***
Memikirkan Fatur membuat Kanaya tanpa sadar jadi kembali mengenang masa lalu, sesekali ia tersenyum lalu tak lama kemudian berubah lesu, raut kesal juga sempat terlihat di wajahnya. Sampai akhirnya dering ponsel membuyarkan lamunannya perihal pria itu, suara itu berhasil membawa Kanaya kembali pada kenyataan. Sebuah panggilan masuk dari Ima Soraya, orang yang tetap setia berbagi kegilaan dengannya sejak masa putih abu-abu.
“Kanaya!” panggil Ima dengan suara nyaring, bahkan sebelum Kanaya sempat mengatakan apapun.
“Apa sih? Biasa aja, Ma ... aku denger kok.” protes Kanaya lalu duduk bersila di atas kasur. Dia selalu perlu posisi nyaman setiap kali berbicara dengan Ima, karena obrolan mereka tidak pernah bisa menjadi obrolan singkat.
Ima terkekeh mendengar protes Kanaya, "Sorry ... kamu sih, kok gak ada kasih kabar? Pemirsa penasaran tau!" Wanita itu kembali terkekeh, membuat Kanaya seratus persen yakin kalau Ima tidak sedang sendirian.
"Ada A Yuda, ya? Suruh pergi dulu, kek! Ladies talk, ih ...." tuntut Kanaya dengan nada jengkel.
"Ah ... kamu mah, Dek! Aa juga pengen tau gimana rasanya satu kantor sama mantan." keluh Yuda dengan nada merengek, tapi Kanaya tau kalau pria itu hanya sedang menggodanya.
Yuda adalah kakak kandung Kanaya, satu-satunya saudara yang ia punya. Tadinya pria itu tidak memiliki sifat jahil seperti ini, tapi sejak menikah dengan Ima, Yuda jadi tertular sifat-sifat ajaib istrinya.
"Ikut prosedur genitoplasti dulu sana! Nanti baru boleh ikutan ladies ngobrol." sahut Kanaya.
Mendengar ucapan Kanaya, Ima langsung mengucap amit-amit. Sedangkan Yuda sibuk menggerutu karena ucapan adiknya itu, tapi akhirnya dia tetap mengalah dan memilih pergi, membiarkan para wanita untuk bicara berdua. Sebenarnya Kanaya tau kalau percuma saja mengusir Yuda pergi sekarang karena nantinya Ima tetap akan bercerita pada suaminya, dia juga tidak keberatan kalau kakaknya mengetahui ceritanya, tapi setidaknya dirinya merasa lebih nyaman kalau tidak didengarkan secara langsung oleh Yuda.
"Udah tuh, A Yuda udah pergi. Jadi gimana ceritanya hari ini? Tempat kerjanya enak? Temen-temennya gimana? Kamu gak telat dateng, kan?" tanya Ima berturut-turut tanpa jeda.
"Modus banget, deh. Bilang aja pengen tau soal Fatur." seloroh Kanaya.
"Intinya memang kesitu, tapi aku beneran pengen tau soal kantor baru kamu. Walaupun satu kantor sama mantan, tapi kan ini kantor pertama kamu setelah satu tahun nganggur." kilah Ima dengan suara yang terdengar serius.
"Iya-iya ... tapi yakin Aa udah gak ada?"
"Gak ada, Kanaya Aisyah .... Mau video call? Curiga banget sih sama temen sendiri?" tawar Ima.
"Masalahnya kamu istrinya A Yuda, bisa jadi kamu kerjasama sama Aa."
Dengan nada jengkel yang dibuat-buat, Ima langsung mengancam memutus sambungan telepon mereka karena Kanaya tidak percaya padanya. Hal itu justru membuat Kanaya tertawa, dia meminta maaf dan bilang akan menceritakan semuanya pada Ima.
"Terus ... jadi gimana ceritanya?" tagih Ima, dia benar-benar sudah tidak sabar mendengar cerita Kanaya.
"Kantornya bagus, total ada delapan lantai di gedungnya. Tapi aku baru pernah ke lantai dasar, lantai enam tempat HRD, dan lantai lima tempat aku kerja. Temen kerjaku semuanya cowok, sejauh ini kelihatan ramah dan baik, gak ada masalah. Dan tadi pagi aku kesiangan." urai Kanaya, tidak menyebutkan alasannya terlambat.
"Oh ... ok. Terus ketemu gak sama Fatur?"
"Mak, kamu bisa gak sih sedikit antusias? Ketahuan banget basa-basinya." sindir Kanaya.
"Hm ... kalau lantai di kantornya banyak gitu, berarti kemungkinan kamu papasan sama Fatur lebih kecil dong?" tanya Ima, sangat kentara kalau pertanyaannya hanya sekedar untuk menghindari sindiran Kanaya.
"Kenapa gitu?" Sedangkan Kanaya, sengaja mengulur dan memutar-mutar pembicaraan. Rasanya dia saat ini tidak terlalu ingin membahas mantan kekasihnya itu.
"Bisa jadi ruangan tempat dia kerja di lantai satu, dua, tiga ... ya pokoknya di lantai yang beda sama tempat kamu, Nay." jelas Ima.
"Oh ... iya sih, harusnya begitu." Kanaya mengangguk-angguk seolah Ima ada di depannya.
"Jadi kenyataannya gimana? Sesuai sama yang seharusnya atau malah kamu udah ketemu sama dia?" Ima kembali pada topik yang membuatnya penasaran.
Bukannya langsung menjawab, Kanaya malah kembali sibuk memutar-mutar pembicaraan. Dari mulai menanyakan jadwal menstruasi, kabar keponakan yang baru dia tinggal satu malam, sampai kabar orangtua keduanya, berharap dengan begitu Ima akan bisa melupakan soal Fatur. Tapi Ima adalah Ima, tidak pernah mudah mengalihkan perhatian sahabatnya itu walaupun sudah di ajak berputar sejauh apapun.
Kanaya menghela napas berat, “Ternyata dia creative director di sana." ungkap Kanaya.
"Dia direktur? Banyak duitnya dong." Suara Ima terdengar menjadi lebih antusias.
"Ih! Kamu mah nanya, pengen tau tapi pas dikasih tau malah gak tau."
"Ya apaan atuh? Kalau aku gak tau kamu kasih tau, Nay ...."
"Dia itu atasan aku, satu ruangan sama aku. Aku berebutan oksigen sama dia. Aku sesek Mak, rasanya susah dan gak bisa napas seharian di kantor tadi.” keluh Kanaya dengan berapi-api, dia bahkan sampai menegakkan punggungnya.
“Nay, Fatur itu manusia bukan karbon monoksida. Pake ada acara sesek gak bisa napas segala.” cibir Ima, dia merasa Kanaya terlalu berlebihan.
"Coba kamu bayangin aja deh, Mak. Gimana aku bisa napas kalau tiap nengok yang kelihatan muka dia lagi, dia lagi." suara Kanaya terdengar lesu.
Suara tanpa semangat itu malah membuat Ima terbahak dengan sangat keras, Kanaya sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinga karena dia tidak mau sampai harus memeriksakan dirinya ke poli THT besok. Selesai tertawa Ima memanggil-manggil Kanaya, karena tidak ada suara yang terdengar dari Kanaya.
“Udah puas belum ketawanya? Temen lagi pusing begini, menderita kayak gini, malah diketawain” gerutu Kanaya yang merasa kesal.
"Makanya, move on dong Adik Iparku sayang ... jadi kamu gak akan merasa sesek atau susah napas kalau satu ruangan sama mantan." Ledekan Ima kali ini sama sekali tidak terdengar seperti sebuah candaan.
“Iya-iya, maaf. Tapi kenapa juga kamu harus pusing, Nay? Bukannya bagus ya kalau ketemu tiap detik gitu, kan jadi gampang PDKT-nya.” sambung Ima setelah Kanaya tidak merespon ucapan sebelumnya.
"PDKT? Kamu gila? Dia punya pacar, Mak. Mereka juga jalannya udah lama. Ya kali ngambil laki orang."
“Selama janur kuning belum melengkung sih, sah-sah aja kalau kamu menikung. Paling juga dapet gelar perusak hubungan orang doang, masih ringan kan?” celetuk wanita satu anak itu dengan santai, Ima memang adalah jenis-jenis kakak ipar aliran sesat.
“Itu sama aja, Ibu Ima Soraya .... Gak usah bahas soal perusak hubungan dulu deh, kamu tau kan ceweknya dia badai gitu? Aku udah kebanting duluan. Dulu dia juga bilang kalau gak akan pernah balik sama aku lagi ... ah! Ngapain sih ngomongin yang kayak gini?” Suasana hati Kanaya mendadak terjun bebas begitu mengingat tampilan pacar Fatur saat ini, dia yang sama-sama wanita saja tidak bisa tidak mengakui kecantikan dan keanggunannya.
“Dia badai? Kamu jadi tornado lah, Nay. Gak usah kaya orang susah. Kamu dandan dikit aja udah bisa bikin kaum adam ber-histeria, Nay. Mbak badai bakalan kalah sama kamu. Lagian dia tuh asal ngomong banget, taunya nanti kualat terus kecintaan sama kamu dia bisa ngomong apa? Hah? Hati gak ada yang tau." ucap Ima penuh semangat kemerdekaan.
"Beraksi dikit lah! Inget, mantan selalu punya kesempatan dan tempat istimewa, apalagi kalau mantannya adalah seorang Kanaya. Kamu kasih dia kedipan sedikit, langsung kelepek-kelepek lagi itu manusia satu sama kamu. Kamu yang sekarang ini lebih dari cukup untuk bisa ngelakuin itu, Nay. Percaya diri dong!" tambahnya lagi, tanpa sedikit pun mengurangi semangatnya.
"Semangat banget, Mak." Kanaya menahan tawa, dia bisa merasakan kalau Ima sangat peduli padanya walaupun kadang caranya aneh.
“Ya, apapun itu terserah. Pokoknya kamu tuh harus mulai menunjukkan diri, Nay. Tebar pesona dikit, jangan terus-terusan jadi sok jelek. Coba lihat hasil yang kamu dapet dari sok jelek itu, kamu malah gak laku-laku dan gagal move on kayak gini. Mau sampai kapan jadi mantannya Fatur?” desak Ima.
Pertanyaan mau sampai kapan jadi mantannya Fatur ini sudah Ima layangkan sejak dua tahun setelah Kanaya putus dari pria itu, tapi sampai saat ini Kanaya belum berhasil menjalin hubungan baru. Karenanya dia hanya bisa diam, sibuk dengan pikirannya sendiri begitu mendengar ucapan Ima.
Memang Kanaya tidak memungkiri kalau Fatur adalah sosok pria ideal yang dia harapkan, baik sosok pria itu dulu atau pun sosoknya saat ini. Tapi alasan dirinya masih menjadi mantan Fatur bukan karena ia belum bisa merelakan dan melepaskan Fatur dari hidupnya, karena setelah putus dari pria itu dirinya sempat dekat dan tertarik dengan beberapa pria lain, hanya saja kedekatannya tidak pernah berakhir menjadi sebuah hubungan. Setiap kali ada yang mengajak Kanaya untuk berpacaran, tanpa ia sadari dirinya akan mulai mengambil langkah mundur teratur.
"Pokoknya mulai besok, kamu harus dandan yang cantik untuk ke kantor. Paling nggak, kayak tiap kali kita jalan deh Nay. Kamu itu cantik banget, cuman sayangnya kamu kurang memanfaatkan kecantikan kamu."
"Inget ya, mulai besok! Karena semakin lama ditunda, semakin aneh kelihatannya. Kamu gak mau kan, kalau Fatur jadi terlalu percaya diri dan mikir kamu dandan untuk ngambil perhatian dia?"
"Mak, dia punya pacar." sela Kanaya.
"Banyak laki di kantor kamu. Kalau memang gak mau Fatur, cari yang lain!" tegas Ima.
"Aku kerja untuk cari uang, bukan cari jodoh." protes Kanaya.
"Apa salahnya sih? Aku tau kamu memang belum move on dari Fatur, tapi bukan berarti harus memperjelas dengan menjomblo selama ini kan, Nay?"
"Mak!" bentak Kanaya, Ima malah tertawa lagi.
"Kalau udah move on, dandan dong ... buktiin sama bumi dan seisinya, kalau kamu siap dan mau berusaha untuk memulai hubungan baru." sahut Ima.
Kanaya berdecak, "Iya, besok aku dandan." Akhirnya ia mengalah, berdebat dengan Ima hanya soal berdandan bisa-bisa membuatnya harus begadang sampai pagi.
"Gitu dong ... jangan lupa kirim fotonya ya, Nay." pesan Ima.
"Iya, Kakak Ipar ...."
"Tunjukkan pesonamu!” Ima meniru gaya bicara presenter salah satu acara perjodohan itu, lalu dia merasa geli sendiri.
Obrolan mereka berakhir dengan Ima yang mengatakan kalau Yuda sudah memanggilnya, Kanaya bergidik geli mendengar cara Ima bicara padanya dan langsung menutup sambungan telepon. Punya sahabat sebagai kakak ipar memang hal yang menyenangkan, tapi tidak di bagian mereka menceritakan kehidupan rumah tangga. Kanaya rasanya menyesal pernah membantu Ima mendekati kakaknya, kalau saja dulu dia tidak membantunya mungkin sekarang dia tidak akan merasa geli.
Selesai dengan Ima, Kanaya kembali melanjutkan acara merapikan kamarnya. Ruangan 4x4 dengan kamar mandi dalam itu sudah difasilitasi tempat tidur, lemari pakaian, meja konsol, televisi, dan pendingin ruangan, jadi sebenarnya tidak terlalu banyak barang yang dia bawa rumah. Dia hanya perlu melipat ulang pakaian dan memasukannya ke lemari dan mengatur perintilan seperti makeup, peralatan mandi dan alat makannya. Walaupun hanya sedikit yang perlu dikerjakan tapi ia baru menyelesaikan semuanya saat menjelang tengah malam, obrolan dengan para kerja serta telepon Ima membuat waktunya terulur cukup lama.
***