Setelah di buat panik oleh pingsannya sang kakak, kini Athalla di buat risih oleh kakaknya yang kadar manisnya melebihi gula kapas bahkan jika di campur pemanis buatan pun masih kalah manis.
"Kalau sakit ya bilang sakit," ucap Dimas masih cemas melihat kondisi putranya yang sakit.
"Adik kan sudah bilang sakit tadi, nih si kodok aja yang ngeyel malah mukulin adik," adu Rayyan sembari meneloyor kepala adiknya.
"Ya siapa juga yang percaya? wajah lo nya aja manis," lirih Athalla di akhir kata.
"Sudah yang penting Adik baik-baik aja kan kata Tante Ina hanya perlu istirahat. Tekanan darahnya rendah," kata Nadine sambil menyuapi buah naga yang langsung di kunyah sang putra.
"Tekanan darah rendah, kamu itu baru sehari kerja sudah rendah aja itu tekanan." Dimas duduk di sofa yang ada di dekat lemari helmet.
"Pingsan gara-gara darah rendah, ga elit banget. Trus soal bahu lo apa kabar?k ok sampe cedera gitu," tanya Athalla yang kini beralih ke laptopnya kembali.
"Uhuk...uhukkk.." Nadine mengusap lembut punggung putranya yang terbatuk-batuk karena tersendak buah yang sedang di makannya.
"Minum dulu." Nadine memberikan segelas air putih padanya.
"Sudah." Rayyan menganggukan kepalanya.
"Bahu lo itu cedera parah tahu ga?" Athalla bisa menjadi seorang yang cerewet jika itu berhubungan dengan kakaknya.
"Gue ga tahu separah itu." Rayyan merubah posisinya menjadi berbaring meski di bantu oleh sang Mama.
"Yakin jatoh aja?" tanya Papa penuh selidik.
"Iya, tadi kan jalanannya licin. Jadi Adik jatuh." Rayyan mengernyit saat bahunya terasa sakit dan panas secara bersamaan. Tak ada pembicaraan lagi setelahnya. Dalam pikirannya rayyan bingung, siapa orang tadi? Masalah Max saja masih mengganggu pikirannya di tambah sekarang.
Jadi kangen taylor Batin Rayyan.
***
Athar tak suka adiknya ini semaunya sendiri. Setelah kabar yang mengagetkannya kemarin kini si adiknya sudah ikut kerja saja. Tadinya maksa ingin naik si tomo tapi Athar memaksanya ikut jadi dari pada di cuekin oleh abangnya maka dengan terpaksa ikut di mobil ini.
"Lo yakin?" Tanya Athar saat mereka memasuki kawasan perkantoran.
"Iya bang. Masa baru sehari kerja udah libur aja. Ga enak di pandang sama karyawan lain." Rayyan mengenakan tas ranselnya yang sudah menemaninya sejak beberapa tahun lalu. Ransel kumal semasa SMA kini menemaninya lagi.
"Oke, kalau ada apa-apa langsung hubungi abang." Athar masih khawatir dengan kondisi adiknya. Kakinya saja masih sedikit bengkak di tambah bahunya yang cedera.
"Hmm." Rayyan keluar dari mobil dan masuk ke dalam kantor.
Di lantai dua sana ada dua orang yang memperhatikannya .Siapa lagi kalau buka Rafqa dan Dito. Hanya Rafqa yang menatap sebal Rayyan yang baru turun dari mobil bosnya.
"s****n. penjilat tak tahu diri."
"Kamu bilang sesuatu?" tanya Dito saat rekan kerjanya meremas-remas paperglass yang sudah habis isinya.
"Ga kok." Rafqa pergi meninggalkan Dito sendirian. Sungguh hatinya masih kesal dengan kedekatan bos dan karyawan baru yang menyebalkan lain halnya dengan Dito yang mengangkat bahunya tak peduli.
Kali ini Rayyan hanya di perintahkan menyusun laporan seperti kemarin yang di ajarkan oleh Pak Yuda. Baru lima belas menit saja rasanya kram sekali di bagian punggung.
"Ngapain lo naik mobil bos hah!" Tanya Rafqa penuh selidik.
"Emang kenapa? gak ada hubungannya sama lo kan." Rayyan kembali membaca kertas laporan yang ada di meja kerjanya.
"Awas aja ya kalau lo ngadu-ngadu. Dasar penjilat." Rafqa murka.
Plakk!
"Ishhh" Rayyan kesal kenapa rivalnya ini suka sekali memukul kepalanya.
Sesudah Rafqa datanglah Dito menghampirinya dengan secangkir teh hangat. Tidak lupa membawa malkist coklat dengan tempatnya.
"Biar fokus kerjanya sambil ngemil." Rayyan menatap aneh Dito. Rasanya kemarin Dito cuek sekali. Benar-benar aneh.
"Ya Allah, kenapa teman-teman adik pada aneh semua," bisik Rayyan dengan bergidik ngeri saat teman perempuannya yang kelebihan lemak mengedipkan sebelah matanya.
"Astaghfirullah." Rayyan memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada kerjaan yang sempat tertunda.
***
Rafqa kesal karena tak hanya dirinya yang ikut rapat. Tapi teman barunya yang menurutnya menyebalkan juga ikut atas desakan Pak Yuda. Selama rapat Rafqa bisa pastikan jika si nyebelin Rayyan tengah asyik menonton sesuatu di balik mapnya.
Rafqa mencoba konsentrasi melihat kedepan saat seseorang menjelaskan materi rapat kali ini.
"Psffffft." Rayyan menutup mulutnya supaya suara tawanya tak keluar.
Rafqa yang duduk di sampingnya langsung menyetakan tangan Rayyan yang memegang handphone Karena tak siap dengan tepakan dari Rafqa, handphone itu terjatuh dari pegangan tangan Rayyan.
"Ishhh." Rayyan mengambil handphonenya yang jatuh tepat di kaki Rafqa. Entah s**l, Rafqa menendang handphone berwarna hitam itu ke tengah bawah meja.
"Nyebelin banget sih lu."
Dugh....
Kepala Rayyan pun terkantuk meja saat akan berdiri. Rayyan mengelus-elus kepala belakangnya dengan wajah kesal.
"Maaf bisa tenang." Tegur seseorang yang menjadi sesepuh di kantor.
"Ga bisa! handphone saya ada di kolong meja noh. Izin ya buat ambil." Dengan tampang polosnya Rayyan berucap.
"Hahh." Athar menghela napas panjang melihat tingkah adiknya.
"Maaf, kita sedang rapat. Tidak boleh ada yang pegang handphone," ucap Pak tua dengan tegas. Dia langsung mengambil handphonenya dan memberikannya pada Athar.
"Ckck ... ceritanya di sita nih. Ya Allah, ini tempat kerjakan bukan sekolahan. Masa handphone pake di sita sgala. Kalau Mama telepon gimana? kalau ada hal yang penting gimana?" tanya Rayyan yang berdiri dari tempat duduknya.
"Ini peraturan dari perusahaan." Rayyan menatap Athar dengan memohon. Namun bukan sesuai harapan. Athar menggelengkan kepalanya pelan.
"Ckck ... jahat banget. Padahal ada taylor." Rayyan menatap sendu handphone yang ada di atas meja. Sungguh dia merindukan taylor. Rasanya sampai sesak dadanya. Hanya ada taylor di dalam pikirannya sekarang sampai tanpa sadar setetes air mata turun tanpa permisi.
"Dasar anak kecil." Cibir Rafqa dengan tatapan mengejek.
"Diam aja lo." Desis Rayyan dengan kesal. Rayyan mencebik, merenggut sepanjang rapat. Athar tertegun ketika melihat air mata adiknya. Meski sekilas dia tahu jika itu menyakiti hati adiknya.
***
Selesai shalat ashar, Rayyan kembali mengerjakan tugasnya. Di saat seperti ini dia tak bisa kerja. Moodnya sudah rusak sejak kejadian di ruang rapat tadi. Taylor, Ah semakin memikirkan Taylor yang kini di Amrik semakin membuatnya sesak. Sungguh, Rayyan tanpa Taylor bagaikan sayur sop tanpa daging.
"Ahhh s**l!" Rayyan menggebrak meja di depannya.
"Si rese! kerja itu jangan ribut." lagi-lagi Rafqa memukul kepala Rayyan dengan pelan tapi menyakitkan bagi si korban pemukulan.
"Terserah gue!" Rayyan beranjak dari tempatnya dan pergi keluar ruangan divisinya.
Dia tak pergi kemanapun hanya diam di depan pintu ruangan divisinya. Menarik nafas, buang, tarik, buang namun rasa sesaknya masih terasa. Sungguh, sesak. Begini tersiksanya merindukan Taylor yang amat dicintainya. Padahal dulu saat kabur dari sang Mama tak sesak ini.
"Taylor, miss you," lirih Rayyan dengan menitikan air matanya. Entah kenapa jika menyangkut Taylor hatinya akan sesensitif ini.
"Gue harus gimana?" Rayyan duduk di lantai dengan kedua kakinya di tekuk. Menyandarkan kepalanya di atas lututnya tak peduli jika ada yang melihat dirinya kacau seperti ini, sungguh Rayyan bimbang.
"Ohhh ngapain kamu di situ?" Itu suara Dito. Laki-laki berkaca mata itu terlihat terkejut dengan sikap Rayyan yang duduk di depan pintu.
"Ya lagi duduk." Tak acuh Rayyan yang kini berdiri.
"Kamu nangis?" tanyanya penasaran.
"Ehm tidak." Rayyan membersingkan ingusnya dengan tisue yang di berikan Dito.
"Tidak apa-apa. Laki-laki biasa juga bisa menangiskan. Apa bahumu masih sakit?" Rayyan mengerutkan alisnya.
"Maksud lo?" Rayyan hanya bertanya karena heran saja. Dari mana Dito tahu jika bahunya cedera.
"Jangan salah paham, kemarin pulang kerja itu kita beriringan. Kamu naik Yamaha x ride itukan yang berwarna merah.bSaya ada di belakang kamu, kaget kamu di pepet begitu sampai jatuh."
"Tidak ada luka serius kan?" Kembali Dito bertanya.
"Ga apa-apa kok." Rayyan masih tak menunjukkan senyumannya. Dito hanya tersenyum manis seperti biasanya dan masuk ke ruangan. Rayyan terdiam, dia mulai berpikir tentang masalah kemarin. Saat dirinya terjatuh akibat orang lain. Untungnya si Pepa tidak rusak, hanya ada beberapa lecet di kaca. Tak mau ambil pusing dia kembali masuk di susul dito.
***
Saatnya pulang, Athar kelimpungan mencari Rayyan yang lebih dulu pulang. Di hubungi tidak bisa.K arena handphonenya masih di sita.
"Pak, sedang cari sesuatu?" tanya Dito.
"Saya mencari aa.." Athar langsung terdiam ketika salah menyebutkan.
"Si aa? mungkin anak baru itu ya Pak, itukan handphone miliknya yang tadi siang di sita. Biar saya saja Pak yang mengembalikannya besok." tawar Dito.
"Tidak apa-apa. Besok suruh dia menemui saya ya Sekalian saya mau negur dia." Dito tersenyum.
"Baik pak." Dito menatap bosnya pergi dengan senyumannya. Sungguh senang jika bosnya itu bisa bertatap muka lebih lama dengan karyawan seperti Dito. Bagaimana pun Dito mengagumi sosok bosnya yang sangat bijaksana.
***
Athar tak bisa melepaskan adiknya begitu saja. Bagaimana adiknya terjatuh? Bagaimana jika di copet? Bagaimana jika di culik? Semua pemikiran buruk selalu menghampiri otaknya. Jika di pikir-pikir Athar terlalu bersikap overprotectif sekali jika itu menyangkut adiknya. Adik manisnya yang selalu ceroboh dan banyak orang yang menggunjingnya. Terlebih dulu sering di anggap anak angkat karena dia paling berbeda dengan keluarganya.
"Maafin Abang ya, Dik." Athar kembali fokus menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Bayangan wajah Rayyan yang tersenyum lebar selalu di rindukannya. Wajah polos adiknya selalu membuatnya bersemangat. Rayyan tetaplah adiknya yang manis dan ceroboh. Tak boleh siapapun menyakitinya. Athar selalu berjanji jika dia akan selalu menjaga adiknya. Karena kehadiran adiknya adalah sesuatu anugrah di keluarganya. Bintang yang akan menyinari keluarganya dengan cahayanya.