Sore hari ini, Rayyan berganti pakaian menggunakan jersey putih dan membawa si white di tangan kanannya. Sedangkan sepatu boots khusus mottocross di tenteng tangan kirinya. Moodnya sejak siang tadi hancur gara-gara Athar yang menyita handphonenya, Rafqa yang nendang handphone sampai Taylor tak terlihat lagi. Kepala Rayyan terasa pusing dan berat jika terus menerus memikirkan itu. Belum lagi bahunya yang cedera.
"Adik kok mau latihan? Ini mau maghrib, istirahat. Kan baru pulang kerja." Tegur oma.
Rayyan menghampiri omanya, meperhatikan wajah bule omanya yang terlihat sudah banyak sekali kerutan-kerutan.
"Oma, adik perginya sebentar kok." Rayyan mencium pipi omanya dan berlari setelah memeluk omanya erat.
***
Rayyan mengendarai Tomo depan kecepatan rata-rata, jalanan yang macet tak di hiraukannya. Pikirannya kacau, sungguh dia tak peduli dengan yang lain. Dia hanya ingin bertemu Taylor.
Di arena latihan yang biasa di pakainya dulu, Rayyan memacu Tomo dengan cepat. Meski penerangannya kurang setidaknya dia di temani Tomo. Rencana awalbya hanya sebentar, hanyanuntuk mengembalikan moodnya yang buruk.
Prediksinya salah bahkan sampai jam sembilan malam pun dia masih betah di arena ini. Rayyan menghempaskan tubuhnya di pasir kotor. Merentangan tubuh lelahnya dengan napas terengah-engah sembari menatap langit di atas sana yang di penuhi bintang.
"Kenapa?" Lirih Rayyan. Kedua matanya berembun. Bahkan sebentar lagi akan menetes. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi. Bayangan Taylor yang rela kotor-kotoran bersamanya, dulu Taylorlah yang setia menemaninya di saat Rio dan Ali sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya Taylor.
Setelah puas menatap langit cerah penuh bintang, Rayyan berjalan ke arah danau yang ada di sekitar arena. Dulu danau ini pernah menjadi kenangan antara sahabat-sahabatnya. Saksi bisu persahabatan mereka berempat dari masa ingusan sampai berakhirnya SMA.
"Ri, Li, Faiz ... gue kesepian," Lirih Rayyan. Dia duduk di bibir danau yang tenang. Di temani kesunyian.
"Gue kangen ... tapi ...." Rayyan kembali menangis sendirian. Masa bodo dengan predikat jika laki-laki tak boleh menangis, dia punya hati dan perasaan yang bisa saja bersedih. Cara satu-satunya adalah dengan menangis. Semoga dengan menangis rasa sesaknya akan menghilang. Sekali lagi, Arena mottocros yang minim penerangan dan danau yang dulu sering di pakai mandi oleh dirinya beserta sahabat-sahabatnya menyimpan kenangan yang sangat luar biasa .
***
Pukul sepuluh malam, Nadine berjalan mondar mandir tak tentu arah pasalnya anak manja dan manisnya belum pulang juga sampai saat ini. Athar dan Athalla mencarinya ke tempat latihan begitupun dengan Dimas di bantu Mang Asep.
Tak begitu lama Nadine dengan tergesa-gesa berlari keluar setelah mendengar suara tomo. Dia melihat Rayyan yang berjalan tertatih-tatih menaiki tangga.
"Alhamdulillah," ucap Nadine. Dia berdiri di depan pintu besar rumahnya menunggu Rayyan yang masih tertatih-tatih. Rayyan perlu menginjak dua puluh anak tangga barulah Rayyan sampai di hadapan Mama. Dengan wajah lesunya Rayyan meraih telapak tangan Nadine, mencium tangan mamanya dengan lembut.
"Assalamu'alaikum." Raut wajah putranya lelah sekali bahkan sudah di banjiri keringat. Jersey berwarna putih itu pun sudah kotor.
"Waalaikumslam. Adik kemana aja sih, Mama tuh khawatir. Pergi gak pamit?" tanya Mama lembut.
"Latihan tempat biasa, Ma," ucapnya sambil meringis. Tolong ingatkan jika kaki kanannya masih terkilir kemarin.
"Lihat kaki adik semakin bengkak. Kenapa gak istirahat saja sih? Adik tuh hobi banget bikin Mama khawatir." Jelas Nadine khawatir karena arena pergelangan kaki kanannya membengkak dan memerah.
"Iya, maaf. Kayaknya tadi gak sadar adik latihannya terlalu lama." Rayyan berdiri dengan hati-hati. Dengan menenteng si sepatu bot dan si white di kedua lengan Rayyan masuk di bantu oleh Nadine.
"Mandi dulu sana? tapi di kamar Mama aja. Nanti Mama bawakan pakaian ganti. Kalau naik tangga kaki adik tuh bisa-bisa nambah parah."
"Hmm." Rayyan tak ingin membantah. Dengan segera masuk ke kamar orangtuanya setelah menyimpan sepatu bot dan helmnya yang kotor.
Nadine kembali kekamar setelah menghangatkan makanan. Sudah sepuluh menit tapi Rayyan tak keluar-keluar dari kamarnya.
Senyuman nadine terlihat lebar saat putranya tertidur di kasur dengan keadaan sudah mandi. Bahkan sudah mendengkur. Putranya itu pasti lelah setelah berlatih, ini adalah latihan pertamanya setelah memutuskan pensiun. Dengan lembut mencium kening Rayyan. Wajah manisnya mengingatkan pada sosok Ayana. Ibu kandung Rayyan.
"Dia mirip sekali denganmu, Ay," Lirih Nadine.
***
Dimas dan kedua putranya yang lain baru sampai rumah. Nadine yang tengah membaca alqur'an pun menyambut mereka.
"Kalian istirahat saja. Adik sudah pulang lagi tidur di kamar Mama." Mendengar ucapan sang Mama. Athar langsung berlari ke kamar mamanya.
"Sejak kapan?" tanya Dimas yang kini duduk di depan Athalla.
"Sejak lima belas menit yang lalu," jawab mama yang kini beranjak ke dapur. Di ruang keluarga kini tinggallah
Papa dan Athalla.
Awalnya mereka berdiam diri tanpa bicara, rasa lelah melanda karena mencari Rayyan. Semua tempat di datangi, namun tak membuahkan hasil.
"Pa, tadi orang bengkel hubungi Papa gak?" tanya Athalla saat tidak ada seorangpun di sana.
"Iya." Dimas memijit-mijit kepalanya yang pening secara mendadak.
"Kira-kira siapa yang berniat jahat sama kakakku, Pa? sampai tega sekali menyabotase si Pepa. Berarti kemarin itu bukan karen jalan licin kan. Tapi kabel remnya di putus. Bodohnya Ryyan gak tahu itu."
"Jangan beritahu Mama ya. Kita urus saja ini."
"Iya, Pa. Aku gak mau kehilangan kakak aku lagi." Athalla jadi merasa bersalah. Ada orang yang ingin kakaknya celaka. Dia pun jadi teringat kejadian beberapa tahun silam, saat dirinya berkerja sama dengan Bagas untuk mencelakai kakaknya sampai masuk ICU. Rasa iri dan benci
Di dalam kamar athar hanya bisa melihat adiknya tertidur dengan dengkuran keras. Membuktikan dirinya lelah. Dengan tenang athar meninggalkan Rayyan dengan senyuman manis di wajah athar.
***
Hari ini Rayyan tak pergi kerja, bahu yang cedera semakin sakit belum lagi kakinya yang keseleo semakin sakit saja. Rayyan rasa ada yang salah sama badannya yang akhir akhir ini sering sekali sakit.
Dengan malas dan pelan dia berganti posisi badannya miring ke kiri karena bahu kanannya terasa sakit.
"Dik," itu suara Athar yang masuk dengan pakaian lengkap untuk ke kantornya.
"Hmmm." Rayyan hanya menggumam. Dia tak bertenaga untuk menjawab.
"Hari ini ga usah kerja ya. Istirahat aja. Itu kaki semakin bengkak." Athar bisa melihat itu semalam saat adiknya tidur dengan selimut yang tersibak.
"Hmm." Ryyan mengernyit ketika bahunya terasa sakit saat di gerakan sedikit.
"Jangan sakit ya, abang sedih kalau lo sakit." Athar mengusak-usak rambut Rayyan.
"Hmm." Athar tersenyum. Dengan langkah pasti, tubuh tegapnya berjalan keluar kamar adiknya itu.
***
Rafqa sedikit bertanya-tanya kemana si rese manis yang selalu membuat hatinya jengkel, yang membuat hari-harinya tak bosan untuk meributkan hal-hal yang konyol, berdebat tak kenal lelah.
Mobil Athar terparkir. Namun sosok rese manisnya tak ikut bersama bosnya itu. Apakah dia baik-baik saja setelah semalam? ya, semalam mereka bertemu di danau. Dan entah kenapa tiba-tiba saja dirinya simpati kepada Rayyan yang menàngis hebat.
"Buat apa mikirin dia?" Kata Rafqa yang kemudian menjauh dari jendela.
***
Di danau malam tadi Rayyan memangis namun Rafqa tak berani mendekati. Dia melihatnya dari jarak yang cukup aman. Rafqa masih tak menerima jika posisinya terancam di tempat kerja, bagaimanapun dia butuh naik pangkat untuk mensejahterakan keluarganya terlebih dia adalah tulang punggung keluarga. Namun dengan adanya Rayyan, posisinya terancam terlebih saingannya bertambah.
"Gak ada siapapun yang menghalangi niat gue." Gumam seseorang di kantor Athar.
"Jika posisi gue terancam, jangan salahkan jika gue nekat. Lo masih bisa bernapas lega setelah kemarin lo baik-bajk aja. Tapi ... jangan harap lo akan baik-baik aja kedepannya." Rafqa terdiam. Dia menerawang dengan meremas gulungan kertas pekerjaannya. Sungguh hatinya berperang. Antara yang bathil dan benar. Dia tahu jika dia ingin, dia bisa berbicara dengan Athar maupun Yudha namun itu bukan pilihan. Bisa-bisa dia kehilangan segalanya.