Pagi itu dimulai seperti pagi pertama dalam kisah ini, jauh sebelum sirene, jauh sebelum semuanya runtuh. Pukul tiga lebih, Sundari bangun, tapi kini ia tak lagi bangun sendirian dalam gelap untuk memikul semuanya seorang diri. Lintang sudah ada di dapur, menyalakan kompor, menanak beras yang sudah ia rendam semalam, gerakannya cekatan karena ia telah belajar resep ibunya selama bulan-bulan ketika Sundari sakit. Mereka memasak bersama sekarang, ibu dan anak, dalam ritme yang sudah hafal satu sama lain tanpa perlu kata-kata.
Bau santan dan pandan memenuhi dapur, lalu merembes ke gang, bau yang sama yang dulu menjadi penanda bahwa hari telah dimulai di gang Mawar Tiga. Daun pisang dikukus, serundeng digoreng, telur dibalado, tempe diiris tipis. Tangan Sundari masih hafal semua itu, gerakan-gerakan yang telah ia ulangi puluhan ribu kali sepanjang hidupnya, gerakan yang bertahan melewati duka, melewati pertempuran, melewati sakit, gerakan yang menautkan perempuan hari ini dengan perempuan yang dulu, sebelum dunianya pecah dan ia susun kembali dari serpihan.
Ketika fajar menyingsing dan langit di atas gang berubah dari hitam ke biru kelabu lalu ke jingga muda, warung sudah siap. Sundari membuka pintu kayunya, menggeser meja-meja ke tempatnya, menata piring-piring, dan menggantung kembali tulisan menu di papan kecil. Lalu, seperti tiap pagi, ia berdiri sejenak di depan foto Bagas di dinding, dan mengucapkan selamat pagi, pelan, hanya untuk mereka berdua.
Pelanggan pertama datang seperti biasa: Bang Jali, tukang ojek, yang memarkir motornya di depan dan duduk di bangku langganannya, memesan nasi uduk komplet dengan teh manis hangat. Ia bercanda tentang penumpang semalam yang nyasar dan tak mau bayar, dan Sundari tertawa, tawa yang lepas, tawa yang dua tahun lalu terasa mustahil. Lalu datang ibu-ibu yang mau ke pasar, anak-anak sekolah yang membungkus untuk bekal, pekerja pabrik yang mampir sebelum giliran pagi, satu per satu mengalir, mengisi warung dengan suara dan tawa dan denting sendok.
Mereka datang bukan karena iba. Itu yang membuat Sundari paling bersyukur. Dulu, di bulan-bulan tergelap, pelanggan datang dengan tatapan kasihan, atau menjauh karena takut terlihat dekat dengannya. Sekarang mereka datang karena nasi uduknya enak, karena warung ini adalah bagian dari gang, karena Sundari adalah Sundari, perempuan yang mereka hormati, bukan korban yang mereka kasihani. Ada perbedaan besar di antara keduanya, dan perbedaan itu adalah martabat, hal yang nyaris direnggut darinya dan ia rebut kembali dengan harga yang sangat mahal.
Marni mampir, seperti yang sering ia lakukan sekarang, membawa sepiring kue basah buatannya untuk dijual titip di warung. Mereka berbincang sebentar tentang pos bantuan hukum Pram yang makin sibuk, tentang relawan muda yang akan mengadakan pemeriksaan jembatan di kecamatan sebelah, tentang anak Marni yang masuk SMA. Hal-hal biasa, percakapan biasa, kehidupan yang terus berjalan, dan justru dalam kebiasaan itulah terletak keajaibannya. Bahwa hidup yang dulu hancur kini bisa kembali biasa, bisa kembali berbau santan dan dipenuhi tawa, bisa kembali punya pagi-pagi yang tak diancam oleh apa pun.
Lintang berpamitan menjelang pukul tujuh, menyandang tas berisi buku-buku teknik, hendak berangkat ke kampus. Ia mencium tangan ibunya, lalu berhenti sejenak di pintu. 'Mak,' katanya, 'jangan kerja kebanyakan ya. Inget obatnya. Nanti sore Lintang pulang bantuin tutup.'
'Iya, Bu Insinyur,' kata Sundari, dan Lintang tertawa, lalu melangkah keluar ke gang yang kini terang oleh matahari pagi, melewati tetangga-tetangga yang menyapanya, melewati mulut gang tempat dulu utusan berjas datang membawa amplop, melewati semua titik di mana kisah mereka pernah hampir berakhir dengan kekalahan. Sundari memperhatikan punggung putrinya sampai ia berbelok dan hilang dari pandangan, lalu kembali ke dalam, melayani pelanggan berikutnya.
Di sela-sela kesibukan, ada sesaat ketika warung lengang, dan Sundari berdiri di ambang pintu, memandang ke gang Mawar yang sibuk dengan kehidupan paginya. Anak-anak berseragam berlari mengejar waktu. Pedagang sayur mendorong gerobaknya. Ibu-ibu menyapu halaman. Matahari menerobos di antara atap-atap seng, menjatuhkan garis-garis cahaya ke jalan yang tak rata. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang amat panjang, Sundari merasakan sesuatu yang sederhana dan utuh, sesuatu yang ia kira telah hilang selamanya pada hari ketika ponsel retak diserahkan polisi ke tangannya: damai. Bukan damai yang sempurna, bukan damai tanpa luka, karena luka itu akan selalu ada, terukir di batu di pangkal jembatan, tergantung di foto di dinding warung. Tapi damai yang nyata, damai orang yang telah berjuang sampai habis dan tak menyesal, damai orang yang kehilangan banyak tapi menjaga yang paling penting, damai orang yang, di tengah kota yang ingin ia diam, telah memilih untuk tidak tutup mulut, dan menemukan bahwa di ujung semua itu, pagi masih bisa datang, dan masih bisa berbau santan dan pandan.