " Buat saya, ini aneh. Sejak kapan sih kamu kayak gini, Ay?” Kali ini Fatur bisa menatap Kanaya lebih leluasa, karena mereka berhenti di lampu merah.
“Kayak gini tuh, apanya? Kak Fatur kalau nanya suka ambigu deh, gak jelas.” Kanaya membenarkan posisi duduknya, merasa tidak nyaman dengan cara Fatur memandangnya.
“Ya, kayak gini ... cara bicara kamu yang blak-blakan, penampilan kamu yang-" Fatur langsung berdeham, merasa menyebut Kanaya cantik bukanlah hal yang tepat.
"Yang?" tanya Kanaya.
"Pokoknya kamu berubah sekarang, beda dari yang dulu saya kenal. Cara ketawa kamu aja beda.” lanjut Fatur, tanpa menjelaskan ucapan sebelumnya.
“Cie ... yang masih inget aku dulu gimana. Perhatian banget sih, gemes!” Kanaya membuat gerakan mencubit udara, bibirnya melengkung membentuk senyuman.
"Ay?" Fatur sangat merasa heran, dulu tidak sekalipun ia pernah melihat Kanaya bersikap seperti ini.
"Dulu umur aku bahkan belum dua puluh tahun, kata orang aku masih bau kencur. Aku gak terlalu peduli soal penampilan, aku juga gak terlalu peduli soal apa kata orang. Intinya waktu itu aku belum tau kalau perlu menyesuaikan diri sama lingkungan, semua hal masih berjalan seperti yang aku mau dan rencanakan."
"Tapi setelah aku pulang ke Bandung, aku tau kalau aku gak menyesuaikan diri sama lingkungan ya ... aku gak akan bisa bertahan di sana. Aku berusaha menjadi orang yang lebih terbuka, yang lebih mendengarkan sekitar, jadi beginilah aku sekarang. Kanaya yang sekarang ini ya tetep Kanaya yang dulu kamu kenal, atau mungkin dulu Kak Fatur gak cukup kenal aku." sambungnya.
"Gitu ya?"
"Gak ada orang yang berubah, yang ada adalah mereka menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya. Aku percaya itu." sahut Kanaya, dia tidak peduli dengan kekecewaan di mata Fatur.
"Apa menurut kamu aku masih kayak dulu?" tanya Fatur, dia tidak menyadari kalau sudah menyingkirkan formalitas dalam ucapannya.
"Kak Fatur masih sebaik dulu ... lebih baik malah." jawab Kanaya.
"Aku pikir waktu bisa merubah seseorang." ucap Fatur.
"Memang bisa, aku gak menampik itu. Setelah lima tahun kita gak ketemu, Kakak kelihatan lebih hebat dari sebelumnya." puji Kanaya, dengan senyum tulus.
"Kamu masih tetap pintar memuji orang lain." Tatapan Fatur masih tidak terlepas dari Kanaya.
“Aku hanya ngomong berdasarkan fakta ... oh iya Kak, ngomong-ngomong seiring berjalannya waktu lampu merah di depan udah berubah ijo tuh.” Kanaya mengatakannya sambil menahan tawa, wajah Fatur entah kenapa seperti maling yang ketangkap basah dengan sindiran Kanaya itu.
“Lihatnya gak perlu terlalu konsen gitu dong, Kak ... kalau sampai suka nanti ribet loh. Soalnya aku masih jomblo.” tambah Kanaya lalu terbahak-bahak, hal yang tidak pernah dilihat Fatur sebelumnya dan makin membuat pria itu salah tingkah.
“Ketawanya tolong biasa aja, Ay ....” sindir Fatur.
“Maaf nih Kak, tapi aku memegang prinsip tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” timpal Kanaya masih sambil cekikikan, Fatur mendengus mendengarnya.
Ini adalah pertama kalinya Kanaya berhasil membuat Fatur salah tingkah, sebelumnya dirinya yang selalu dibuat salah tingkah oleh pria itu. Karena itu Kanaya tidak bisa berhenti menggoda Fatur bahkan saat mereka sudah tiba di tempat tujuan. Wanita itu menutup mulut dan mengulum senyum saat ada orang-orang di sekitar mereka, tapi saat hanya berdua ia kembali menggoda Fatur. Saat sudah tiba di lantai tempat ruangan mereka berada, Fatur langsung mengambil seribu langkah untuk menghindari Kanaya dan masuk ruangan lebih dulu.
Brahma menyadari perbedaan ekspresi dari kedua orang yang baru saja masuk ruangan itu, ia merasa heran dengan raut wajah Fatur yang berbanding terbalik dengan raut Kanaya. Fatur terlihat berwajah kusut, sedangkan Kanaya terlihat sedang menahan senyum.
"Ada apa, Nay? Kamu kelihatannya bahagia banget." tanya Brahma.
"Hah? Gak ada apa-apa kok. Tadi ada pengamen tapi nadanya fals." jawab Kanaya sekenanya, ia masih berusaha menghilangkan keinginan untuk tertawa.
"Terus Bang, kenapa muka lo kusut gitu? Pertemuan sama Datson gak mulus?" tanya Julio kemudian, dia menengok ke tempat Fatur.
"Lancar kok, Bang. Mungkin Kak Fatur lagi mikirin cicilan." sahut Kanaya yang sedang mengacak isi tasnya untuk mencari ponsel, dia tidak melihat kalau Julio tidak sedang bicara padanya.
“Sejak kapan Fatur punya cicilan?” celetuk Satrio, Kanaya jadi menengok padanya.
“Hidupnya Fatur itu bebas cicilan, lunas semua hidupnya.” timpal Rangga.
“Oh gitu ya, bahagia dong.” ucap Kanaya singkat Kanaya sambil tersenyum, lalu dia kembali fokus pada isi tasnya.
“Belum bahagia, belum nikah dia.” tambah Julio.
“Udah bahagia, tapi belum lengkap.” ralat Brahma.
“Belum ada yang kelonin tiap malam.” goda Rangga.
“Mas Rangga nih, mentang-mentang udah punya.” Satrio ikut berkomentar.
“Di syukuri saja.” ucap Fatur untuk mengakhiri komentar lainnya.
Semuanya sibuk tertawa kecuali Kanaya yang masih mengacak-acak isi tasnya, barang yang ia cari tidak kunjung dia temukan. Kanaya bahkan tidak terlalu mendengarkan obrolan para pria itu.
“Kak!” pekik Kanaya sambil menatap langsung pada Fatur. Perhatian jadi tertuju padanya, mereka kaget karena wanita itu tiba-tiba berteriak.
"Eh, itu Kak Fatur ... kayaknya ponselku ketinggalan di mobil deh." jelas Kanaya sambil menyesali perbuatannya karena tadi bersuara nyaring.
"Terus?" Fatur yang masih merasa jengkel karena tadi terus menerus di goda Kanaya, bertanya dengan tidak ramah.
"Pinjem kunci mobil boleh? Aku mau ambil ponselnya." pinta Kanaya ragu, tanpa bicara pria itu langsung menaruh kunci yang Kanaya minta di atas mejanya.
Dengan langkah kecil yang terburu-buru, Kanaya menghampiri meja kerja Fatur dan mengambil kunci mobilnya. Ia mengucapkan terima kasih dengan gestur canggung, lalu pergi meninggalkan ruangan menuju ke tempat parkir dengan perasaan dongkol karena Fatur bahkan tidak meliriknya.
Mobil hatchback berwarna hitam itu sama sekali tidak mencolok di antara deretan mobil lainnya, tapi nomor polisi yang tertempel di sana membuat Kanaya bisa langsung mengenali mobil Fatur. Pria itu memasang tanggal lahirnya sebagai nomor polisi mobilnya, melihatnya membuat Kanaya mendengus. Fatur dan segala kebanggaannya, pria itu masih belum berubah.
Ternyata benar saja, ponsel Kanaya terjatuh di bawah jok tempatnya duduk tadi. Hembusan nafas lega keluar dari mulut Kanaya, tadinya ia sempat panik mengira kalau ponselnya tertinggal di tempat pertemuan dengan klien. Tapi saat akan mengambil ponsel, selembar foto yang juga tergeletak begitu saja di bawah jok pengemudi mengalihkan perhatian Kanaya. Dia mengambil foto itu dan berniat menaruhnya di dasbor, tapi matanya tertarik pada dua orang yang ada di foto itu. Senyumannya kembali mengembang melihat pemandangan di sana, tak mau terlarut terlalu lama Kanaya langsung menaruh foto tadi di dasbor dan keluar dari mobil.
***