Akhir-akhir ini kesehatan Rayyan sering menurun meski hanya demam dan flu. Tubuhnya sering merasa lemas tanpa sebab. Di tambah cedera bahu dan kaki yang kemarin semakin membengkak. Awalnya dia hanya diam, tiduran malas-malasan di atas kasur. Namun rasa tak nyaman di perutnya memaksakan dia untuk beranjak ke kamar mandi.
Hoekkk..uhukk..hoekk..
Dengan mencengkram wastafel putih di hadapannya, seolah meminta kekuatan untuk tetap berdiri. Dia tak mau menyusahkan Papa dan Mamanya lagi. Rayyan tentu sadar diri. Apalagi terbayang-bayang jika dia sendirian dan di campakan. Itu menakutkan. Dia tak mau rasa kesepian di panti saat masa kecilnya kini terulang.
"Dik?" itu suara Nadine.
"Adik. Kamu di dalam nak? Ayo makan dulu. Kamu sudah terlalu lama menunda sarapan. Lihat sekarang sudah jam sepuluh." Rayyan menyandarkan punggungnya ke dinding kamar mandi. Rasa dingin terasa. Di tambah kaki kanannya yang bengkak terasa nyeri jika di gerakan.
Tok..tok..tok..
"Dik, kamu lagi ngapain sih di kamar mandi?" terdengar suara Nadine khawatir.
"Ma." lirih Rayyan yang rasanya ingin cepat-cepat menggapai pintu dan memeluk Mamanya. Namun tangan itu terasa lemas dan tak bertenaga. Jangankan membuka pintu, di angkat saja tak bisa.
"Dik, jangan buat khawatir. Mama buka ya."
Rayyan berusaha untuk bangun dengan berpegangan ke tempat tisue ataupun wastafel. Baru bangkit dari duduknya saja langsung di dera pusing yang luar biasa.
Brukkk...
Dikantor siang ini berbeda, Athar tak fokus bekerja. Beberapa kali dia salah dalam membaca laporan yang harus di tanda tanganinya.
"Pak, lebih baik bapak istirahat saja dulu." suara Rafqa terdengar karena sedang melaporkan hasil kerjanya. Dia bisa melihat jika Athar tidak dalam keadaan baik.
"Hahh ... Kamu benar." Rafqa tersenyum sedikit ketika Athar melihat ke arahnya
"Rafqa, Kamu mengingatkan saya dengan adik saya di rumah." Rafqa yang duduk di depan Athar terkejut dengan ucapan bosnya itu. Rasanya menjadi kebanggaan tersendiri bosnya sendiri yang bilang dia mirip seseorang yang tentunya berharga untuk atasannya.
"Adik?" Pasalnya Rafqa baru tahu jika bosnya memiliki adik.
"Iya, dia mirip sekali dengan kamu .Matanya sama sipit." Rafqa merasa bibirnya berkedut. Masa bosnya hanya bilang mirip di matanya saja.
"Kami berbeda. Dalam segi fisik. Tapi orang tua saya tak membedakan kasih sayangnya."
"Beruntung sekali ya, Pak. Adik anda pasti sangat bahagia."
"Iya, dia bintang di keluarga kami." Rafqa bisa melihat senyuman Athar yang tulus dan penuh kebanggaan. Rasa bahagia terpancar jelas di wajah Athar saat membicarakan adiknya. Sungguh beruntung adiknya itu, pikir Rafqa.
"Kamu silahkan kembali ke ruangan kamu. Biar nanti saya suruh Zia mengembalikan laporan ini." Rafqa hanya bisa tersenyum dan mengiyakan.
Begitu masuk ruangan divisinya, Rafqa seolah tergerakkan untuk menoleh ke arah meja kerja yang terlihat kosong. Itu tempat Rayyan, rivalnya yang jelas-jelas kini merebut perhatian bosnya. Mungkin karena wajahnya yang manis bos tak tega memarahinya. Benar, jika dipikirkan lagi posisinya bisa terancam jika dia lengah sedikit saja.
"Lo seneng banget, To." Cibir Rafqa saat melewati tempat duduk Dito.
"Bukan urusan lo juga kan." Dito kembali tersenyum cerah sembari kedua tangannya mengetik keybord komputernya, tentunya berkas-berkas pekerjaannya harus segera selesai.
"Cihh." Rafqa duduk menghadap Dito. Lalu bergantian menatap meja kosong Rayyan yang ada di sudut sana. Dito saingannya terberatnya namun kini di tambah Rayyan. Sungguh menjadi bayang-bayang itu tidak enak.
Athalla di buat kalang kabut. Saat dirinya tiba di rumah terdengar Nadine menangis histeris di kamarnya. Di dalam kamar mandi sana kakaknya terbaring terlentang dengan kepalanya di pangkuan sang Mama.bWajah pucat di banjiri keringat dan cairan kental yang bau anyir itu keluar dengan lambat di kedua hidung bangir kakaknya.
"Astaghfirullah, kak!" Athalla menggendong tubuh kakaknya yang kini sedikit menyusut. Tanpa kesulitan berarti, Athalla membawa Rayyan keluar dari kamar mamanya.
"Ja ... gan. Rum ... ahh sakit." Langkah Athalla terhenti di ruang keluarga. Di ikuti oleh Nadine yang sudah menangis.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya."Nadine mengusap wajah putranya dengan handuk kecil yang di bawanya dari kamar mandi tadi.
"Gak ... Mah ...," lirih Rayyan dengan perlahan menutup kelopak matanya ketika rasa pusing kembali menyerangnya.
"Jangan ngeyel deh! Kita ke rumah sakit." Athalla bisa melihat wajah kakaknya menahan sakit. Urat-urat leher dan rahang di kerasnya jelas rasa sakit yang mendera.
Rayyan menggeleng lemah. Badannya semakin lemas saja. Tangan kananya mencengkram belakang kemeja Athalla.
"Plea ... se." lirih Rayyan dengan iba.
Dengan terpaksa, dia kembali membawa kakaknya ke dalam kamar kedua orang tuanya yang berada di lantai satu ini. Jika di lantai tiga, Nadine khawatir tak ada yang gerak cepat saat putranya membutuhkan.
Di hotel, Dimas terkejut dengan kabar dari kantor polisi. Kali ini ada info dari pihak polisi tentang kecelakaan yang menimpa putranya beberapa hari yang lalu.
"Baik pak, tolong segera tangkap pelakunya jika sudah di kenali. Terimakasih kerja samanya." Dimas menyandarkan punggungnya setelag memutuskan sambungan teleponnya. Tak habis pikir, jika putranya di incar oleh seseorang. Jika begitu kejadian masa lalu akan terulang kembali. Seaeorang ingin melenyapkan putranya bahkan secara terang-terangan kali ini.
Dering handphone kembali terdengar, terlihat wajah istrinya dengan senyuman lebar terpampang jelas di layar lebar handphone.
"Assalam'ualaikum, Yang."Namun suara Athalla terdengar. Suara Athalla terdengar ricuh, terdengar juga suara Nadine menangis. Setelah mendengar kabar dari Athalla, Dimas bergegas pulang. Ingatlah, bos mah bebas. Jadi tak masalah jika dirinya pulang lebih dulu.
Sesampainya Dimas di rumah. Dia langsung memerintahkan Athalla menggendong Rayyan yang kembali tak sadarkan diri. Bahkan setelah memuntahkan cairan merah dari mulutnya. Kini Dimas dan anggota keluarga lainnya bisa melihat jika kondisi putranya tak main-main.
Nadine hanya bisa menangis, bersama Oma yang tak bisa menahan air matanya. Situasi darurat, serasa mereka tak bisa bernapas lega. Semuanya begitu cepat sampai otak mereka tak bisa mencerna semua kejadian dengan benar. Tiba di UGD, Dokter sedang memeriksa Rayyan tak tanggung-tanggung dokter special telah di tunjuk oleh Eyang yang telah mendengar berita cucunya kembali masuk rumah sakit.
"Bagaimana dokter?" tanya Dimas saat dokter seusia ayahnya keluar dari ruangan bertuliskan UGD.
"Pasien harus rawat inap dan melakukan pemeriksaan lainnya. Saya hanya bisa memastikan jika darah yang keluar itu bukan indikasi penyakit tertentu, karena adanya lebam di ulu hatinya bahkan di area perut dan d**a. Kemungkinan darah keluar akibat luka dalam."
"Apalagi baru kemarinkan pasien di rawat inap. Jadi anda tak perlu khawatir Saya yakin pasien akan sembuh kembali dalam seminggu ini jika pasien mau bekerja sama untuk bedress." Penjelasan dokter di akhiri dengan senyuman yang teduh. Setidaknya Dimas lega tak ada sesuatu yang menghantui kondisi putranya.
Malam harinya Rayyan terbangun dengan kondisi masih lemas. Di ruangan ini hanya ada kedua orang tuanya. Kemana adik dan abangnya? Apa mereka berdua sudah tak perduli dengan keadaannya sekarang.
"Jangan banyak pikiran, dik." Rayyan kaget mendengar suara Abangnya yang ternyata tidur di bawah dekat ranjangnya. Beralaskan kasur kecil yang di sediakan rumah sakit. Rayyan hendak bangun di bantu Athar. Rasanya pegal sekali punggungnya, mungkin sudah terlalu lama dirinya berbaring.
"Sok tahu, ih." Athar terkekeh kecil. Dia hanya bisa menatap wajah adiknya yang terlihat lebih segar. Sungguh dia takut akan bayang-bayang kehilangan adiknya dulu.
"Jangan buat abang cemas lagi ya."
"Abang takut kehilangan kamu, dik. Bahkan kita semuanya. Lihat mama, papa dan semuanya. Athalla juga tadi nangis-nangis lihat kamu muntah darah." Athar kini duduk di ranjang Rayyan.
"Bang, apa adik merepotkan? Sebulan ini menghabiskan uang papa." Athar ingin tertawa sebenarnya namun tak tega melihat wajah adiknya memelas.
"Kamu tahukan uang papa gak akan ada habisnya." Rayyan mengeryit. Athar dirundung gelisah melihat wajah adiknya seperti itu.
"Mau muntah lagi?"tanya athar.
"Hmm ... adik pengen muntah gara-gara abang panggilnya aku kamu ...ihh najis banget." Athar mendecih sebal. Di kira akan muntah sungguhan ternyata hanya ledekan semata. Namun dengan begitu Athar yakin jika adiknya sudah kembali karena sudah bisa meledeknya sesuka hati.