Kabar itu datang lewat Pram, yang menelepon pada suatu siang dengan suara yang hati-hati, seperti orang yang membawa berita yang tak tahu harus disampaikan dengan nada apa. Brotoseno meninggal di dalam penjara, kata Pram. Pagi itu, dalam tidurnya. Jantung. Ia tujuh puluh tiga tahun, dan tubuhnya, yang telah ditopang bertahun-tahun oleh kemewahan, tak bertahan lama di sel yang sempit dan dingin.
Sundari mendengarkan dalam diam, ponsel menempel di telinganya, tangannya yang lain memegang sendok yang baru saja ia pakai mengaduk gulai. Ia menunggu sesuatu muncul di dalam dadanya, gelombang kemenangan barangkali, atau kepuasan dendam yang akhirnya tuntas, atau setidaknya kelegaan. Tapi yang datang bukan itu. Yang datang adalah keheningan yang aneh, kekosongan yang ganjil, seakan sebuah ruangan yang selama ini terisi oleh kehadiran musuhnya mendadak kosong dan ia tak tahu apa yang harus diletakkan di sana.
Setelah menutup telepon, Sundari duduk di bangku warung. Lintang, yang sedang membaca buku teknik di sudut, menutup bukunya dan mendekat, membaca dari wajah ibunya bahwa sesuatu telah terjadi.
'Brotoseno meninggal,' kata Sundari pelan. 'Di penjara. Tadi pagi.'
Lintang duduk di sampingnya, tak tahu harus berkata apa. 'Emak gimana?' tanyanya akhirnya.
Sundari menggeleng pelan, bukan menjawab tidak, tapi menjawab bahwa ia sendiri tak tahu bagaimana. 'Emak kira Emak bakal seneng, Nang,' katanya jujur. 'Dulu, di tahun-tahun pertama, Emak benci dia sampai ke tulang. Emak pernah ngebayangin dia mati, dan pas ngebayangin itu Emak ngerasa puas. Tapi sekarang dia bener-bener mati, dan Emak nggak ngerasa apa-apa yang Emak duga. Cuma sepi. Aneh ya.'
Ia teringat lelaki tua itu di sidang mediasi, ketika untuk pertama kalinya mereka bertatap muka. Brotoseno bukan monster yang ia bayangkan. Ia tampak lelah, sopan, bahkan menyatakan duka yang terdengar tulus sambil tetap bersikeras pada kebohongannya sendiri. Lebih sulit membenci lelaki seperti itu daripada membenci penjahat dalam dongeng. Ia teringat pengakuan Brotoseno di pengadilan, ketika lelaki itu memilih hadir dan mengakui bahwa ia telah menciptakan dunia tempat cepat dan murah menjadi cara menyenangkannya, ketika ia hafal tujuh nama korban dan menyebutnya satu per satu, ketika Sundari menatapnya dan menemukan amarahnya bercampur dengan sesuatu yang tak ia duga: belas, bukan maaf, tapi belas pada manusia yang telah membiarkan dirinya membusuk dari dalam demi sebuah kerajaan yang akhirnya pecah juga.
Ia teringat surat dari penjara, yang ia bakar tapi satu kalimatnya ia simpan: Ibu satu-satunya yang tak bisa saya beli atau saya takuti. Ia teringat bagaimana lelaki itu, di akhir, diam-diam mendanai audit jembatan-jembatan kota tanpa menyebut namanya, sebuah penebusan yang tak menghapus dosa tapi mengakuinya. Brotoseno mati sendirian, ditinggalkan oleh sekutu yang dulu ia beri makan, oleh keluarga yang menjauh dari aib, oleh kerajaan bisnis yang pecah berkeping setelah ia jatuh. Ia mati seperti Sundari pernah berdiri di trotoar: sendirian. Tapi kesendirian Sundari dulu adalah kesendirian orang yang menolak menyerah pada kebohongan, sementara kesendirian Brotoseno di akhir adalah kesendirian orang yang seumur hidup mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang dibeli, dan mendapati bahwa tak satu pun dari mereka tinggal ketika uang habis.
'Nang,' kata Sundari setelah lama diam. 'Kekuasaan itu nggak nyelametin siapa-siapa dari akhir yang sama. Dia punya menara empat puluh lantai. Dia punya uang yang Emak nggak bisa bayangin banyaknya. Dia bisa beli pengacara, beli media, beli pejabat. Tapi pas dia mati, dia mati sama persis kayak orang miskin yang mati di gang. Sendiri. Di tempat sempit. Nggak ada bedanya. Yang beda cuma apa yang ditinggalin.'
Ia berdiri, lalu melakukan sesuatu yang mengejutkan dirinya sendiri. Ia mengambil air wudu, lalu di sudut warung, di atas sajadah lusuh yang biasa ia pakai, ia salat dan setelahnya mendoakan lelaki yang telah membunuh anaknya. Ia mendoakan agar penderitaannya diringankan, agar dosanya yang ia akui di akhir hidupnya menjadi jalan baginya, agar ia menemukan damai yang tak ia temukan di dunia. Lintang memperhatikan ibunya dari kejauhan, dan tak bertanya, karena ia mulai memahami sesuatu tentang ibunya yang melampaui kemarahan dan dendam.
Ketika Sundari selesai dan melipat sajadahnya, Lintang akhirnya bertanya, pelan, 'Kenapa Emak doain dia, Mak? Setelah semua yang dia lakuin?'
Sundari melipat sajadah dengan rapi, lalu menatap putrinya. 'Bukan karena Emak udah maafin semua yang dia lakuin, Nang. Ada hal-hal yang nggak Emak maafin, dan itu hak Emak. Tapi Emak doain dia karena Emak nggak mau mati dengan hati yang penuh benci kayak hati dia. Dia mati dikelilingi sama dendam dan ketakutan dan kebohongan yang dia bangun sendiri. Emak nggak mau gitu. Emak udah menang, Nang. Nama Bagas udah pulih. Jembatannya udah aman. Kamu udah selamat. Emak nggak butuh dendam lagi buat ngerasa utuh. Dendam itu cuma buat orang yang belum dapet keadilan. Emak udah dapet. Jadi Emak bisa lepas.'
Mereka menutup warung lebih awal sore itu. Bukan karena berkabung, dan bukan karena merayakan, tapi karena ada sesuatu yang terasa selesai, sebuah lingkaran yang menutup tanpa kemenangan dan tanpa dendam, hanya kesadaran sunyi bahwa kebenaran dan waktu, pada akhirnya, melakukan apa yang tak bisa dilakukan oleh kebencian mana pun.