Dimas sudah mengetahui perdebatan ketiga putranya tadi sore saat dirinya dan nadine pulang untuk mengambil baju.Dokter mengundur jadwal kepulangan rayyan karena anak manisnya itu tadi sore pingsan dan mimisan.Dimas jelas tahu itu gejala yang dulu anaknya rasakan.Banyak berfikiran negatif dan stress.Ini akan berbahaya jika putranya tersebut terus menurus mimisan karena kondisi saat ini tekanan darahnya amat rendah.
"Papa harap kalian jangan membicarakan masalah-masalah apapun sama adik"
"Iya pa"jawab athalla.Kini dia berdua duduk di ruang tunggu rumah sakit.Athar yang mendengar nasihat dari papanya hanya bisa diam.Dia mengakui jika dirinya salah namun dia kesal kenapa adiknya itu sangat keras kepala.Apa susahnya bilang dan ceritakan semua permasalahan yang di alami adiknya itu.
"Kalian pulanglah.Istirahat.Biar papa dan mama yang menjaganya malam ini"
***
Nadine tersenyum melihat putranya tertidur seperti ini.Meski di rundung kecemasan karena suhu badannya naik sampai tiga puluh sembilan derajat.Wajah putranya memerah dan berkeringat dingin,rasanya tak terasa jika tubuhnya pegal karena putranya terus ingin di peluk.Tak ingin di tinggal sendiri.
"Cepat sehat ya,dik.Ali menghubungi mama dia akan pulang sama rio untuk menemui kamu.Rio sangat khawatir sekali"
Nadine mengusap wajah putranya yang masih di lengkapi handuk kecil di keningnya.Rayyan cahayanya meski bukan terlahir dari rahimnya.Wajah ayana memang sepenuhnya diwariskan pada rayyan.Manis sekali.
"Stttssshhhh...shhhh..."Rayyan menggigil.Padahal tubuhnya panas sekali.
"Ya allah dik,kenapa makin panas sih."Nadine mengusap wajah putranya yang terasa menyengat kulitnya.
"Ya allah...ya allah.." igau rayyan dengan lemah.Nadine terlihat khawatir mendengar suara lirih putranya.Dia bangkit,beranjak dari ranjang.
"Ya allah.."nadine menekan tombol emergancy yang ada di dekat tempat tidur putranya namun terasa lama menurut nadine.
"Dik..."nadine menepuk-nepuk pipi rayyan.Kedua mata dan bibir itu terkatup erat.Dengan cepat nadine berlari keluar ruangan untuk menemui dokter.
"Ibu kenapa??"dokter perempuan berkerudung coklat tua.
"Dokter,tolong putra saya."
"Ibu tenang ya.Mari saya bantu."dokter perempuan dan nadibe pun kembali ke ruangan rayyan.
"Sejak kapan bu panasnya?"Tanya dokter itu.
"Sejak tiga jam tadi.Tapi panasnya meningkat drastis." Dokter itu menganggukan kepalanya.
Setelah menemui dokter yang menangani rayyan.Mereka sepakat untuk merendam rayyan dengan air es bahkan di tambah dengan beberapa batu es.
Di ruang inap yang luas itu sudah sedia bathup berisi air dingin di tambah beberapa potongan kecil es.Athalla dan athar merasa khawatir melihat orang yang sangat di cintainya sudah tak sadarkan diri akibat suhu badannya mencapai empat puluh tiga derajat.Dengan di gendong dokter,rayyan di dudukkan di bathup.Tanpa melepas selang infus,rayyan duduk dengan kepalanya di sandarkan ke d**a bidang dimas.
"Kita tunggu sampai suhunya menurun.Karena dengan obat penurun panas ternyata tak menunjukkan perubahan." Ucap dokter tua yang di kirim khusus oleh eyang.
"Berapa lama dokter?"Tanya nadine yang ikut berjongkok di samping putranya.Mengenggam tangan lemah putranya yang tak bertenaga.
"Sampai suhunya normal."
"Bagaimana jika dia kedinginan dokter?"tanya athalla yang kedua matanya sudah memanas.
"Tidak,jika suhunya normal kami akan langsung memindahkannya.Di sini pun akan ada dokter yang mengawasinya.Jadi pihak keluarga tak usah khawatir."
"Astaghfirullah hal adzim.."Nadine terus beriatighfar sembari mengusap lembut tangan kanan putranya yang masih terasa panas.
"Kami permisi."Dokter tua dan dokter laki-laki berdiri,setelah berpamitan pada keluarga rayyan.Disana hanya ada dokter perempuan yang di temui nadine dan seorang dokter laki-laki.
"Ibu sabar ya,saya yakin rayyan akan baik-baik saja.Dia anak yang kuat."Dokter perempuan itu tersenyum.
""Terimakasih dokter"
***
Di mobil hitam tiga sejoli yang tak bisa diam terus berceloteh merencakan sesuatu.
"Pokonya kita beli rambutan satu ikat.Biar tahu rasa ruh anak,pergi-pergi gitu aja ninggalin gue." Celoteh rio dengan heboh.
"Iya.."
Ali hanya bisa tersenyum menghadapi kedua temannya ini.Di dalam hatinya dia membutuhkan jawaban yang pasti soal kabar yang baru di dapatinya kemarin.Ya,dia harus bertanya jika tak menjawab,dia akan paksa.
Sampai di ruangan inap rayyan ketiganya terdiam.Rencana yanga sudah di susun rapi kini tak ada satupun yang sesuai.Di sana,di bathup rayyan tengah terlelap dengan pakaian khas rumah sakit dengan kepala dan punggungnya di sandarkan kepada d**a bidang dimas.Nadine menggenggam tangan kanan rayyan beserta dua dokter yang ikut memantau keadaan rayyan.
"Assalamu'alaikum." Ucapan ali yang pertama kali terdengar.Semuanya menoleh ke arah pintu.Tak hanya nadine dan dimas yang terkejut kedatangan sahabat-sahabat putranya itu.
"Wa'alaikumsalam."jawab semuanya.
"Adik kenapa tante?"kini faiz yang duduk di lantai di samping nadine.
"Panas,faiz.Suhu tubuhnya di atas normal."
"Sudah di kasih obat?"Kini rio yang ikut berbicara.
"Sudah tapi tak ada kemajuan.Kalian pasti lelah.Istirahatlah saja dulu.Nanti om akan beri kabar."
"Ga usah khawatir om,biar kami di sini.Biar saya gantikan om"Ali beranjak,dia menggantikan dimas.Benar,suhu tubuhnya masih tinggi saja.
Tangan itu pun beralih di genggam rio.Tanpa di sadari ketiga orang itu menitikan air matanya melihat kondisi sahabatnya yang jauh dari kata sehat.
"Ray,kita di sini."Bisik ali di telinga rayyan.Namun tak merespon.Rayyan masih memejamkan matanya meski di rendam dengan air dingin bahkan di tambah balokan es kecil kecil.
"Apa ini yang lo bilang kejutan hah?"Faiz terisak.
"Ndut,udah ga usah mewek.Doain aja."Kata ali dengan masih menyandarkan kepala rayyan yang berkeringat di d**a bidangnya.
"Gimana gue bisa diem li?lo tahu kan apa yang gue bilang tadi sebelum jemput kalian di bandara??Dia minta oleh-oleh yang ga masuk akal.Hiks hiks..."
"Dia minta..hiks..hiks..kain kafan li,asli sukabumi.Gue kira hiks..hiks..dia bercanda li."
Semuanya terhenyak dengan ucapan faiz,si gendut itu malah semakin menangis tak kira jika sahabatnya kan separah ini kondisinya.Bahkan permintaan anehnya waktu kemarin-kemarin maaih terbayang di benaknya.
"Be..go..."Semua mendengar itu meski terdengar lirih.
"Alhamdulillah..lo sadar dik!"Seru rio yang menepuk-nepuk pipi rayyan.
Segera dokter perempuan itu menempelkan alat pengukur suhu.Setelah alat itu terdengar,dokter perempuan itu tersenyum.
"Alhamdulillah,suhunya sudah normal.Tolong pindahkan dan ganti pakaiannya."Dengan sigap,Rio dan ali mengangkat tubuh lemah itu ke atas tempat tidur.Dan menyerahkan kepada athar dan athalla untuk mengganti pakaian rayyan.
***
Setelah aksi menegangkan beberapa jam lalu,malam ini rayyan sudah stabil dan hanya di temani kedua orangtuanya.Nadine dan dimas tidur di samping putranya meski hanya dimas yang tidur di kasur kecil di lantai.Sedangkan nadine duduk sembari memegang tangan putranya.
"Hahh.."rayyan menyadari sesuatu hal yang penting.Jika di luar sana ada orang yang ingin mencelakakannya maka di sini,di dekatnya banyak sekali orang-orang yang mencintainya.Haruskah rayyan merasa jatuh terus di saat semua orang menyemangatinya?
"Astaghfirullah..bodoh banget sih gue.Ya allah,maafkan adik sudah menyusahkan kedua orangtua adik.Mulai sekarang adik janji akan menjadi anak baik dan sholeh."Batin rayyan.Dia tak tega membangunkan kedua orangtuanya,mereka terlihat letih dan lelah.Apalagi mamanya,perempuan yang amat di cintainya ini.
Senyuman manis tersurat di wajah rayyan,mulai hari ini rayyan janji akan menghadapi masalah dengan bijak dan tak akan semakin larut dalam keputus asaan.Rayyan yakin,allah mengirimkan ujian yang tanpa henti kepadanya adalah sesuatu pembuktian jika dia mampu dan bisa membuatnya naik satu tingkatan derajatnya sama allah.
Dia yakin,jika allah tidak akan mengujinya dengan ujian yang tak sanggup di lalui olehnya.Seberat apapun itu,rayyan yakin bisa menghadapinya.Dia bertekad akan maju tak akan memikirkan hal-hal negatif yang akan berpengaruh lagi padanya.Dia harus bangkit.
Dan di malam menuju subuh itu,rayyan akan merubah sedikit demi sedikit pola fikirnya yang selalu berfikiran buruk itu dengan mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.Tanpa allah,rayyan tak akan bisa menjadi rayyan samir.Tanpa kuasa allah,rayyan samir tak akan hidup di keluarga dimas hamizan,tanpa campur tangan allah,rayyan samir tak akan lahir kedunia ini meski kedua orangtuanya meninggal.Maka dari itu,rayyan akan membanggakan kedua orangtua kandungnya untuk menjadi anak yang sholeh.Bukan hanya pintar.Menurut ustadz ramli dulu,jika anak sholeh pasti pintar,namun jika anak pintar belum tentu sholeh.Amanat ustadz ramli terngiang di kepalanya kini.
Anak sholeh adalah tujuannya sekarang,bukan lagi materi atau bahkan mottocross yang di gemarinya.Ya,dia ingin bangkit dengan menjadi anak sholeh yang bisa membanggakan ke empat orangtuanya di akhirat bukan di dunia saja.
***