***
"Kanaya!"
Suara keras Fatur akhirnya berhasil membangunkan Kanaya. Wanita itu sempat kaget karena wajah Fatur yang muncul di hadapannya begitu ia membuka mata, terlihat menahan rasa jengkel. Saat melihat jam sudah bisa menebak alasan pria itu merasa jengkel, mereka masih harus pergi ke kosannya tapi ia bahkan belum beranjak dari kasur.
Sebelum Fatur mengomel, ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk kembali mengganti baju dengan pakaian yang kemarin ia gunakan. Begitu keluar kamar mandi, Kanaya melihat Fatur sudah rapih. Pria itu duduk di sofa yang semalam dialih fungsikan menjadi tempat tidurnya. Tanpa banyak bicara, begitu melihat Kanaya selesai bersiap ia langsung angkat kaki, membuat Kanaya mengikutinya.
“Saya tunggu di sini.” ujar Fatur setelah Kanaya turun dari mobil.
“Gak usah, duluan aja. Aku nanti bisa pakai ojek.” tolak Kanaya, merasa sudah terlalu banyak merepotkan pria itu.
“Kita gak perlu berdebat pagi-pagi kan, Ay?” Dari wajahnya, suasana hati pria itu belum berubah sejak semalam.
Kanaya merapatkan bibirnya sambil menatap pada pria yang hanya membuka setengah kaca jendela mobilnya, "Iya.” Sambil cemberut, ia menuruti ucapan Fatur.
Sikap Fatur memang membuatnya jadi ikutan kesal, Kanaya tidak pernah meminta pria itu untuk melakukan hal-hal yang ia lakukan semalam. Tapi sikap Fatur yang seperti sekarang ini, membuatnya seolah-olah dialah penyebab segala yang terjadi. Sambil menggerutu, ia mengambil langkah lebar agar cepat sampai ke kamarnya.
Karena seharian kemarin dirinya tidak sempat membasuh tubuh, akhirnya hari ini Kanaya memilih mandi kilat dan melewatkan untuk mencuci rambutnya. Merasa tidak ingin menghadapi versi Fatur yang lebih menyebalkan karena harus menunggu dirinya lama bersiap-siap, ia pun memilih berdandan di dalam mobil.
Fatur tidak berkomentar saat melihat penampilan Kanaya saat kembali naik ke mobil, wajah polos dan rambut kuncir kuda yang terlampau sederhana itu hanya dia lirik sebentar sebelum kembali mengemudikan mobilnya. Tapi saat Kanaya sibuk berdandan, pria itu malah terus menerus mencuri pandang.
"Aku lebih nyaman kalau Kak Fatur gak lihat-lihat aku." ucap Kanaya, sambil menurunkan kedua tangannya yang sedang memegang cushion.
"Kamu kelihatan, bukan saya yang lihat-lihat." kilah Fatur, memasang wajah tak acuh. Kanaya menghela napas, percuma juga mengajukan protes pada orang yang sedari tadi tidak mengindahkan pendapatnya
"Tolong turunin aku sebelum lampu merah itu ya, nanti aku pakai ojek." pinta Kanaya.
"Hm-mm." sahut Fatur.
Ia kembali melanjutkan riasan wajahnya, mencoba mengabaikan Fatur walaupun jelas terasa kalau pria itu masih terus memperhatikannya. Kanaya bukannya risih, tapi ia justru merasa malu dengan situasi itu.
Hal selanjutnya membuat Kanaya jadi merasa kesal pada pria itu, ia sudah meminta untuk diturunkan di jalan tapi Fatur malah membawanya sampai masuk ke parkiran kantor. Situasi di luar yang sudah cukup ramai membuatnya jadi enggan untuk turun, pemilik mobil yang ia tumpangi ini rupanya memang sama sekali tidak berniat mengabulkan permintaannya.
Saat diprotes, pria itu beralasan kalau tadi Kanaya masih sibuk berdandan jadi rasanya tidak mungkin menurunkannya di jalan dengan kondisi riasan yang masih belum selesai.
"Kamu mau saya kunci di dalam mobil?" tanya Fatur dengan wajah datar tanpa rasa bersalah saat Kanaya masih saja merajuk. Mereka memang harus turun sekarang, dan baginya hal yang wanita itu ributkan tidak terlalu penting.
"Ini terakhir kalinya aku denger omongan kamu. Gak mau aku, denger omongan orang yang gak denger omongan aku!" ucap Kanaya sebelum turun dari mobil. Dia juga berniat membanting pintu saat akan menutupnya, tapi ia urungkan karena ada orang yang lewat.
Fatur hanya tersenyum mendengar semua yang dikatakan Kanaya, raut wajah dan omelan wanita itu terasa menggemaskan baginya. Saat mereka bersama dulu, Kanaya sama sekali tak pernah menunjukkan sisinya yang seperti ini. Bahkan saat Fatur membuat kesalahan dengan sengaja Kanaya hanya diam tak berkomentar, karena itu dulu Fatur merasa tak yakin kalau Kanaya benar-benar peduli padanya.
“Kalian dateng bareng?” tanya Julio yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah, saat Fatur dan Kanaya sedang jalan ke arah gedung.
“Iya.” jawab Fatur santai, tak mempedulikan Kanaya yang masih berwajah masam melotot akibat perkataannya.
“Kok bisa?” tanya Julio lagi.
“Kenapa? Gak boleh kalau saya dateng bareng sama dia?” balas Fatur dengan wajah tak acuh, seolah tidak terlalu peduli dengan apa yang dipikirkan oleh Julio terhadap dirinya dan Kanaya.
“Apaan sih, Kak?" Kanaya memprotes ucapan Fatur, "Gak gitu kok, Bang. Tadi kita ketemu di ujung jalan sana... tadi aku naik ojek tapi mogok, terus kebetulan ketemu Kak Fatur.” terang Kanaya yang hanya mengarang bebas, ia mendelik sebal pada Fatur.
“Oh.” Dari wajahnya Julio terlihat menyangsikan penjelasan Kanaya, tapi pria itu memutuskan untuk berhenti bertanya walaupun masih penasaran karena mereka sudah memasuki lobi.
Ke tiga orang dari tim kreatif itu berdiri bersama orang-orang dari departemen lain di depan lift, menunggu pintu baja itu terbuka untuk membawa mereka ke lantai tempat ruang kerja mereka berada. Kanaya berdiri di depan Fatur dan Julio, tidak ada yang ia lakukan selain memperhatikan indikator lantai di dekat tombol lift.
“Kanaya!”
Kepala Kanaya otomatis menoleh saat mendengar namanya dipanggil, begitu juga dengan Fatur dan Julio. Ketiganya kompak mencari sosok pria yang memanggil nama Kanaya, Julio yang lebih dulu berpaling karena tidak terlalu tertarik dengan orang yang dia lihat. Berbeda dengan Kanaya dan Fatur, keduanya sama-sama menunjukkan wajah tidak suka.
Fatur baru akan memalingkan wajahnya saat menangkap amarah di wajah Kanaya, kalau sebelumnya wanita itu terlihat lucu walau sedang kesal sekarang ia terlihat cukup menyeramkan. Membuat Fatur jadi penasaran dengan pria yang mendapatkan tatapan tajam Kanaya, pria itu kembali menoleh.
“Hai, Nay!” Pria dengan kemeja putih itu menyapa ramah wanita yang terlihat jelas tidak akan menyambut baik sapaannya.
Fatur menunggu apa yang akan Kanaya lakukan, tapi wanita itu sama sekali tak bergeming. Dia tetap hanya menatap dan tak bergerak sedikit pun, membuat pria yang menyapanya itu berdeham sambil menurunkan tangannya.
“Ah mungkin lo lupa... gue Adi, SMP Bina Harapan.” Pria yang menyebut dirinya sebagai Adi itu mengulurkan tangan, masih memasang senyuman ramah.
"Kamu benar-benar pikir aku gak ingat siapa kamu?" ketus Kanaya.
"Jadi kamu ingat?" Senyum Adi semakin lebar, merasa lega karena ternyata wanita yang terlihat tidak menyukainya itu masih mengingat dirinya.
"Curut got!" cibir Kanaya dengan senyum sinis, ia lalu kembali membelakangi Adi.
Fatur cukup kaget dengan sikap dingin wanita itu, Julio bahkan sampai ikut menoleh karena tidak menyangka kalau seorang wanita seperti Kanaya ternyata bisa menunjukkan ekspresi antagonis seperti itu.
“Lo masih marah sama gue, Nay?” Adi menyelinap di antara Kanaya dan Fatur, membuat Fatur harus mundur satu langkah karena terdorong pria itu.
“Kata orang kalau terlalu benci bisa jadi cinta loh.” kelakar Adi sambil tersenyum jahil. Ucapan itu membuat wajah Kanaya terlihat semakin angker, Fatur juga menatap sinis pada Adi.
“Terserah! Gak ada urusannya saka hidupku!” Kanaya menyelonong masuk ke dalam lift lain yang terbuka lebih dulu dan menekan tombol agar pintu segera tertutup, bahkan Fatur dan Julio dia tinggalkan begitu saja.
Dibandingkan dengan yang Fatur perbuat, bertemu dengan orang yang memporak-porandakan masa remajanya itu terasa lebih menghancurkan suasana hatinya. Emosinya sudah sampai ke puncak kepala, ia sama sekali tidak bisa memaksakan senyum sekedar untuk menyapa orang-orang yang sudah ada di ruangan.
Menyadari wajah kesal Kanaya, Satrio langsung bertanya apa yang terjadi pada wanita itu dan ia hanya menjawab kalau tadi dirinya tidak sengaja menginjak curut got di jalan.
"Kan ngeselin ya... jijik." sambung Kanaya. Brahma dan Rangga saling menatap, sama-sama berpikir Kanaya sedang mengalami PMS.
Saat memasuki ruangan Julio menyadari kebingungan para rekan kerjanya terhadap wajah masam Kanaya memilih tak berkomentar, dia tetap tutup mulut dan langsung duduk di mejanya. Brahma melihat Fatur menyentuh bahu Kanaya saat pria itu melintas, Kanaya hanya menoleh tak bereaksi apapun. Tapi menurut Brahma ini aneh karena selama ini Fatur tidak pernah turut campur urusan pribadi bawahannya, termasuk Rangga dan Satrio yang sudah jadi partner kerjanya sedari awal.
***
Rahadian Santoso atau Adi, adalah salah satu dari sekian banyak anak laki-laki tampan di SMP Bina Harapan. Bukan anak OSIS, bukan anak basket, bukan murid terpintar, tapi ia adalah atlet renang nasional. Walaupun jarang terlihat di sekolah, tapi profesinya itu membuatnya memiliki banyak penggemar yang akan terang-terangan datang ke kelas untuk menemuinya.
Mulanya hubungan Kanaya dan Adi tentu saja tidak seperti sekarang, bisa di bilang keduanya nyaris tidak saling mengenal selain mengetahui nama satu sama lain karena berada di kelas yang sama. Adi yang sering absen untuk urusan olimpiade dan Kanaya yang tidak terlalu peduli pada orang-orang yang berjarak lebih dari empat bangku dari tempatnya duduk, membuat mereka sama sekali tidak pernah berbincang.
Sama sekali tidak pernah memiliki kepentingan bersama dalam urusan pelajaran, membuat keduanya semakin tidak punya alasan untuk berinteraksi sekalipun itu hanya saling bertukar sapa. Sampai tiba pada hari di mana kebencian Kanaya pada Adi bermula.
Saat itu tinggal sepuluh menit lagi sebelum waktu pembelajaran dimulai, Kanaya yang sedang mengerjakan tugasnya sebagai petugas piket kelas hari itu membagi tugas dengan yang lainnya agar pekerjaan mereka selesai sebelum bel berbunyi. Kanaya mendapat bagian untuk menyapu lorong paling ujung, deretan yang di tempati oleh para anak laki-laki.
Kanaya belum pernah menginjakkan kakinya ke bagian kelas yang satu itu. Saat melihat beberapa anak laki-laki yang sedang berkumpul di sudut belakang kelas sana membuatnya enggan, tapi meributkan bagian di saat waktu mereka tidak cukup banyak juga bukan pilihan yang bagus. Akhirnya dengan langkah berat ia memasuki lorong asing itu.
"Permisi." ucap Kanaya pelan saat menyapu daerah di dekat orang-orang yang sedang asik bercanda. Ia hanya fokus pada pekerjaan, tidak berniat menguping apa yang serang dibicarakan.
Ketika Kanaya menyapu, tanpa sengaja ia menyenggol seseorang. Sambil berbalik ia menunduk dan meminta maaf tanpa melihat siapa yang ia ajak bicara, setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Yang bener kalau minta maaf!" ujar anak laki-laki yang pakaiannya licin sempurna itu dengan suara keras, wajah angkuh dan jengkelnya terlihat cocok dengannya.
Suara itu membuat perhatian seisi kelas teralihkan padanya, hanya beberapa saat sebelum semuanya kembali sibuk pada urusan masing-masing. Hanya teman-teman di sekitarnya saja yang masih memperhatikan dirinya dan gadis berwajah datar yang sedang memegang sapu.
Kanaya yang malas dan tidak suka keributan kembali mengulang permintaan maafnya yang kali ini sambil memandang wajah orangnya, tanda nama Rahadian Santoso yang menempel di sisi kanan baju seragam anak laki-laki itu yang terakhir ia lihat sebelum memalingkan wajah. Merasa urusannya dengan atlet renang itu sudah selesai, ia memilih mengangkat kaki. Tapi kemudian Adi mengatakan kata yang membuat Kanaya kesal, anak laki-laki itu mengatainya cunguk item.
"Apa?" Suara Kanaya meninggi, orang-orang kembali menoleh.
Selama ini Kanaya dikenal sebagai orang yang tenang, tidak banyak bicara dan cenderung pendiam. Jadi tentu suara tinggi Kanaya mengundang perhatian, kejadian langka yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
“Cu-nguk i-tem.” ulang Adi dengan seringai menyebalkan.
"Kerjain sama kamu!" Kanaya mendorong keras sapu di tangannya hingga menabrak d**a Adi.
Ia lalu berjalan keluar kelas, Kanaya merasa tidak baik-baik saja dengan tindakannya dan ia merasa perlu waktu sendiri. Dirinya tidak mempedulikan Adi yang mengaduh, begitu juga dengan tatapan tak percaya dari seisi kelas.
Suasana kelas benar-benar menjadi sepi, sikap Kanaya tadi sukses membuat mereka semua tertegun. Selama ini Kanaya hanya pernah menunjukkan raut datar dan ramah, tidak pernah ada emosi lain di wajahnya. Tidak satu pun dari sekian puluh orang penghuni kelas itu menyangka kalau Kanaya bisa marah.
Dan sejak hari itu Kanaya mengganti nama Adi dengan curut got. Julukan itu memang sama sekali tidak cocok untuk Adi, seorang atlit renang berwajah rupawan. Tapi siapa peduli, karena dirinya tidak pantas di sandingkan dengan kecoak.
***