Pada akhirnya rayyan menjadi tahanan rumah sakit dalam seminggu kedepan.awalnya ingin merengek namun kini rayyan sadar diri jika dirinya bukan anak abg yang labil lagi.Siang ini dirinya tertawa lepas karena faiz membuat kekonyolan yang kini sedang PKL di perdesaan.Dia main lumpur bersama kerbau desa yang besarnya melebihi berat badan faiz.
"Haduhhh hahhaha..hahaha."rayyan tertawa sampai perutnya sakit.Dia memengangi area perutnya karena terlalu lepas tertawa.
"Ndut...ndut..masa kebo naik kebo.hahaha..hah"rayyan tertawa kembali.
"s****n lo..ini demi skripsi bos.Kalau ga ikut PKL bisa di gantung babeh."
"Iya,tapi babeh lo ga akan ketukerkan nanti.Khawatir aja,pas pulang PKL babeh lo bawa itu kebo."
"Bully gue sesuka lo deh.Asal lo seneng."Faiz terlihat mengendus sesuatu.
"Kenapa lo?"tanya rayyan saat melihat gelagat aneh sahabatnya itu.
"Ya allah...nih kebo boker.Gilaa.."teriak heboh faiz yang melihat gundukan pup kebo yang sedang di naikinya ini.
"Psffffft..hahhaha..hahhha...boker..rezeki lo itu."
"Ahh duh dulu ya.Gue pengen muntah.Asli bau banget.By rayyan adiknya bang athar yang manis.Cepet sembuh lo."
Klik.
Layar handphonenya mati tergantikan wallpaper keluarganya.Rayyan terdiam sembari terkekeh kecil mengingat sahabatnya itu.Dia jadi teringat teman kerjanya yang nyebelin.Siapa lagi kalau bukan rafqa.Si tukang pamer.
Dia teringat saat di danau.Rafqa datang tiba-tiba dan langsung memeluknya.
"Menangislah.Keluarkan semua uneg-uneg lo."
Dan akhirnya rayyan semalaman menangis di pelukan rafqa.Semalam hanya menemani dirinya yang sedang menangis karena merindukan taylor yang jauh di sana.
"Hahhh..taylor lagi..taylor lagii."rayyan mendesah.Rasa haus datang namun tak ada seorang pun yang menemaninya.
Dengan perlahan dia menggeser tubuhnya untuk semakin dekat dengan gelas yang ada di nakas.Tak lama gelas bening berukuran panjang itu terlepas dari genggamannya dan berserakan di lantai.
***
Rafqa sebal sendiri pasalnya sudah tiga hari rivalnya tak memperlihatkan batang hidungnya.Mungkinkah dia merindukan sosok itu?
"Najis banget."batin rafqa.Dia sibuk kembali dengan pekerjaannya.Namun,dering handphonenya berbunyi.Tertera nomor tak di kenalnya.
"Hallo."Sejenak rafqa terdiam.Dia mendengar seseorang berbicara di sana dengan nada serius.
"Baik,jika sudah ketemu.Tolong cepat habisi dia."Dengan nada dingin rafqa mengakhiri panggilan itu.Dito yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut rafqa pun mulai berasumsi yang tidak-tidak.
"Apa yang lo sembunyiin" batin dito.
***
Nadine kaget melihat gelas berserakan di lantai yang kini di bersihkan oleh pekerja kebersihan rumah sakit.Rayyan hanya bisa merenggut karena di ceramahi oleh dimas yang tidak menurut untuk memanggilnya jika butuh bantuan.
"Sudah dim,lihat tuh anaknya udah kaya udang rebus."Rayyan mendelik ke arah nadine yang santai saja.
"Mama tega bener bilangin adik udang rebus."Dengan perlahan di membaringkan tubuhnya.
"Makanya jangan sok jago."kini dimas bersuara.
"Sudah ah..mama sama papa jahat.Adik tidur aja.Awas ya kalau bangunin adik."Tunjuknya dengan jari telunjuk ke arah kedua orangtuanya yang ada di sofa sedang duduk berduaan.
"Pede banget.Siapa juga yang mau bangunin.Papa sama mama mau berduaan.Jangan berisik jadi anak.Harus sadar diri dong,kalau orangtuanya lagi berduaan."jelas dimas yang kini tengah memeluk nadine bahkan mencium pipinya.
"Ihhhh papa.Mata adik jadi ternodai kan.Awas aja pulang dari rumah sakit mama hamil.Ingat ya pa,adik ga mau punya adik lagi.Si kodok aja nyebelin apalagi dede bayi." Tutur rayyan sembari menutupi badannya dengan selimut.
"Hahh anak kamu tuh."bisik papa.Nadine hanya tersenyum mengingat wajah rayyan yang sedang merajuk.
***
Athalla bisa melihat wajah kakaknya terlihat lebih segar setelah empat hari di rawat di rumah sakit.Tadi sebelum diirnya datang,ada teman-teman geng motor kakaknya dulu.Siapa lagi kalau bukan bang jay dan kawan kawan.Senyuman kakaknya terlihat.Senyum kotak yang rasanya sudah lama tak dilihatnya.
Langkah athalla terhenti saat mendengar kakaknya sedang berbicara dengan seseorang disana.
"Jujur,siapa yang ancam lo hah."itu suara ali.Dia sepertinya terdengar marah.
"Ga ada li.Siapa yang ancam sih.Kayak anak kecil aja."rayyan mengunyah buah kurma yang sudah di kirimkan oleh bang jay dan teman-temannya tadi.
"RAYYAN SAMIRRR!!!LO TAHU KAN GUE KALAU MARAH KAYA GIMANA.CEPAT BILANG!!ATAU..."rayyan memutuskan komunikasi mereka.Wajah murung itu kembali.
"Kalau gue bilang yang sebenarnya kalian akan hancur juga.Terutama rio.Lebih baik gue yang hancur,li.Daripada kalian.Ughhh..."rayyan melenguh saat ulu hatinya terasa sakit lagi.Dia mencengkram perut atasnya sembari membungkukkan badannya.
"Lo okey?"tanya athalla yang tiba-tiba masuk.
"Okey,sedikit kram."
"Jangan banyak fikiran.Dokter kan bilang jangan stress dan tekanan darah lo rendah banget.Apalagi tuh perut masih luka.Bisa-bisa jadwal kepulangan lo bisa di undur gara-gara lo kumat lagi."Rayyan terkekeh mendengar adiknya berbicara panjang lebar kaya gitu.
"Baik adikkuuhhh"rayyan mencubit kedua pipi athalla yang langsung di tepis kasar oleh athalla.
"Ihhh jijik tau ga."Rayyan tersenyum sampai terlelap.Athalla masih bertanya-tanya siapa yang ancam kakaknya??kenapa kakaknya di ancam??apa penyebabnya??Pemikiran-pemikiran soal rayyan memenuhi kepalanya.
"Kak,jangan sembunyiin dari kita.Lo harus terbuka.Jangan memendamnya seorang diri.Ada gue,abang sama orangtua kita.Please jangan siksa diri lo sendiri." Lirih athalla yang jelas bisa di dengar oleh rayyan.
"Maafin gue,athalla."batin rayyan yang sadar akan tindakannya menyiksa dirinya secara perlahan.
***
Kata orang penyakit yang ada di dalam tubuh kita adalah akibat dari pemikiran kita sendiri.Fikiran negatif ,cenderung putus asa dan banyak mengeluh itu bisa menyebabkan hormon negatif dalam tubuh kita meningkat pesat.Ini yang menyebabkan kondisi rayyan selalu menurun.Bisa demam dan lemas tiba-tiba.Bahkan sampai pingsan.Luka dalam dalam tubuhnya hanya sekian persen yang menyebabkan tubuhnya lemah.
"Lo dengerkan,penjelasan dokter tadi.Coba lo terbuka dik.Ada gue.Kalau lo begini terus lo bisa mati mendadak." Athar terlihat emosi setelah athalla menghubunginya jika adiknya pingsan di taman rumah sakit.
"Lo doain gue mati mendadak hah."rayyan menatap sengit abangnya yang memang sedang marah.
"Bukannya begitu,tapi coba kita obrolin masalah lo apa sebenarnya.Apa ada hubungannya dengan amerika??Atau lo punya musih di sini hah,siapa orang yang lo curigai yang udah ngerencanain bunuh lo."rayyan menatap tajam abangnya.
"Maksud lo apa bang??siapa yang ngerencanain bunuh gue?"tanya rayyan penuh selidik.
"Jangan di fikirkan,lebih baik lo harus move on."
"Jangan mengalihkan pembicaraan,kodok."rayyan kembali menatap abangnya yang terlihat frustasi.
"Bang,jelasin.Siapa yang ngerencanain itu?Gue akui,gue bohong soal jatuh dari pepa.Dan gue yakin lo tahu sesuatu bang."
"Lo pengen tahu?si pepa di sabotase.Tanpa lo sadari kabel rem si pepa di putus.Dan polisi sedang menyelidiki ini."
"Bang,kita kan sudah sepakat buat ga bicarain ini.Lo dengerkan dokter bilang..."Ucapan athalla terhenti ketika rayyan terkekeh sedih.
"Hahhh,allah menguji gue banget ya.Dari dulu kayanya orang pengen lenyapin gue dari bumi ini.Dulu oma,termasuk lo,kodok."
"Ray,jangan bahas itu lagi.Itu masa lalu yang ga usah di ungkit."
"Lalu bagas,trus siapa lagi kali ini hmm,apa hidup gue ga berarti.Dari dulu emang gue nyusahin,tapi.."
"Bang,jangan diam aja dong."Desak athalla.
"Biarkan kakak lo ini bicara ngaur.Kesel gue."Athar keluar dari ruangan rawat inap rayyan dengan perasaan kesal.
"Siapa?"lirih rayyan.Sungguh dia penasaran dengan orang yang teganya memutusakan kabel rem si pepa.
"Jangan di fikirin ray.Istirahat ya" athalla berdiri di samping kakaknya yang masih terlihat berfikir.
"Hahh..apa gue sudahi saja kontrak gue di dunia ini?"Lirih rayyan.
"Jangan gila,kalau lo bunuh diri ga akan selesaiin masalah.Allah benci orang yang putus asa."
Rayyan menatap wajah adiknya datar.Tak ada kehidupan di sana,sinar matanya tak bercahaya.Jelas sekali jika rasa sedih dan putus asa terggambar di wajahnya.
"Bunuh gue dengan tangan lo"
***